Showing posts with label clubbing. Show all posts
Showing posts with label clubbing. Show all posts

Tuesday, December 14, 2010

Lesson Learned from the C-Word

Tiba-tiba kepikiran untuk bikin postingan ini gara-gara baru download lagunya Far East Movement yang “Like a G6” dan yaa.. u know.. I’m currently listening to it over and over.. until.. gw de ja vu.. Kayanya gw pernah denger lagu ini sebelumnya .

Tapi jelas bukan di iTunes, bukan juga di XpressMusic, apalagi di TV!
Dimana ya?

Terus iseng liat Video Clipnya di VEVO.. 


Nah langsung inget deh! 

Ternyata itu lagu waktu lagi… [baca postingan sebelumnya di tiga paragraf terakhir]

OMG.. Shouldn’t I just have realized it in the first place? At least to realize what kind of song it is.. Hahaha

Anyway,, mengingat lagu ini juga membuat gw inget satu dan lain hal.. malem itu.

Entah kenapa clubbing (yah kesebut juga kata itu padahal daritadi sebisa mungkin menyamarkan, in case blog dibaca anak di bawah umur) malem itu kog ga meninggalkan kesan mendalam kaya taun lalu ya (baca postingan Happy World)? Padahal kan harusnya kesannya lebih mendalam dongs.. secara malem itu Halloween Party yang udah gw tunggu2 n niatin banget dari jaman dahulu kala.. Tapi still.. clubbingnya tuh ga happening buat gw.. lebih happening di luar club-nya..

Kenapa ya?



Mari kita coba analisis dari akar permasalahannya dan temukan solusi atas semua itu *kebawa2 seminar*.

Taun lalu gw clubbing-nya terpaksa, kalo taun ini… diniatin dari jauh2 hari. Ini berarti, kalo diniatin, malah jadi ga happening. Kenapa bisa begitu? Kalo diniatin, things could be just exact the opposite to what we had fully expected. Udah sering kejadian kaya gitu kan? Kalo udah menggebu2 pengen sesuatu, ternyata hasilnya malah mengecewakan. Sering terjadi kalo nungguin summer movie~ *curhat* Ya gitu deh.. Masuk akal ga? Masuk-masukin aja deh yaa.. xp LESSON LEARNED: Just let things flow the way they determined. 

Taun lalu gw clubbing-nya sambil cape karena abis main2 di Sentosa seharian. Ternyata kata ‘cape’ versi gw artinya = “biasa aja, just go to the next round” Maybe physically I was tired that night because I was the one who against clubbing the most. But, emotionally I was still alright, maybe because the thing that I was about to do.. is something brand new, and doing it means… NEW EXPERIENCE… and experience is… PRICELESS, baby!!! Jadi intinya masih ada willing dalam diri gw yang penasaran sama clubbing itu, jadi yaa.. hayo2 wae! Tapi kalo taun ini, gw udah punya bayangan clubbing-nya bakalan gimana.. Yang jadi brand new experience kan Halloween-nya, that’s why gw lebih suka berkeliaran di luar club kemaren sambil menikmati euphoria Halloween di Clarke Quay. Dan gw toh ga menyesal karena itu..

Eniwei paragraf di atas kog kayanya out of context ya? Hmm. Mari kita luruskan kesinambungannya. Kalo taun ini, gw clubbing segera setelah baru pulang maen seharian di Universal Studio, bisa dibayangkan dong physically pastinya jauh lebih cape daripada taun lalu. FYI, di balik kostum Princess Azura yang gw pake, ter-embed puluhan koyo cabe di sekujur badan gw. Ya karena gw secape itu.. Pegelnya banget2an! Badan gw kayanya bisa roboh kalo ga ditopang Tiger Koyo itu! Tapi kan gw ga boleh give up sama kata ‘kecapean’ dong demi pengalaman baru! Jadi gw lanjut aja. Tapi tetep aja kenyataan ga bisa dilawan. Koyo cabe mungkin masih bisa membuat gw tetep bisa jalan dan bergaya di foto. Tapi untuk dance, jingkrak2, or even joking… ga bisa! Nyerah total. Mood-nya udah ga asyik.. LESSON LEARNED: If you have no energy and passion left in you body, don’t party! … or at least u got a friend who’ll buy u drinks, the pure one.  

