Showing posts with label happy ending. Show all posts
Showing posts with label happy ending. Show all posts

Saturday, January 10, 2026

Me Wassup #116: ST5, Driving Lesson, Anastasia The Musical, Campus Visit, Konten Kanken

Hi guys! How y’all doing?


1st Me Wassup of the year! 


Tadinya gw mau mendedikasikan 1 postingan untuk Stranger Things, tapi udah ke-delay terlalu lama [the finale was in Jan 1st!], jadi kita bulk aja sama yang lain ya. 


Okay first, Stranger Things. One last adventure.


10 tahun kemudian, ST akhirnya tamat. Tamatnya series ini membawa kembali gw ke banyak hal yang terjadi 10 tahun terakhir.


Gw inget pertama kali nonton ST di Melbourne tahun 2016. Agak telat nontonnya karena gw baru bisa langganan Netflix bulan Desember setelah menyelesaikan semua assignment semester 1 (ST1 rilis bulan Juli). Langsung jatuh cinta. Gw tulis betapa bucinnya gw sama ST waktu itu di sini, sini, dan sini.


ST menjadi fenomena besar di seluruh dunia. Semua orang menunggu season 2. Gw inget betapa senangnya gw ketika season 2 dirilis bulan November 2017, ketika gw masih di Melbourne. Jadi hype-nya berasa banget. A lot of parts of Melbourne, terutama bagian suburb where I lived, juga mirip Hawkins, so it really felt like I was part of the universe, part of the party!





Ketika season 3 dan 4 dirilis, sayangnya gw sudah kembali ke Indonesia. Seperti generasi sandwich pada umumnya, gw dihadapkan pada responsibility dan harus bekerja sehingga excitement menonton ST tidak seperti season 1 dan 2. Gw bahkan tidak me-review season 3 sama sekali di blog ini, padahal gw vividly inget season 3 itu bagus, walaupun ga sebagus season 1 & 2. Season 4 gw review tipis di sini. 


Season 5… Gw ga paham apa yang ada di pikiran The Duffer Brothers ketika bikin ending begitu. Yeah, gw termasuk rombongan yang tidak happy dengan ending-nya. [Spoiler Alert!] Gw sebel Eleven dibikin berkorban untuk semuanya, after all she’s been through, literally suffering dari kecil, dijadiin kelinci percobaan, diburu dan mau dibunuh berkali-kali, longing for a family and friends, masih kurang susah apa hidupnya dia??? In the end masih harus berkorban juga~ It’s like they are betraying her legacy~


That’s why gw paham banget kalo rumor Millie Bobby Brown ngambek sama The Duffer Brothers setelah mengetahui ending ST itu benar. Well, gw akan ngambek juga sih. Gile lu, Ndro.. “Gw yang menopang this show, malah gitu endingnya~”. Paham banget kalo bener dia memutuskan botox sebelum syuting last ep just to mess around with The Duffer Brothers. Gurl had every right to do that tbh.


Anyway, gw ga mau postingan ini jadi postingan komplen soal ending ST. Mau gimana pun endingnya, series ini berjasa banyak buat gw terutama menemani masa-masa kesepian di Melbourne. ST dan segala universe-nya bisa men-transport gw ke tempat-tempat yang dekat sekali ke hati, back to that happy places from our childhood, biking around with friends, lost in our imagination and fantasies about fairytales and monsters, re-living the cuteness and awkwardness of having first love…


For me especially, gw suka banget scoring ST, terutama season 1 & 2. They give me all sorts of feelings. Nostalgic, fresh, emotional, 80s vibe, majestic, timeless, powerful. Gw sampai bikin playlist di Spotify judulnya Senandung Demogorgon yang constantly gw dengerin sampai sekarang whenever I want to kick someone’s ass. So iconic! 


Speaking of scoring, shoutouts to whoever remixes Kate Bush’s Running Up That Hill to an orchestral version dan membuat adegan “podcast” Max dan Holly di episode 6 so epic dan otomatis jadi adegan favorit gw di season 5!







So, terima kasih Stranger Things, terima kasih The Duffer Brothers, terima kasih Millie Bobby Brown—regardless what people say about you, i’m always a fan of you and your brand Florence by Mills!, special shoutout to WINONA RYDER THE QUEEN—my first reason to watch ST, thanks to 4 sekawan yang super charming since 2016: Finn, Gaten (my bias!), Caleb, Noah, thanks David Harbour, thanks Shawn Levy (one of my favorite directors in Hollywood—so happy when I found out he’s one of the helms in ST!), dan semua cast and crew yang bertugas. Thanks for the memories! <3





Okay next: driving lesson


Yep, gw sedang belajar nyetir lagi, and just today I finally got my driving license!





