Hi, guys! How yall doin?
May is here! It’s MY month! :D
Tidak terasa sudah bulan Mei dan sebentar lagi gw ulang tahun ke-37.
Somehow ultah kali ini gw tidak merasa degdegan, biasanya setiap pergantian umur gw kena mild depression thinking how I’m so old tapi banyak milestone kehidupan yang belum achieve.
This year kayaknya chill aja tuh. Mungkin salah satunya karena sejak awal tahun gw sudah menanamkan di otak gw bahwa gw sudah 37 tahun. Setiap ditanya orang umur berapa, jawaban gw selalu “This year I will be 37.” Saking seringnya ditanya, semakin sering pula gw menjawab. Secara tidak langsung gw telah mempersiapkan mental untuk menyambut 37 sejak lama, sehingga ketika akhirnya beneran mencapai 37, I don’t feel anything anymore, I am ready to be 37!
Does that make sense? :D
Anyway, it feels so good to get a long weekend after a super hectic post-Lebaran grind. Luckily, hari buruh ini berlaku internasional, kolik seberang lautan sana juga pada libur jadi group chat bener-bener quiet and peaceful.
Gw? Tanpa ragu langsung memanfaatkan momen untuk self-care tentu saja. Kemarin gw nail art di langganan gw, Unna Nails di Revo Mall. Udah seminggu ini gengges banget liat kuku gw yang pucet dan tak bernyawa ini. Tangan gw kan kurus dan kecil ya, jadi kalo ga ada warnanya tuh kayak tangan mayat gitu, pucet. That’s why gw harus selalu nail art, supaya keliatan berwarna dan bernyawa dikitlah ni tangan. Hari Minggu besok mau nonton konser Naykilla pun, biar lebih berkonsep looks gw.
Abis nail art, meluncur ke Pakuwon Mall buat nonton The Devil Wears Prada 2. Sekuel salah satu film favorit gw 20 tahun kemudian, yang mau tau seberapa ngefans gw sama TDWP, bisa baca di sini.
A lot of things came to mind ketika dan setelah menonton. Pertama tentu saya elemen nostalgianya ya, the casts, the fashion, the sassiness, the vibe, semuanya comeback. The 4 main casts… ISTG they look so damn good, they’re aging like fine wines, 20 years means nothing to them, wtf?
Gw nonton TDWP 2 tanpa ekspektasi apa-apa. Ga baca sinopsis, ga buka sosmed, ga nontonin content marketing-nya. Gw pengen rasa dan opini yang keluar setelah menontonnya se-organik mungkin, tanpa dipengaruhi faktor eksternal apapun.
I didn’t regret my decision. It was raw.
Ga nyangka banget mereka bakal bawa isu print media dying ke sini. I mean, I thought Vogue ga terdampak isu ini, majalah dan brand sebesar itu.. Ga kebayang aja Anna Wintour stres mikirin besok bikin konten apa buat IG Vogue karena majalahnya udah ga laku~
Miranda Priestly diceritakan tidak se-powerful dulu. Banyak kepentingan yang harus dijembatani olehnya dan Runway di era sekarang ini. Harus nurut sama pengiklan walaupun rikuesnya segambreng dan bisa mengancam integritas jurnalisme majalah—otherwise majalahnya makin tipis karena investor pada kabur kalo Runway ga cuan~ Kadang harus Miranda sendiri yang jemput bola, nyamperin pengiklan/investor in person buat minta sponsor~ Man… Such a harsh truth. Tapi ini realistis sekali.
Our heroine, Andy Sachs, Thank God udah ga se-red flag dulu ya. Oh yea I think Andy is red flag ya, alasannya gw tulis di sini. 20 tahun kemudian Andy udah lebih dewasa. Part of it karena dia living the life she always wanted, jadi jurnalis feature yang sukses. But again reality hit her hard juga, tiba-tiba kena layoff, butuh duit, jadi mau ga mau nerima kerjaan di Runway lagi. Andy juga sekarang sudah menganut pasal “kerja ya kerja aja, ga usah pake drama”. Sering dikasih liat lembur buat ngejar deadline, socialize with people even if she doesn’t want to, tidak mengeluh ketika dikasih tugas aneh-aneh. Good job, Andy!
