Tuesday, February 17, 2026

Noble Silence Journey in Bali Usada - Last Day

Hi guys! How y’all doing?


Akhirnya sampai di postingan terakhir Bali Usada.


~~Day 7: The Inauguration of UTB English 1019~~


Hari dimulai dengan normal. Bangun subuh, meditasi pagi, sarapan buah, exercise, sarapan berat, lalu break. Bedanya Forest Island hari ini lebih ramai aja karena semua orang udah bisa ngomong. 


Setelah break, we were doing the final meditation of the retreat: meditation by the Bodhi Tree. Alhamdulillah cuaca mendukung, kita semua bertolak keluar untuk meditasi di bawah pohon Bodhi, dipimpin oleh Pak Merta. 







Serius amat ya muka w kalo lagi meditating. Wkwk~


But seriously guys, meditasi itu walaupun cuma duduk doang, membutuhkan energi yang besar lho. Shutting and emptying your mind aren’t that easy. 


Setelah itu retreat pun resmi berakhir. Kita berfoto bersama di depan Joglo Meditasi sebelum lanjut ke acara terakhir: sharing session.




Kita masuk lagi ke joglo meditasi untuk… berkenalan. Ya, finally, berkenalan secara resmi, karena kan selama ini nggak ngomong. Hehehe


Kita diminta memperkenalkan diri: nama, asal, pekerjaan/aktivitas sehari-hari. Di sinilah gw baru mengenal rekan-rekan sejawat. Walaupun gw ikut program English, yang bener-bener foreigner cuma sedikit, paling 10 orang. Campuran dari Jerman, UK, Australia, Singapore, Taiwan, dan China. Lumayan banyak orang Indo asli Medan tapi mereka tinggal di Singapore. Orang Jakarta bisa dibilang minoritas, tapi orang South Tangerang alias Tangsel banyak. Wkwkwk~ 


Ternyata ada beberapa mutual friends. Temennya temen, atau kenalannya temen. 


Lima orang diminta menjadi volunteer untuk menceritakan kisah mereka. Lima orang luar biasa kuat karena kisah hidupnya menyedihkan sekaligus mengharukan sekali, so having the courage to tell people about it is just… wow! You guys are incredibly strong!


Setelah sharing session, Pak Merta resmi menutup retreat dan kita semua lanjut makan siang terakhir. 


Nah di sini lumayan gedabak gedubuk tuh, karena at the same time kita harus:

- packing/beres-beres kamar

- tukeran kontak (nomer/IG/email/dll)

- foto-foto/ngonten

- beli souvenir 

- donasi

- taro koper di mobil

- checkout


Jam 2 tepat sudah harus meninggalkan Forest Island karena panitia mau mempersiapkan tempat untuk kloter retreat berikutnya. 


Gw sendiri memprioritaskan konten dan tukeran kontak. Karena sungguh warga sini tuh keren-keren dan baik-baik banget. Kalo bisa sih ketemu lagi ya in the future. Keep in touch-lah minimal.


Gw ngonten lumayan lama karena pengen mengabadikan semua momen di Forest Island. Postingannya udah gw post di sini


Gw termasuk salah satu orang yang paling terakhir checkout. Tenang aja, ditungguin kok sama mobilnya. Mobil yang akan membawa kita kembali ke Sanur. Mobilnya keren-keren btw, minimal Innova. Satu mobil juga ga diisi penuh. Perjalanan balik gw cuma bertiga semobil, bersama Cik Yenny dan Cik Melanie—dua warga Medan yang sudah menjadi Singaporean. 


Keduanya teman perjalanan yang asyik karena pada suka cerita. Cik Melanie nekat meditasi padahal lagi hamil 5 bulan. Cik Yenny world traveler, udah pernah ke Machu Picchu. Keren!!! Terima kasih cicik-cicik seru dan baik hati yang membuat perjalanan pulangku tidak membosankan. <3


1,5 jam kemudian kita berpisah di Sanur. Sampai ketemu lagi, orang-orang baik. <3


Alright! Gw akan menutup postingan Bali Usada dengan FAQs!


Gimana cara daftar Bali Usada?