I LOOK SO GOOD! Makasih untuk flash-nya ya Polres Cinere Depok, wajah saya MENYALA! SLAAAYYYYY~~


How about dijadiin SOP aja untuk semua instansi pemerintah yang mengambil foto warga untuk memakai flash? Yes, forever holding a grudge against kantor imigrasi Jaksel tempat bikin/perpanjang paspor karena kameranya GELAP DAN BUREM. Jadi setiap kali paspor gw dipegang sama petugas imigrasi di seluruh dunia, mereka harus crosscheck muka gw MINIMAL 2 KALI sampai akhirnya confirm itu beneran gw! Damn!


Anyway, nyetirnya sendiri masih belom pede, jadi nanti sepulangnya dari Bali bakal ambil kelas lagi sampai bener2 lancar. Doakan segera lancar supaya bisa mengantar ibunda ke Indomaret. Wkwk~


Next: Anastasia The Musical


Gw lupa pernah cerita di blog ini apa ngga, ini musical yang level ambinya paling atas buat gw. Udah sepengen itu nonton tapi show-nya di Amerika dan Eropa sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu. Asia cuma mampir Jepang tahun 2020 and then they were done, ga lanjut tur lagi~ Well, IP Anastasia ga sebesar IP Disney lain seperti Aladdin dan Beauty and the Beast sih, jadi totally understand fans-nya sedikit. Ya, saya bagian dari minoritas itu. Saya sudah cinta sama Anastasia sejak 1998. Journey to the Past & Once Upon a December are two of my favorite numbers ever ever everrr!!!


Sempet hopeless ga bisa nonton musical-nya, sampai akhirnya tahun lalu Opera Australia mengumumkan bahwa mereka mengadaptasi IP-nya untuk Australian production! Aaaaaakkkk!!! Thanks, mate!!!


But nope, gw end up ga nonton, atau lebih tepatnya belum nonton~ Tapi gw seharusnya nonton karena sudah beli tiket. Yeah, earlier last year emang ada plan ke Melbourne specifically untuk nonton Anastasia The Musical tapi batal karena nasib gw waktu itu belum jelas~


Sayangnya tiket musical terlanjur dibeli. Jadi sebulan belakangan ini gw intense menjual tiket itu ke sana kemari. Literally mencoba masuk semua grup Indonesia in Melb, minta forward ke temen2 yang ada di sana/punya kenalan di sana, anything-lah supaya itu tiket ga hangus. Sayang banget soalnya.


Ada sih beberapa yang tertarik, tapi masya auloh orang Indo tuh kalo nawar ga ngotak banget. Masa tiket aslinya $140 ditawar $30?! Are you fucking kidding me?! It’s a goddamn art, you uncultured swines!!!


In the end ada sih yang beli seharga $60, ya betterlah daripada $30~ Sisa 2 tiket, gw lebih ikhlas kasih ke my Australian bestie, Stephanie alias Mawar yang pernah gw ceritain di sini, daripada dibeli Indon pelit~ She was very happy!





Anastasia The Musical, kita belum jodoh ketemu di Melbourne, semoga masih bisa kejar yang di Sydney ya pertengahan tahun. Kalo ga bisa juga, ya mudah-mudahan Opera Australia bawa Anastasia ke Singapore juga, kayak Wicked kemarin kan Australian production. Bismillah! Manifesting!


Next: Homecoming to UI Depok


Kampus itu selalu ngangenin, apalagi kalo kampus lo UI. Udah lama pengen banget spend the whole day di kampus, nostalgia 19 tahun yang lalu (wow tua ya~ wkwk). Now that I have all the time in the world, let’s go!


Oh so convenient ya sekarang udah ada LRT yang nyambung sama stasiun Cawang. Perjalanan ke Depok dari rumah gw di Pondok Gede only takes less than 1 hour. 


Jadi gimana UI? Panassss~~ haha~ Ini yang saking excited-nya back to campus sampai terlupakan. Depok itu panas ygy, walaupun UI di tengah hutan gitu tetep aja panas. Gw sampai lemes dan pusing kena heatwave, akhirnya terpaksa minum obat. Huhu~


Tapi tetep hepi karena hampir semua tempat kita jajaki: FISIP, FH, Psiko, FIB, FT, FEB, Jembatan Teksas, Balairung, Balhut, Perpus Pusat, Danau Kenanga, Rektorat, Asrama, Pusat Studi Jepang, Mesjid UI, Pocin, Margo City.


