Hi, guys! How yall doin?
Kali ini mau ngomongin dunia kerja. Nope, bukan tentang kerjaan gw. Tapi tentang fenomena dunia kerja yang sering banget terjadi: comfort zone.
Yeah I know ini udah basi, udah sering dibahas, udah tau comfort zone itu ga bagus. Bener, memang ga bagus. Sekarang gw mau memberikan opini gw, berdasarkan pengalaman gw, yang membenarkan teori itu.
Gw sudah kerja selama 13 tahun (15 tahun sebenernya, tapi ada sekitar 2 tahun break untuk kuliah S2 dan sabatical journey). Gw udah masuk ke berbagai perusahan, mulai dari lokal sampai multinational, trying out different roles and levels, yada yada yada. Pengalaman kerja gw yang panjang itu indeed mengajarkan gw bahwa comfort zone itu big no. BAHAYA!
Your job isn’t supposed to make you comfortable. Sebagus apapun kantornya, semenggiurkan apapun gaji dan benefitnya, sebaik apapun bos dan colleague-nya, sefleksibel apapun waktu dan kerjanya, the moment you found that comfort, YOU RUN BABE!
Here’s the thing, hubungan lo sama kerjaan itu pure transactional. You work for the money and/or the career ladder, not for the comfort. You work, get paid, go home.
For the company, you are 200% irreplaceable, jadi elo juga harus menganggap kerjaan lo itu irreplaceable juga. Jangan terlalu attached, jangan bertahan terlalu lama, jangan terlalu mager atau takut untuk looking out for something new, something fresh, something different. Otherwise ketika company memutuskan you’re out, you’re doomed karena elo ga punya apa-apa~
Trust me, kenyamanan itu ga memberikan lo apa-apa. Kenyamanan itu juga cuma sementara. Mungkin definisi sementara beda-beda untuk setiap orang, tapi sementara itu nyata. Zaman sekarang bener-bener ga ada yang pasti.
So what should you do? Well, paling bener adalah YOU RUN. Resign, cari kerjaan baru.
Tapi kan in this economy…
Justru karena in this economy elo harus punya Plan B. You should not stick only to your Plan A because it’s comfortable. Liat di luar sana banyak banget perusahaan yang ngelayoff. Bahkan perusahaan2 paling besar dan paling cuan pun tidak luput dari risiko ini. Mereka aja bisa tutup. So you better run before they let you go.
Nah kalo ga bisa “run” gimana? Let’s say kerjaan lo yang comfort zone ini memang merusak elo, secara knowledge dan skill jadi ga berkembang, ngerjain itu-itu aja, dengan cara yang itu-itu aja, dealing with the same shit everyday sampai knowledge dan skill lo tumpul. Tapi lo masih suka kantornya, orang-orangnya, benefitnya, well then, you improvise.
Cari tantangan baru. Pindah tim. Pindah bos. Perkaya knowledge and skill. If you gotta stay in the same company, at least lo peres semua aset mereka. Gunakan semua fasilitas yang mereka punya. Learn from the professionals. Jangan ragu belajar hal baru. Datengin satu2 orang2 ahli di kantor itu. Berteman sama orang2 divisi lain, belajar dari mereka, try to understand their works. Not easy, for sure. But at least you’re benefited from it.
Don’t just sit there and be comfortable with what you have. Just don’t.
Gw pernah terlalu terlena dengan comfort zone waktu di QQ 1.0. Doing easy things on a daily basis. No challenge, no crisis, no bottleneck, no hassle. Life was very easy.
Eh kena layoff. Gw hancur sehancur-hancurnya. Kayak ga ada harga dirinya. Kayak sepah yang dibuang. Kayak eek yang di-flush di toilet. It was one of the worst feelings I’ve ever had.
Sekarang udah masuk QQ 2.0, gw ga mau terlalu attached lagi sama company ini. Ga mau masuk comfort zone juga. Jadi otak gw udah jaga-jaga, once merasa nyaman, otak akan kasih sinyal dan gw akan improvise. Entah minta kerjaan tambahan, atau cari-cari apa yang bisa di-improve dari kerjaan yang sekarang, cari data atau sistem atau any way of work yang salah/kurang tepat lalu memperbaikinya, anything, supaya gw tidak merasa nyaman lagi.
Ketika elo merasa tidak nyaman di pekerjaan lho, gapapa. That’s how it should be. You are on the right track. Selama gaji lo masih bisa compensate ketidaknyamanan lo, you’re all good. Remember, you work, get paid, go home. Nothing else.
Terima kasih sudah membaca. Mari kita seruput kopi.

