Showing posts with label private. Show all posts
Showing posts with label private. Show all posts

Saturday, May 30, 2026

Me Wassup #119 - Wrapping Up May

Hi, guys! How yall doing?


Tak terasa bulan Mei yang sibuk ini sudah mau berakhir. Selamat tinggal, bulan baik. Bulan ini banyak senengnya, banyak belajarnya, banyak re-connect sama temen2 lama, kenalan sama temen2 baru, baik di internet maupun dunia nyata. Walaupun ada kejutan-kejutan “manis” di pekerjaan, first big event, first drama, and everything else in between, tapi overall tetap bulan yang baik. 


Update sedikit dari postingan sebelumnya, hari Minggu kemarin gw menjalani treatment kedua as birthday perks dari BCA. Kali ini di Menard Shop & Spa dengan treatment Embellir Whitening Pack senilai 1,7 juta. Konon ini adalah treatment anti-aging termasuk kerutan, kering, kusam, dan tekstur kasar. Cucooookkk! Wkwk~~






Tempatnya Japan vibe gitu kayak Kokuo. Menard ini emang asal Jepang. Service-nya 5-star juga kayak Tosca. Tapi pas nunggu ga dikasih cemilan. :p


But it’s okay, the treatment itself 90 menit, termasuk facial dan shiatsu back massage. Facialnya termasuk cleansing, serum, masker (2 jenis, but again, ingatan gw seperti kura-kura, lupa aja aja), dan suncreen.


Hasilnya? Wow. Ini hari ke-6 sejak treatment, gw ga pake skincare apa-apa karena kulit gw masih halus dan kenyal banget guysss~~


Makasih ya BCA!!! <3


Anywaayy.. Gw ga jadi nonton F4 karena satu dan lain hal. But believe it or not, gw ga merasa FOMO pas ngeliat fancam orang-orang. Mungkin benar gw hanya menyukai IP-nya, Meteor Garden dan Hana Yori Dango. Elemen-elemen pendukung di dalamnya seperti F4, biasa aja. It feels good to see Jerry (my first love) and Vic (my gege) in good health and good shape though. They look happy with this concert. That’s enough for me.


On more personal notes, gw lagi mengalami dilemma. So the last couple of months gw merasakan perubahan yang cukup nyata di tubuh gw. Beberapa bulan terakhir, gw kalo mens ga sakit atau sakitnya minimalis dan bisa ditahan. Ini aneh, karena biasanya gw bisa bener-bener lumpuh di hari pertama dan kedua mens sampai harus minum all sorts of medicine. 


Mungkin kedengerannya bagus, but I feel something weird. Kalo mens ga sakit, itu biasanya karena gw sedang menjalani pola hidup sehat. Rajin olahraga, jaga makan, rajin minum vitamin, dll. Ini tuh nggak. Gw udah berbulan-bulan ga olahraga, makan pun sembarangan. Jadi ketika mens ga sakit, ini aneh.


Gw juga notice durasi mens semakin sedikit. Biasanya 7 hari, sekarang 4-5 hari aja udah kelar. Mungkin bagus, irit softex. But on the other side, ini berarti jumlah sel telur gw berkurang~


I’m doing the math and something strikes me: am I experiencing pre-menopause???


So I look it up, ask people around. 


Untuk urusan mens jadi ga sakit, menurut Elia yang adalah sarjana sains, itu karena di atas umur 35 ada hormon yang berkurang/hilang di tubuh perempuan. Estrogen or progesteron or something. Ini make sense, karena bertahun-tahun yang lalu ketika gw ke ginekolog untuk masalah mens sakit ini, dokter bilang ini karena hormon gw tidak seimbang. Now that the hormon is (slowly) gone, the pain is gone as well. 


And yes, another sign of it is volume haid fluktuasi (bisa berkurang atau berlebih), in my case, berkurang karena sekarang durasi haid cuma 4-5 hari. 


Tbh, idk how I should feel about it. Harusnya bagus ya kalo ga sakit kan ga ganggu kegiatan sehari-hari. Bagus juga kalo mens lebih cepet, so I’m getting better sooner as well. But somehow I also feel… at loss~ Like a part of me is gone and will never come back~


Terus sedih beb~ :”(


Damn it, hormones!!!


Ternyata bener tubuh perempuan itu ada waktunya. I mean, I’ve known this fact for a long time, but I never thought it would strike me this hard right after I turn 37.