Taun lalu gw mabok! Hmm.. masuk akal sih. Di postingan Happy World kan gw jelasin tuh gw minum berapa banyak makanya bisa sampe segila itu. Kalo taun ini gw cuma minum 2 gelas vodka mix yang banyakan soda-nya daripada vodka-nya. Itu pun minumnya sharing, dan minuman itu sama sekali ga ada efeknya! Ga bikin pusing sedikit pun, jangankan pusing, ngerasain pait vodka-nya aja ngga.. Karena ga pusing, jadi  ga ‘fly’. Karena ga ‘fly’ jadi ga bisa ngerasain crowd dan musiknya. Karena ga ngerasain ‘crowd’ dan musiknya, jadi ga happening! LESSON LEARNED: If you’re not getting drunk, u will never enjoy the party to the fullest! So when u’re partying, getting drunk is a must!

Taun lalu pas gw clubbing, gw banyak ketemu sama orang Indonesia! Anak-anak Indo yang kuliah di Singapore macem Bone gitulah. Mereka itu welcome banget sama anak-anak Indonesia yang dateng ke Singapore, “Welcome to the gang!” something-lah. Entah kenapa excited banget ngeliat gw, pada langsung nanya2 kuliah dimana, di Singapore sampe kapan, blablabla.. intinya gw ga keabisan bahan omongan deh sama mereka, jadi selama di-club gw ga bosen. Kalo taun ini gw ga ketemu anak Indonesia sama sekali!! Cuma ketemu temen-temennya Bone orang-segala-penjuru yang rata-rata pada asyik sendiri sama date-nya! Emang sih mereka ngajak gw ngobrol, tapi ya.. basi aja gitu omongannya. Ditambah gw udah badmood sendiri dari awal *itu kan masalah lo!!* Yaudah deh wassalam, mending jalan2 di luar. LESSON LEARNED: Love you nationality and it certainly will love you back! *lho?*

Taun lalu clubbing ini berdiri sendiri, taun ini clubbing ini terbelah. Maksudnya? Taun lalu intention gw malem itu cuma buat clubbing doang, kalo taun ini clubbing dan Halloween. Walau sebisa mungkin gw mencoba menjaga keseimbangan intensitas antara keduanya, tetep aja ga bisa. Tetep salah satu lebih dominan. Halloween adalah salah satu. Gw rasa alasannya jelas: New experience to die for. LESSON LEARNED: Never decide to go clubbing if you had something bigger in your mind!

Well mungkin itu aja analisisnya. Apakah gw menyesal karena gw tidak sepenuhnya menikmati party malam itu? Mungkin begitu. Tapi pada dasarnya gw emang ga terlalu suka clubbing sih. Even though clubbing will absolutely fine if you were drunk. Tapi kebanyakan minum juga ga bagus katanya. Jadi mudah2an gw tidak membenci clubbing di kemudian hari.

Tapi gw tetep suka efek hangover keesokan harinya setelah semaleman clubbing. Lucu.

Jadi kalo suatu hari nanti gw clubbing lagi terus mabok lagi, ingatkan gw untuk merekam efek hangover keesokan harinya. Hahaha.

"Hangover the Documenter" sepertinya asyik!

Sunday, December 12, 2010

Halloween: In Qlarke Quay We Trust

Macet, satu hal yang membuat saya merasa malam itu benar-benar bukan malam yang biasa. Bayangkan macet di sepanjang jalan dari Dhoby Ghaut menuju Clarke Quay yang jaraknya hanya terpaut satu stasiun MRT saja. Di dalam taksi yang saya tumpangi bersama tiga orang teman, saya merasa mendapat suatu kehormatan bisa merasakan fenomena yang jarang sekali ditemukan di Singapura itu.


Hari itu bertanggal 30 Oktober, tanggal yang tidak asing lagi mungkin bagi sebagian besar orang di seluruh dunia. Pada malam pergantian tanggal dari 30 menuju 31 Oktober, banyak orang merayakan tradisi ini. Orang-orang kompak mengenakan berbagai macam kostum dan menata lingkungan tempat tinggal mereka dengan banyak buah labu berukir wajah menyeramkan atau yang biasa dikenal sebagai Jack-O-Lantern. Anak-anak berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga membawa kantong besar untuk menampung gula-gula yang wajib dibagi-bagikan pada mereka. “Trick or Treat” menjadi kutipan khas Halloween.

