Showing posts with label netflix. Show all posts
Showing posts with label netflix. Show all posts

Saturday, January 10, 2026

Me Wassup #116: ST5, Driving Lesson, Anastasia The Musical, Campus Visit, Konten Kanken

Hi guys! How y’all doing?


1st Me Wassup of the year! 


Tadinya gw mau mendedikasikan 1 postingan untuk Stranger Things, tapi udah ke-delay terlalu lama [the finale was in Jan 1st!], jadi kita bulk aja sama yang lain ya. 


Okay first, Stranger Things. One last adventure.


10 tahun kemudian, ST akhirnya tamat. Tamatnya series ini membawa kembali gw ke banyak hal yang terjadi 10 tahun terakhir.


Gw inget pertama kali nonton ST di Melbourne tahun 2016. Agak telat nontonnya karena gw baru bisa langganan Netflix bulan Desember setelah menyelesaikan semua assignment semester 1 (ST1 rilis bulan Juli). Langsung jatuh cinta. Gw tulis betapa bucinnya gw sama ST waktu itu di sini, sini, dan sini.


ST menjadi fenomena besar di seluruh dunia. Semua orang menunggu season 2. Gw inget betapa senangnya gw ketika season 2 dirilis bulan November 2017, ketika gw masih di Melbourne. Jadi hype-nya berasa banget. A lot of parts of Melbourne, terutama bagian suburb where I lived, juga mirip Hawkins, so it really felt like I was part of the universe, part of the party!





Ketika season 3 dan 4 dirilis, sayangnya gw sudah kembali ke Indonesia. Seperti generasi sandwich pada umumnya, gw dihadapkan pada responsibility dan harus bekerja sehingga excitement menonton ST tidak seperti season 1 dan 2. Gw bahkan tidak me-review season 3 sama sekali di blog ini, padahal gw vividly inget season 3 itu bagus, walaupun ga sebagus season 1 & 2. Season 4 gw review tipis di sini. 


Season 5… Gw ga paham apa yang ada di pikiran The Duffer Brothers ketika bikin ending begitu. Yeah, gw termasuk rombongan yang tidak happy dengan ending-nya. [Spoiler Alert!] Gw sebel Eleven dibikin berkorban untuk semuanya, after all she’s been through, literally suffering dari kecil, dijadiin kelinci percobaan, diburu dan mau dibunuh berkali-kali, longing for a family and friends, masih kurang susah apa hidupnya dia??? In the end masih harus berkorban juga~ It’s like they are betraying her legacy~


That’s why gw paham banget kalo rumor Millie Bobby Brown ngambek sama The Duffer Brothers setelah mengetahui ending ST itu benar. Well, gw akan ngambek juga sih. Gile lu, Ndro.. “Gw yang menopang this show, malah gitu endingnya~”. Paham banget kalo bener dia memutuskan botox sebelum syuting last ep just to mess around with The Duffer Brothers. Gurl had every right to do that tbh.


Anyway, gw ga mau postingan ini jadi postingan komplen soal ending ST. Mau gimana pun endingnya, series ini berjasa banyak buat gw terutama menemani masa-masa kesepian di Melbourne. ST dan segala universe-nya bisa men-transport gw ke tempat-tempat yang dekat sekali ke hati, back to that happy places from our childhood, biking around with friends, lost in our imagination and fantasies about fairytales and monsters, re-living the cuteness and awkwardness of having first love…


For me especially, gw suka banget scoring ST, terutama season 1 & 2. They give me all sorts of feelings. Nostalgic, fresh, emotional, 80s vibe, majestic, timeless, powerful. Gw sampai bikin playlist di Spotify judulnya Senandung Demogorgon yang constantly gw dengerin sampai sekarang whenever I want to kick someone’s ass. So iconic! 


Speaking of scoring, shoutouts to whoever remixes Kate Bush’s Running Up That Hill to an orchestral version dan membuat adegan “podcast” Max dan Holly di episode 6 so epic dan otomatis jadi adegan favorit gw di season 5!