Panik. Panik. Panik.


In a couple of years, gw harus menerima fakta kalau gw ga akan bisa hamil dan punya anak~ 


C.R.A.Z.Y.


I do want to have kids. I do want to experience pregnancy and motherhood. 


………


So i’m thinking of plan B and remember… Luna Maya.


I’ve learned the procedure, it looks scary as fuck. But hey, tahun ini belum ada kegilaan yang di-checklist kan? Nyehehehe~


So, bismillah Q4 2026. Ngumpulin duit dan nyali dulu!


Speaking of nyali… I’ve just signed up for a marathon event!


Tuhan itu emang maha baik ya. Gw ga dapet F4, langsung dikasih gantinya yang ga kalah seru:




Yupp! I’ll be joining the fun next week! Sekarang statusnya lagi checkout kacamata Doflamingo di Shopee. Wkwkwk~~


Emang bangke nih One Piece~ Makin hari bikin gw makin cinta~


Dulu pas awal-awal suka janjinya kan cuma nonton animenya aja, ga sampe tahap spending money. Sekarang terhitung udah 2x ke One Piece Cafe dengan ARPU minimal 500k dan udah punya topi jerami, topinya Ace, dan upcoming kacamatanya Doffy~ 


Casetify collab juga udah di keranjang kuning tuh dari berbulan-bulan yang lalu. Tinggal nunggu khilaf aja terus checkout~


Gw abis nonton podcast ini:





.. and I thought, ih seru juga ya main tebak-tebakan karakter gitu!


But I have no one to play with so guess what I do!


Merapat ke ChatGPT! LOL!


Bisa guys main sama mba GPT! Seru juga walaupun doski no emotion, just bot. LOL!!!


Dah ah, mau ke salon, abis itu ke kondangan. Byeeee



Sunday, August 31, 2025

The only grey area

Selamat siang semuanya. Hari ini hari Minggu di penghujung bulan Agustus 2025 pukul 2pm. Mood lagi drop abis-abisan karena situasi Indonesia yang menuju gawat darurat. 

Demo berkepanjangan dari hari Kamis kemarin, protes terhadap pemerintah yang tone deaf dan pengecut. Kirain cuma sehari dua hari, but nope, udah over the weekend dan expected to be until next week.

Berbagai narasi sudah tersebar di social media. Adanya provokasi, berbagai tindakan anarkis, pahlawan kesiangan, klarifikasi dan permintaan maaf, decoy alias pengalih perhatian, suara rakyat yang dibungkam dimana-mana (termasuk messing with Meta & TikTok system)..

Mentally draining. Capek banget. Tapi tetep harus alert, tetep harus buka sosmed, tetep harus baca, tetep harus repost dan share. That’s the least thing we could do to help this nation survive. 

Gw sendiri sedih banget liat kondisi negara yang sangat gw cintai ini. I gave up opportunity to be permanent resident of Australia because I wanted to live here, in Indonesia. I wanted to contribute to the people and community. Semua itu janji yang gw tulis di motivational letter saat apply beasiswa dan kampus untuk S2 8 tahun yang lalu dan janji itu masih gw pegang sampai sekarang.

Tapi kenapa masa depan Indonesia tampak suram sekali???

Please jangan bikin gw menyesali apa yang sudah gw janjikan. 

Ya Tuhan.. Lindungilah negara ini.

Anyway, dalam situasi seperti ini, gw jadi teringat percakapan bersama 3 teman some times ago. Ga usah gw kasih tau ya siapa orang-orangnya, karena cukup absurd. They are not even my close friends dan kita baru kenal beberapa bulan. 

Percakapan ini sedikit menyinggung apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Dimulai dengan sebuah pertanyaan: do you wish to have kids?

Whoa. 

That was a very personal question!

My introvert side kicked in. Berasa diserang gitu sama pertanyaan itu. 

I mean I don’t mind discussing it with my close friends, atau at least temen2 yang gw udah kenal lama, setahunlah minimal. Mereka-mereka yang ada dalam close proximity yang intens sama gw, misalnya ketemu di kantor atau klub atau komunitas atau project secara rutin, sehingga gw nyaman sama mereka. 

But these guys.. kayak baru kenal 1-2 bulan gitu.. 

So I felt so attacked!