My fave, Emily Charlton. OMG! I literally screamed when she appeared. That grand appearance in Dior HQ, karena Emily diceritakan sudah menjadi bos di Dior. Later we know Miranda yang got her the job, karena mau menyingkirkan Emily dari Runway, karena dia terlalu ambisius, tapi ga punya visi. Ooohh!! So epic and again, realistis. Forbes 40 Under 40 peeps, I am looking at you. LOL
I really enjoyed the movie, walaupun tidak 100% sempurna ya. Writing di bagian konflik dan conflict resolution-nya kurang smooth. Sampai sekarang kalo ditanya jadi masalah utamanya TDWP 2 apa, gw masih bingung. Runway butuh duitkah? Runway mau dijual ke investor misteriuskah? Miranda mau cabut/dipecat dari Runwaykah? Atau semua itu benar dan berkaitan?
Tapi the nostalgia, the characters, the comedy, the attitude, the fashion, the glam, the dialogues, the fan service, the callbacks, it’s just everything. Nonton ini rasanya seperti ngobrol sama sahabat lama, hangat dan jujur, tanpa harus menutupi apapun. Thank you Anne, Meryl, Emily, Stanley, 20th Century Fox for this 20 year time skip done right. <3
Anyway okay back to me. :D
Dua minggu terakhir cukup menyenangkan buat gw karena ada event yang membuat gw looking forward to weekend. Weekend minggu lalu nonton Trust Orchestra sama Elia. Walau beli tiket paling murah, experience tetap maksimal karena ini cuma orkestra. Indera yang harus bekerja hanya telinga saja, visual ga ngaruh. Jadi gapapa duduk sejajar sama lampu pun.
Trust Orchestra membawakan lagu-lagu Disney. Mostly bukan versi originalnya, tapi versi cover. Kayaknya sih karena mereka ga beli full rights/full license. Dari key art-nya pun bukan versi official, kayak ilustrasi aja gitu. Well, yaudahlah ya. Tetep bagus kok. Tetep sing along, maaf ya mba-mba sebelahku yang mungkin keberisikan. Aku tuh secinta itu sama lagu-lagu Disney soalnya, udah ada di core memory-ku sejak 30 tahun yang lalu. <3
Paling geter di Circle of Life dan Colors of The Wind. The latter gw bener-bener nangis, udah lama banget ga dengerin soalnya, ini lagu liriknya bener-bagus bagus, real dan poetic. Oh Pocahontas, our Miss Environment International… Terima kasih telah mengajarkan kita mencintai lingkungan layaknya keluarga sendiri.
Circle of Life ga usah ditanya, The Lion King memang superior musiknya. Kasta OST dan scoring paling tinggi se-Disney Raya. Period.
Mau ada lagi tuh live orchestra-nya bulan Juni. Satu movie full. Crazy.
Pengen banget nonton tapi mahal banget tiketnya… I hate that I can’t afford shit in this economy.. :’(
Gila ulang tahun gw tahun ini dibanding tahun lalu… menyedihkan. Tahun lalu capcus nonton konser Lady Gaga di Singapore ga pake mikir. This year I can’t even buy something nice for myself karena harus berhemat~ Bensin naik, sembako naik, dollar naik, oh the life of generasi sandwich who can’t even afford a bloody sandwich~ #sad
Ade gw menghibur dengan nobar The Lion King 30th Anniversary at the Hollywood Bowl di Disney+. Ya mayan sih, tapi kan tetep aja ga live langsung di sana, AKU KAN MAUNYA LIVE ORCHESTRA DENGAN MATAKU SENDIRI!!!
Okay this topic is getting too miserable, let’s move on, besok mau nonton konser Naykilla sama Auwri. Yeay!
Oh yea I like hipdut, I like ANTI NRML. I think they are cool. I know yall secretly like So Asu, don’t lie to my face~
It’s gonna be fun. I might write about it next week so stay tuned!
Laters!



