Saturday, February 14, 2026

Noble Silence Journey in Bali Usada - The Healing and Breaking The Silence

Hi guys! How y’all doing?


Kejar tayang sebelum puasa dan masuk kerja lagi! Here we go!


~~Day 5: The Chakras, The People, and Things I Don’t Miss~~


As the second half of the program commenced, the day seemed to fly by in a blur.  I felt like I had conquered Forest Island and Tabanan. The weather wasn’t as cold. Despite the rain and wind, I felt completely unaffected and roamed freely in my loose pants (Jeanswest I am forever devoted to you! Thanks for all that comfy fabrics!).


Day 5 udah kayak hari biasa, ga berasa sepanjang hari-hari sebelumnya. Badan gw sudah terbiasa rutinitas dan lingkungan baru ini. My period juga udah ga sakit. This is good karena gw bisa fokus ke meditasi dan healing.


Yang menarik di hari kelima ini adalah kita diajarin teknik meditasi baru, namanya healing meditation. Meditasi ini fokusnya untuk menyembuhkan bagian tubuh kita yang sakit. Please bear with me karena abis ini gw mau menjelaskan sesuatu yang scientific.


Jadi, menurut ilmu meditasi, ada 2 penyebab sakit:

1. Gross Energy, ini yang sifatnya fisik, seperti genetic, temperatur, food, eating habits, dll

2. Subtle Energy, ini yang sifatnya non-fisik, seperti trauma, action (pikiran, perkataan, gestur, dll), vibrations caused by non-living beings (gadgets, listrik, crystal, dll), dan vibrations caused by living beings (friends, enemies, viruses, bosses, spirits, dll)


Penyakit dalam tubuh kita tidak hanya disebabkan karena satu hal, bisa jadi gross energy bekerjasama dengan subtle energy sehingga membentuk penyakit dan menyebabkannya menjadi lebih parah. 


Fyi, meditasi ga bisa menyembuhkan semua penyakit. Tapi, penyakit yang penyebab utamanya adalah subtle energy, bisa disembuhkan oleh meditasi. This is because meditation creates a harmonious mind that can strengthen and heal the subtle body so that the body can naturally overcome or heal the disease in the gross body. 


Meditation ga bisa membasmi virus atau bakteri. Tapi harmonious mind akan memperkuat antibodi sehingga tubuh kita lebih efektif menyembuhkan penyakit. 


Now let’s talk more about one of my favorite concepts: subtle energy. The subtle body has three components, the chakras, meridians, and the mentals. I won’t be getting too deep about these 3 because it’s too complex, but I want to focus on one: The Chakras.





So there are 7 Chakras in our body, each connecting a set of organs located in certain areas of the body. In healing meditation, we have to scan each of the Chakra from head to toe and focus on the one that is having a problem. 


For example, semua tau ya gw selalu bermasalah sama asam lambung, jadi gw harus memfokuskan meditasi gw pada Solar Plexus Chakra yang berada di perut. Coincidentally enough, the Solar Plexus Chakra is associated with personal power, confidence, and self-esteem—masalah gw banget juga kan? :D


Here’s the interesting part. When we meditate and focus on our chosen Chakra, if we do it the right way, the Chakra is supposed to react. Yes, harus bereaksi. Jika Chakra bereaksi, itu berarti proses healing-nya berjalan. 


Reaksi tiap orang beda-beda. Generally, it’s a tingling sensation. Tapi temen-temen gw yang berhasil, mengaku mendapat reaksi-reaksi lain seperti: mendapat vision akan warna Chakranya, badan bergetar, jantung berdebar, dll. 


Chakra gw? Ga bereaksi apa-apa. Wkwk. Sad.


Either meditasi gw kurang fokus atau gw masih terlalu pemula sehingga masih long way to go for my Chakra to be awakened.


Jadi kesimpulannya harus lebih serius dan konsisten meditasi. I cannot wait for my Chakra to show reaction. It’s like there’s something mystical alive and kicking inside my body gitu. Seru nih, kayak Luffy latihan Haki. Hahaha~~ 


Okay now onto the less serious parts! Hari kelima ini karena gw sudah terbiasa dengan keadaan dan officially menjadi warlok Tabanan, gw menyadari bahwa gw tidak kangen gadget. Lima hari ga pegang hape/iPad, turned out, I can survive without one. It’s all good. No chat, no socials, no weather, no shopping, no Chat GPT, no Grab, no streaming, nggak apa-apa!