So, terima kasih Stranger Things, terima kasih The Duffer Brothers, terima kasih Millie Bobby Brown—regardless what people say about you, i’m always a fan of you and your brand Florence by Mills!, special shoutout to WINONA RYDER THE QUEEN—my first reason to watch ST, thanks to 4 sekawan yang super charming since 2016: Finn, Gaten (my bias!), Caleb, Noah, thanks David Harbour, thanks Shawn Levy (one of my favorite directors in Hollywood—so happy when I found out he’s one of the helms in ST!), dan semua cast and crew yang bertugas. Thanks for the memories! <3





Okay next: driving lesson


Yep, gw sedang belajar nyetir lagi, and just today I finally got my driving license!





I LOOK SO GOOD! Makasih untuk flash-nya ya Polres Cinere Depok, wajah saya MENYALA! SLAAAYYYYY~~


How about dijadiin SOP aja untuk semua instansi pemerintah yang mengambil foto warga untuk memakai flash? Yes, forever holding a grudge against kantor imigrasi Jaksel tempat bikin/perpanjang paspor karena kameranya GELAP DAN BUREM. Jadi setiap kali paspor gw dipegang sama petugas imigrasi di seluruh dunia, mereka harus crosscheck muka gw MINIMAL 2 KALI sampai akhirnya confirm itu beneran gw! Damn!


Anyway, nyetirnya sendiri masih belom pede, jadi nanti sepulangnya dari Bali bakal ambil kelas lagi sampai bener2 lancar. Doakan segera lancar supaya bisa mengantar ibunda ke Indomaret. Wkwk~


Next: Anastasia The Musical


Gw lupa pernah cerita di blog ini apa ngga, ini musical yang level ambinya paling atas buat gw. Udah sepengen itu nonton tapi show-nya di Amerika dan Eropa sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu. Asia cuma mampir Jepang tahun 2020 and then they were done, ga lanjut tur lagi~ Well, IP Anastasia ga sebesar IP Disney lain seperti Aladdin dan Beauty and the Beast sih, jadi totally understand fans-nya sedikit. Ya, saya bagian dari minoritas itu. Saya sudah cinta sama Anastasia sejak 1998. Journey to the Past & Once Upon a December are two of my favorite numbers ever ever everrr!!!


Sempet hopeless ga bisa nonton musical-nya, sampai akhirnya tahun lalu Opera Australia mengumumkan bahwa mereka mengadaptasi IP-nya untuk Australian production! Aaaaaakkkk!!! Thanks, mate!!!


But nope, gw end up ga nonton, atau lebih tepatnya belum nonton~ Tapi gw seharusnya nonton karena sudah beli tiket. Yeah, earlier last year emang ada plan ke Melbourne specifically untuk nonton Anastasia The Musical tapi batal karena nasib gw waktu itu belum jelas~


Sayangnya tiket musical terlanjur dibeli. Jadi sebulan belakangan ini gw intense menjual tiket itu ke sana kemari. Literally mencoba masuk semua grup Indonesia in Melb, minta forward ke temen2 yang ada di sana/punya kenalan di sana, anything-lah supaya itu tiket ga hangus. Sayang banget soalnya.


Ada sih beberapa yang tertarik, tapi masya auloh orang Indo tuh kalo nawar ga ngotak banget. Masa tiket aslinya $140 ditawar $30?! Are you fucking kidding me?! It’s a goddamn art, you uncultured swines!!!


In the end ada sih yang beli seharga $60, ya betterlah daripada $30~ Sisa 2 tiket, gw lebih ikhlas kasih ke my Australian bestie, Stephanie alias Mawar yang pernah gw ceritain di sini, daripada dibeli Indon pelit~ She was very happy!





Anastasia The Musical, kita belum jodoh ketemu di Melbourne, semoga masih bisa kejar yang di Sydney ya pertengahan tahun. Kalo ga bisa juga, ya mudah-mudahan Opera Australia bawa Anastasia ke Singapore juga, kayak Wicked kemarin kan Australian production. Bismillah! Manifesting!