Not to mention naik bikun kemana-mana juga. Luv banget sekarang bikun ada yang bus listrik. Udah full AC semua juga dan interior dalemnya kayak bus di Singapore. Keren beut~


Notable mention untuk beloved campus, FISIP UI. Ga banyak berubah sebenernya tapi ada beberapa landmark baru. Fotokopi legendaris udah ga ada, udah digantikan mesin (sad~). Takoru (kantin kecil deket Taman Korea/Takor) udah diganti coffee shop indoor. Ada beberapa chain restoran terkenal juga (duh FISIP komersil banget sih~ wkwk), ga mau mention apa aja restorannya, soalnya ga onboard with this idea. Ga otentik aja gitu.


Makan siang nasi imbi di Takor, 16k ajah. 19 tahun kemudian melihat bentukannya nasi imbi mayan kaget, kok bisa sih dulu dikasih makan nasi + telor + bakso + sayur orak arik aja udah seneng? Wkwkwk~





Last but not least, Seeta - Nanien alias Se-Nien akhirnya update vlog baru ngomongin Kanken! Update Kanken yang kita punya, sudah beranak pinak, terutama punya gw. LOL~ 





Ya begitulah bentuk kesetiaan saya terhadap sebuah brand. Please watch, like, and comment. 


Manifesting 5 tahun lagi yang di-review udah bukan Kanken ya. Hermes Birkin 25 in black with Palladium hardware gitu.. Wkwk


Okay, that’s all for today! Byeeee~~


Sunday, December 14, 2025

Vietnam Trip - Part 2

Hi guys, how yall doin?


I can’t believe it takes me almost a month to continue Vietnam Trip. Maap sibuk gaes. Hehehe~


Btw, a little heads up, per 2 postingan terakhir, gw nulis blog pakai iPad dengan Apple Magic Keyboard. Jadi secara formating sedikit berbeda dengan postingan2 sebelumnya. Itu karena di iPad gw pakai Google Docs, instead of Ms. Word. Jadi banyak function di Ms. Word yang nggak ke-sync otomatis. I know user experience-nya kurang enak, but hang in there guys, i’m trying my best to master this asap and fix the problems for you!


Day 3 - 15 Nov


The whole point we are visiting Sa Pa adalah karena mengincar altitude. Di Sa Pa ada Fansipan Indochina Summit, gunung dengan puncak tertinggi di Indochina, alias ~~SKYPIEA~~ 


Wkwkwk~~


No kidding, gw sign up for this Viet trip ya karena the idea in my head is visiting the sky. Hahahaha


Kita bangun pagi sekitar jam 5 lalu sarapan instant pho yang kita beli malam sebelumnya di minimarket setempat (pho yang gw beli enak lhooo, segerrr).


breakfast situation



Berangkat menuju Sun Plaza (mall yang merangkap station untuk naik kendaraan ke Fansipan, yes, mall yang selalu ada di konten orang2 yang ke Sa Pa itu) sekitar jam 6 untuk mengejar 3 kendaraan menuju Fansipan: monorail, cable car, dan funicular. Yes, banyak banget emang kendaraannya. Ini gw sebutin in order of size ya, dari besar ke kecil. Semua kendaraan itu tiketnya bisa beli on the spot, tapi gw saranin beli sekalian di Klook aja, ada yang udah round trip. Karena kalo beli on the spot, bakal ngantri. 


Ketiga kendaraan ini paketnya round trip-nya di Klook sekitar 800ribu. Mungkin agak pricey untuk sebagian orang. But here’s the thing, sebenernya ga ada kewajiban untuk naik ketiga kendaraan tersebut. Kalo lo mau monorail doang, atau sampai cable car doang gapapa. Pemandangan dari level manapun di Fansipan ini, whether itu level monorail, cable car, maupun funicular sama-sama aja. Intinya foto dimanapun akan berlatar langit dan awan. Cuma gw saranin kalo udah sampai sini mah, hajar aja sampai atas. Tanggung. Kapan lagi ke langit paling atas?