But the other 3 kayaknya orang2 extrovert, jadi didn’t mind sharing their ideas. So I had to play along.

You know, topic about kids itu sangat sensitif buat gw. Selama ini kalo bisa gw menghindarinya. Gw bahkan mungkin ga pernah discuss itu di blog ini padahal blog ini safe space buat gw. Gw mungkin pernah bahas topik ini sama beberapa temen, tapi paling permukaan doang. And I most definitely never talked about it with my parents/family. 

Gw tuh sebenernya tipe orang yang punya pendirian. Yang stance-nya jelas di situasi apapun. I always have strong ideas and opinions. Gw tau gw harus gimana, dimana, memilih apa, berpihak ke siapa, dll itu gw selalu tahu. Selalu yakin dan teguh pada pilihan gw, atas apa yang gw percaya dan yakini benar, atas mana yang baik dan buruk. Itu gw selalu tahu. 

Gw selalu di posisi hitam atau putih, ga pernah abu-abu.

Kecuali… soal anak. 

photo cred here


Ini adalah topik yang gw ga tau dan ga yakin stance gw dimana. I’m neither pros or cons. 50:50. Abu-abu.

Di satu sisi, gw pengen punya anak. I’m sure I can be a good mom, karena gw punya contoh yang luar biasa: nyokap gw. Sosok ibu yang sempurna. Strong, smart, calm, kind, resilient, patient, loving, supportive, forgiving. Semua good quality nyokap bisa gw terapkan pada diri gw dan berlakukan ke anak gw sehingga minimal anak gw nantinya akan tumbuh menjadi seperti gw, which is not bad. :p

Punya anak juga sebuah keputusan yang mulia. You know, just from science perspective, regenerasi human race supaya tidak punah. Who knows anak kita nantinya akan menjadi penerus Einstein, pemimpin dunia, atau agent of change yang akan memberikan the better life for everyone.

A little part of me juga merasa anak akan melengkapi hidup. Pencapaian terbesar sebagai perempuan adalah to become a mother. Kayak udah qodratnya gitu. 

The idea of nggak sendirian di masa tua juga menarik. Walaupun nantinya gw ga akan membebankan kewajiban untuk mengurus gw di masa tua ke anak gw ya. I don’t mind ditaro di panti jompo (yang layak) terus anak gw nengokin seminggu atau sebulan sekali. That’s okay. 

Namun, di sisi lain, punya anak juga banyak risikonya. Risiko finansial yang paling utama. Punya anak itu mahal—at least kalau kita mau memberikan standar hidup yang layak/nggak di bawah standar buat mereka. 

Risiko finansial ini juga ga ada ujungnya, akan terus berlanjut seumur hidup. So gotta be ready for that too. Planning-nya udah sampai after life, ga cuma sampai anak kuliah aja..

Then ada risiko mental dan psychological untuk ibu. Kehilangan identitas atau semacamnya, ketika nama “Seeta” perlahan fade away menjadi “Bu X (nama suami)” atau “Mamanya Y (nama anak). Dealing with negative stigma around women and mothers who are being judged more harshly than men. Balancing the demands of motherhood and personal life. Navigating postpartum physical changes and self-image…

But you know, I know my capability, and I think I can deal with those risks and survive. I couldn't care less. 

It’s just.. for me, it’s not fair for my children to be born and raised in Indonesia, especially now that it is becoming a more and more inhuman place to live. 

Gw hidup di negara ini aja sekarang udah susah dan takut, nggak adil rasanya membawa another innocent souls into this chaos. They don’t deserve this. They don’t deserve Indonesia Gelap.

That being said, the only scenario yang make sense untuk punya anak adalah cari jodoh WNA dan migrasi ke LN—which what I’m going to do in the long run. Anywhere is better than here. 

Okay going back to the convo with 3 extroverts…

You know.. all of those statements.. semuanya very personal dan definitely ga akan gw share ke orang yang baru gw kenal. I can sense that all my points might sound controversial, jadi gw ga mau mereka malah argue atau nanya-nanya follow up questions yang bikin gw makin feeling attacked atau insecure, or worse: memberikan saran atau kritik on how I’m supposed to live my life. Hell no.

Jadi jawaban gw saat itu adalah: “I’ll let my husband decides.”

That just came instinctively because I needed to end this convo real quick.