Next: Homecoming to UI Depok


Kampus itu selalu ngangenin, apalagi kalo kampus lo UI. Udah lama pengen banget spend the whole day di kampus, nostalgia 19 tahun yang lalu (wow tua ya~ wkwk). Now that I have all the time in the world, let’s go!


Oh so convenient ya sekarang udah ada LRT yang nyambung sama stasiun Cawang. Perjalanan ke Depok dari rumah gw di Pondok Gede only takes less than 1 hour. 


Jadi gimana UI? Panassss~~ haha~ Ini yang saking excited-nya back to campus sampai terlupakan. Depok itu panas ygy, walaupun UI di tengah hutan gitu tetep aja panas. Gw sampai lemes dan pusing kena heatwave, akhirnya terpaksa minum obat. Huhu~


Tapi tetep hepi karena hampir semua tempat kita jajaki: FISIP, FH, Psiko, FIB, FT, FEB, Jembatan Teksas, Balairung, Balhut, Perpus Pusat, Danau Kenanga, Rektorat, Asrama, Pusat Studi Jepang, Mesjid UI, Pocin, Margo City.


Not to mention naik bikun kemana-mana juga. Luv banget sekarang bikun ada yang bus listrik. Udah full AC semua juga dan interior dalemnya kayak bus di Singapore. Keren beut~


Notable mention untuk beloved campus, FISIP UI. Ga banyak berubah sebenernya tapi ada beberapa landmark baru. Fotokopi legendaris udah ga ada, udah digantikan mesin (sad~). Takoru (kantin kecil deket Taman Korea/Takor) udah diganti coffee shop indoor. Ada beberapa chain restoran terkenal juga (duh FISIP komersil banget sih~ wkwk), ga mau mention apa aja restorannya, soalnya ga onboard with this idea. Ga otentik aja gitu.


Makan siang nasi imbi di Takor, 16k ajah. 19 tahun kemudian melihat bentukannya nasi imbi mayan kaget, kok bisa sih dulu dikasih makan nasi + telor + bakso + sayur orak arik aja udah seneng? Wkwkwk~





Last but not least, Seeta - Nanien alias Se-Nien akhirnya update vlog baru ngomongin Kanken! Update Kanken yang kita punya, sudah beranak pinak, terutama punya gw. LOL~ 





Ya begitulah bentuk kesetiaan saya terhadap sebuah brand. Please watch, like, and comment. 


Manifesting 5 tahun lagi yang di-review udah bukan Kanken ya. Hermes Birkin 25 in black with Palladium hardware gitu.. Wkwk


Okay, that’s all for today! Byeeee~~


Sunday, November 2, 2025

Me Wassup #115: Film Pangku, G-Dragon in Cinema Ubermensch, Halloween Party, Konser Laleilmanino

Hi guys, how yall doin?

Masih dalam edisi Seeta kebanyakan acara dan pulang malem terus, minggu ini jadwalnya lebih padet dari minggu lalu. 

Dimulai dengan hari Senin yang dipakai untuk ke dokter gigi di MMC. Kena vonis root canal lagi karena yang ternyata sebelumnya bocor sehingga bakteri masuk lagi dan sarafnya meradang lagi. Ealaaahh~ Gimana sih, MMC?! Kan gw root canal pertama kali juga di situ~ Harusnya dapet refund nih~ Perlindungan customer~ Huff~

Lalu diberitahu biaya operasinya 12juta, yang di-cover asuransi cuma 4juta. Are you kidding me? Abis gajian tiba-tiba kena liability 8juta gini?! No thanks. Pivot cari RS lain >> back to Lakesgilut Halim. Wkwk~

Udah kesana kemarin, bener emang harus root canal lagi katanya. Tapi Alhamdulillah biayanya ga 12juta. Walaupun ga bisa bayar pake asuransi, cuma disuruh bayar 500k aja per kontrol. Estimasinya 3-4 kali kontrol, jadi total 2juta. Masih mendinglah daripada 8juta~

Lanjut ke hari Selasa menghadiri gala premiere film debut penyutradaraan Reza Rahadian, Pangku. Terima kasih rekan sejawat di Awe yang kasih tiket nonton.



