Wednesday, February 4, 2026

Noble Silence Journey in Bali Usada - A Day By Day Review

Hi guys! How y’all doing?


Sorry I’ve been neglecting this blog for so long, sibuk liburan. Hehe~


Yeah, setelah perjalanan noble silence selesai gw memang back to back liburan di Bali sampai sekarang all the way to mid-Feb. Setiap hari jadwal padat karena gw mau experience liburan ini semaksimal mungkin. 


I could say more about my holiday but let me write down my noble silence journey first before the memories fade away.


Gw sudah selesai menjalani retreat noble silence di Bali Usada tanggal 18-24 Januari kemarin dan sekarang gw mau menceritakan pengalaman gw di sana dengan jujur tanpa sensor. Gw akan breakdown day by day kegiatannya ngapain aja diselingi dengan opini dan hal-hal berkesan yang gw rasakan selama retreat. Let’s go!


~~DAY 1~~


Gw tiba di Bali hari Minggu 18 Januari siang dan langsung menuju center Bali Usada di Sanur sebagai titik kumpul untuk selanjutnya naik shuttle ke center Samadhiyukti di Tabanan. Gw ketemu beberapa participant di Sanur dan kenalan, salah satunya Ibu Kartika Kaliman (Bu Kar)—easily become one of the funniest person I’ve met in person! :D 


Very short intro, kemudian kita langsung diarahkan untuk naik mobil Innova ke Tabanan. Satu mobil berempat aja, enough space for all of us to feel comfortable. Perjalanan 2 jam menuju Tabanan, niatnya mau tidur karena morning flight kurang tidur, tapi Bu Kar ngelawak melulu sepanjang jalan. Ga jadi tidur deh! xD


Kita berempat sampai pertama di Tabanan, check in, taro barang di kamar, dan lanjut roaming around foto-foto—mumpung masih bisa pegang gadget! Centernya lumayan besar, terdiri dari beberapa halaman dan tempat meditasi di alam terbuka (termasuk area meditasi Bodhi Tree, pohon Bodhi yang sakral), satu joglo restoran untuk makan, satu joglo untuk kamar tidur 1 orang (thank God gw ga ditempatin ga di sini, kamarnya kecil banget, kata Bu Kar kayak jail. Hahaha), ada 3 Lumbung—kamar versi baru renov yang aesthetic kayak villa beneran (interiornya sama aja sih sama kamar pondok), dan sekitar 7 Pondok—kamar versi lama. 


Kamarnya gimana? Gw dapet kamar tipe Pondok. Kayak rumah lama gitu, tapi yang penting bersih dan proper. 







Pertanyaan gw tentang air panas terjawab! Ada gaes! Hohoho! 


How about your roommate? Untuk roommate ditentukan sama panitia, ga bisa milih. Gw sekamar dengan a local Balinese and a Brisbane-based Singaporean. 


Orang-orangnya gimana? Well kan ga bisa ngomong ya. Wkwk~ But based on our limited interaction on the first and last day, both are okay. I’m closer to the Singaporean girl, sempet hangout bentar sama dia paska program di Sanur. Very friendly fella.


Anyway, program dimulai jam 5 tepat dengan briefing awal di Joglo Meditasi Asangkata a.k.a the main hall. Kita diberikan amplop cokelat besar untuk menyerahkan semua harta duniawi seperti handphone, laptop, tablet, dompet, buku, dll. Di tahap ini kita sudah tidak boleh berbicara satu sama lain. 


Lalu lanjut dengan early dinner. ISTG the vegetarian food was delicious! Atau taste good karena gw udah laper banget kali ya? Maklum, terakhir makan jam 1 di jalan dari airport menuju Sanur. 





Setelah dinner, lanjut meditasi malam sampai jam 9, lalu balik ke kamar, mandi, bersih-bersih, tidur.


Not so bad for the first day. It’s just that I can't sleep at night. Syucks. 


~~DAY 2~~


Sebelum memulai day by day review, alangkah baiknya kalo gw share dulu jadwal harian kita in general:





Kurang lebih jadwalnya seperti itu sepanjang program, walaupun kadang-kadang ada yang diubah/di-adjust tergantung sikon.