Sekarang kalo dipikir2, jawaban gw jenius juga. Wkwk~

I mean, bukan bermaksud lari dari tanggungjawab. Seorang istri pada akhirnya harus mendengarkan apa kata suami kan? So, taichi aja. Nyehehe~

Anyway, my point is, gw sekarang masih ga tau mau punya anak atau nggak. But then I realize punya anak atau nggak itu keputusan bersama dengan calon suami gw nanti, ga cuma keputusan gw doang. 

Kalo sekarang gw masih 50%, ya tergantung suami gw nanti. Kalo dia mau punya anak, apakah dia bisa meyakinkan gw supaya skornya jadi 70% misalnya. Then let’s have kids.

Sebaliknya, kalo dia memilih child free, ya usaha aja nurunin skornya ke 1-49%. Then let’s spend the rest of our lives together, just the two of us. That’s also fine for me. 

So yeah, nampaknya kategori calon suami gw nanti cuma 2: 1) bule, 2) orang yang masih optimis sama masa depan Indonesia. Wkwk~

Dah ah. Gw mau nonton The Residence di Netflix. Butuh distraksi dari semua kabar buruk yang mengikis moral di luar sana.
 

Sunday, October 20, 2024

Me wassup #99: dark and difficult times lie ahead

Hi, guys! How yall doin?

First of all, RIP Liam Payne.

Damn. Gone too soon. 2024 is cruel.

The ultimate reunion the whole world expecting terjadinya di kuburan…

Such a dark joke.

Gw bukan Directioner tapi ikutan sedih karena adek gw udah nangis dua hari. Hari ini dia sakit, kayaknya karena itu juga.

Sebagai yang pernah ditinggalin idola juga (re: Aaliyah, Lisa ‘Left Eye’, Chester Bennington & Jonghyun Shinee), gw sangat mengerti gimana rasanya.

Yang bisa mengobati hanya waktu.

But one thing for sure, the legacy lives on. Selamanya akan diomongin dan dikenang sama semua yang sayang dan ingat 1D. 

So don’t worry, everything’s gonna be alright.

Hari ini pelantikan presiden baru. Era kegelapan Konoha officially dimulai. Wkwkwk~

Gw kira setelah ribut-ribut fififofo, wapresnya diganti. Ternyata sama aja. Padahal kalo diganti gw merasa optimis dikit sama presiden yang baru. Huff.

Dumbledore said: 

“Dark and difficult times lie ahead.”

Semoga bangsa ini baik-baik saja, dijauhkan dari segala keanehan. 

Anyway, ga cuma Konoha yang memasuki era kegelapan, kehidupan saya pun demikian. Fufufufu~

Rezim baru officially dimulai. Gw ga tau nasib gw ke depannya akan seperti apa. Too early to judge. Sepertinya sih akan ada pergesekan-pergesekan, blunder-blunder tipis (ga) lucu. Mungkin prinsip-prinsip hidup gw akan ditantang. Mungkin gw akan dihadapkan pada banyak pilihan sulit.

Dumbledore continued:

“Soon we must all face the choice between what is right and what is easy.”

Semoga gw terus diingatkan pada the importance of integrity and courage over convenience and self-interest. Semoga gw tetap stay true to my values, even when it is difficult or when the easier path might seem more appealing



True bravery involves making tough choices that align with one's principles. 

Bismillah.

*sigh*

Ini kedua kalinya lho gw dihadapkan pada situasi seperti ini dalam karier. Sebelumnya ini. Ckck~ 

The great Gee Oh Dee emang lagi hobi memberi cobaan ke gw taun ini. Jenis cobaannya sama, ugly feelings yang pernah gw rasakan beberapa taun yang lalu, harus gw rasakan lagi (sebelumnya gw ceritain di sini). Ibarat penyakit lama kambuh lagi~

Hopefully merasakannya berkali-kali bikin gw imun ya, bukan makin sakit. Heuheuheu~~

Anyway next topic: hdj (read: sdrawkcab)

Guys, kayaknya the whole hdj things tuh bukan buat gw deh~

I’m too fragile for this shit OMG~

Capek banget. Baru permukaan aja udah baper… Baru ‘hello’ aja udah bikin fanfic di otak~ Padahal kan ga boleh gitu ya~ I know!! Tapi settingan default gw tuh udah begitu…

Gimana dong???

