Thursday, February 12, 2026

Noble Silence Journey in Bali Usada - Food, Exercise, Pak Merta, Side Effects

Hi guys! How y’all doing?


Trying my best to fasten this pace of writing because we are approaching mid Feb and Bali Usada journey was almost a month ago. Harus cepet-cepet ditulis supaya nggak lupa. Okay here we go!



~~DAY 3: 1on1 Consultation & Introduction to Anicca~~


So I got my period this day. LOL


Udah feeling sih karena emang tanggalnya. Bangkek.


Tapi gapapa, amunisi sudah siap. As expected, sakit perut dan pusing nggak bisa ditahan, akhirnya menyerah minum Feminax. Sebenernya ga boleh minum any kinds of medication selama retreat, kecuali resep dokter, karena the idea of meditasi itself is self-healing the body. Sorry, bener-bener ga tahan. Period sucks, man.


Akibat menstruasi ini gw jadi ga selincah Day 1 & Day 2. Banyakan rebahan di kamar ketika jam istirahat. Untungnya nafsu makan ga terganggu sih, gw makan seperti biasa. Cuma Day 3 ini snack-nya kureng, bubur kacang ijo yang hambar. Gw tambahin madu biar manis dan makannya pake roti tawar biar lebih semangat. Tapi roti tawarnya grains jadi ujung-ujungnya pahit juga. Huff~~


But thank God they provided kacang rebus yang wuenakkk pol! Gw nambah 3 kali!


Di hari ketiga ini gw mendapatkan konsultasi gratis selama 10 menit bersama instruktur. Fyi, setiap peserta diberikan sesi konsultasi bersama instruktur dan/atau Pak Merta, the master healer. I got the instructor one, not Pak Merta. I was hoping I got Pak Merta, but I guess karena masalah gw ga berat-berat amat, at least bukan chronic illness atau semacamnya, gw dapetnya instruktur aja. Gw perhatiin yang dapet Pak Merta masalahnya lebih berat soalnya, and it takes more than 30 mins for Pak Merta to heal them.


Well anyway, for this consultation gw tiba-tiba di-scout keluar gitu dari joglo meditasi, lalu dibawa ke sebuah bale dimana instruktur sudah menunggu. Gw diminta menceritakan the “why”. Kenapa gw ikut program meditasi ini? Ada masalah apa?


Gw ga sempet menjeberkan semuanya karena waktunya singkat, so I just shot him with the most urgent one. Yang mana yang paling urgent??? Rahasia dong~~ hihihihi


Lalu dia memberikan jawaban yang cukup klasik: rajin-rajin meditasi ya. Take 45 mins everyday for yourself, kosongin pikiran, gunakan teknik-teknik yang sudah dipelajari di Bali Usada. If 45 mins is too long, try 30 mins. In fact, the duration ain’t matter, yang penting konsisten. 


Fyuh, that is the hardest. Ini aja gw udah bolong meditasi 3 hari. Gotta make a system to stay consistent! Yuk bisa yuk!


Sedangkan untuk masalah gw yang lain, beliau mengatakan the keys to solve them are confidence and faith.


Di waktu luang, gw menjadi lebih observant terhadap Forest Island. I spent most of my times sitting under the Bodhi Tree, mencoba menangkap energi dari pohon sakral ini.


No luck, didn’t feel anything. Wkwk~ I saw some of my friends lanjut meditasi di bawah Bodhi Tree jadi gw memperhatikan mereka aja. Adem rasanya.


I also made a lot of new “little friends”. Banyak teman kecil di sekitar gw, yaitu serangga-serangga liar. Semut, belalang, kupu-kupu, lebah, kumbang, dll. Banyak banget spesies serangga di sana yang awalnya membuat gw insecure karena ga bawa autan, tapi surprisingly these guys ain’t bite. Gw membiarkan semut-semut naik ke kaki gw and they just hung out over there, didn’t harm me at all. Friendly fellas.


Pak Merta hadir di hari ketiga. Beliau mengisi kelas malam. Beliau sudah tua tapi energy-nya masih banyak, terutama saat bercerita. He got a lotttt of stories of him healing people and he’s a really good storyteller. Ga bosen dengernya, kayak didongengin sebelum tidur sama kakek kita. <3


As for the classes, di hari ketiga ini pelajaran-pelajaran yang gw dapet antara lain:

- someone else’s lateness is a blessing in disguise, karena ini kesempatan buat kita untuk melakukan hal lain

- word of the day: impermanent/anicca. All conditioned things are impermanent, so stop focusing ourselves on bad memories, bad reactions, bad people, etc. They will go away. The anicca concept helps develop detachment and acceptance, allowing for a more peaceful life amidst change.

