Hi, guys! How yall doing?
Beberapa hari belakangan lagi rame sebuah podcast di-cancel karena host-nya yang mem-branding diri women empowerment berfoto bersama rezim di acara 17-an. Yang dipermasalahkan bukan fotonya, tapi kesadaran mereka untuk datang ke acara tersebut, lalu berfoto bersama rezim dan meng-upload ke social media. Padahal mereka mengklaim diri sebagai representasi perempuan Indonesia, kelompok marginal yang sering didzolimi juga oleh rezim.
The internet raged. The amount of hate was crazy. Buka X, mereka dihujat. Buka Thread, mereka dihujat. Bahkan di TikTok yang konsep platformnya Happy Go Lucky aja, mereka dihujat~ Buset dah~
Gw sendiri tidak pernah menjadi pendengar mereka. Paling cuma nonton cut clips-nya aja di TikTok, itu juga ga follow. Cuma yang lewat FYP aja.
Ga pernah relate sama apa yang mereka omongin. Kesan yang muncul setelah melihat cut clips-nya adalah “oh podcast tante-tante sosialita metropolitan”—sangat jauh dari kehidupan dan social background gw. Yang dibahas memang isu-isu sosial tapi nggak dalam sih. They definitely don’t have full context and/or full awareness of the stuff they talk about. Rata-rata cuma opini mereka terhadap isu sosial tersebut by bringing their personal stories. When this happened, wah ini bagian paling gengges. NPD semua anjir~ xD
Berbahasa Inggris pula, like why? Itu aja udah menjadikan konten mereka sangat tidak inclusive. Perempuan Indonesia mana yang tante-tante ini wakili dengan berbahasa Inggris?? Ibu-ibu yang jualan di pasar? Mbak-mbak driver gojek? Kakak-kakak kantoran yang tiap hari berangkat jam 4 pagi naik KRL? Teteh-teteh yang livestreaming jualan tengah malem di TikTok?
So yeah, never interested in following them. I know some of my friends are fans of them, tapi ga bikin gw ikut-ikutan. Gw bahkan pernah ketemu salah satunya di acara Awe tahun lalu karena beliau adalah aktris di seriesnya Awe. She is indeed a very nice person to talk with. Tapi ga bikin gw jadi ngefans, she doesn’t have that star aura I think.
Mbak ini juga dulunya jurnalis di Metro TV. She kicked ass back in the day, sering liputan lapangan yang berat-berat. Terlihat sangat tangguh! Ngl, gw sempet bermimpi punya jalur karier yang sama dengan beliau karena buat gw waktu itu beliau sangat inspiring. But again, fakta ini pun tidak membuat gw jadi ngefans sama dia.
Anyway, bukan itu yang mau gw bahas di sini. Ketika gw melihat fenomena podcast itu viral, my response was… wow yall really still have time and energy and niat to listen to a podcast? Wkwkwk
I mean, my days of listening to podcasts are totally over. Like… sekarang udah terlalu sibuk dan terlalu lelah untuk mendengarkan people talking about shit they claim to care about.
Gw juga ga pernah menjadi pendengar aktif podcast sih. Paling dengerin/nonton kalo bintang tamunya gw suka aja. Few years ago, I was watching Vindes karena lucu dan cara mereka memilih bintang tamunya bagus—temen2 mereka sendiri. Jadi nonton podcast mereka experiencenya seperti masuk ke tongkrongan mereka dan becanda bareng mereka.
Few years ago juga, I listened to Raditya Dika karena dia punya approach yang berbeda untuk podcast, misalnya dengan mendatangkan experts dan menanyakan 100 million dollar questions yang semua orang pengen tahu jawabannya. Kalaupun mendatangkan public figure entertainment, Radit kan ga bahas gosip ya, angle yang dia bawa lebih kritis dan intelek, jadi masih ada dagingnya bahasannya.
But then as time goes by podcast-podcast itu mulai masuk kepentingan-kepentingan seperti sponsor sehingga mau ga mau bahasannya harus leading to what they want, jadi ga berimbang lagi. Kalo di kasus Vindes ga tau kenapa sekarang host-nya rame banget, jadi orisinalitas Vindes yang cuma Vincent & Desta hilang.
So I stopped listening. Gw cuma dengerin podcast topik-topik tertentu aja, misalnya One Piece. Hehehe~ Karena tujuan utama dengerin podcast bukan lagi mencari daging, tapi simply pengen dihibur aja. Pengen ketawa. Pengen rehat dari kerjaan dan masalah-masalah duniawi lainnya.
Seriously, sekarang udah terlalu capek listening to other people’s opinion. They are all bulshit anyway. Ngapain sih dengerin opini? Itu kan cuma ramuan konten yang dibuat-buat sama mereka aja demi views dan engagement. Ujung-ujungnya biar cuan~ Opini mereka belum tentu bener, belum tentu jujur, dan kagak ada hubungan/pengaruhnya sama sekali untuk hidup lo. Udahlah ga usah didengerin~
Nowadays, people take other’s opinions too seriously. Once blunder, langsung pada baper, tersinggung, ngehate parah, cancel everything. Yall getting too deep, bro. It’s just opinion~
Dahlah kata gw stop listening. Mending dengerin berita aja. Bencana alam di Sumatra dan NTT, kebakaran hutan, dan evakuasi satwa liar lebih penting untuk kita perhatikan daripada some opinions in a podcast, really. Hidup jadi WNI itu masalahnya udah terlalu banyak. Tiap hari ada aja masalah baru yang harus dipikirin dan dicari solusinya. Jadi, ga usah dengerin other people’s opinion yang malah menuhin-menuhin otak lo. Focus on your life.
Sekian dan terima gaji.