Memang Halloween lebih akrab dikenal sebagai pesta kostum dibanding tradisi perayaan hasil musim panen untuk mengusir marabahaya yang dibawaserta orang mati. Memang seperti itulah makna sebenarnya dari Halloween. Bangsa Gael kuno di Irlandia percaya bahwa tepat tanggal 31 Oktober, pembatas dunia orang mati dan dunia orang hidup menjadi terbuka. Mereka percaya orang mati akan membawa penyakit dan merusak hasil panen, maka mereka berinisiatif untuk mengenakan kostum menyeramkan untuk mengusir roh orang mati tersebut. 

Tentu saja tidak banyak orang yang tahu detil sejarah munculnya Halloween. Seiring berjalannya waktu, definisi Halloween semakin lekat pada pesta kostum. Halloween menjadi salah satu ajang bersenang-senang yang ditunggu-tunggu seperti halnya hari raya atau tahun baru. Banyak orang merayakan Halloween dengan cara yang lebih menarik, misalnya dengan memadukannya dengan acara seni atau acara sosial. Kostum menyeramkan pun tidak lagi menjadi prioritas. Asal mengenakan kostum menarik dan merayakannya tepat tengah malam, Pesta Halloween pun terlaksana. 

Kembali ke Clarke Quay, malam itu Pesta Halloween bisa dikatakan adalah tersangka utama penyebab kemacetan dari Dhoby Ghaut. Di pesisir jalan sudah banyak terlihat orang-orang berkostum aneh berjalan cepat. Mereka mungkin adalah korban kemacetan yang memutuskan berjalan kaki agar bisa lebih cepat mencapai Clarke Quay. Bagaimana tidak? Clarke Quay memang merupakan pusat Pesta Halloween terbesar dan termegah di seluruh Singapura.

Saya pun termasuk salah satu dari orang-orang itu. Terpaksa berjalan kaki dari sekitar satu kilometer dari pusat acara, saya mulai memperhatikan keberagaman kostum yang dikenakan orang-orang yang berjalan di sekitar saya. Saya menemukan banyak orang bermain peran dengan mengenakan kostum seperti pahlawan super: Superman, Batman, Wonder Woman; kartun: Mickey Mouse, Sailormoon; atau orang-orang yang sengaja berpenampilan konyol sejak awal seperti pria berkostum wanita. Namun dibalik semua itu masih ada orang-orang yang menjaga otentisitas Halloween dengan mengenakan kostum menyeramkan seperi kostum hantu, setan, bahkan Jack-O-Lantern!
Tepat di tengah Clarke Quay, berdiri sebuah panggung megah untuk pertunjukan musik dan drama teater. Dentuman musiknya begitu keras hingga tanah tempat saya berpijak terasa bergetar. Mungkin juga hal itu dipengaruhi oleh banyaknya orang-orang yang berjingkrakan mengikuti alunan musik. Perhatian saya tidak hanya berpusat pada panggung. Saya juga memperhatikan euphoria orang-orang yang larut dalam kostum dan keceriaan. Suasana malam itu sangat ramai dan meriah. Cukup sulit untuk melangkah dengan cepat karena setiap ruas jalan dipenuhi orang-orang lalu lalang baik sebagai turis atau peserta Pesta Halloween. Saya sampai tega menolak ajakan teman saya untuk singgah di salah satu klab malam demi terus berada di luar dan menikmati Clarke Quay dalam lautan kostum. Lampu-lampu pun ikut menambah gegap gempita Qlarke Quay dengan warna-warni indah. Tak jarang orang mengabadikan momen ini dalam foto dan video, termasuk saya.

Perlu tiga jam buat saya untuk puas berkeliling Clarke Quay sampai akhirnya saya menghampiri teman saya di sebuah klab malam bernama Zirca. Sejatinya, Clarke Quay terdiri dari puluhan restoran, kafe, dan klab malam yang masing-masing memiliki agenda sendiri tentang Perayaan Halloween. Ternyata suasana di dalam klab tidak kalah meriah dengan di luar. Klab malam penuh dengan ornamen-ornamen khas Halloween dan orang-orang berkostum memenuhi lantai dansa. Bedanya, kebanyakan orang di klab malam mabuk karena pengaruh minuman, sehingga terkadang lucu melihat orang-orang berkostum melakukan tindakan bodoh yang tidak ia sadari. Hal ini menambah warna baru dalam memori saya tentang malam itu.