Alhamdulillah salah satu KPI retreat tercapai: membuktikan bahwa gw TIDAK chronically online. Hell yeah!!!


Yuk ikut Tapa Brata 2 yang 2 minggu tanpa gadget! Challenge accepted! Hohoho~


But ngl I did miss music. Jadi kalo ada pilihan tetep boleh bawa gadget tapi cuma boleh satu app, gw akan pilih Spotify.


Another stories, sebenernya di retreat itu kita ga sepenuhnya harus diam. Komunikasi tipis-tipis gapapa asalkan non verbal dan terjadi secara natural. Misalnya kalo papasan di jalan saling senyum, gapapa. Kalo roommate telat, mau bangunin, gapapa. Kalo ga sengaja tabrakan, say sorry juga gapapa. 


“You don’t have to avoid eye contact or look all grumpy here.” kata instruktur. Hehehe


Ada juga waktu-waktu dimana kita dipersilakan untuk berbicara, either bertanya atau bercerita. Biasanya ketika sesi kelas bersama Pak Merta. Beberapa orang mendapat kesempatan itu dan yang lain mendengarkan. 


Sebuah sesi intimate yang membuat gw tersadar, wah, orang-orang yang ikut retreat ini adalah orang-orang yang “broken”. They have gone through a lot of things in life, some maybe bad things… Those with chronic illness, those who were victims of situations, those who cause problems, those with mental health problems, trauma, bad memories, and all kinds of life problems basically. 


Their stories are sad but at the same time very inspiring, because regardless of the situations and conditions, they had the courage to solve their problem by coming here to Bali Usada, united here for the same faith, to heal. They are so brave!


Shoutouts to all folks in UTB English 1019! You guys are awesome!



~~Day 6: Loving Kindness Meditation and Silence-Break~~


Nggak terasa sudah hari keenam. Good news, gw akhirnya bisa tidur nyenyak! Yeay!


Kemungkinan besar karena kelas terakhir di hari kelima selesai cukup larut, sekitar jam 11 malam. Both otak dan badan sudah sangat lelah jadi langsung terlelap. Bisa jadi juga karena malam itu gw skip minum susu, again, karena udah sangat lelah, ga inget harus minum susu, langsung hajar tidur. Apa jangan-jangan selama ini tersangkanya susu ya? Hmmm…


Karena tidur malam cukup, gw terbangun dengan good mood sekali. Agenda hari keenam sangat menyenangkan: 


1. Belajar meditasi loving kindness alias cinta kasih


Ini adalah jenis meditasi dimana kita mendoakan orang-orang di sekitar kita untuk berbahagia. Mantranya:


May I be happy


May my family be happy


May my friends be happy


May those who are neutral or with whom we have frequent contact be happy


May those who have problems with us be happy


Luar biasa deh meditasi ini, nggak cuma menyehatkan tapi juga ngajarin jadi orang baik karena bahkan musuh-musuh kita pun didoain. Wkwkwk~


2. Breaking the silence


Yup, hari Jumat pukul 5 sore, kita sudah boleh break the noble silence. Sudah boleh ngomong lagi dan harta benda duniawi dikembalikan.


I was excited, not because I got my gadgets back, but because I can finally talk to people again. It’s the thing I miss the most here: real interaction with people, real talk. I mean, my friends here are truly amazing. Mendengar cerita mereka briefly aja udah sangat mind-blowing, apalagi talk to them in person? Spoiler alert: banyak banget orang-orang keren di angkatan gw omg!!!


And yes, so we broke the silence dan seketika langsung berisik. Hahaha~~


Bu Kar, my favorite friend yang pernah gw ceritain di sini, tanpa babibu langsung bikin mini after party setelah dinner. Kita nyanyi, ngelawak, ngelenong, ngobrol, sampai hampir tengah malam, sampai ditegur instructor!


“I hope everyone here realizes that even though the noble silence is over, the retreat hasn’t and all participants still have to behave properly.”