Kontak aja Whatsapp-nya di IG @baliusada. Nanti dikasih petunjuk sama adminnya.


Berapa biayanya?

Usada Tapa Brata 1 - English, biayanya Rp 6,500,000,- untuk program 7 hari 6 malam.


Gimana rasanya hidup tanpa gadget?

Damai. Tenang. Organik. Tidak ada distraksi. Tidak ada deadline. Hari terasa sangat panjang. Panca indra beristirahat. Gw sih suka ya. 


Gimana rasanya jadi vegetarian?

Hhhh. I mean, kalo makanannya lagi enak sih gw hepi-hepi aja. But for this life, I’m still gonna be a carnivore. Thanks. Wkwk~


Kenapa ambil yang English?

Supaya classmates-nya bule. Suudzon gw kala itu sih, kalo isinya orang Indo semua takut pada ga taat peraturan~ Kan males ya kalo tiba-tiba diajak ngomong, orang Indo kan suka gitu ya~ Slacking off~ Bule lebih taat aturan in general, so I chose the English one. I didn’t regret it. 


Apa yang dikangenin selama retreat?

Pertama, yang paling dikangenin adalah real interaction with people. Ngobrol tuh ngangenin lho ternyata. Apalagi kalo sekitar lo orang-orang asyik semua. Kedua, kangen makan daging—say no more! Ketiga, kangen dengerin musik. 


Bisa sholat nggak?

Bisa, tapi di kamar masing-masing ya, karena ga ada masjid/mushola. Ada break 15 menit di antara setiap kegiatan yang bisa dipakai untuk sholat. 


Apa yang dirasakan setelah “lulus”?

Yang gw rasakan, badan tuh rasanya sehat banget. Mungkin efek dari makanan vegetarian atau udara Tabanan yang bersih sekali atau pola hidup sehat dan olahraga atau pikiran yang clear karena meditasi intensif... Keluar dari sana tuh badan gw rasanya enak banget, ga ada pegel-pegel apapun. 

Gw juga mendapat banyak ilmu, baik ilmu meditasi, kesehatan, science, dll. Otak tersubsidi juga. Belajar lagi. Membuka wawasan dan perspektif baru. Jadi setelah lulus sensasinya kayak lulus sekolah/kuliah, ada bangganya gitulah.

Terus dapet banyak temen baru juga. Lumayan untuk networking dan nambah-nambahin temen di IG. Hehe


Would you recommend Bali Usada?

Yeah of course. Untuk yang punya masalah kesehatan, ada teknik-teknik meditasi yang bisa menyembuhkan. Untuk yang punya masalah hidup, ini bisa jadi semacam sabbatical journey untuk self-discovery, figure out what next, atau mencari akar masalah untuk mengatasi masalah yang ada. 

Tapi inget ya, don’t expect a quick fix for your problem dengan dateng ke sini. Jangan harap semua masalah lo langsung selesai di sini. No.

Yang mereka berikan itu teknik-teknik meditasi yang sudah berhasil sebelumnya. They give us tools, it depends on us to use them wisely to get better. 

Also, siapin mental kalo mau ikutan. Meditasi tidak untuk semua orang. Ada efek sampingnya. Pastikan elo siap untuk itu. 


Okieee~~ That’s the end of my healing journey. Thank you sooo much for reading. <3


Saturday, February 14, 2026

Noble Silence Journey in Bali Usada - The Healing and Breaking The Silence

Hi guys! How y’all doing?


Kejar tayang sebelum puasa dan masuk kerja lagi! Here we go!


~~Day 5: The Chakras, The People, and Things I Don’t Miss~~


As the second half of the program commenced, the day seemed to fly by in a blur.  I felt like I had conquered Forest Island and Tabanan. The weather wasn’t as cold. Despite the rain and wind, I felt completely unaffected and roamed freely in my loose pants (Jeanswest I am forever devoted to you! Thanks for all that comfy fabrics!).


Day 5 udah kayak hari biasa, ga berasa sepanjang hari-hari sebelumnya. Badan gw sudah terbiasa rutinitas dan lingkungan baru ini. My period juga udah ga sakit. This is good karena gw bisa fokus ke meditasi dan healing.