Reza really had come a long way since I worked with him last time in 2014. Waktu itu beliau jadi juri XXXXX Sampul. Termasuk juri yang galak, hobinya nangisin finalis. Wkwk. Kalo ada kesempatan ngobrol sama Reza sekali lagi, pengen bawa topik ini lagi. 

Anyway, Pangku gimana filmnya? Suka sih. Enteng. Very simple story. Gw udah expect film berat yang bakal mikir banget, ternyata nggak. Almost slice of life, tapi life-nya ya life of a  prostitute. Hehe~

It’s pretty heartwarming karena porsi besarnya adalah family drama. Filmnya cukup panjang tapi ga padet dialog. Cukup mengandalkan acting dan writing, scene demi scene berhasil deliver message dan emosi dengan baik. [8/10]-lah dari gw.

Paling agak kecewa sedikit sama endingnya. [spoiler alert!] Si Sartika, udah kecebur di lobang yang sama 2x—dikecewain laki-laki 2x, kok ya ga belajar dari pengalaman? Ga mengubah hidupnya untuk jadi lebih baik? Endingnya dia masih sama miskinnya, nasibnya ga berubah..

Oh well. Sudahlah, tidak perlu overthinking, itu hanya film. 

Hari Rabu, meluncur ke CGV GI untuk premier film, tapi kali ini berbayar. I am watching concert-movie, G-Dragon in Cinema Ubermensch. Finally bisa ketemu abang GD, walaupun dalam versi yang lebih budget. Hehehe~ Sorry ya bang, abis harga tiket konser u bener-bener ga make sense~



Gw nonton di Screen X, yang layarnya 270 derajat alias ada 3: depan, kanan, kiri. Mayan juga experience nontonnya, walaupun kursinya ga goyang-goyang macem 4DX. Fyi, throwback ke 2013, gw nonton One of a Kind concert-movie juga di tempat yang sama. Bedanya, waktu itu 4DX. 

Screen X is 10/10 Chef’s Kiss, apalagi kalo GD lagi perform featuring Taeyang dan Daesung, itu masing-masing layar diisi mereka, berasa dikelilingin idol. Gile, nonton konsernya langsung aja ga bisa achieve visual kayak gitu. 

Beberapa kali screen kanan dan kiri dikasih visual effect, supaya pengalaman nontonnya lebih berkesan. Kadang-kadang ditaro lyrics juga. Mantaplah. 

Yang rada kurang menurut gw adalah sound-nya, masih kurang “konser” gitu, kurang surround, kurang bikin bergetar. Masih stereo. Bass-nya ga berasa. Jadi kurang hidup. 

Satu hal yang gw syukuri setelah menonton… ternyata ga nyesel2 amat ga nonton konsernya, karena si abang sebenernya jarang nyanyi juga. Wkwk~ Banyakan adlibs and stage act—acting cool, which is fine, he IS cool. Tapi kayak… men suara lo tuh bagus, lirik lo juga bagus, udah capek-capek dibikin kok ga dinyanyiin? 

Gw liat GD di Ubermensch nggak se-all out/se-fly Motte sih. Di Motte tuh Masyaallah Tabarakallah, kharismanya meletup-letup. Lebih lepas, lebih liar. Idk, mungkin yang kali ini sudah ada pengaruh penuaan. Hehe~

I was really happy he still brought my faves: R.O.D, Who You, That XX, Heartbreaker. Mudah-mudahan tahun depan abang menepati janji untuk comeback BigBang ya. Kita bela-belain tiketnya mau berapapun kalo BigBang mah. Walaupun ga kebayang 3 member doang gimana jadinya ya? wkwk~ 

Hari Kamis, hari tersibuk, ada 2 acara. 