LOL


I truly had fun with them di malam terakhir. So much fun that I couldn’t care less about my gadgets. I didn’t even open my phone right away, didn’t even plan to. Rencananya buka hape pas bener-bener mau pulang aja di hari ketujuh. Tapi sayang rencana gagal total karena malam itu gw insomnia (lagi!) jadi terpaksa buka hape buat bikin mata capek, only to read berita selebgram meninggal itu~ Ckck


I finally got to sleep. Setengah berharap mereka membiarkan kita tidur lebih lama karena I didn’t want to face tomorrow, didn’t want this retreat to end. Tapi suara kentungan ramah yang familiar itu itu tetap hadir 3x di pukul 4:30 pagi. :)



Lanjut Day 7 di next post! Byeee~~



Thursday, February 12, 2026

Noble Silence Journey in Bali Usada - Food, Exercise, Pak Merta, Side Effects

Hi guys! How y’all doing?


Trying my best to fasten this pace of writing because we are approaching mid Feb and Bali Usada journey was almost a month ago. Harus cepet-cepet ditulis supaya nggak lupa. Okay here we go!



~~DAY 3: 1on1 Consultation & Introduction to Anicca~~


So I got my period this day. LOL


Udah feeling sih karena emang tanggalnya. Bangkek.


Tapi gapapa, amunisi sudah siap. As expected, sakit perut dan pusing nggak bisa ditahan, akhirnya menyerah minum Feminax. Sebenernya ga boleh minum any kinds of medication selama retreat, kecuali resep dokter, karena the idea of meditasi itself is self-healing the body. Sorry, bener-bener ga tahan. Period sucks, man.


Akibat menstruasi ini gw jadi ga selincah Day 1 & Day 2. Banyakan rebahan di kamar ketika jam istirahat. Untungnya nafsu makan ga terganggu sih, gw makan seperti biasa. Cuma Day 3 ini snack-nya kureng, bubur kacang ijo yang hambar. Gw tambahin madu biar manis dan makannya pake roti tawar biar lebih semangat. Tapi roti tawarnya grains jadi ujung-ujungnya pahit juga. Huff~~


But thank God they provided kacang rebus yang wuenakkk pol! Gw nambah 3 kali!


Di hari ketiga ini gw mendapatkan konsultasi gratis selama 10 menit bersama instruktur. Fyi, setiap peserta diberikan sesi konsultasi bersama instruktur dan/atau Pak Merta, the master healer. I got the instructor one, not Pak Merta. I was hoping I got Pak Merta, but I guess karena masalah gw ga berat-berat amat, at least bukan chronic illness atau semacamnya, gw dapetnya instruktur aja. Gw perhatiin yang dapet Pak Merta masalahnya lebih berat soalnya, and it takes more than 30 mins for Pak Merta to heal them.


Well anyway, for this consultation gw tiba-tiba di-scout keluar gitu dari joglo meditasi, lalu dibawa ke sebuah bale dimana instruktur sudah menunggu. Gw diminta menceritakan the “why”. Kenapa gw ikut program meditasi ini? Ada masalah apa?


Gw ga sempet menjeberkan semuanya karena waktunya singkat, so I just shot him with the most urgent one. Yang mana yang paling urgent??? Rahasia dong~~ hihihihi


Lalu dia memberikan jawaban yang cukup klasik: rajin-rajin meditasi ya. Take 45 mins everyday for yourself, kosongin pikiran, gunakan teknik-teknik yang sudah dipelajari di Bali Usada. If 45 mins is too long, try 30 mins. In fact, the duration ain’t matter, yang penting konsisten. 


Fyuh, that is the hardest. Ini aja gw udah bolong meditasi 3 hari. Gotta make a system to stay consistent! Yuk bisa yuk!


Sedangkan untuk masalah gw yang lain, beliau mengatakan the keys to solve them are confidence and faith.


Di waktu luang, gw menjadi lebih observant terhadap Forest Island. I spent most of my times sitting under the Bodhi Tree, mencoba menangkap energi dari pohon sakral ini.


No luck, didn’t feel anything. Wkwk~ I saw some of my friends lanjut meditasi di bawah Bodhi Tree jadi gw memperhatikan mereka aja. Adem rasanya.


