Hi guys! How y’all doing?
Sorry I’ve been neglecting this blog for so long, sibuk liburan. Hehe~
Yeah, setelah perjalanan noble silence selesai gw memang back to back liburan di Bali sampai sekarang all the way to mid-Feb. Setiap hari jadwal padat karena gw mau experience liburan ini semaksimal mungkin.
I could say more about my holiday but let me write down my noble silence journey first before the memories fade away.
Gw sudah selesai menjalani retreat noble silence di Bali Usada tanggal 18-24 Januari kemarin dan sekarang gw mau menceritakan pengalaman gw di sana dengan jujur tanpa sensor. Gw akan breakdown day by day kegiatannya ngapain aja diselingi dengan opini dan hal-hal berkesan yang gw rasakan selama retreat. Let’s go!
~~DAY 1~~
Gw tiba di Bali hari Minggu 18 Januari siang dan langsung menuju center Bali Usada di Sanur sebagai titik kumpul untuk selanjutnya naik shuttle ke center Samadhiyukti di Tabanan. Gw ketemu beberapa participant di Sanur dan kenalan, salah satunya Ibu Kartika Kaliman (Bu Kar)—easily become one of the funniest person I’ve met in person! :D
Very short intro, kemudian kita langsung diarahkan untuk naik mobil Innova ke Tabanan. Satu mobil berempat aja, enough space for all of us to feel comfortable. Perjalanan 2 jam menuju Tabanan, niatnya mau tidur karena morning flight kurang tidur, tapi Bu Kar ngelawak melulu sepanjang jalan. Ga jadi tidur deh! xD
Kita berempat sampai pertama di Tabanan, check in, taro barang di kamar, dan lanjut roaming around foto-foto—mumpung masih bisa pegang gadget! Centernya lumayan besar, terdiri dari beberapa halaman dan tempat meditasi di alam terbuka (termasuk area meditasi Bodhi Tree, pohon Bodhi yang sakral), satu joglo restoran untuk makan, satu joglo untuk kamar tidur 1 orang (thank God gw ga ditempatin ga di sini, kamarnya kecil banget, kata Bu Kar kayak jail. Hahaha), ada 3 Lumbung—kamar versi baru renov yang aesthetic kayak villa beneran (interiornya sama aja sih sama kamar pondok), dan sekitar 7 Pondok—kamar versi lama.
Kamarnya gimana? Gw dapet kamar tipe Pondok. Kayak rumah lama gitu, tapi yang penting bersih dan proper.
Pertanyaan gw tentang air panas terjawab! Ada gaes! Hohoho!
How about your roommate? Untuk roommate ditentukan sama panitia, ga bisa milih. Gw sekamar dengan a local Balinese and a Brisbane-based Singaporean.
Orang-orangnya gimana? Well kan ga bisa ngomong ya. Wkwk~ But based on our limited interaction on the first and last day, both are okay. I’m closer to the Singaporean girl, sempet hangout bentar sama dia paska program di Sanur. Very friendly fella.
Anyway, program dimulai jam 5 tepat dengan briefing awal di Joglo Meditasi Asangkata a.k.a the main hall. Kita diberikan amplop cokelat besar untuk menyerahkan semua harta duniawi seperti handphone, laptop, tablet, dompet, buku, dll. Di tahap ini kita sudah tidak boleh berbicara satu sama lain.
Lalu lanjut dengan early dinner. ISTG the vegetarian food was delicious! Atau taste good karena gw udah laper banget kali ya? Maklum, terakhir makan jam 1 di jalan dari airport menuju Sanur.
Setelah dinner, lanjut meditasi malam sampai jam 9, lalu balik ke kamar, mandi, bersih-bersih, tidur.
Not so bad for the first day. It’s just that I can't sleep at night. Syucks.
~~DAY 2~~
Sebelum memulai day by day review, alangkah baiknya kalo gw share dulu jadwal harian kita in general:
Kurang lebih jadwalnya seperti itu sepanjang program, walaupun kadang-kadang ada yang diubah/di-adjust tergantung sikon.
Kita dibangunkan pukul 4:30am dengan kentungan bell 3 kali. Bell dibunyikan tepat depan pondok so there’s no way kita ga denger… tapi gw tetep ga denger karena baru bisa tidur jam 3an dalam posisi pake earplugs karena si Singaporean girl ngorok~ My roommates can’t wake me up either karena kan ga boleh ngomong ya! LOL
Wah kacau. Gw hampirrr banget telat hari pertama. Untung mata kebuka dikit terus nyadar semua orang udah dressed up ready to go, gw masih gegoleran. Tanpa babibu langsung cuci muka, sikat gigi, pipis, cabuttt~ LOL
Kita memulai hari dengan meditasi subuh 45 menit. Oiya, semua meditasi di sini standarnya 45 menit ygy. Kemudian lanjut sarapan buah.
Ada 2 tipe breakfast di sini: fruit breakfast (buah only) dan big breakfast (set menu lengkap). Fruit breakfast sama terus sepanjang program. Satu mangkok isinya apel, pisang, buah naga, pepaya. Disediakan juga granola, yoghurt, madu, roti, selai. Tinggal di mix and match sesuai selera.
