Sunday, June 28, 2026

Me Wassup #120 - Jalan Sehat di CFD, Bapil, Aussie Throwback

Hi, guys! How yall doing?


How’s everyone's weekend? It’s a very busy weekend buat orang-orang Jakarta. Ada perayaan ultah Jakarta di Bunderan HI dan sekitarnya. Jalanan banyak yang ditutup. Tidak recommended untuk dikunjungi… tapi gw tetap ke sana.


LOL. Yupp. Tadi pagi abis CFD, ikutan acara Jalan Sehat Bersama Ibu yang diadakan Leo Pictures untuk promo film Jangan Buang Ibu. Kok tiba-tiba bisa ikutan acara ini??? Ceritanya nyokap gw fomo ketika gw sama ade gw ikut One Piece Run, karena beliau tidak diajak. Hanya menunggu di kamar hotel saja. Beliau sudah lama request pengen CFD sambil staycation. Monmaap Bu, One Piece Run kan ada batas usianya ya…… Wkwk~


So ketika Leo Pictures mengumumkan ada acara ini, let’s go-lah kita ajak Bu Endang. Buka kamar di Grand Sahid, hotel orba murmer yang servisnya makin lama makin kacrut, tapi karena lokasinya bagus hotelnya tetep laku. Jam 6 teng keluar buat flag off. Rutenya dari hotel belok kanan sampai Bunderan HI, putbal, jalan menuju Karet, putbal di jembatan Pinisi, balik hotel. Total 5km.





Semuanya jalan, ga lari, so no pressure at all. Menuju garis finish Bu Endang kebelit pipis jadi kita cheating nyebrang lewat terowongan MRT biar lebih cepet sampai ke hotel. Gw pun laper berat sih jadi kudu cepet balik hotel buat breakfast sebelum rombongan besar balik, nanti malah ga dapet tempat di restoran~ 


Overall good experience walaupun karena kita jalur gratis (gw dikasih gratis karena kantor gw lagi kerjasama sama Leo Pictures) sehingga ga dapet medal. But who cares about medal? Medali One Piece Run aja sekarang bingung mau diapain. Ada yang mau? Gw jual 500k. Wkwk~


Acara berlangsung cepat, jam 10 kita udah balik kamar. Masih ada 2 jam sampai check out, sempet mandi, bobo bentar, beberes. Sebelum pulang, menikmati kehangatan hot cacao dark-nya RR Chocolate dulu yang berlokasi di sebelah hotel persis. Mumpung udah di situ kan. 


Ah.. Sungguh nikmat.. Sementara rupiah masih lemah dan kita belum bisa ke LN untuk menikmati Max Brenner, kita tambal dulu kerinduan ini dengan RR Chocolate.


Overall weekend yang menyenangkan yang membuat gw lupa kalo gw lagi sakit. Bapil sejak jumat kemarin. Kecapean + ketularan temen kantor yang duluan sakit. Pileknya sih udah menuju sembuh, tapi batuknya somewhat bertransformasi jadi radang tenggorokan~ 


Sialnya gw sedang kehabisan Ketricin karena udah lama ga radang~ Tapi nyokap gw kemudian memberikan “obat” baru oleh-oleh temennya dari Aussie:





It’s called Propolis & Manuka Honey Spray.


Another amazing product from Aussie! Works like magic! Sorethroat gone in 5s!


Tapi balik lagi sejam kemudian. Hahaha~ Jadi harus rutin semprotnya. Yes, cara pakenya disemprot ke tenggorokan, bukan diminum. Well, ujung-ujungnya keminum juga sih setelah kecampur saliva~


Minggu ini banyak yang bikin gw throwback Aussie. Hari Senin ketemu Acha Septriasa untuk pemotretan next title. Kita mengobrol, ternyata kita punya beberapa kesamaan. Pertama pernah tinggal di Aussie. Beliau Sydneysiders. Sedangkan gw formerly Melbournian. Lalu sama-sama kuliah di Aussie juga. Beliau di Curtin, Perth. Gw di Unimelb. 


Perbedaan kita yang lain, dia udah nonton musical Anastasia, gw belom~ LOL sad~~


Ga terasa tahun ini 10 tahun setelah gw menginjakkan kaki pertama kali di Aussie. 2016-2026. 10 tahun yang lalu, hari gini lagi degdegan counting down meninggalkan Indonesia. Seperti apa hidup baru yang menyambut gw di down under? Is it going to be friendly to me? Am I gonna make friends? Am I gonna do well in school?


Aah.. Nostalgic. Yang mau mengikuti perjalanan gw di Aussie bisa baca arsip blog 2016 (start Juni)-2017 ya.