Setiap pemberhentian kendaraan, kita disambut dengan feature yang berbeda-beda. Turun monorail, kita masuk mall lalu berjalan melintasi mall tersebut melewati gallery dan restoran untuk naik cable car. Turun cable car, kita ketemu pelataran outdoor luar biasa luas yang sudah dikelilingi awan. Imagine this big balcony, dimana lo bisa melihat ke bawah, except bukan tanah yang lo liat, tapi awan. So beautiful.


Kemudian kita harus naik tangga yang cukup tinggi untuk naik funicular. Karena saat itu kita sudah di ketinggian 3,000m di atas permukaan laut, tekanan udara semakin rendah, membuat molekul oksigen sedikit dan tersebar. Tangga menuju funicular sebenernya nggak tinggi-tinggi amat tapi, karena oksigen tipis, belum apa-apa udah ngos-ngosan. Well intinya santai aja, ga usah buru-buru, pelan-pelan. Udah sampai awan masih ngejar apa sih? Wkwk~


Pertama kali nih naik funicular, semacam monorail mini gitu. Karena kita ke sana hari Minggu, rame banget, jadi experience-nya 11-12 sama naik KRL, dempet-dempetan shay. Tapi trip-nya cuma 1 menit-ish sih, so no biggie.


Funicular mengantarkan kita ke puncak Fansipan yang… rame banget juga. Wkwk~ Segala jenis manusia di situ, baik lokal maupun turis. Lagi ada upacara pengibaran bendera Vietnam juga oleh staf di sana karena masih pagi, jadi stop sebentar untuk menonton prosesinya.


Untungnya space-nya gede sih, jadi masih bisa cari spot yang kosong. Semua landmark ditaro di situ, ada miniatur summit, tugu, dll. Yang paling rame tentunya tugu, karena ada tulisan “Fansipan 3,143m” gede-gede, tentunya menjadi semacam achievement yang bisa dipamerin di sosmed, jadi orang-orang ngincer foto di situ. Ada posisi prestasinya tapi ngantri panjang banget. Jadi kita selfie aja. 





Fyi, matahari di puncak tertinggi itu panasss banget guys. Idk why padahal tingginya ga jauh dari pelataran cable car yang suhu normalnya 15 derajat, tapi panasnya yaampun boiling hot! Gw langsung buka jaket di situ. Kalo pake baju item yassalam deh. Abis foto-foto kita langsung turun, ga kuat panasnya. 


Capek berjalan-jalan di langit, kita ngaso di cafe, the only cafe di langit, namanya Cafe Du Soleil. We were lucky karena mendapat meja dengan posisi prestasi: di hook, jadi dapet pemandangan dari sisi depan dan belakang. Karena satu-satunya cafe di situ, harga makanan dan minumannya agak mahal. Tapi semahal-mahalnya harga di Vietnam, masih manusiawi kok untuk kantong orang Indonesia. Kita ngopi dan makan pastry. Semuanya enak.


Fitur-fitur lain di Fansipan ada taman bunga warna-warni penuh patung dan gimmick, tangga stairway to heaven, love garden, dan mini village. Kita datengin satu-satu dan puas banget foto-foto. 


Karena udah start dari jam 7 pagi, sekitar jam 12 siang kita udah selesai jalan-jalan. Karena udah jam makan siang, terpikir oleh kita untuk cari makan di Sun Plaza. Toh kita akan menuju ke situ juga untuk pulang. Udah nih, kita turun dengan wishful thinking itu. Turns out… it’s not exactly a mall~ It’s a plaza, tapi plaza di sini bukan mall ya definisinya, learned it the hard way. Kita muter-muter satu Sun Plaza, instead of menemukan restoran, malah tersesat macem di labirin. Alhasil, udah laper, capek pula, makin cranky deh. 


Kita akhirnya meninggalkan Sun Plaza dan makan di restoran biasa aja. Pilihan jatuh kepada restoran bernama Sa Pa Emotion Restaurant, lokasinya udah deket hotel. Kita ke sana karena review-nya bagus, rating 4,9 di Google. Restorannya sederhana, dengan sentuhan tradisional ornamen-ornamen Vietnam di sana sini. Makanannya enak, pas sama lidah orang Indo. Porsinya besar. Untuk makan bertiga, gw, Nanien, dan Tisha cuma memesan 1 nasi goreng, 1 pho, 1 spring roll aja udah kenyang.


Unfortunately karena kita udah laper banget, ga sempet foto-foto di restorannya maupun makanannya. Tapi restoran ini beneran recommended guys. Pelayanannya bagus, restoran bersih, makanan dateng cepet. Stafnya juga ramah dan bisa bahasa Inggris.