Lupa bilang tadi, film Pangku mulai jam 20:00, selesai jam 22:30, baru sampai rumah jam 23:30, tidur jam 00:30, jam 7 udah harus bangun lagi.

Film GD mulainya jam 20:30, selesai jam 22:30, baru sampai rumah jam 12, baru tidur jam 1, jam 7 udah harus bangun lagi.

Dua hari berturut2 kurang tidur, basically hari Kamis itu gw zombie mode dan harus menjalani 2 acara sekaligus: Halloween Party di Kantor & Konser Laleilmanino.

Dua-duanya super fun sih, tapi ga bisa 100% karena basically lelah jiwa raga.

Halloween Party: ini comeback setelah 6 tahun yang lalu jadi Powerpuff Girl sama Echa dan Opiq di Dian. 



Kali ini di Awe, gw mewakili Orange is The New Black (OITNB) universe. <3



Cute little backstory:

Baju napi itu gw beli di toko kostum di Melbourne tahun 2017 yang mana saat itu gw lagi suka-sukanya sama OITNB. Niatnya sih buat dipake Halloween party di sana, so I want to proudly wear it.

Waktu itu sebenernya lebih into Stranger Things. Series yang pertama kali gw tonton di Netflix dan bikin gw ngefans sama brand ini yang kemudian menjadi kebutuhan primer sejak di Melbourne sampai sekarang and the whole reason I am where I am now. 

Tapi kala itu Stranger Things udah amat sangat populer sehingga yang dressing up as Eleven for Halloween pasti banyak banget. So, I went with my 2nd favorit Netflix show yang juga lagi populer di masa itu, OITNB. 

Alas, waktu itu Halloween momennya pas banget final exam. Jadi ga bisa ikutan party karena harus lembur berhari-hari ngerjain paper. Alhasil baju itu ga pernah terpakai dan menjadi penghuni senior di lemari gw, mendekam di tumpukan paling bawah selama hampir 9 tahun. 

Allah Maha Baik. Tahun 2025, siapa sangka gw bisa bergabung as employee. So, wearing my OITNB outfit for the company’s Halloween party just feels right. :’)

I will cherish this moment forever. <3


Pulang kantor, menghadang hujan deras menuju ke Istora Senayan untuk Konser Laleilmanino. 



Konsernya kelamaan! Kirain 2 jam, ternyata 3 jam, dan mulainya ngaret! Di tiket bilangnya jam 19:30 mulai, baru mulai 8:15. Gw udah expect 2 jam kelar, sehingga bisa pulang 21:30. Nope, jam 11 baru keluar Istora, setengah jam dapet GoCar, sampai rumah jam 1. This zombie bahkan udah terlalu lelah untuk makan orang. 

Kalau diliat dari sisi positifnya, ya itu tiket 300rb jadi worth it banget sih. Apalagi Laleilmanino bawa guest star banyak banget. The concert almost felt like a variety show. 

But still, it was too long for me. Ga suka konser kelamaan. Sejam pertama masih bisa singalong dan joget, sejam berikutnya sampai selesai, simply dead. Mata tetep melek aja susah. Please, I just want to go home. 

Regardless of that, teruntuk Laleilmanino, terima kasih banyak atas sumbangsihnya terhadap musik pop Indonesia. You guys touched the hearts of so many people. Membantu banyak orang untuk bisa mengekspresikan perasaannya. Membantu banyak musisi untuk mendapatkan rekognisi. Berbagi rasa dan cerita. 

Teruslah konsisten berkarya dan gw yakin 20 tahun lagi kalian akan menjadi legend di industri musik indonesia. I’m sure you’ll draw a bigger stage dan crowd. 20 tahun lagi, Istora udah nggak akan muat, yall have to do GBK. :)

Okelah itu aja buat postingan hari ini. Kebanyakan acara, capek as fuck, tapi overall fun. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. 

And… just like that, October is officially over. Two months remaining. Anxiety is at all-time high. 