Yang menarik di hari kelima ini adalah kita diajarin teknik meditasi baru, namanya healing meditation. Meditasi ini fokusnya untuk menyembuhkan bagian tubuh kita yang sakit. Please bear with me karena abis ini gw mau menjelaskan sesuatu yang scientific.


Jadi, menurut ilmu meditasi, ada 2 penyebab sakit:

1. Gross Energy, ini yang sifatnya fisik, seperti genetic, temperatur, food, eating habits, dll

2. Subtle Energy, ini yang sifatnya non-fisik, seperti trauma, action (pikiran, perkataan, gestur, dll), vibrations caused by non-living beings (gadgets, listrik, crystal, dll), dan vibrations caused by living beings (friends, enemies, viruses, bosses, spirits, dll)


Penyakit dalam tubuh kita tidak hanya disebabkan karena satu hal, bisa jadi gross energy bekerjasama dengan subtle energy sehingga membentuk penyakit dan menyebabkannya menjadi lebih parah. 


Fyi, meditasi ga bisa menyembuhkan semua penyakit. Tapi, penyakit yang penyebab utamanya adalah subtle energy, bisa disembuhkan oleh meditasi. This is because meditation creates a harmonious mind that can strengthen and heal the subtle body so that the body can naturally overcome or heal the disease in the gross body. 


Meditation ga bisa membasmi virus atau bakteri. Tapi harmonious mind akan memperkuat antibodi sehingga tubuh kita lebih efektif menyembuhkan penyakit. 


Now let’s talk more about one of my favorite concepts: subtle energy. The subtle body has three components, the chakras, meridians, and the mentals. I won’t be getting too deep about these 3 because it’s too complex, but I want to focus on one: The Chakras.





So there are 7 Chakras in our body, each connecting a set of organs located in certain areas of the body. In healing meditation, we have to scan each of the Chakra from head to toe and focus on the one that is having a problem. 


For example, semua tau ya gw selalu bermasalah sama asam lambung, jadi gw harus memfokuskan meditasi gw pada Solar Plexus Chakra yang berada di perut. Coincidentally enough, the Solar Plexus Chakra is associated with personal power, confidence, and self-esteem—masalah gw banget juga kan? :D


Here’s the interesting part. When we meditate and focus on our chosen Chakra, if we do it the right way, the Chakra is supposed to react. Yes, harus bereaksi. Jika Chakra bereaksi, itu berarti proses healing-nya berjalan. 


Reaksi tiap orang beda-beda. Generally, it’s a tingling sensation. Tapi temen-temen gw yang berhasil, mengaku mendapat reaksi-reaksi lain seperti: mendapat vision akan warna Chakranya, badan bergetar, jantung berdebar, dll. 


Chakra gw? Ga bereaksi apa-apa. Wkwk. Sad.


Either meditasi gw kurang fokus atau gw masih terlalu pemula sehingga masih long way to go for my Chakra to be awakened.


Jadi kesimpulannya harus lebih serius dan konsisten meditasi. I cannot wait for my Chakra to show reaction. It’s like there’s something mystical alive and kicking inside my body gitu. Seru nih, kayak Luffy latihan Haki. Hahaha~~ 


Okay now onto the less serious parts! Hari kelima ini karena gw sudah terbiasa dengan keadaan dan officially menjadi warlok Tabanan, gw menyadari bahwa gw tidak kangen gadget. Lima hari ga pegang hape/iPad, turned out, I can survive without one. It’s all good. No chat, no socials, no weather, no shopping, no Chat GPT, no Grab, no streaming, nggak apa-apa!


Alhamdulillah salah satu KPI retreat tercapai: membuktikan bahwa gw TIDAK chronically online. Hell yeah!!!


Yuk ikut Tapa Brata 2 yang 2 minggu tanpa gadget! Challenge accepted! Hohoho~


But ngl I did miss music. Jadi kalo ada pilihan tetep boleh bawa gadget tapi cuma boleh satu app, gw akan pilih Spotify.