- we cannot erase the bad memory but we can heal the pain


At 10PM, I came back to my room and found my Singaporean roommate put something on the toilet: 





Such a great initiative! Selama di kamar gw selalu insecure kalo mau No. 2 alias b.a.b karena takut toilet bau sampai keluar. She provided the solution!


From now on, kalo akan sekamar sama orang dalam waktu lama (atau sebentar pun gapapa), always bring toilet spray! Save a lot of people from embarrassment!



~~DAY 4: The Side Effects of Meditation~~


It was raining the whole night. Tabanan got extremely cold. Gw pakai jaket dan selimut berlapis. Still cannot get enough sleep unfortunately~


Akibatnya, masih ketiduran berkali-kali di morning meditation. Pretty sure beberapa orang melihat gw oleng, secara gw duduk paling depan~ Thank God people can’t talk here. Wkwkwk~


Pak Merta led the morning meditation and classes. A little more about him, despite his age (69 y.o), he is very smart and up-to-date. Dia paham Chat GPT, Grok, Gemini, Perplexity, dll. Geez old man, how many AI do you need to convince you? Wkwk


We heard more great stories from him. He traveled the world often, got to know people, some of them ended up becoming his patients or business partners. 


He doesn’t travel much these days, lebih sering stay di Bali sejak Covid—alasan kesehatan. Jadi orang-orang yang mau ketemu dia to get healed, harus ke Bali. 


Btw gw belum mention kalo selama retreat ini kita juga sering exercise alias olahraga. Ada namanya awareness exercise, ini dilakukan 2x sehari, pagi dan sore. Isinya beberapa gerakan stretching yang belum pernah gw lakukan sebelumnya, hard to explain, pokoknya banyakan berfokus pada tangan. I’ll just show you if we meet!


Semua gerakan exercise harus dilakukan dengan mata tertutup. Ada salah satu gerakan exercise dimana kita harus jinjit sambil menggerakkan tangan. ISTG, for this particular exercise, I can’t shut my eyes! Kalo mata ditutup, langsung oleng. Is this science? Hmmm…


Gimana progress makanan??? Well memasuki hari keempat I could say that makanan di sini ga ketebak, ada yang enak, ada yang b aja, ada yang dimakan supaya ga ma*i aja, wkwkwk~


Gw ketipu snack hari ini. Dari jauh keliatan kayak JaSuKe—jagung rebus, susu kental manis, keju, yang mana gw doyan banget, kalo beli di mall bisa 3 porsi saking enaknya. Jadi gw hopeful banget sama snack hari ini. 


But nope, it’s not Jasuke~ Jagungnya bener jagung rebus, tapi yang gw kira keju ternyata KELAPA PARUT, dan yang gw kira susu kental manis adalah YOGHURT. 


THANK U, NEXT!


Di hari keempat ini gw mendapat pemahaman kenapa kita ga boleh menulis selama retreat. Padahal menulis adalah salah satu coping mechanism untuk stress. Hal ini dikarenakan dengan menulis, berarti otak kita, pikiran kita, masih aktif. This is not allowed. This program is for us to empty our mind.


Di postingan ini gw akan membahas sedikit tentang side effect meditasi terhadap badan gw, karena program sudah setengah jalan di hari keempat. 


Kayaknya gw udah pernah jelasin sebelumnya bahwa intense meditation program ini akan membuat badan kita bereaksi dan reaksi masing-masing orang berbeda-beda jenisnya dan levelnya. Ada yang demam, anxiety, muntah-muntah, pusing, gemetaran, bahkan pingsan. 


Berikut yang gw rasakan:


1. Insomnia akut


Guys, jujur, gw ga bisa tidur pules sejak hari pertama landing di Forest Island. Yes, it was true that my roommates were snoring, tapi mereka baru ngorok 1 jam setelah kita mencoba tidur. Jadi seharusnya dalam 1 jam itu gw sudah terlelap sehingga tidak akan mendengar suara ngorok mereka~ But nope, I couldn’t sleep at all. Paling ketiduran tipis-tipis, terus kebangun lagi. 


I tried to make sense of it, karena totally ga make sense~ Badan gw capek seharian beraktivitas. Bangun jam 4 pagi, tidur jam 10 malem~ Kok malah ga bisa tidur?