Ooh the amazing June is about to end~ I don’t have anything to look forward to in July.. No events, no concerts, no reunion.. Ngapain ya biar semangat?


Butuh liburaaaann.. Naik pesawaaaattt.. Get the F out Konohaaaa~~~


Ah bikin Indomie dulu deh biar ga bete~ Fufufufu


See ya~


Sunday, June 14, 2026

The Lion King Live Concert Review

 Hi, guys! How yall doing?


Just a quick post to review The Lion King Live Concert which I just watched yesterday. 


Gw penggemar berat The Lion King sejak umur 6 tahun. It’s still my favorite Disney IP until now. I’ve seen TLK in all art forms:

- Original Film

- Live Action

- Broadway/Musical

- Festival (in Disneyland, seasonal)

- 30th Anniversary Concert at the Hollywood Bowl (on Disney+)


I believe TLK is the first film I watched in cinema in 1994–tapi nyokap gw bilang bukan. “Ga mungkin kamu pertama kali ke bioskop umur 6 tahun, orang umur 3 tahun aja udah diajak~” Tapi pas diminta mengingat film apa yang Seeta kecil 3 tahun nonton, beliau ga ingat~ Hadeh padahal kan itu milestone penting ya, especially now knowing I grew up being part of/dedicating my life to that industry. :D


Alhamdulillah berkesempatan menonton TLK Live Concert kemarin, menambah panjang daftar koleksi experience art form TLK. :D





TLK Live Concert itu… mahal. LOL~


I mean compared to Disney Renaissance Trust Orchestra April lalu, harga tiketnya termurahnya cuma 300k. TLK Live Concert termurah 900k~


Gw hampirrr ga jadi beli, tapi kok ya ga rela.. I mean kalo ini IP lain biarin deh, tapi ini TLK.. Karya-karya Hans Zimmer dan Elton John.. The best music ever composed for a Disney movie. Ah fuck it! Beli aja deh~~


Ternyata ga nyesel kok. Worth every weak Rupiah. I got chills the entire time. The most important soundtrack and scoring in my life just came to life! 


Konsepnya nonton film dengan live scoring/music, jarang-jarang kan punya experience begini.


Dari yang gw perhatikan kemarin, orkestranya lebih banyak mainin part Zimmer alias part scoring. Part soundtrack dimainin tapi ga full satu lagu gitu. Kayak cuma reff-nya, atau bagian-bagian klimaks dari lagu itu. Mungkin supaya ga overshadow suara nyanyinya. Padahal mah overshadow aja gapapa, it’s not like we haven’t watched the movie. Saiia sudah hapal semua adegan dan script TLK sejak umur 6 tahun nih kebetulan. Wkwkwk~


Live concert pengalamannya unik sih. Sambil nonton film ada sekelompok orang yang kerja di depan muka lo gitu. Agak susah fokus. Kebetulan gw duduk paling depan jadi bisa liat dengan sangat jelas orang-orang ini bekerja. Terus jadi paham di lagu/scoring apa, instrumen apa yang paling bekerja keras. Kayak pas Stampede, double bass main udah kayak jungkir balik. 


Jadi mengenal tipe-tipe sound di sebuah lagu/scoring juga. Oh ini biola, oh ini cello—yang ternyata beda sama double bass (catet!), oh ini perkusi—yang ada drum, timpani, dll,oh ini bassoon—instrumen yang dikuasai Stephanie, bestie gw di Melb who’s part of an orchestra as well. Mayanlah belajar biar lebih kalcer. 


But of course kita tidak boleh melupakan elemen filmnya ya. TLK ditonton 30 tahun kemudian tentu feel-nya berbeda. Semakin tua, gw semakin mengapresiasi musiknya. Betapa nge-blend musiknya dengan adegan dan emosi karakternya. Walau sudah 30 tahun, musik ini tetap ga ngebosenin. Timeless banget, Hans Zimmer & Elton John sungguh sangat visioner. Gokil!


Elemen film lainnya yang berkesan buat gw adalah… the one and only:





Gw udah berulang kali mention bahwa Timon is my favorite Disney character of all time. Di sini, sini, dan sini.


Timon is another timeless masterpiece from TLK. Semakin tua, karakter Timon semakin lucu dinikmati. Gila. Padahal the same script, the same scene, the same expression, tetep lucu njir! Kok bisa ya???


Anyway paling itu aja yang bisa gw ceritain. So happy to get the opportunity to enjoy yet another art form of TLK. Next-nya apa? Pergi langsung ke safari Masai Mara di Kenyakah untuk ketemu Simba in person? Hehehe


Byeee~~