Saya tidak ingat jam berapa tepatnya saya memutuskan pulang ke rumah. Saya terlalu lelah untuk sekadar melihat jam. Hal terakhir yang saya ingat adalah saya mengantre sekitar dua jam untuk mendapatkan taksi pulang. Sekelibatan ingatan saya menunjukan bahwa saat itu Qlarke Quay masih sama meriahnya seperti saat saya datang. Di atas panggung masih ada penampilan musik dan di sekitar lebih banyak lagi orang-orang berkostum yang melakukan atraksi. Sayangnya baterai kamera pun sudah habis akibat pemakaian di luar batas malam itu sehingga saya tidak bisa mengabadikan hal-hal baru yang saya temui. Saya tidak pernah tahu kapan Pesta Halloween itu berakhir karena mungkin hanya matahari yang bisa mengusir para setan pulang. :)


*) Tulisan ini dimuat di Majalah Ekspresi edisi Desember 2010
*) Tulisan ini juga adalah Singapore Trip 2010 Day 2 Part 2 :))

Tuesday, October 26, 2010

Small Talk

Percakapan 1

Setting: Facebook Wall to Wall, Mei 2010

Y : "Seeta!! Happy Birthday yaaa!!! GBU!!!"

S : "Makasii ya Yvonne.. pa kabar Singapore? hehe"

Y : "Haha...kbrna baek koq..lol..kpn ke sini lg, Seeta????? tar clubbing lg! lol"

S : "hahaha! mau banget von! Tapi gatau nih, belom ada rencana kesana lagi taun ini, :("

Saturday, October 9, 2010

"Happy World" Part 2


Gw lupa berapa lama persisnya gw di dance floor, yang jelas lumayan lama. Pokonya sampe gw berasa haus lagi dan kebelet pipis. Gw pun melangkah ke toilet. Saat itu gw udah berasa pusing dikit tapi gw yakin gw belom mabok, karena gw masih bisa melangkah dengan benar dan ga perlu nyasar untuk sampe ke toilet. Toiletnya penuh banget jadi gw terpaksa ngantri. Disana-sini gw liat cewe-cewemondar mandir bawa2 make up dan tissue. Di sisi lain gw liat beberapa cewe lagi ngurusin salah satu temen mereka yang muntah2 di wastafel.
Gw ngantri di belakang cewe Cina bermuka pucet yang keliatan mabok banget. Pas giliran si cewe Cina masuk toilet gw denger dia muntah2 parah banget ke kloset! Wanjirr!! Gw harus masuk ke toilet yang abis dipake muntah sama orang! Effin yuck! Tapi gw ga mungkin ngantri dari awal lagi karena udah kebelet banget.. Jadi gw pasrah aja-lah, buru2 ambil tissue banyak2 in case i saw something i really don’t wanna see down there.
Setelah entah berapa lama si cewe Cina keluar, lebih pucat dari sebelomnya. Dengan enggan gw masuk ke toilet sambil nutup hidung, bersiap untuk kemungkinan terburuk. Tapi ternyata.. toiletnya bersih! Ga keliatan kaya abis dimuntahin banget! Ga ada sampah kaya tissue di lantainya, ga ada sisa aer atau kotoran di permukaan kloset kaya toilet2 umum di Indonesia. Bersih.
Gw amazed. Gila brarti si cewe cina tadi sempet2nya bersihin sisa2 perbuatannya di kloset ini. Padahal keadaannya dia tadi parah banget loh! Masih sadar aja udah bagus banget, lah ini sampe bersihin toilet coba?! Apakah ini karena emang si cewe cina kerajinan, atau budaya masyarakat Singapore secara umum emang bersih? Entahlah, ga sempet mikir, kebelet pipis, euy!