Kita dibangunkan pukul 4:30am dengan kentungan bell 3 kali. Bell dibunyikan tepat depan pondok so there’s no way kita ga denger… tapi gw tetep ga denger karena baru bisa tidur jam 3an dalam posisi pake earplugs karena si Singaporean girl ngorok~ My roommates can’t wake me up either karena kan ga boleh ngomong ya! LOL


Wah kacau. Gw hampirrr banget telat hari pertama. Untung mata kebuka dikit terus nyadar semua orang udah dressed up ready to go, gw masih gegoleran. Tanpa babibu langsung cuci muka, sikat gigi, pipis, cabuttt~ LOL


Kita memulai hari dengan meditasi subuh 45 menit. Oiya, semua meditasi di sini standarnya 45 menit ygy. Kemudian lanjut sarapan buah. 


Ada 2 tipe breakfast di sini: fruit breakfast (buah only) dan big breakfast (set menu lengkap). Fruit breakfast sama terus sepanjang program. Satu mangkok isinya apel, pisang, buah naga, pepaya. Disediakan juga granola, yoghurt, madu, roti, selai. Tinggal di mix and match sesuai selera. 


Fruit breakfast basically hanya menyiapkan kita untuk morning exercise. Buah itu hanya bertahan di perut kita 20 menit sehingga ketika exercise semua sudah terbakar habis. Hence, ketika big breakfast, perut kita udah kosong lagi dan siap menerima makanan berat.


Well, regardless, I’m so thankful for the fruits karena mereka adalah pembatal puasa. Yha, selama program kita itu puasa dari jam 6 sore sampai 6 pagi gaes. No dinner. Jadi bangun pagi tuh perut dalam kondisi laper parah. I actually don’t really like fruits, apalagi buat breakfast, tapi karena laper banget, ya hajar aja. LOL


Setelah fruit breakfast, kita exercise. Ini udah dikasih tau in advance dan gw udah expect olahraga berat macem lari pagi 5km kayak waktu karantina LPDP gitu. Gw bawa baju banyak banget + sepatu lari ON untuk antisipasi ini. Turned out, olahraga cupu aja gaes, stretching and stuffs, indoor pula, nonton even keringetan. Wkwk


We were unlucky karena hari kedua ini hujan lumayan deras sehingga Tabanan dingin sekali. Waktu masih bisa ngomong, sempet janjian sama roommates untuk pembagian kamar mandi. Si local Balinese girl ambil jatah mandi malem, si Singaporean girl mandi siang.


Gw? Dengan pedenya bilang: “Oh, I’m always a morning person so I take the morning slot.”


In reality: hujan sepanjang malam sehingga mandi pagi not only sounded unrealistic but also life-threatening. LOL


Jadinya gw ikut slot yang siang, mandi setelah si Singaporean. 


Lalu bagaimana meditasinya? Intense gaes. We meditated 9-10 hours a day, cuma break 15 mins in between. Buat orang yang baru pertama kali meditasi seperti gw, tantangannya 2x lebih besar karena sekalinya berusaha untuk fokus, pasti terdistraksi. Dan gw kalo terdistraksi ga tanggung-tanggung: bikin fanfic. LOL 


Kalo boleh nulis, udah jadi novel/cerpen tuh. LOL


Awalnya gw kira cuma gw yang easily distracted, ternyata banyak, to the point ada yang nanya via surat. 


Oiya, aturan main noble silence itu ada 4:

- NO TALKING

- NO READING

- NO WRITING

- NO DAYDREAMING


Kalo kita ada concern, boleh berkomunikasi sama staf atau instruktur, tapi via surat. Ada writing corner di depan joglo beserta pulpen dan kertas. Sebelum sesi meditasi atau kelas, semua surat dikumpulkan dan dibacakan oleh instruktur. Anonymous. Jadi tenang aja, even the most stupid question aman-aman aja ditanyain.


So yeah, ternyata banyak yang terdistraksi juga, dan saran instrukturnya cuma satu: just continue. 


Whenever you realize you are distracted, just re-focus and continue. 


Tantangan lain adalah ketiduran. LOL. Apalagi buat meditasi pagi, gampang banget ketiduran. Gw sering banget ketiduran, kadang sampai oleng. LOL 


Gw sempet denger ada peserta yang ketiduran parah banget sampai ngorok. LOL. Ini sama solusinya, just re-focus and continue. 


