Sunday, August 2, 2026

Me Wassup #122 - Overdosis Mala, Declutter, Oroton

Hi, guys! How yall doing?


A sunny and chill afternoon here in Pondok Gede, Bekasi where I live.


Finally a well-deserved break setelah berminggu-minggu gedabak gedubuk and literally no weekend. Dua hari ini di rumah aja, chillin, bobo ciang berkali-kali, main game sampe iPad panas, makan, ngemil, chat with besties, quality time with mom, nonton film di OTT. Yang kurang cuma main sama adik aja, soalnya dia sibuk mau bikin film baru~


Kenapa judul postingan ini Overdosis Mala? Jadi ceritanya nyokap gw baru pulang wisata ke China guys, tepatnya ke Chong Qing, Chengdu, dan Guangzhou. Beliau tau banget anaknya mala-sucker jadi bawa pulang a bunch of latiao and mala snacks buat gw:





On top of that, beliau juga experience bikin sambel mala langsung di kuali raksasa yang mana hasil masakannya dibawa pulang di jar berukuran 500g alias setengah kilo. 




Menyala lambungkuuu~~


Baru seminggu makan pake mala hampir setiap hari aja kemarin harus re-stock Mylanta. Wkwk~~


Tapi gw emang crazy about mala sih guys. Terima kasih Matahari—bestie Aussieku (yang sekarang udah based in Beijing) yang memperkenalkanku pada mala hotpot di suatu malam di winter Aussie yang dingin. Couldn’t stop ever since. Mala is one of my comfort food. <3


Beberapa hari belakangan gw bantuin nyokap declutter barang-barang. Gw memutuskan untuk layoff beberapa barang yang used to have emotional value, tapi seiring berjalannya waktu, valuenya terus berkurang hingga hilang sama sekali. Beberapa di antaranya:


- Sisir catokan rambut >> gw beli di Aussie 9 tahun yang lalu waktu tinggal di sana, simply karena mahasiswa bersponsor ini ga bisa afford smoothing di salon Aussie. Sisir ini came in handy, walaupun hasil sisirannya ga 100% curly karena rambut gw  pertahanannya sekuat benteng takeshi. Wkwk~ Sisir ini gw bawa pulang ke Indo waktu for good karena waktu itu emotional value-nya masih tinggi, padahal jelas-jelas di Indo bisa smoothing lagi. But as time went by, it depreciated, akhirnya tergeletak terlupakan di pojok lemari. Kemarin saat declutter, it becomes the first to go. Thank you for your service!


- Tas Colette Hayman >> sama kayak sisir catokan, beli di Aussie juga 9 tahun yang lalu. Icydk, Colette Hayman itu brand tas murmer di Aussie, all items manufactured in China, favorit mahasiswa sponsor. Hahaha~ Gw tentu saja terbawa arus waktu itu, jadi sempet beli 1 backpack kulit model cantik gitu, which is oke-oke aja kalo dipake di Aussie. Tapi pas udah balik ke Indo, kok jadi ga practical yah? Jadi saiia beralih ke Kanken. Ketika gw keluarkan dari lemari kemarin, tas tersebut kulitnya udah mengelupas sana sini. Gw hampir tidak mengenalinya lagi. So, thank you for your service and goodbye~


- Sajadah >> gw ga tau gimana ceritanya tapi di lemari ada 3 sajadah besar yang ga jelas asal usulnya~ Mungkin oleh-oleh kerabat yang abis haji/umroh atau goodie bag acara pengajian. None of us in the family pernah secara sadar beli sajadah pake uang sendiri, jadi pasti dikasih and somewhat 3 of them ended up di lemari gw~ Tentu sangat redundant buat orang yang solat cuma 2x setahun seperti saiia. Lagian zaman sekarang udah ga model sajadah bentukan karpet gitu, udah shift ke sajadah mini yang bisa dilipet sampe sekecil bola pingpong. So bye sajadah, kalian akan lebih berguna untuk orang lain dibanding gw. 


Sebenernya another thing yang urgently harus declutter adalah lemari baju. Sumpah baju gw banyakkk banget. Syulitnya tuh 90% baju-baju itu punya emotional value yang tinggi, misalnya merchandise konser, theme parks, dresscode gala premiere, jaket almamater, baju dari keluarga dan teman-teman, baju beli pas traveling ke LN yang brand-nya ga ada di Indo, KAN SAYANG YHA~


Jadi gw bertahan dengan argumen: bukan baju yang kebanyakan, tapi lemari yang kekecilan. Huff~


Last one for this post, guys gw harus menunda rencana beli branded bags seperti yang pernah gw tulis di sini dan sini.


Alasannya simply “in this economy”. Rupiah melemah, harga kebutuhan pokok terus naik, dan saiia sandwich generation. Prioritas spending harus diubah, ga bisa terus memanjakan kebutuhan tersier. Kebutuhan primer harus diutamakan.


Tapi sekarang posisinya gw tetep butuh mini bags karena hampir setiap bulan ada event yang require intense mobility. So I did some research, cari tas kulit kecil yang fungsional dan tahan banting. Kita kesampingkan Luxury (with capital L) brands, focus ke mid range brands. Kesampingkan juga brand2 western mainstream seperti Michael Kors, Coach, Kate Spade, dan Tory Burch karena gw bukan mbak-mbak SCBD merintis, wkwk. Berpetualang kembali ke down under. Buka-buka website-nya the biggest department store: Myer & David Jones, filter crossbody/mini bags, scrolling up and down, and finally I found you:


Oroton Mica Mini Bowler


Icydk, Oroton itu fashion brand legend di Aussie guys, udah dari 1938. Zaman tinggal di sana pun sering liat storenya di malls, outlets, atau streets. But of course back in the days gw ga bisa afford jadi ga pernah masuk. Wkwk~


Ini brand YTTA. Tapi yang tau Oroton sih pasti respect banget sama brand ini karena legend. Kualitasnya ga usah diragukan. Yha kalo mereka ga bisa jaga kualitas ga akan bisa bertahan di usianya yang hampir 1 abad, kan?