Jadi gw simpulkan insomnia adalah efek samping meditasi buat gw. 


2. Hella thirsty in the middle of the night


Ini terjadi di setiap malam sejak retreat sampai sekarang! Crazy!


Gw bisa kebangun tengah malam karena tenggorokan gw kering yang bener-bener kering.


Mungkin terdengar gapapa, tapi trust me guys, ini keringnya tuh beda dari biasanya. Biasanya kalo haus gw bisa tahan sampai pagi. Ini tuh nggak. Keringnya berasa banget dan memberikan efek seperti ikan yang nggak sengaja keluar dari air. Menggelepar putus asa, napas naik turun cepat, mulu megap-megap, nah gw kayak gitu tuh. Langsung panik cari air minum. 


Okay from now on, water beside bed is a non-negotiable before sleep. 


3. Burning palms


Ini gw rasakan setelah hari keempat. Saat bermeditasi, telapak tangan gw berubah suhu sendiri menjadi lebih panas. This is so weird karena cuma telapak tangan yang begini, the rest of my body is normal~


Saking panasnya, gw harus kibas-kibas tangan berkali-kali. Ketika meditasi harusnya telapak tangan kanan dan kiri kita menyatu tapi karena dua-duanya panas, gw harus memisahkan mereka otherwise it was burninnn hotttt~~


Masalah ini gw sampaikan ke instruktur. Menurut beliau, telapak tangan gw itu bereaksi atas suatu bad reactions yang teringat kembali saat gw meditasi. Burning means anger. Ada kemarahan yang tersimpan di telapak tangan gw yang harus gw atasi, terima, dan berdamai. Ini bisa terjadi karena gw melakukan kesalahan dengan tangan, sengaja atau tidak sengaja, besar atau kecil, can be anything. 


Masalahnya guys, gw sama sekali nggak inget apa-apa. I did a lot of things with my hands and gotta admit, mungkin ada hal-hal yang kurang berkenan. Hurting people, throwing middle fingers, writing bad things, I mean…. it can be a lot of things. But I just can’t remember one that has anything to do with the anger…


Ini masih menjadi misteri buat gw karena fenomena burning hands ini masih terjadi sampai sekarang ketika gw meditasi.


Crazy.


Well I guess semua efek samping meditasi buat gw itu tetep masih moderate-lah, nggak parah. Masih tolerable compared to efek samping yang lebih mengerikan seperti demam atau anxiety. 


Tapi karena perjalanan meditasi gw ini masih panjang (dikasih pe er meditasi setiap hari selama 3 bulan), I guess I have no choice but deal with all of those. 


Doakan saya ya.


Okay those are all for today. I’ll see yall in Day 5-7!

 

Wednesday, February 4, 2026

Noble Silence Journey in Bali Usada - A Day By Day Review: Intro, Venue, Schedule, Challenges

Hi guys! How y’all doing?


Sorry I’ve been neglecting this blog for so long, sibuk liburan. Hehe~


Yeah, setelah perjalanan noble silence selesai gw memang back to back liburan di Bali sampai sekarang all the way to mid-Feb. Setiap hari jadwal padat karena gw mau experience liburan ini semaksimal mungkin. 


I could say more about my holiday but let me write down my noble silence journey first before the memories fade away.


Gw sudah selesai menjalani retreat noble silence di Bali Usada tanggal 18-24 Januari kemarin dan sekarang mau menceritakan pengalaman gw di sana dengan jujur tanpa sensor. Gw akan breakdown day by day kegiatannya ngapain aja diselingi dengan opini dan hal-hal berkesan yang gw rasakan selama retreat. Let’s go!


~~DAY 1: Welcome to Forest Island~~


Gw tiba di Bali hari Minggu 18 Januari siang dan langsung menuju center Bali Usada di Sanur sebagai titik kumpul untuk selanjutnya naik shuttle ke center Forest Island Samadhiyukti di Tabanan. Gw ketemu beberapa participant di Sanur dan kenalan, salah satunya Ibu Kartika Kaliman (Bu Kar)—easily become one of the funniest person I’ve met in person! :D 


Very short intro, kemudian kita langsung diarahkan untuk naik mobil Innova ke Tabanan. Satu mobil berempat aja, enough space for all of us to feel comfortable. Perjalanan 2 jam menuju Tabanan, niatnya mau tidur karena morning flight kurang tidur, tapi Bu Kar ngelawak melulu sepanjang jalan. Ga jadi tidur deh! xD