Kita balik hotel sekitar jam 3 untuk bobo ciang, bebersih, dan late post content (nyehehehe~). Lalu keluar lagi abis magrib untuk nongki malem. Jalan-jalan menikmati Sa Pa night. Nonton pertunjukan semacam tarian lokal Sa Pa di alun-alun (ga tau tari atau pencak silat sebenernya karena gerakannya banyak yang ekstrem). Lalu lapar dan mencari makan. Kali ini tujuannya ke cafe edgy bernama:





Kayaknya kita cuma mesen steak satu porsi, sisanya minum masing-masing (gw pesen hot chocolate pake boba, enyakk, ga terlalu manis). Tapi ini pun udah kenyang banget karena porsinya gede-gede. Cafe edgy ini dalemnya Instagramable banget, spot foto lucu-lucu. Silakan kunjungi kalo mau ngonten. 


Begitulah hari ketiga kami. Perjalanan ke langit yang menyenangkan yang diakhiri cokelat hangat yang nikmat. Malem itu kaki pegel, tapi my heart was content. :)


Foto-foto lengkap wisata Fansipan bisa diliat di IG gw.


Day 4 - 16 Nov


Memasuki hari ke-empat yang adalah hari favorit gw karena kita akan melakukan extreme sport! Prepared my parkour shoes specifically for this. Kita menuju ke Rong May Glass Bridge!!!


Pertama kita cari sarapan dulu. Nanien dan Tisha obsessed with this vegan restaurant yang kita kunjungi 2 hari sebelumnya, Thong Dong. Ternyata restaurant ini punya cabang lain, kita pun meluncur ke sana. Cabang kedua ini ga se-edgy yang pertama karena indoor semua. Tapi kita masih menikmati vibe edgy dengan konsep klasiknya. 


Ada yang unik, di setiap meja, ada kartu pak yang isinya quote-quote petuah hidup gitu. Mayanlah kita bacain satu-satu sambil nungguin makanan ready. 





Abis sarapan, meluncur ke Rong May naik Grab Car. Btw, akses di kemana-mana di Sa Pa ini gampang banget pakai Grab ya gaes. Mau motor or mobil, 22nya gampang dan murah. Kita beruntung banget selalu dapet driver yang bisa bahasa Inggris jadi kalo mau nanya-nanya gampang. Driver yang nganterin kita ke Rong May malah best banget. Dia nanya apakah kita udah punya tiket masuk ke sana, kita bilang belum. Dia bilang dia bisa bookingin supaya kita ga perlu antre lagi nanti. Harganya sama dan kita bisa bayar langsung pakai cash ke dia. Luv banget!


Dia awalnya menawarkan jasa ditungguin di Rong May-nya, dengan biaya sekitar 100ribu Dong per jam. Awalnya kita tertarik karena Rong May posisinya lumayan jauh dari pusat kota, ga banyak Grab Car beroperasi di sana, takut ga bisa pulang. Tapi kita bener-bener ga bisa prediksi berapa lama bakal di sana, takutnya lama banget, jadi kita nego. How about kita balik ke kota pake driver itu lagi. Jadi dia ga usah nungguin, tapi kita udah pasti pulang sama dia. Dia setuju, dengan bayaran disamain dengan yang ada di aplikasi. Luv banget lagi!!!


Rong May Glass Bridge ternyata berada di tengah pegunungan yang akses menuju ke sananya sangat berliku, harus naik turun dan memutar-mutar beberapa gunung. I’m not good with this kind of road trip. Mabok. Sialan, Antimo ga dibawa lagi~


We arrived around 45 mins later (thank God perjalanan ga lama-lama amat), masih harus naik shuttle dan lift menuju ke atas. Hands down lift tertinggi, tercepat, terseram, dan terlama yang pernah gw naiki seumur hidup. Dua menit di lift, bro! Ga bisa sih kalo baru putus naik ini, another 2 awkward minutes with your ex, must be awkward. LOL


And we arrived in Rong May Glass Bridge finally. Disambut oleh tangga pelangi yang cantik. Tanpa basa basi gw sama Nanien langsung menjelajahi glass bridge dari ujung ke ujung, ngonten! Tisha cuma sanggup seperempat rute. Hahaha~~





Di ujung Glass Bridge, katanya ada temple dan lake, tapiii kayaknya ga penting2 amat deh, jadi kita ga kesana. Wkwkwk >> alasan aja padahal simply ga mau ke sana karena require another hiking menuju puncak. Jadi biarlah temple dan lake-nya kayak apa remain a mystery for us. Nyehehe~~


Rong May menawarkan banyak wahana seperti suspension bridge, flying fox, sky slide, sky swing, dll. Semuanya ada additional cost, jadi ga seperti Dufan yang admission ticket can cover all gitu ya konsepnya. 