Sunday, October 3, 2010

“Happy World” Part 1


Inget ga gw pernah janji mau ngepost tentang pengalaman pertama kali gw clubbing?
Ga inget yah?
Wajar sih, lha wong itu udah bertaun2 yang lalu.. hahaha.. Tapi gapapa, tidak ada salahnya mengingat2 kembali sebuah memori, bukan?
Kebetulan.. wangsitnya baru dateng sekarang.. setelah setaun dua bulan kemudian.. hehe..
Oke. Seperti yang udah gw jelasin sekilas di postingan ini, yang barusan baru gw baca ulang dan menyadari betapa noraknya bahasa yang gw pake di postingan ituhh.. Ih.. biarin deh norak, namanya juga seiring proses pembelajaran.. jadi ya.. no regret-lhaa.. hohoho!
Jadi selengkapnya gini, gw clubbing pertama kali di sebuah club bernama Zirca, yang berlokasi di Clarke Quay, Singapore. Ya gw ga usah jelasin lagi lah ya gimana2nya Zirca itu, kan udah ada di postingan sebelomnya.. yang pengen gw ceritain sekarang ya, gimana ceritanya gw bisa sampe akhirnya ikutan clubbing itu, apa yang jadi pertimbangan batin gw untuk akhirnya gw berpikir “Ayo deh gw ikutan clubbing aja!” Padahal dulu kan gw dikenal sebagai anak alim yang ga gaul2 banget, rada kuper, n’ tidak mencolok kalo dibandingin sama cewe2 macem Dian Sastro di AADC.. ya pokonya gitu deh.. Kog bisa2nya cewe-kaya-gitu ikut2an clubbing?


Saturday, November 28, 2009

The Green Vs. Zirca

Halohaa

Selamat pagi… akhirnya gw berhasil nyediain waktu untuk nge-blog lagi. Setelah sekian taun blog ini gw diemin, akhirnya gw mulai post lagi.

Oke sudahlah ya, itu prolognya aja. Eh itu sekarang di Trans TV lagi ada program jalan-jalan ke luar negri yaaang… selalu bikin mupeng akut~ oh dunia… betapa bikin mupengnya…

Oh iya, FYI, this is gonna be a long.. long posting, so uhm, just make sure you have no plane to catch, you have no deadline to bring on, and have no BF nor GF waiting for you outside. Just make sure.

Anyway, yang mau gw certain sekarang adalah tentang KoooooMNiteee! Yeahoo!! Komnite-UI 2009 Technoture. Sebenernya sih gw ga akan plek2an cerita tentang gimana kejadiannya Komnite itu, cuma gw disini lebih mau ngebandingin lokasi daripada Komnite itu sendiri (The Green – Kemang) sama sebuah club di Sg yang adalah tempat pertama kali gw clubbing, bernama Zirca. Dan nanti gw akan sedikit ngasih trivia, just a bitch bit (cieh langsung mengadopsi quotes nya Kak Marsha), dan Insya Allah mau curhat sedikit. Lagi.

Oke. Sebelumnya gw mau berterimakasih yang sebesar-besarnya pada Allah SWT. Ini bener-bener terima kasih lho, regardless hari ini h+1 Thanksgiving, regardless gw baru kedapetan rejeki gaji (baca: hak) gw pertama gw bulan ini, yeah regardless semua itu. I thank God for giving me chances to feel and experience… CLUBBING! Hahaha. Tahun ini.

Yeah terhitung sampai hari ini Sabtu, 28 November 2009. Gw sudah menjalani dua clubbing pertama dalam hidup gw. Pertama kali gw clubbing di Zirca, yang berlokasi di Clarke Quay, Singapore. Zirca Club is hot! Got lotta fun there, lotta experience in a new world thing. Lo bisa liat gimana itu Zirca disini http://www.zirca.sg/ Yea.

Waktu gw masuk Zirca pertama kali, yang ada di pikiran gw adalah : Wow! Betapa beruntungnya gw bisa masuk ke tempat kaya gini. Clubnya gede, desainnya oke, crowd-nya seru. Kata Bone (temen SMP gw yang kuliah di Singapore dan menjadi tour guide gw selama di Sg, yang adalah anak clubbing sejateee), Zirca itu club favoritnya dia.

“Loe beruntung banget Sit, pertama kali lo clubbing dan lo merasakannya di Zirca!”


gw & Bone, 1st drink.