Kita berempat sampai pertama di Tabanan, check in, taro barang di kamar, dan lanjut roaming around foto-foto—mumpung masih bisa pegang gadget! Centernya lumayan besar, terdiri dari beberapa halaman dan tempat meditasi di alam terbuka (termasuk area meditasi Bodhi Tree, pohon Bodhi yang sakral), satu joglo restoran untuk makan, satu joglo untuk kamar tidur 1 orang (thank God gw ga ditempatin ga di sini, kamarnya kecil banget, kata Bu Kar kayak jail. Hahaha), ada 3 Lumbung—kamar versi baru renov yang aesthetic kayak villa beneran (interiornya sama aja sih sama kamar pondok), dan sekitar 7 Pondok—kamar versi lama. 


Kamarnya gimana? Gw dapet kamar tipe Pondok. Kayak rumah lama gitu, tapi yang penting bersih dan proper. 







Pertanyaan gw tentang air panas terjawab! Ada gaes! Hohoho! 


How about your roommate? Untuk roommate ditentukan sama panitia, ga bisa milih. Gw sekamar dengan a local Balinese and a Brisbane-based Singaporean. 


Orang-orangnya gimana? Well kan ga bisa ngomong ya. Wkwk~ But based on our limited interaction on the first and last day, both are okay. I’m closer to the Singaporean girl, sempet hangout bentar sama dia paska program di Sanur. Very friendly fella.


Anyway, program dimulai jam 5 tepat dengan briefing awal di Joglo Meditasi Asangkata a.k.a the main hall. Kita diberikan amplop cokelat besar untuk menyerahkan semua harta duniawi seperti handphone, laptop, tablet, dompet, buku, dll. Di tahap ini kita sudah tidak boleh berbicara satu sama lain. 


Lalu lanjut dengan early dinner. ISTG the vegetarian food was delicious! Atau taste good karena gw udah laper banget kali ya? Maklum, terakhir makan jam 1 di jalan dari airport menuju Sanur. 





Setelah dinner, lanjut meditasi malam sampai jam 9, lalu balik ke kamar, mandi, bersih-bersih, tidur.


Not so bad for the first day. It’s just that I can't sleep at night. Syucks. 



~~DAY 2: Schedules and Challenges~~


Sebelum memulai day by day review, alangkah baiknya kalo gw share dulu jadwal harian kita in general:





Kurang lebih jadwalnya seperti itu sepanjang program, walaupun kadang-kadang ada yang diubah/di-adjust tergantung sikon.


Kita dibangunkan pukul 4:30am dengan kentungan bell 3 kali. Bell dibunyikan tepat depan pondok so there’s no way kita ga denger… tapi gw tetep ga denger karena baru bisa tidur jam 3an dalam posisi pake earplugs karena si Singaporean girl ngorok~ My roommates can’t wake me up either karena kan ga boleh ngomong ya! LOL


Wah kacau. Gw hampirrr banget telat hari pertama. Untung mata kebuka dikit terus nyadar semua orang udah dressed up ready to go, gw masih gegoleran. Tanpa babibu langsung cuci muka, sikat gigi, pipis, cabuttt~ LOL


Kita memulai hari dengan meditasi subuh 45 menit. Oiya, semua meditasi di sini standarnya 45 menit ygy.


Kemudian lanjut sarapan. Ada 2 tipe breakfast di sini: fruit breakfast (buah only) dan big breakfast (set menu lengkap). Fruit breakfast sama terus sepanjang program. Satu mangkok isinya apel, pisang, buah naga, pepaya. Disediakan juga granola, yoghurt, madu, roti, selai. Tinggal di mix and match sesuai selera. 


Fruit breakfast basically hanya menyiapkan kita untuk morning exercise. Buah itu hanya bertahan di perut kita 20 menit sehingga ketika exercise semua sudah terbakar habis. Hence, ketika big breakfast, perut kita udah kosong lagi dan siap menerima makanan berat.


Well, regardless, I’m so thankful for the fruits karena mereka adalah pembatal puasa. Yha, selama program kita itu puasa dari jam 6 sore sampai 6 pagi gaes. No dinner. Jadi bangun pagi tuh perut dalam kondisi laper parah. I actually don’t really like fruits, apalagi buat breakfast, tapi karena laper banget, ya hajar aja. LOL


Setelah fruit breakfast, kita exercise. Ini udah dikasih tau in advance dan gw udah expect olahraga berat macem lari pagi 5km kayak waktu karantina LPDP gitu. Gw bawa baju banyak banget + sepatu lari ON untuk antisipasi ini. Turned out, olahraga cupu aja gaes, stretching and stuffs, indoor pula, nonton even keringetan. Wkwk


We were unlucky karena hari kedua ini hujan lumayan deras sehingga Tabanan dingin sekali. Waktu masih bisa ngomong, sempet janjian sama roommates untuk pembagian kamar mandi. Si Balinese girl ambil jatah mandi malem, si Singaporean girl mandi siang.