Pas liat Mica Mini Bowler gw semacam…. love at the first sight!


Kok gemesssss???


Bentuknya unik, ga pasaran, dan ga ngebosenin diliat gitu loh~~


Classic, stylish, playful. 


I gotta get my hands on this!


So, jastip sudah dikondisikan. Insya Allah it will be in my possession this August. Kyaaa so excited!


Nanti kalo udah dateng gw update di blog ini so yall can see. <3


Until then, bye now! Enjoy the rest of the weekend!



Saturday, July 25, 2026

Character Development

Hi, guys! How yall doing?


Wah, bulan Juli lu bener-bener ya!


Bener-bener ga dikasih napas. Sekalinya dikasih napas, posisinya sakit jadi lemes ga bisa ngeblog. Maafkan sayaaa pemirsaaa…


Okay enough feeling sorry, let’s get down to business.


Kalo ditanya apa yang bikin sibuk tentu saja pekerjaan saya ya pemirsa. Kayaknya semakin kesini semakin jarang weekend yang libur. Sebenernya good thing karena kalo kerja weekend dapet cuti in lieu, semua expenses hari itu juga ditanggung kantor, jadi bisa sekalian main.


But still, tetep capek sih…


Salah satu highlight kerjaan kemarin adalah gala premiere. Ini kayaknya belum pernah dibahas di blog, gw itu mengalami character development ketika meng-handle gala premiere, guys. Wkwk~


As in dulu jaman di Errthing, kalo lagi gala tuh gw paling males dress up~ Kayak… ga worth it? Ujung-ujungnya lusuh, capek, kucel, all those negative vibes karena artisnya susah diaturlah, EO-nya kacrutlah, produksinya jeleklah, venuenya kenapalah, ada aja pasti kejadian hari itu yang bikin bete sehingga dress up menjadi ga worth itu. All sorts of negative energy output I knew would happen, udah bikin males duluan~ Akhirnya kalo gala outfit gw literally outfit yoga. Kaos + legging + hoodie item. Semales ituh.


I just really want to get shit done, man…


But then, Awe changed me. Big time. Setelah beberapa kali mengalami gala bersama Awe, gw liat orang2 di sana selalu well-dressed, very representing the brand, kece, kinclong, almost look like the celebrities. Kenapa mereka bisa begitu? Karena mereka punya EO yang proper, yang bisa bikin mereka santai dan cantik di hari H. Tinggal menyambut tamu masing-masing dengan senyum tiga jari. 


Oh, budget matters. Ok.


Kedua yang menurut gw matters juga: ownership. People in Awe have very high ownership of their brand, their titles, and their job. They love them. Jadi ketika ada momen bisa memamerkan kerjaan mereka ke dunia, mereka bangga dan dengan senang hati melakukannya. 


Which i’m, in the case of Errthing, 100% not. LOL


I h8 their brand, menurut gw itu brand jelek. Reputasi jelek, filosofi jelek, logo jelek, warna jelek, company culture jelek. Only 5% title mereka yang gw beneran suka. Even title yang gw handle sendiri aja ga berhasil membangun ownership dalam diri gw. Gw nonton terpaksa karena pekerjaan. Selebihnya, naah~ Ga worth it. Ga usah tanya baca skrip/ngga, udah pasti ngga~ Apalagi pas tau behind the scene title-title itu dibuat dengan sembarangan~ How their thinking is made.. Bye~ 


Gw paling punya ownership mentok di 1 tahun pertama di sana doang, selebihnya i-just-wanna-get-shit-done mentality~


Dah ah, males ngomongin Errthing jadi negatif mulu output-nya~


Berangkat dari semua itu, gw terdidik untuk membangun that “have budget” & “high ownership” mentality. Di Awe, ini gampang banget dan frekuensinya sering. Jadi by the end of my service, character development baru sudah solid terbentuk. 


Nah sekarang kebiasaan baik di Awe itu kini gw lanjutkan di QQ. Alhamdulillah QQ punya budget (tidak sebanyak Errthing, tapi punya!) dan berhasil membangun ownership yang kuat dalam diri gw sehingga gw bisa melanjutkan character development hasil didikan Awe. <3


Balik lagi ke gala, nah  jiper dong kalo gala ga dress up. Apalagi warga di sana sangat menjunjung tinggi dresscode, hampir semuanya nurut dresscode. Jadi sejak saat itu, I TAKE DRESSCODE SERIOUSLY! 


This is my character development! Gw literally beli baju baru setiap gala and I spent a LOT! Minimal banget designer brand. Walaupun belinya di Shopee biar bisa diskon Shopee VIP, tetep ada adegan mampir ke store-nya untuk cobain satu-satu. Buka macem-macem website scrolling tanpa henti sampai menemukan “the one”. 


It’s a fun experience tbh, kind of healing juga karena gw kan emang demen shopping ya. Nyehehehe~


Gala becomes one of the things I looked forward to. Di tengah segala ke-hectic-annya, masih ada at least 1 hal yang bikin gw hepi. <3


Baju-baju yang gw beli itu banyakan ended up ga gw pake lagi. Jadi penghuni tetap lemari bagian paling dalem. But I don’t care. Still brings me joy. <3


my 1st blazer set in maroon! <3


So, next gala, kita pake baju apa nih???