Tantangan selanjutnya adalah kentut. LOL. No need explanation ya. Padahal no harm lho kalo kentut, kan warga ga bisa komen, ga boleh ngomong. LOL


Tantangan selanjutnya adalah: our intelligence. Ini kaitannya dengan how our body reacted during meditation. Kesemutan, kram, pegal, gatal, kedinginan, dll. Contoh: kalo kaki kesemutan, secara otomatis kita bakal lurusin kaki. Ini karena our intelligence sudah merekam reaksi kalo kesemutan itu harus lurusin kaki.


Nah dalam meditasi ini sebenernya ga boleh. Boleh kalo lagi meditasi ringan. Tapi kalo meditasi berat atau yang istilah Bali Usadanya meditation determination, itu ga boleh ygy. Harus tetep diem. 


Emang bisa? Ya nggaklah. LOL. Gw pasti otomatis ubah posisi. 


Lalu kolega ada yang bertanya: apa yang harus saya lakukan jika kesemutan?


Jawabannya: tahan aja selama masih bisa ditahan, fokus ke pikiran. Your intelligence is a cheating machine yang akan langsung membuat badan kita bereaksi berdasarkan apa yang direkam pikiran kita atas masalah itu. Jangan terdistraksi. Lanjutkan.


Yah begitulah kesan-kesan Day 2. Hari yang officially noble silence. Hari yang terasa panjaaaaang sekali. Waktu tuh kayak ga abis-abis. Terang terus, lama gelapnya. 


Gw banyak menghabiskan waktu kontemplasi di waktu kosong, berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan. Mikirin orang-orang di Jakarta yang mungkin pada waktu yang sama lagi kerja, meeting, atau di jalan kena macet. Mikirin anak-anak Awe, di hari Senin biasanya ada meeting apaan aja..


Oh, one more thing, yang gw suka dari retreat ini: ga usah dandan,  coz who cares? People can’t talk anyway. You also probably won’t see them again after the retreat, so why bother? Hahahaha


Ok gaes, lanjut Part 2 ya. Kayaknya gw bisa ngeblog pas lagi di Kintamani. Banyakan stay at villa soalnya, agendanya bengong aja seharian. LOL


See ya. 

Thursday, January 15, 2026

Road to the Noble Silence

Hi guys! How y’all doing?


So I will be away from Jakarta for a while. I’m gonna be in Bali for the rest of January all the way to mid February. Agenda utama gw di Bali adalah mengikuti program meditasi selama seminggu di sebuah meditation center bernama Bali Usada. 


Kalo lo pernah denger di Bali ada kegiatan retreat/healing dimana kita ga boleh pegang gadget 1-2 minggu, ya benar, itu program yang akan gw ikuti. 


Kenapa gw ikut program ini? Pertama karena I know I have issues within myself, but I can’t really comprehend what they are and how to solve them. Issues di sini bukan penyakit ya, lebih ke mental issue. Letaknya di otak dan sangat mengganggu pikiran sehingga gw sering sulit fokus, sering salah mengambil keputusan, gampang lupa, gampang takut, gampang terdistraksi, gampang terpengaruh, sering berpikiran negatif akan seseorang atau sesuatu, gampang membenci seseorang, gampang iri dengan seseorang, dan hal-hal lain yang membawa energi negatif di dalam diri gw sendiri. 


Dampak energi negatif ini sangat besar. Yang paling keliatan gw ga bisa bekerja maksimal, I can’t perform my best. The last couple of months gw merasa sangat ketinggalan, ibarat siswa yang paling bodoh di sekolah yang ketar ketir takut ga naik kelas. I can’t keep up with anyone no matter how hard I try. 


I’m also having trouble socializing with people. I find it hard to talk with people, hard to initiate conversation. I can’t leave lasting impressions when I’m with people. I easily forget people. I even avoid people~ To some extent gw merasa ini salah satu penyebab gw susah dapet jodoh sampai sekarang~


Gw punya trauma. Banyak mungkin, karena ada yang teringat jelas, ada juga yang samar-samar. Gw pernah sexually harassed as a kid, tidak parah, tapi membekas. Gw pernah di-bully di sekolah. Gw mengalami banyak kegagalan dalam hidup. Dapet nilai jelek, ga lolos tes, ga menemukan “cinta”, dikucilkan dari pertemanan, dihina, dikata-katain, dimarahin, digosipin, ditolak…


Semua isu ini menumpuk di otak gw. Kadang-kadang menyelinap muncul dan teringat kembali di saat-saat tidak terduga, bahkan mampir di mimpi gw. Ketika sedang teringat, they really hold me back~ I can’t function normally~ I can’t show people the real me~ I can’t give my all~ 


I really need to heal. 