Di tengah ketidakjelasan nasib gw ini, bisa-bisanya impulsif ikutan Vietnam trip-nya Nanien 10 hari lagi! Well, I desperately need a sense of accomplishment this year, even just a little. Vietnam ada di bucket list 25 Before 40. So it was an easy decision. 

I also want to feel a sense of control again, karena terlalu banyak hal yang ga bisa gw kontrol sekarang. Attending events, planning a trip, I can control all of those. They give me purpose. I like that.

Semoga ada kabar baik sebelum akhir tahun. 

Jika tidak ada pun, semoga ikhlas kembali hadir buat gw. 

I mean, break 3 bulan juga bukan ide yang buruk—it was the original plan. Always wanted to try that silent retreat and Qigong class in Bali. 

I guess what I’m not ready for is the farewell. 

So much good stuff here. Way too much. 
 

Sunday, June 22, 2025

The Greenest Forest

[arsip dari 8 Maret 2025]

Hi, guys! How yall doin?

Gw bikin tulisan ini udah lama. Ketika bikin ini 3 bulan yang lalu, gw belum memutuskan mau publish atau nggak, karena banyak risikonya. 

Now that it’s published, berarti risikonya tidak besar/tidak ada. Alhamdulillah.

This is the story of how I joined the most green-flag company in the whole wide world. :)




Okay so, gw baru saja menjalani proses recruitment sebuah perusahaan, kita sebut saja Awe—as in awesome, coz they are super awesome indeed. It’s been my dream to work with them.

Gotta tell you, ini adalah proses rekrutment paling manusiawi yang pernah gw jalani sepanjang karir gw. Period. 

Wah gokil sih gaes.

Oke, kronologi:

Tanggal 3 Feb gw dapet message di Linkedin dari headhunter yang berbasis di Singapore. 

Minggu itu, gw sibuk banget di kantor. Jadi baru sempet gw reply tanggal 10 Feb (wk, sorry~) yang mana ketika itu gw lagi izin sick leave. 

Dia ngajak call, gw jawab baru bisa 14 Feb—hari Jumat, ketika gw WFH, supaya lebih fleksibel. Dia bilang, ga bisa, dia harus reporting ke klien maksimal Rabu. 

But then I realized, lah kan sekarang lagi di rumah ya sick leave, hajar aja telpon sekarang.

Emang ga butuh persiapan?

Jadi gini gaes, posisi yang ditawarkan itu menarik, company-nya juga menarik banget, tapi hanya contractual/temporary basis. Sebagai karyawan yang selalu full time, jelas gw awalnya resistant. Membayangkan nganggur setelah kontraknya abis itu menyeramkan. Apalagi in this economy. 

Atas dasar ini, gw jadi ber-mindset, yaudahlah nothing to lose aja pas di-call. Toh ga bakal gw ambil juga kerjaannya. Call buat kenalan aja, buat bragging ke orang2 someday ‘eh gw udah pernah loh diwawancara Awe.’ Wkwk~

So we had a call on the same day. Dia menjelaskan scope pekerjaannya dan menekankan sekali lagi bahwa ini hanya kontrak. Bahwa banyak benefit yang tidak gw dapatkan seperti layaknya karyawan full time. Bahwa the only bargain yang bisa gw dapatkan di sini adalah gaji, yang mana dia akan bantu negoin ke Awe angka yang gw ekspektasikan. Kalo gw masih berminat, dia akan merekomendasikan gw ke Awe dan menjadwalkan interview.

Gw, dengan mindset nothing to lose, iyain aja.

“Ga bakal lolos ini mah.” pikir gw. 

Pertama, belum tentu gw do well in interviews. Gw udah failed berkali-kali, pernah gw ceritain di sini. Bahkan gw failed di saat udah punya persiapan yang paling matang sekalipun. Ngapalin Q&A sampai ngelotok, rehearse depan kaca sampai eneq sama muka sendiri, stalked and made a freakin binder about the company and the people--Amy Santiago style..

Entah kenapa sejak masuk Errthing tuh gw ciong banget urusan interview-interview gini. Jadi chance ini lolos kecil banget.

