Hi, guys! How yall doing?
Just a quick post to review The Lion King Live Concert which I just watched yesterday.
Gw penggemar berat The Lion King sejak umur 6 tahun. It’s still my favorite Disney IP until now. I’ve seen TLK in all art forms:
- Original Film
- Live Action
- Broadway/Musical
- Festival (in Disneyland, seasonal)
- 30th Anniversary Concert at the Hollywood Bowl (on Disney+)
I believe TLK is the first film I watched in cinema in 1994–tapi nyokap gw bilang bukan. “Ga mungkin kamu pertama kali ke bioskop umur 6 tahun, orang umur 3 tahun aja udah diajak~” Tapi pas diminta mengingat film apa yang Seeta kecil 3 tahun nonton, beliau ga ingat~ Hadeh padahal kan itu milestone penting ya, especially now knowing I grew up being part of/dedicating my life to that industry. :D
Alhamdulillah berkesempatan menonton TLK Live Concert kemarin, menambah panjang daftar koleksi experience art form TLK. :D
TLK Live Concert itu… mahal. LOL~
I mean compared to Disney Renaissance Trust Orchestra April lalu, harga tiketnya termurahnya cuma 300k. TLK Live Concert termurah 900k~
Gw hampirrr ga jadi beli, tapi kok ya ga rela.. I mean kalo ini IP lain biarin deh, tapi ini TLK.. Karya-karya Hans Zimmer dan Elton John.. The best music ever composed for a Disney movie. Ah fuck it! Beli aja deh~~
Ternyata ga nyesel kok. Worth every weak Rupiah. I got chills the entire time. The most important soundtrack and scoring in my life just came to life!
Konsepnya nonton film dengan live scoring/music, jarang-jarang kan punya experience begini.
Dari yang gw perhatikan kemarin, orkestranya lebih banyak mainin part Zimmer alias part scoring. Part soundtrack dimainin tapi ga full satu lagu gitu. Kayak cuma reff-nya, atau bagian-bagian klimaks dari lagu itu. Mungkin supaya ga overshadow suara nyanyinya. Padahal mah overshadow aja gapapa, it’s not like we haven’t watched the movie. Saiia sudah hapal semua adegan dan script TLK sejak umur 6 tahun nih kebetulan. Wkwkwk~
Live concert pengalamannya unik sih. Sambil nonton film ada sekelompok orang yang kerja di depan muka lo gitu. Agak susah fokus. Kebetulan gw duduk paling depan jadi bisa liat dengan sangat jelas orang-orang ini bekerja. Terus jadi paham di lagu/scoring apa, instrumen apa yang paling bekerja keras. Kayak pas Stampede, double bass main udah kayak jungkir balik.
Jadi mengenal tipe-tipe sound di sebuah lagu/scoring juga. Oh ini biola, oh ini cello—yang ternyata beda sama double bass (catet!), oh ini perkusi—yang ada drum, timpani, dll,oh ini bassoon—instrumen yang dikuasai Stephanie, bestie gw di Melb who’s part of an orchestra as well. Mayanlah belajar biar lebih kalcer.
But of course kita tidak boleh melupakan elemen filmnya ya. TLK ditonton 30 tahun kemudian tentu feel-nya berbeda. Semakin tua, gw semakin mengapresiasi musiknya. Betapa nge-blend musiknya dengan adegan dan emosi karakternya. Walau sudah 30 tahun, musik ini tetap ga ngebosenin. Timeless banget, Hans Zimmer & Elton John sungguh sangat visioner. Gokil!
Elemen film lainnya yang berkesan buat gw adalah… the one and only:
Gw udah berulang kali mention bahwa Timon is my favorite Disney character of all time. Di sini, sini, dan sini.
Timon is another timeless masterpiece from TLK. Semakin tua, karakter Timon semakin lucu dinikmati. Gila. Padahal the same script, the same scene, the same expression, tetep lucu njir! Kok bisa ya???
Anyway paling itu aja yang bisa gw ceritain. So happy to get the opportunity to enjoy yet another art form of TLK. Next-nya apa? Pergi langsung ke safari Masai Mara di Kenyakah untuk ketemu Simba in person? Hehehe
Byeee~~


No comments:
Post a Comment