I also made a lot of new “little friends”. Banyak teman kecil di sekitar gw, yaitu serangga-serangga liar. Semut, belalang, kupu-kupu, lebah, kumbang, dll. Banyak banget spesies serangga di sana yang awalnya membuat gw insecure karena ga bawa autan, tapi surprisingly these guys ain’t bite. Gw membiarkan semut-semut naik ke kaki gw and they just hung out over there, didn’t harm me at all. Friendly fellas.


Pak Merta hadir di hari ketiga. Beliau mengisi kelas malam. Beliau sudah tua tapi energy-nya masih banyak, terutama saat bercerita. He got a lotttt of stories of him healing people and he’s a really good storyteller. Ga bosen dengernya, kayak didongengin sebelum tidur sama kakek kita. <3


As for the classes, di hari ketiga ini pelajaran-pelajaran yang gw dapet antara lain:

- someone else’s lateness is a blessing in disguise, karena ini kesempatan buat kita untuk melakukan hal lain

- word of the day: impermanent/anicca. All conditioned things are impermanent, so stop focusing ourselves on bad memories, bad reactions, bad people, etc. They will go away. The anicca concept helps develop detachment and acceptance, allowing for a more peaceful life amidst change.

- we cannot erase the bad memory but we can heal the pain


At 10PM, I came back to my room and found my Singaporean roommate put something on the toilet: 





Such a great initiative! Selama di kamar gw selalu insecure kalo mau No. 2 alias b.a.b karena takut toilet bau sampai keluar. She provided the solution!


From now on, kalo akan sekamar sama orang dalam waktu lama (atau sebentar pun gapapa), always bring toilet spray! Save a lot of people from embarrassment!



~~DAY 4: The Side Effects of Meditation~~


It was raining the whole night. Tabanan got extremely cold. Gw pakai jaket dan selimut berlapis. Still cannot get enough sleep unfortunately~


Akibatnya, masih ketiduran berkali-kali di morning meditation. Pretty sure beberapa orang melihat gw oleng, secara gw duduk paling depan~ Thank God people can’t talk here. Wkwkwk~


Pak Merta led the morning meditation and classes. A little more about him, despite his age (69 y.o), he is very smart and up-to-date. Dia paham Chat GPT, Grok, Gemini, Perplexity, dll. Geez old man, how many AI do you need to convince you? Wkwk


We heard more great stories from him. He traveled the world often, got to know people, some of them ended up becoming his patients or business partners. 


He doesn’t travel much these days, lebih sering stay di Bali sejak Covid—alasan kesehatan. Jadi orang-orang yang mau ketemu dia to get healed, harus ke Bali. 


Btw gw belum mention kalo selama retreat ini kita juga sering exercise alias olahraga. Ada namanya awareness exercise, ini dilakukan 2x sehari, pagi dan sore. Isinya beberapa gerakan stretching yang belum pernah gw lakukan sebelumnya, hard to explain, pokoknya banyakan berfokus pada tangan. I’ll just show you if we meet!


Semua gerakan exercise harus dilakukan dengan mata tertutup. Ada salah satu gerakan exercise dimana kita harus jinjit sambil menggerakkan tangan. ISTG, for this particular exercise, I can’t shut my eyes! Kalo mata ditutup, langsung oleng. Is this science? Hmmm…


Gimana progress makanan??? Well memasuki hari keempat I could say that makanan di sini ga ketebak, ada yang enak, ada yang b aja, ada yang dimakan supaya ga ma*i aja, wkwkwk~


Gw ketipu snack hari ini. Dari jauh keliatan kayak JaSuKe—jagung rebus, susu kental manis, keju, yang mana gw doyan banget, kalo beli di mall bisa 3 porsi saking enaknya. Jadi gw hopeful banget sama snack hari ini. 


But nope, it’s not Jasuke~ Jagungnya bener jagung rebus, tapi yang gw kira keju ternyata KELAPA PARUT, dan yang gw kira susu kental manis adalah YOGHURT. 


THANK U, NEXT!


Di hari keempat ini gw mendapat pemahaman kenapa kita ga boleh menulis selama retreat. Padahal menulis adalah salah satu coping mechanism untuk stress. Hal ini dikarenakan dengan menulis, berarti otak kita, pikiran kita, masih aktif. This is not allowed. This program is for us to empty our mind.