Kedua, karena ini cuma kontrak, leverage gw cuma di gaji, hence gw akan minta gaji yang lumayan , supaya bisa nutupin benefit2 yang gw ga dapet. Biasanya sih ga bakal dikasih ya. 

Ketiga, si headhunter ngasih tau gw juga bahwa untuk posisi ini gw punya 2 saingan, dan di antara semua kandidat, notice period gw adalah yang paling lama—yakni 2 bulan, sementara yang lain 1 bulan dan immediately. Yang immediately gw rasa baru kena L deh tuh. Perusahaan butuh cepet, jadi pasti yang lebih dipertimbangkan adalah yang bisa masuk duluan.

But well kita coba dulu ajalah ya.

Jumat 28 Feb (pas lagi WFH, woohooo!) gw terjadwalkan untuk 2 interview: 30 menit dengan user A—cewek di Singapore di pagi hari, 30 menit dengan user B—cowok di India di sore hari.

Gw nervous, tapi ga nervous-nervous amat. Again, saat itu mindset gw nothing to lose. Jadi effort yang gw berikan biasa aja. Gw bahkan sehari sebelumnya masih ngurusin event sampai jam 9 malem—padahal in ideal scenario gw biasanya to the point cuti buat mempersiapkan big interview kayak gini. Wkwk~

Kali ini gw sans. Strategi gw cuma 2: 1) Stay chill, 2) Ngomong jujur apa adanya

Si headhunter juga memberikan 2 tips:
1. Ceritain pengalaman lo di bidang itu sebanyak-banyaknya >> untuk menunjukkan how you will bring value to the company
2. Tunjukkan bahwa lo very keen on the role >> siapkan jawaban sebagus mungkin dari awal untuk pertanyaan ‘kenapa lo mau role ini?’

Got it.

Dengan semua modal itu gw pede. 

Hasilnya?

FUCKING NAILED IT BITCHHHH YEAAAAHHHH

I nailed it in the rawest way possible.

How do I know I nailed it?

Interviewer-nya sendiri yang ngomong!

User A: “I think you are a GREAT FIT for our team.”
User B: “Gila Seeta gw sampai bingung mau nanya lo apalagi, ini wawancara baru 15 menit tapi elo udah kasih gw semua jawaban yang gw inginkan!”

:)))))))))))))))))))

Smiling from ear to ear. Nyengir selebar-lebarnya. 

Guess what?

Gw interview hari Jumat, hari Senin dikabarin bahwa gw diterima. :’)

Kadang tuh suka gitu ya, yang nggak direncanain, yang less effort, yang nggak ada ekspektasi apa-apa, MALAH DAPET!

Masya Allah Tabarakallah…

Lalu disuruh email: salary expectation & starting date.

Salary gw minta angka yang agak kurang ajar, tapi gw jelasin bahwa itu untuk meng-cover benefit yang tidak gw dapatkan sebagai karyawan kontrak. 

Starting date seperti yang gw mention sebelumnya, karena notice period gw 2 bulan, ya gw baru bisa masuk bulan Mei.

Lalu gw jelaskan juga bahwa gw ga bisa resign sebelum terima THR, karena berisiko THR gw ga dibayar kalo resign sebelumnya. I know by the law THR tetep harus dibayar, tapi Errthing kan… agak laen~ huff

Berbekal 3 statement ini, gw udah yakin mereka ilfil. Like.. siapa yang mau bayar gaji semahal itu dan nungguin sampai bulan Mei?

But guess what, mereka bersedia naikin gaji gw supaya nutup THR, asalkan gw bisa masuk lebih cepet. 

“We buy your time.”

W.O.W…

Are you fucking kidding me???

Oh man.. Here comes the most difficult part. Gw sempet bilang di postingan ini bahwa gw sedang mengalami HUGE DILEMMA, ya maksudnya adalah ini. 

I mean, awalnya kan gw ga niat ya, niatnya cuma kenalan doang. Gw ga nyangka sampai diterima dan diperjuangkan gini..