Telat banget lagi baru tau hipotesanya sekarang~~

GIMANA NIH?????

I need help. SOS. Mayday mayday~ Aaaaakkkkk

Anyway……

Kemarin ada tweet yang masih berhubungan soal ini.

Di sini gw mau memberikan my 2 cents. Hehehe~~

Imo, yang dilakukan si cewek udah benar. Just leave that broke-ass scrub. 

Tapi, statement si cowok ada benarnya juga sih (menurut gw). Like if it happens to me, misalnya gaji gw lebih besar gitu, there’s a chance gw akan--bukan disrespect ya bahasanya, lebih ke nggak percaya~ Trust issue. Nggak pede sama dia. 

Unless setelah melihat kenyataan ini dia jadi termotivasi untuk menyeimbangkan itu ya, atau bahkan melebihi itu. Do something to make him worth more-lah. Then maybe gw masih bisa terima.

I mean.. Bukannya gw matre ya, it's not about the money. Believe me, insya auloh gw sebagai pribadi udah memasuki status comfortable, hehehe~ 

It’s just I want my S.O to be more/better in everything than me. More intelligent, more mature, more confident, kinder, wiser, wealthier, funnier. This way, I’ll feel safe and protected around him. I am confident with him. 

Soalnya gw kan akan menghabiskan sepanjang hidup bersama dia ya, through thick and thin. There are a lot at stake here. So many unforeseen circumstances. Kita kan ga pernah tau di masa depan itu apa yang akan terjadi. 

Dengan memilih partner yang lebih, lebih, dan lebih tadi, setidaknya gw akan lebih merasa aman. I will have someone who will protect me, because he’s better in everything than me. 

I’m setting the standard too high for myself ya? Wkwk~ Makanya ga dapet-dapet. Nyehehe~~

Sebenernya ga harus lebih yang gimana-gimana. Bukan karena insecure juga. I also find myself intelligent, mature, confident, kind, wise, wealthy, and funny. It’s just misal gw ada di level 8, this guy harus level 9-lah, atau 8,5-lah. Just slightly better already OK.

Okelah itu aja. 

Happy weekend all!
 

Sunday, October 29, 2023

Limits

Today I want to talk about limits.

Gw terbiasa jadi yang ter-ter di tempat kerja. Terbaik, terhebat, terpintar, terorganisir, terkuat, tersabar, tercepat, tersolutif, terlogis, ter-tak terkalahkan, dll. I am an Ace and people recognize that. 

I go places with being an Ace. Bisa dapetin dream job, akses ke VVIP, dikasih project2 besar, keren, harapan bangsa that no one else could do..

Selama ini gw belum pernah merasa pekerjaan itu berat, karena kapasitas otak gw besar. Knowledge, skillset, dan pengalaman gw yang tidak kaleng-kaleng menjadi modal utamanya. 

Mungkin gw masih punya beberapa kekurangan, tapi cuma minor. Selalu bisa diatasi dengan logika dan akal sehat. Ya, faktor penting lain yang membuat gw hebat adalah gw selalu melakukan pekerjaan dengan logika dan akal sehat—dibarengi dengan hati yang tulus dan ikhlas because this job isn’t only mine, but other people's as well. I always make sure they are happy, well-treated, and respected. 

Dengan semua modal itu, tidak ada yang tidak bisa gw kerjakan. Tidak ada masalah yang tidak bisa gw selesaikan. Pasti selalu bisa. I have no limit.

Well, that’s what I thought… until Errthing happens. 

Baru-baru ini limit gw diuji. 

Bukan soal fisik, bukan soal masalah dan solusi, bukan soal kualitas dan kuantitas kerja, tapi soal logika dan akal sehat. 

Gw dipaksa bekerja di luar logika dan akal sehat. Bukan cuma kerjaannya, tapi juga atasan, rekan-rekan dan sistem yang bodoh dan konyol. 

Like… Because I’m smart, I know for sure these people and systems are wrong. I know for sure this project will fail because of those, but I can’t do anything because I’m not in the management~ I have no right to change things because I’m no decision maker~

As expected, dugaan gw benar. Hari-hari menuju hari H, everything was crumbling. Kacau hancur berantakan. Pure chaos. Everyone became animals. Liar dan tak terkendali. Setiap hari menyerang gw seperti singa kelaparan bertemu mangsanya. Tidak ada lagi logika dan akal sehat, hanya panik dan emosi yang membabi buta. 