Another stories, sebenernya di retreat itu kita ga sepenuhnya harus diam. Komunikasi tipis-tipis gapapa asalkan non verbal dan terjadi secara natural. Misalnya kalo papasan di jalan saling senyum, gapapa. Kalo roommate telat, mau bangunin, gapapa. Kalo ga sengaja tabrakan, say sorry juga gapapa. 


“You don’t have to avoid eye contact or look all grumpy here.” kata instruktur. Hehehe


Ada juga waktu-waktu dimana kita dipersilakan untuk berbicara, either bertanya atau bercerita. Biasanya ketika sesi kelas bersama Pak Merta. Beberapa orang mendapat kesempatan itu dan yang lain mendengarkan. 


Sebuah sesi intimate yang membuat gw tersadar, wah, orang-orang yang ikut retreat ini adalah orang-orang yang “broken”. They have gone through a lot of things in life, some maybe bad things… Those with chronic illness, those who were victims of situations, those who cause problems, those with mental health problems, trauma, bad memories, and all kinds of life problems basically. 


Their stories are sad but at the same time very inspiring, because regardless of the situations and conditions, they had the courage to solve their problem by coming here to Bali Usada, united here for the same faith, to heal. They are so brave!


Shoutouts to all folks in UTB English 1019! You guys are awesome!



~~Day 6: Loving Kindness Meditation and Silence-Break~~


Nggak terasa sudah hari keenam. Good news, gw akhirnya bisa tidur nyenyak! Yeay!


Kemungkinan besar karena kelas terakhir di hari kelima selesai cukup larut, sekitar jam 11 malam. Both otak dan badan sudah sangat lelah jadi langsung terlelap. Bisa jadi juga karena malam itu gw skip minum susu, again, karena udah sangat lelah, ga inget harus minum susu, langsung hajar tidur. Apa jangan-jangan selama ini tersangkanya susu ya? Hmmm…


Karena tidur malam cukup, gw terbangun dengan good mood sekali. Agenda hari keenam sangat menyenangkan: 


1. Belajar meditasi loving kindness alias cinta kasih


Ini adalah jenis meditasi dimana kita mendoakan orang-orang di sekitar kita untuk berbahagia. Mantranya:


May I be happy


May my family be happy


May my friends be happy


May those who are neutral or with whom we have frequent contact be happy


May those who have problems with us be happy


Luar biasa deh meditasi ini, nggak cuma menyehatkan tapi juga ngajarin jadi orang baik karena bahkan musuh-musuh kita pun didoain. Wkwkwk~


2. Breaking the silence


Yup, hari Jumat pukul 5 sore, kita sudah boleh break the noble silence. Sudah boleh ngomong lagi dan harta benda duniawi dikembalikan.


I was excited, not because I got my gadgets back, but because I can finally talk to people again. It’s the thing I miss the most here: real interaction with people, real talk. I mean, my friends here are truly amazing. Mendengar cerita mereka briefly aja udah sangat mind-blowing, apalagi talk to them in person? Spoiler alert: banyak banget orang-orang keren di angkatan gw omg!!!


And yes, so we broke the silence dan seketika langsung berisik. Hahaha~~


Bu Kar, my favorite friend yang pernah gw ceritain di sini, tanpa babibu langsung bikin mini after party setelah dinner. Kita nyanyi, ngelawak, ngelenong, ngobrol, sampai hampir tengah malam, sampai ditegur instructor!


“I hope everyone here realizes that even though the noble silence is over, the retreat hasn’t and all participants still have to behave properly.”


LOL


I truly had fun with them di malam terakhir. So much fun that I couldn’t care less about my gadgets. I didn’t even open my phone right away, didn’t even plan to. Rencananya buka hape pas bener-bener mau pulang aja di hari ketujuh. Tapi sayang rencana gagal total karena malam itu gw insomnia (lagi!) jadi terpaksa buka hape buat bikin mata capek, only to read berita selebgram meninggal itu~ Ckck


I finally got to sleep. Setengah berharap mereka membiarkan kita tidur lebih lama karena I didn’t want to face tomorrow, didn’t want this retreat to end. Tapi suara kentungan ramah yang familiar itu tetap hadir 3x di pukul 4:30 pagi. :)



Lanjut Day 7 di next post! Byeee~~