Gw ga mau gegabah langsung say yes, semua bibit bebet bobotnya tetap harus dipertimbangkan. Gw harus berpikir lebih keras, karena di balik semua keseksian tawarannya, ini cuma kontrak, I will be at risk when it ends.

Trying to be rational. 

Mulai list plus dan minusnya. Hasilnya? Easy win for Awe. Plus 15 poin, minus 4 poin. Wkwk~

Yaiyalah, Errthing isn’t in the same league as Awe. Kalah totallah bro!

Tapi gw ga mau membuat keputusan sendiri, karena bisa aja gw bias. So I called my best friends untuk mendapatkan POV lain. Menjelaskan kondisinya, baik buruknya.

5 out 5 friends mendukung untuk ambil. 

Ga ada satupun yang nyuruh gw bertahan di Errthing. Beberapa statement mereka yang berkesan:

“Daripada lo ga jelas di Errthing, bisa di-layoff kapan aja, at least Awe secure nasib lo setahun.”

“Itu kesempatan bagus banget, notable company, great culture, yang lo akan dapetin dari situ valuable banget. Gw yakin lulus dari sana kesempatan lebih terbuka lebar buat lo. Bahkan kesempatan untuk go international!”

“Seeta, gw pernah kerja sama lo dan gw tau banget kemampuan lo. Ga mungkin orang kayak elo ga dilanjut. Lo harus pede!”

“If it’s meant for you, it will be. Ikhlas aja, Seeta.”

Yang terakhir dari Mba Novieku tersayang dan sudah diabadikan di postingan ini. <3

Akhirnya gw memutuskan untuk ambil. 

Tapi masih mau nego starting date, karena mereka mintanya cepet banget. Sedangkan masih ada tanggungjawab besar yang harus gw selesaikan di Errthing. Gw ga mau pergi begitu aja. Gw mau ‘pisah’ sama Errthing in good terms, hence gw harus menyelesaikan tanggungjawab terakhir gw.

It’s my last contribution. 

Mereka minta gw masuk tanggal 14 April, gw bilang nggak bisa, karena hari terakhir di Errthing aja 15 April. Boleh ga gw napas dikit sebelum masuk? Gw nego masuk di 21 April. Enam hari break should be enough-lah.

Saat itu kondisinya gw udah ikhlasin semua, seperti yang Mba Novie bilang. Kalo emang kerjaan ini jodoh gw, pasti akan balik ke gw.

Dan… benar. :’)

Awe mau menunggu gw, on top of naikin gaji gw lebih besar dari yang gw inginkan karena mereka paham seberapa besar pertaruhan gw untuk ini.

Well, that's it. It's done. 

Udah deh, ga ada alasan lagi buat gw untuk stay resistant. 

Stupid banget kalo gw masih resistant dan menyia-nyiakan kesempatan ini. 

Sumpah lo Awe, elo bener-bener meluluhkan hati gw. Aku paling ga bisa diginiin lho.. :’)))

Masya Allah Tabarakallah…

Berkah bulan suci Ramadan…

Ya Allah.. what did I do to deserve this??? T.T

Sekarang posisinya gw sedang menunggu kontrak untuk di-sign. Setelah sign, gw akan apply resign dan memasuki notice period.

Bismillah.

So it’s true what people have been saying.

Awe, you really are the greenest forest.

I am truly grateful. <3

—Fast forward seminggu kemudian—

Sudah apply resign. Ada sedikit bottleneck. Tapi insya auloh gapapa.

Nazar gw setelah apply resign: beliin semua OB donat. Sudah dilakukan juga. 

Bismillah. Semoga berfaedah.  

—Back to present time—

Begitulah cerita saya masuk Awe versi sejujur-jujurnya. :)

Siapapun elo yang baca postingan ini, it was never my intention to hide anything from you personally. The reason why I kept it to myself this whole time is simply to protect myself. It was a complicated situation. There were precedences. I was scared and worried about all sorts of things—when in reality I just took a job that was right for me. Hope you get where I’m coming from. :)