Jean, temennya Bone, orang Indo juga sih, juga bilang hal yang sama kaya Bone.

“Zirca itu udah paling the best lah Sit! Gw seminggu bisa 3-4 kali kesini.”


Dan Jean men-traktir gw minum vodka pure. Nice.


gw & Jean, late-night already

Di Zirca itu pertama kali gw minum. Vodka mix. Karena kebetulan sekali waktu gw kesana emang lagi hari Rabu, LADIES NIGHT. Dan yang punya Zirca mungkin adalah salah satu orang ter-dermawan di Singapore, karena dia ngasih 5 FREE DRINKS TICKETS! Gila ya. 5! Dan saat gw megang 5 tiket itu rencana awal gw yang pengen ga ngapa2in di Zirca, ga minum, ga nge-dance floor, cuma duduk2 doang, BATAL. HAHAHAHAH.

Gw penasaran parah gimana sih rasanya “drinks” itu. Dan gw punya 5 kesempatan untuk nyobain semua drinks yang ada. Dan oke, after that yang ada di benak gw adalah : Just enjoy everything here, coz it’ll be something you won’t regret, for the rest of your life.

Dan Ya. Positif, pulang dari Zirca (jam 4 pagi waktu Sg, means jam 3 waktu Indo), I’m almost completely drunk. Still almost by the way, at least gw masih sadar sekarang gw ada di Singapore, bukan Jakarta, means percuma aja gw keluar club buru-buru ngejar angkot terakhir ke Pondok Gede, ga bakalan ada. :P

Hmmm. Kayanya gw perlu nge-posting lebih detail tentang pengalaman gw di Zirca, karena ternyata seru! Hahaha. Banyak banget kekonyolan yang gw alamin malem itu. Okay! NEXT.

Hmmm. The Green ya, hmmm, gini, waktu gw pertama denger ide Komnite itu pada akhirnya clubbing juga, gw udah yakin banget gw ga bakalan mabok. Hahaha. Ya iyalah, karena ntar pasti disana gw jadi semacem waitress, ya mungkin ga se-desperate itu, tapi kan gw panitia ya, intinya itu. Apalagi gw memegang jabatan seksi konsumsi yang meng-supply segala kebutuhan makan artis n tamu. Eh, berarti gw beneran waitress dong?

Oya, just a bitch bit about being seksi konsumsi. Bete-bete seru. Kenapa bête? Karena nyiap2in makanan buat artis n tamu bikin kita telat dress up, telat make up. Alhasil, jam 7, waktu panitia yang laen, termasuk Kom 09 udah pada rapih, cantik, glamorous-futuristic, gw masih ber-hotpants + kaos oblong ria. Dengan rambut dicepol a la Himono Onna kalo lagi repot. Keluar dari dapur, pas banget dance floor lagi. Kom 09 yang udah ready ngeliatin gw berkucel-kucel ria bau sambel terasi, mungkin mereka mikir “Ooh.. ternyata Ka Lescha itu waitress nya The Green ya…” atau “Aduh amit2 deh gw jadi seksi konsumsi di Komnite 2011.” *sigh. Just go to the sea lah. (ke laut aja lo!)

Seru! Kenapa? First, karena ini kali pertama gw jadi seksi konsumsi on the spot, ngerasain gimana ribetnya usaha catering. Zanet dan Chika sebagai senior gw di dunia perkonsumsian, berbagi pengalaman berharga tentang managing food. Ya, something yang Kom 07 yang laen ga bakalan tau kalo ga jadi seksi konsumsi. Trus ada kesempatan kita icip2 makanan yang overload. Lumayan lah nge-ganjel perut sebelom bertempur. Makanya gw kasian ma panitia lain yang pada belom makan sebelom acara, karena gw udah. HhAHAHAHAH

Oya ada sedikit quotes dari bartender The Green yang ngecek ke dapur dan ngeliat gw, Zanet, Diana, Ira, n Chika lagi hectic masuk2in makanan ke box sementara orang dapur laen malah ngobrol2.

“Aduh… kog baby-baby aku pada repot gini sih, ntar ngga bisa happy-happy lagi lho-“

*KRIK…..KRIK…..KRIK.