Kedua, untuk mengecek seberapa jauh/parah adiksi/kecanduan gw terhadap gadget dan informasi. Gw literally udah main gadget sejak SD. Kurang lebih 26 tahun pegang gadget, ga pernah lepas, as if my life depends on it. Semacam ketergantungan. 


Gadget, walaupun manfaatnya banyak juga, dampak negatifnya juga banyak. Dalam konteks ini, gw merasa gadget membuat gw kelebihan informasi (information overload). Gw lebih banyak mencerna informasi yang tidak penting daripada penting. Seperti yang gw singgung di sini


Gw ga mau ini terjadi lebih jauh. Seinget gw, life is better without gadget. Everything is still organic. Our interaction, our responses, our peace of mind... Jadi gw pengen melihat apa yang akan terjadi jika gw lepas dari gadget untuk sementara. Pastinya gw akan sakaw. Tapi seperti apa sakawnya dan apakah gw bisa mengatasinya? Mari kita buktikan.


Ketiga, karena Mba Novie, mantan bos gw dan alumni program meditasi Bali Usada (udah 2x ikut!). Beliau berperan besar sebagai influencer yang membuat gw akhirnya yakin untuk ikut. Mba Novie itu salah satu orang paling tenang, paling zen, paling positive energy, dan paling baik yang pernah gw kenal. Kemungkinan besar karena beliau sering meditasi. Gw ingin mengikuti jejak beliau karena sungguh manfaat baiknya dapat dirasakan ga cuma sama diri kita sendiri, tapi juga sama orang lain. Gw kalo lagi sama Mba Novie, bawaannya tenang, aman, nyaman. Seolah-olah beliau punya this powerful energy yang melindungi gw dari marabahaya. Kalo di One Piece istilahnya Mba Novie itu punya haki. Sounds lebay, but it’s true. 


Keempat, ingin kembali ke alam. I love nature, pernah gw ceritain di sini. Elemen gw adalah tanah. That’s why gw hepi banget around nature. Tapi ga pernah bener-bener dapet kesempatan menikmati dan menyatu dengan alam dengan maksimal. Kurang lama, paling cuma hiking 3 jam. Kurang total. Alam punya energi baik yang bisa healing manusia. Mengutip ChatGPT:


Nature's healing energy refers to the scientifically-backed restorative effects of natural environments on our physical and mental well-being, reducing stress hormones (cortisol), lowering blood pressure, improving mood, boosting cognitive function, and even diminishing pain perception through sensory engagement and practices like grounding (touching the earth). Connecting with nature, through activities like walking in parks, listening to birds, or even viewing natural images, helps us disconnect from technology and reconnect with a sense of peace, fostering better health outcomes.


Gw pengen mendedikasikan waktu lebih untuk bersama alam. It’s my home.


Kelima, untuk kesehatan mental dan fisik. Kalo sekarang gw medical checkup, mungkin hasilnya sehat wal’afiat. But I believe there’s something inside my body that needs to be healed. Penyakit langganan gw: asam lambung, sakit kepala, radang tenggorokan. Ini semua pasti ada penyebabnya yang gw ga bisa simpulkan sendiri. Dokter selalu memberikan obat eksternal sebagai jalan keluar paling cepat. Tapi percuma, pasti tetap kambuh lagi. I believe true healing comes within myself. Let’s get red of these illnesses once and for all.


Semua alasan ini membawa gw ke satu kesimpulan: gw harus ikut program Tapa Brata di Bali Usada. Sebuah program teknik meditasi yang melatih pikiran agar menjadi Pikiran Harmonis yang mempunyai konsentrasi yang kuat, dengan diikuti sifat-sifat baik yang lain yaitu sadar, tenang, bijaksana, lembut penuh cinta kasih, yang dapat membantu menyembuhkan sakit-sakit di badan maupun menghapus reaksi buruk yang mengikuti memori/ingatan kita.


Program ini mungkin tidak sepenuhnya menghilangkan memori-memori itu atau menyembuhkan mental issue yang gw punya, tapi mungkin bisa membuat gw lebih menerima, mengikhlaskan, dan berdamai dengan mereka. 