Gw dari awal udah ngincer Suspension Bridge, semacam jembatan goyang gitu, karena ini yang paling extreme. Tapi Nanien dan Tisha ga mau, jadi mereka nunggu di bawah. 


Berjalanlah gw sekitar 20 menit ke lokasi Suspension Bridge, 20 minutes of hike ya, karena harus ke atas lagi nih kita. Lumayan ngos-ngosan tapi drive-nya sangat kuat karena ini another fear-conquering moment, another bucketlist to be checked. 


Finally arrived, bayar lagi another 250ribu Dong: 150ribu buat mainnya, 100ribu buat kontennya via Drone. No insurance, your decision your risk nih konsepnya. Wkwk~




Ngantri sebentar, di belakang 2 bule. Kita nungguin orang yang balik dulu. Jadi ternyata jembatannya itu 2-way ya gaes, jadi orang yang udah sampai ujung mau balik ke tempat semula harus lewat jembatan yang sama. Jadi ada adegan bertemu sapa dulu kayak semut kalo ketemu semut lain dari arah berlawanan. Wkwkwk~ Mampus!


Tibalah giliran gw. Langkah-langkah awal terasa ringan, no issue. Seru banget sensasinya seperti terbang. Sepoi-sepoi angin menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Cuma kurang efek awan-awan beterbangan mengelilingi aja nih, karena hari itu cerah, ga berkabut. 


Drone merekam di first half of the crossover, jadi harus full smiles all pretty biar kontennya bagus. 


Waktu masih bisa senyum


Everything is good… hingga menuju ke pertengahan~


Kok, lama-lama jarak antara satu step dan step lain semakin lebar, sehingga harus bener-bener hati-hati, harus kuda-kuda dulu sebelum melangkah, doing a little bit of math menghitung jarak antar step untuk menentukan kaki maju sejauh apa, otherwise gerakan kakinya kurang panjang, bisa jatoh~


Sialnya lagi, di pertengahan ketemu rombongan arah balik, keluarga Filipina gitu, sekitar 5-6 orang. Astaga, mana gw sendiri. Untungnya mereka baik-baik banget, mereka yang membantu gw. 


“It’s okay, let’s keep the balance. We're gonna focus on the left side, so you can walk through from the right side. We’re gonna stay for a while so that you can walk while keeping the bridge balance.”


Terdengar oke, tapi teknik inipun menyeramkan, karena gw harus melepas pegangan yang sebelah kiri dan menaruh tangan kiri di handrail sebelah kanan dan berjalan menyamping satu arah seperti kepiting. Iya jembatannya balance, TAPI GW-NYA NGGAK BALANCE!


But that was the only choice I had, this beautiful Filipino family had been so kind to let me walk through first. So I'll just go with it. Tetep berusaha fokus. Berkali-kali berterimakasih sama those Filipino guys sambil jalan. Mereka cheering me up juga. Makasih guys.


Langkah demi langkah pasti kuambil tanpa terasa sampailah di ujung, reuni dengan dua cowok bule tadi di station. Duduk, ambil napas, mencerna situasi, baru terasa capeknya. Itu jembatan ternyata panjang juga, 200m ada kali. Makanya capek.


Haus banget. Tapi di station ga yang jual apapun. Jadi ya cuma bisa menunggu dan menunggu. Sekitar 10 menit kemudian, perjalanan pulang dimulai.


Perjalanan pulang tidak sesulit pergi karena udah tau susahnya dimana, udah belajar. Kalo perjalanan pergi memakan waktu 10 menit, pulang cuma 5 menitlah. It felt glorious, knowing I just made another life achievement. So great, man!


Kemudian menunggu giliran footage drone ditransfer ke hape. Efektif banget tinggal colok kabel ke iPhone. Stafnya gercep banget. Less than 5 mins prosesnya, udah deh kelar urusan di Suspension Bridge. 


Balik ke bawah nyamperin Nanien & Tisha kaki rasanya enteng banget. Ternyata gw emang cocok liburan yang konsepnya kayak gini. Adrenalin dan alam. My heart was full. <3


[udah kepanjangan, lanjut Part 3 di postingan selanjutnya yaa]