Fruit breakfast basically hanya menyiapkan kita untuk morning exercise. Buah itu hanya bertahan di perut kita 20 menit sehingga ketika exercise semua sudah terbakar habis. Hence, ketika big breakfast, perut kita udah kosong lagi dan siap menerima makanan berat.
Well, regardless, I’m so thankful for the fruits karena mereka adalah pembatal puasa. Yha, selama program kita itu puasa dari jam 6 sore sampai 6 pagi gaes. No dinner. Jadi bangun pagi tuh perut dalam kondisi laper parah. I actually don’t really like fruits, apalagi buat breakfast, tapi karena laper banget, ya hajar aja. LOL
Setelah fruit breakfast, kita exercise. Ini udah dikasih tau in advance dan gw udah expect olahraga berat macem lari pagi 5km kayak waktu karantina LPDP gitu. Gw bawa baju banyak banget + sepatu lari ON untuk antisipasi ini. Turned out, olahraga cupu aja gaes, stretching and stuffs, indoor pula, nonton even keringetan. Wkwk
We were unlucky karena hari kedua ini hujan lumayan deras sehingga Tabanan dingin sekali. Waktu masih bisa ngomong, sempet janjian sama roommates untuk pembagian kamar mandi. Si local Balinese girl ambil jatah mandi malem, si Singaporean girl mandi siang.
Gw? Dengan pedenya bilang: “Oh, I’m always a morning person so I take the morning slot.”
In reality: hujan sepanjang malam sehingga mandi pagi not only sounded unrealistic but also life-threatening. LOL
Jadinya gw ikut slot yang siang, mandi setelah si Singaporean.
Lalu bagaimana meditasinya? Intense gaes. We meditated 9-10 hours a day, cuma break 15 mins in between. Buat orang yang baru pertama kali meditasi seperti gw, tantangannya 2x lebih besar karena sekalinya berusaha untuk fokus, pasti terdistraksi. Dan gw kalo terdistraksi ga tanggung-tanggung: bikin fanfic. LOL
Kalo boleh nulis, udah jadi novel/cerpen tuh. LOL
Awalnya gw kira cuma gw yang easily distracted, ternyata banyak, to the point ada yang nanya via surat.
Oiya, aturan main noble silence itu ada 4:
- NO TALKING
- NO READING
- NO WRITING
- NO DAYDREAMING
Kalo kita ada concern, boleh berkomunikasi sama staf atau instruktur, tapi via surat. Ada writing corner di depan joglo beserta pulpen dan kertas. Sebelum sesi meditasi atau kelas, semua surat dikumpulkan dan dibacakan oleh instruktur. Anonymous. Jadi tenang aja, even the most stupid question aman-aman aja ditanyain.
So yeah, ternyata banyak yang terdistraksi juga, dan saran instrukturnya cuma satu: just continue.
Whenever you realize you are distracted, just re-focus and continue.
Tantangan lain adalah ketiduran. LOL. Apalagi buat meditasi pagi, gampang banget ketiduran. Gw sering banget ketiduran, kadang sampai oleng. LOL
Gw sempet denger ada peserta yang ketiduran parah banget sampai ngorok. LOL. Ini sama solusinya, just re-focus and continue.
Tantangan selanjutnya adalah kentut. LOL. No need explanation ya. Padahal no harm lho kalo kentut, kan warga ga bisa komen, ga boleh ngomong. LOL
Tantangan selanjutnya adalah: our intelligence. Ini kaitannya dengan how our body reacted during meditation. Kesemutan, kram, pegal, gatal, kedinginan, dll. Contoh: kalo kaki kesemutan, secara otomatis kita bakal lurusin kaki. Ini karena our intelligence sudah merekam reaksi kalo kesemutan itu harus lurusin kaki.
Nah dalam meditasi ini sebenernya ga boleh. Boleh kalo lagi meditasi ringan. Tapi kalo meditasi berat atau yang istilah Bali Usadanya meditation determination, itu ga boleh ygy. Harus tetep diem.
Emang bisa? Ya nggaklah. LOL. Gw pasti otomatis ubah posisi.
Lalu kolega ada yang bertanya: apa yang harus saya lakukan jika kesemutan?
Jawabannya: tahan aja selama masih bisa ditahan, fokus ke pikiran. Your intelligence is a cheating machine yang akan langsung membuat badan kita bereaksi berdasarkan apa yang direkam pikiran kita atas masalah itu. Jangan terdistraksi. Lanjutkan.
Yah begitulah kesan-kesan Day 2. Hari yang officially noble silence. Hari yang terasa panjaaaaang sekali. Waktu tuh kayak ga abis-abis. Terang terus, lama gelapnya.
Gw banyak menghabiskan waktu kontemplasi di waktu kosong, berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan. Mikirin orang-orang di Jakarta yang mungkin pada waktu yang sama lagi kerja, meeting, atau di jalan kena macet. Mikirin anak-anak Awe, di hari Senin biasanya ada meeting apaan aja..
Oh, one more thing, yang gw suka dari retreat ini: ga usah dandan, coz who cares? People can’t talk anyway. You also probably won’t see them again after the retreat, so why bother? Hahahaha
Ok gaes, lanjut Part 2 ya. Kayaknya gw bisa ngeblog pas lagi di Kintamani. Banyakan stay at villa soalnya, agendanya bengong aja seharian. LOL
See ya.