Di postingan ini gw akan membahas sedikit tentang side effect meditasi terhadap badan gw, karena program sudah setengah jalan di hari keempat. 


Kayaknya gw udah pernah jelasin sebelumnya bahwa intense meditation program ini akan membuat badan kita bereaksi dan reaksi masing-masing orang berbeda-beda jenisnya dan levelnya. Ada yang demam, anxiety, muntah-muntah, pusing, gemetaran, bahkan pingsan. 


Berikut yang gw rasakan:


1. Insomnia akut


Guys, jujur, gw ga bisa tidur pules sejak hari pertama landing di Forest Island. Yes, it was true that my roommates were snoring, tapi mereka baru ngorok 1 jam setelah kita mencoba tidur. Jadi seharusnya dalam 1 jam itu gw sudah terlelap sehingga tidak akan mendengar suara ngorok mereka~ But nope, I couldn’t sleep at all. Paling ketiduran tipis-tipis, terus kebangun lagi. 


I tried to make sense of it, karena totally ga make sense~ Badan gw capek seharian beraktivitas. Bangun jam 4 pagi, tidur jam 10 malem~ Kok malah ga bisa tidur?


Jadi gw simpulkan insomnia adalah efek samping meditasi buat gw.


Gw coba mengatasi insomnia dengan minum susu panas sebelum tidur. This habit made me lose 10 mins of Pak Merta’s night classes, karena gw harus cabut ke restoran buat nyeduh susu. Biarin, my sleep is more important! 


2. Hella thirsty in the middle of the night


Ini terjadi di setiap malam sejak retreat sampai sekarang! Crazy!


Gw bisa kebangun tengah malam karena tenggorokan gw kering yang bener-bener kering.


Mungkin terdengar gapapa, tapi trust me guys, ini keringnya tuh beda dari biasanya. Biasanya kalo haus gw bisa tahan sampai pagi. Ini tuh nggak. Keringnya berasa banget dan memberikan efek seperti ikan yang nggak sengaja keluar dari air. Menggelepar putus asa, napas naik turun cepat, mulu megap-megap, nah gw kayak gitu tuh. Langsung panik cari air minum. 


Okay from now on, water beside bed is a non-negotiable before sleep. 


3. Burning palms


Ini gw rasakan setelah hari keempat. Saat bermeditasi, telapak tangan gw berubah suhu sendiri menjadi lebih panas. This is so weird karena cuma telapak tangan yang begini, the rest of my body is normal~


Saking panasnya, gw harus kibas-kibas tangan berkali-kali. Ketika meditasi harusnya telapak tangan kanan dan kiri kita menyatu tapi karena dua-duanya panas, gw harus memisahkan mereka otherwise it was burninnn hotttt~~


Masalah ini gw sampaikan ke instruktur. Menurut beliau, telapak tangan gw itu bereaksi atas suatu bad reactions yang teringat kembali saat gw meditasi. Burning means anger. Ada kemarahan yang tersimpan di telapak tangan gw yang harus gw atasi, terima, dan berdamai. Ini bisa terjadi karena gw melakukan kesalahan dengan tangan, sengaja atau tidak sengaja, besar atau kecil, can be anything. 


Masalahnya guys, gw sama sekali nggak inget apa-apa. I did a lot of things with my hands and gotta admit, mungkin ada hal-hal yang kurang berkenan. Hurting people, throwing middle fingers, writing bad things, I mean…. it can be a lot of things. But I just can’t remember one that has anything to do with the anger…


Ini masih menjadi misteri buat gw karena fenomena burning hands ini masih terjadi sampai sekarang ketika gw meditasi.


Crazy.


Well I guess semua efek samping meditasi buat gw itu tetep masih moderate-lah, nggak parah. Masih tolerable compared to efek samping yang lebih mengerikan seperti demam atau anxiety. 


Tapi karena perjalanan meditasi gw ini masih panjang (dikasih pe er meditasi setiap hari selama 3 bulan), I guess I have no choice but deal with all of those. 


Doakan saya ya.


Okay those are all for today. I’ll see yall in Day 5-7!