Ini terjadi setiap hari. My heart raced and it felt hard to breathe. Asam lambung naik, nafsu makan hilang, berat badan turun drastis. The stress was chronic and overwhelming. 

Even so, when it comes to physical challenges, gw masih bisa tackle. I could still wake up in the morning, grab my 3kg laptop bag, go to work, and function normally. 

But mentally and emotionally… not so much~

This week for the first time ever in 12 years of career… gw menangis karena pekerjaan. 
 
Bukan sekali, bukan dua kali, siang dan malam dua minggu berturut-turut.

Sekuat apapun gw berusaha menahan air mata itu untuk keluar, ga pernah bisa. Semakin ditahan pun semakin sesak. I really can’t hold it anymore. 

I soon realized… that was my limit. 

Ketika semuanya falling apart karena logika dan akal sehat sudah tidak ada, yang terkuat pun terkalahkan.



Kejadian kemarin membawa pelajaran penting buat gw. Now I know I have a limit. I am more aware of my capabilities. I can recognize when I’m reaching the extent of what I can handle. 

I understand more about my strengths, weaknesses, and boundaries. Next time I can make conscious decisions about what tasks or activities I can realistically take on.

Now, the next question is… is it okay to have a limit? What should I do with it?

Should I break it, go beyond, and take on more challenges even though it will cost me another mental breakdown? Or should I lay low and just let it be?

Please do enlighten me. 

Monday, January 2, 2023

Last day of holiday

 Hi guys! How yall doin?

Aaaaakkkk holiday segera berakhir in a few hours….

Fyi, gw baru dikasih 4 hari libur sama kantor. Solid 4 hari. Jumat-Senin. Duh. Luv banget. And I ain’t waste a single day. Tiap hari jalan2. Mulai dari Kamis malam nonton Avatar: The Way of Water (keren banget, guys!! Ntar gw cerita dikit di bawah), Jumat berburu diskonan di midnight sale GI (lumayan dapet beha baru, new year new bra!), Sabtu di rumah aja kirim2 happy new year ke orang2 sambil nungguin pergantian tahun ditemenin sama berisiknya petasan2 komplek, Minggu impulsif ke PIM buat nyari jaket puffer buat nyokap yang mau ke Turki, dapet bonus beli sunglasses buy 1 get 1 di Optik Melawai—buat ke HK bulan Maret. ihiy!

Quick review Avatar: The Way of Water



I FUCKING LOVE IT!

Keren banget gaes! Ga sia-sia James Cameron bikin film 11 tahun. Ga ada celah lho, solid 10/10!

Kayak all the reasons you go to the cinema, or all the reasons you watch movies, ada di Avatar gitu. For the cinematography, for the story, for the characters, for experience, for escape, everything, akan terjawab dengan nonton Avatar.

Gw mayan nyesel ga nonton di IMAX. Telmi sih, jelas2 di judulnya ada kata 'water', ya pasti ada adegan dalem airlah, ga mungkin bisa dinikmati hanya dengan 2D! 

Kemarin gw nontonnya di Premiere. Soalnya filmnya kan 3 jam ya. Takut backpain aja sih, maklum wis tuwir. Wkwk~

Setelah nonton, baru berasa rugi nonton 2D. Jadi saran gw buat yang belom nonton, nonton di IMAX, guys. Yang mau nonton 2x boleh sih, satunya di IMAX. Rasakan perbedaannya. 

Today Senin, lumayan well-spent juga walaupun di rumah ajah. Nonton YouTube—karena Netflix dan Disney+ gw lagi ga bisa—MacOS kudu di-upgrade. Huhuhu~

Gw nontonin Lapor Pak! yang ternyata lucukkk bangettt~~ Ternyata Lapor Pak! udah ngetop dari tahun 2021 ya? Dooohhh kemana aja sih gw?? Yang kayak gini-gini pasti telat. Kemarin tau The Prediksi telat, sekarang Lapor Pak! telat juga~

Ya maaf guys, 2020-2021 saiia sibuk jadi bucin QQ. Dunia gw hanya berputar di drakor, dracin, anime. Mana sempet memperhatikan jagat hiburan tanah air~ Sekarang nih baru. Going hyperlocal gara-gara kerja di Errthing. Gapapa. Seeta otw menjadi Indonesian entertainment expert!