Gw? Dengan pedenya bilang: “Oh, I’m always a morning person so I take the morning slot.”


In reality: hujan sepanjang malam sehingga mandi pagi not only sounded unrealistic but also life-threatening. LOL


Jadinya gw ikut slot yang siang, mandi setelah si Singaporean. 


Lalu bagaimana meditasinya? Intense gaes. We meditated 9-10 hours a day, cuma break 15 mins in between. Buat orang yang baru pertama kali meditasi seperti gw, tantangannya 2x lebih besar karena sekalinya berusaha untuk fokus, pasti terdistraksi. Dan gw kalo terdistraksi ga tanggung-tanggung: bikin fanfic. LOL 


Kalo boleh nulis, udah jadi novel/cerpen tuh. LOL


Awalnya gw kira cuma gw yang easily distracted, ternyata banyak, to the point ada yang nanya via surat. 


Oiya, aturan main noble silence itu ada 4:

- NO TALKING

- NO READING

- NO WRITING

- NO DAYDREAMING


Kalo kita ada concern, boleh berkomunikasi sama staf atau instruktur, tapi via surat. Ada writing corner di depan joglo beserta pulpen dan kertas. Sebelum sesi meditasi atau kelas, semua surat dikumpulkan dan dibacakan oleh instruktur. Anonymous. Jadi tenang aja, even the most stupid question aman-aman aja ditanyain.


So yeah, ternyata banyak yang terdistraksi juga, dan saran instrukturnya cuma satu: just continue. 


Whenever you realize you are distracted, just re-focus and continue. 


Tantangan lain adalah ketiduran. LOL. Apalagi buat meditasi pagi, gampang banget ketiduran. Gw sering banget ketiduran, kadang sampai oleng. LOL 


Gw sempet denger ada peserta yang ketiduran parah banget sampai ngorok. LOL. Ini sama solusinya, just re-focus and continue. 


Tantangan selanjutnya adalah kentut. LOL. No need explanation ya. Padahal no harm lho kalo kentut, kan warga ga bisa komen, ga boleh ngomong. LOL


Tantangan selanjutnya adalah: our intelligence. Ini kaitannya dengan how our body reacted during meditation. Kesemutan, kram, pegal, gatal, kedinginan, dll. Contoh: kalo kaki kesemutan, secara otomatis kita bakal lurusin kaki. Ini karena our intelligence sudah merekam reaksi kalo kesemutan itu harus lurusin kaki.


Nah dalam meditasi ini sebenernya ga boleh. Boleh kalo lagi meditasi ringan. Tapi kalo meditasi berat atau yang istilah Bali Usadanya meditation determination, itu ga boleh ygy. Harus tetep diem. 


Emang bisa? Ya nggaklah. LOL. Gw pasti otomatis ubah posisi. 


Lalu kolega ada yang bertanya: apa yang harus saya lakukan jika kesemutan?


Jawabannya: tahan aja selama masih bisa ditahan, fokus ke pikiran. Your intelligence is a cheating machine yang akan langsung membuat badan kita bereaksi berdasarkan apa yang direkam pikiran kita atas masalah itu. Jangan terdistraksi. Lanjutkan.


Yah begitulah kesan-kesan Day 2. Hari yang officially noble silence. Hari yang terasa panjaaaaang sekali. Waktu tuh kayak ga abis-abis. Terang terus, lama gelapnya. 


Gw banyak menghabiskan waktu kontemplasi di waktu kosong, berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan. Mikirin orang-orang di Jakarta yang mungkin pada waktu yang sama lagi kerja, meeting, atau di jalan kena macet. Mikirin anak-anak Awe, di hari Senin biasanya ada meeting apaan aja..


Oh, one more thing, yang gw suka dari retreat ini: ga usah dandan,  coz who cares? People can’t talk anyway. You also probably won’t see them again after the retreat, so why bother? Hahahaha


Ok gaes, lanjut Part 2 ya. Kayaknya gw bisa ngeblog pas lagi di Kintamani. Banyakan stay at villa soalnya, agendanya bengong aja seharian. LOL


See ya.