Oke lanjut. Gw juga ga bakalan mabok karena… gw ga punya duit. Hahaha. Ini Komnite, bukan LadiesNite. The Green, pertama kali gw kesana dan langsung men-judge : Gini ya anak Indonesia clubbingnya??? Don’t blame me, I have no experience in Indonesian kinda club. Okay, here’s the judgement:

1. Buset! KECIL BANGET TEMPATNYA! Dari entrance nya aja gw udah punya feeling ni tempat pasti kecil. Eh ternyata bener, untung mereka punya second floor yang lumayan pewe. Dan gw bingung kenapa beberapa temen gw yang udah survey, bilang tempatnya gede kog, lebih gede dari Beyond (tempat komnite 2008). Buset kalo Beyond aja yang katanya lebih bagus dari The Green KATANYA lebih kecil, berarti ini emang ukuran standar club di Jakarta dong? Kasian.

2. Buset! SEMPIT BANGET TEMPATNYA! Gw ngebayangin anak-anak yang clubbing disini kasian banget ya, tempatnya sempit gini, kasian aja sama yang ga ngerokok, space buat napas mereka pasti ampir ga ada kalo udah semakin late-night. Yah tapi what can I say lah, pasti mereka udah pada mabok semua kalo udah late-night, ga bisa mikir n ga peduli yang mereka hirup itu oksigen ato karbon. Bodo ah!

3. Panggungnya kecil banget-bangetan, ngingetin gw sama panggung perpisahan TK nya ade gw. Paling cuma berapa ukurannya, 3x4. Ya kasian aja Komboys sama Komdance nya kalo nari bisa ga pewe dong, kan mereka biasa latian di Engineering Centre yang space nya gede.

4. Kotor dan berantakan. Beneran kotor. Lantainya, meja-mejanya. Masih ada sisa orang minum dan makan kemaren malemnya. Gelas-gelas kotor ditumpuk gitu, disgustink.

5. Desain tempatnya ga oke, biasa banget, ga ada seru2nya. Kalo gw orang bule, dateng ke Jakarta dan pengen clubbing di tempat yang standarnya kaya di club luar negri, gw ga akan ke The Green.

6. Panas. Nyet! AC nya ga memadai sama sekali deh. Mereka ga mengantisipasi jumlah massa sama sekali dan ga mengantisipasi asap rokok juga.

7. Pelit. Lo tanya ke gw langsung aja deh kalo mau tau gimana pelitnya The Green.

Oke, itulah Zirca dan The Green. Mungkin perbandingan yang gw buat ga begitu memuaskan, ya sekali lagi, gw menggunakan dua perspektif yang berbeda. Di Zirca gw jadi guess, di The Green gw jadi staf. Tapi overall gw ga peduli kalo orang bilang gw ga obyektif. Bodo amat gw subyektif, ini kan blog gw, I determine what I post, nobody could argue.

T.R.I.V.I.A

I REALLY DID MY TWITTER PROMISE.

On the early of November, di saat cewe2 Kom 07, meribetkan apa yang akan mereka pake buat Komnite, termasuk baju, sepatu, aksesoris, dll. Dan meribetkan anggaran dana yang akan mereka keluarin. Dan gw udah sebegitu capenya ngedenger semua itu. Bukan karena gw mupeng, cuma cape aja ngedengernya lama2, sampe gw memutuskan gw ga akan prepare yang lebay2 buat Komnite, doang. Gw ga akan mentargetkan sekian ratus ribu gw keluarin buat beli ini itu. Big Hell No Way!

I DON’T GIVE A SHIT.

so, I make a promise. And I tweet it up.

The First Twit-Promise is…

“Semua ribet deh. Terserah mereka mau bilang apa, gw tetep Komnite pake Chuck Taylor!!”

and here it goes :


The Second Twit-Promise :

“I’ve decided, my SGD$20-for 3 items-dress, I got from Bugis Square, will be my November 21st outfit.”

and here it goes :


Dan bener aja, Chuck Taylor and Bugis Dress rule the night! Temen-temen gw most of them kesakitan sampe ga bisa jalan karena pake high heels, ribet pake dress. Dan gw? Lelarian kemana-mana bareng Chuck yang extra nyaman dengan dress gw yang emang bahannya cotton. Hhahahah.

So, I guess, it’s easy to keep a promise, eh?

*big smile.