Selain Lapor Pak! gw juga lagi demen duo bapak-anak Gading & Gempi. 



Doooohhh… Mereka tuh yaaa… TOO CUTE!!! Ya Allah berikan gw jodoh seperti Gading yang bisa babo banget kalo udah ketemu anaknya, apalagi anak perempuan~ 

GISEL DASAR LU YA~~ PUNYA LAKIK KEK GADING DISIA-SIAIN!!! (owhhh nge-judge~ wkwk)

Dan gw pengen punya anak kayak Gempi plisss~~ Cangtippp bangettt, dooohhh~~ Gennya Roy Marten ga maen-maen. Si Gempi tuh mukanya muka Gading tapi thank God kulitnya kulit Gisel. Hahaha~~ Dan Gempi pinter banget kakk, anak 7 tahun udah mengerti konsep gimmick tuh kek manaaa~~ hahaha

Dibesarkan di keluarga artis juga bikin Gempi nyaman depan kamera. Di YouTube atau acara TV, ngomongnya pinter dan ga jaim, tapi tetep cool. Rafathar tuh somewhat masih suka ada ekspresi ga nyaman dengan adanya kamera 24/7 (mungkin karena udah terlalu sering) dan ga lepas ngomong, Gempi bisa manage herself in front of cameras and do well in interviews, both in Indonesian and English. 

Amazing-nya Gempi ga berenti sampai situ. Walaupun pintar dan mengerti lebih banyak untuk anak-anak seumurnya dan terkesan lebih dewasa dari umurnya, kekanakkan-nya ga ilang sih. She still acts like 7 yo kid. Kudos to Papa Gading dan Mama Isel untuk parenting-nya.

Anyway, tadi sempet yoga, vinyasa yang alon-alon tapi maknyesss. Entah udah berapa minggu ga yoga. Sejak sakit itu kalo ga salah, ditambah malas, dan kebanyakan acara. 

Tapi kalo ada yang gw banggain dari diri gw di tahun 2022, itu adalah mau start yoga dan actually ditekuni seminggu sekali. Yoga terbukti ampuh sih buat my overall well being lebih balance dan pikiran lebih jernih. Emosi juga jadi lebih stabil. Semoga 2023 yoganya ga bolong2 dan actually mau invest buat yoga class. Karena selama ini masih by YouTube nih, too cheap ass buat ikut kelas yoga. Kan sama aja gerakannya. Nyehehehe~~

Tapi setidaknya udah invest di baju dan yoga mat kok. Little by little ya.

Besok ngantor. *sigh*

Gw udah overthinking dari kemarin malem to the point harus brainswash myself bahwa besok adalah hari yang menyenangkan: ketemu tim gw yang lucu dan caem, bisa beli kopi favorit di Kopi Kenangan (Kenangan milk tea + extra shot), dan ini masih hawa2 liburan—orang2 masih kerja in slower motion. 

Soalnya the idea of ketemu orang2 Errthing yang lebih banyak yang ga gw sukanya daripada sukanya itu… it stinks! Semoga Errthing lebih banyak tobatnya tahun 2023 deh. 

Speaking of 2023, beberapa target yang ingin gw achieve antara lain:
1. Belajar jahit
2. Ikut yoga class berbayar
3. Bungee jumping 
4. Bikin tato
5. Konsultasi ke psikolog/psikiater
6. Nikah

No 3 udah pasti achieve bulan Maret. No 4 insya auloh achieve setelah Lebaran/pertengahan tahun. No 2 kita lihat sambil jalan—harusnya doable karena deket rumah ada yoga class 35k aja. No 5 adalah saran Rini yang mungkin ada bagusnya. Karena hidup gw sebagian besar waktunya dihabiskan di Errthing yang mana sering membuat gw stress dan mengganggu mental health. Gw jadi sering anxiety dan tiap pagi asam lambung gw naik.

Impact-nya gw jadi harus sering2 healing—bisa seminggu sekali healing, just to keep me sane. Nah, No 5 itu gw harap bisa menjadi solusi supaya ga sering-sering healing. Harapannya expert bisa identifikasi sebenernya masalah gw apa sehingga ditemukan metode healing yang tepat. 

And uhm… No 6? No comment. Nyehehehe~~

Udah ah itu aja. Later, bitches!