Program yang gw ikuti bernama Tapa Brata 1 English, berlangsung 18-24 Januari 2026. Seminggu full. Berlokasi di Center Samadhiyukti Forest Island, Tabanan, Bali. 


Di sana, gw akan mempraktekkan Noble Silence:





Ngeri ya. Haha


Katanya sih, 3 hari pertama efek “sakaw”-nys paling parah. Efek sakaw setiap orang beda-beda. Ada yang anxiety, sesak napas, demam… Kata Mba Novie, banyak orang give up di tengah jalan karena ga kuat, jadi mid way through the end participants-nya tinggal setengah. Amit-amit deh jangan sampe gw give up, bukannya gimana-gimana, booking hotel hari H bakal mehong banget coyy~ Wkwk


Gw takut ngga takut sih. Kalo no gadgets kan emang motivasi terbesar gw untuk ikutan ini ya. Jadi no problem. 


No talks ini rada challenging, takut kelepasan aja, kayak latah gitu. Like… “Eh copot-copot~” Kan kita ga pernah tau ya…


No reading gw udah paham. No writing? Damn. Padahal rencananya mau nulis diary old skool gitu pake pulpen dan buku. Yah, jadi ga punya alasan beli diary lucu di Gramedia deh. Heheheh~


Tapi gapapa, dicoba aja dulu. Cuma seminggu. Kalo Mba Novie bisa, gw juga bisa. Bismillah.


Gw akan menjadi vegan seminggu karena semua makanan yang disajikan adalah plant-based. Ini karena mereka percaya daging atau makanan yang berasal dari hewan memiliki energi negatif karena hewan tersebut mengalami kesakitan ketika dibunuh untuk dimakan. Energi itu kebawa di dagingnya. Jadi selama program kita ga boleh makan daging.


Ini membuat gw khawatir tentu saja, walaupun katanya sih makanan vegannya tetep enak. Gw berencana bawa Bon Cabe, just in case. Mudah-mudahan bisa membantu gw untuk makan, walaupun gw ga tau boleh/ngga, kalo ga boleh, gimana menyelundupkannya? Hmmm…


Center Samadhiyukti itu bukan hotel bintang lima, hanya kabin sederhana yang dikelilingi alam. Kita sekamar bertiga. Ini juga yang gw takutkan, karena gw light sleeper, ga bisa banget tidur sama orang yang ngorok. Mana ga ketauan dan ga bisa milih kita sekamar sama siapa lagi~ Kalo ada hape sih tinggal pasang playlist noise canceling. 


Sebagai antisipasi, gw beli earplugs peredam suara di Shopee. Tadi udah tes di telinga, mayan sih blocking noises. Semoga efektif. 


Yang masih ga ketauan adalah ada atau tidaknya air panas di Center. Demi apapun gw ga mau dan ga bisa mandi air dingin~~ Kalo ga ada air panas, imma pull off Melbourne winter lifestyle. Mandi 2-3 hari sekali aja. Nyehehehe~~


Yak, jadi begitulah pemirsa sedikit tentang program meditasi yang akan gw ikuti 2 hari lagi. Yes, gw akan terbang ke Bali hari Minggu dan langsung menuju Center untuk mulai program.


Banyak orang yang gw ceritain rencana ini menganggap gw gila. Grace dan Elia salah duanya. 


“Elo emang gila sih, Ta. Tapi Seeta yang gw kenal emang gila, jadi gw ga heran,” kata Grace.


Nyehehehehe~


Makasih guys atas dukungannya.


Sekarang gw lagi persiapan menuju program. Persiapan paling penting yang gw lakukan adalah rajin olahraga. Gw intense banget olahraga 2 minggu terakhir, ikut beragam kelas di gym: yoga, zumba, piloxing (pilates boxing). Literally 3 hari sekali gw olahraga. Sempet juga ikut yoga bareng Mba Novie dan Lala di Gudanggudang dan jalan kaki 20ribu di bawah sinar matahari di UI. Semuanya gobyos. Tapi gapapa, demi fisik yang optimal selama program.  Ga boleh sakit.


Gw juga udah mulai packing. Insya Allah barang yang mau dibawa udah ready semua, tinggal masukin koper. 


Tanpa gadget, gw ga akan bisa ngeblog. Jadi gw baru bisa update blog ini setelah program meditasi selesai. 


Until then, doakan saya yaaa~~~


Semoga pulang dari Bali, gw sudah punya haki mencapai ketenangan jiwa. :)