Saturday, June 10, 2023

Cerita Jadi Dosen (ciye)

Hi, guys! How yall doin?

I woke up this morning feeling the urge to write about this, so here we go.

Tak terasa program Praktisi Mengajar yang gw ikuti sudah berakhir (untuk semester ini). Senin kemarin adalah kelas terakhir gw menjadi dosen tamu untuk mahasiswa semester 4 di sebuah kampus swasta di bilangan Jakarta Timur.

Gw seneng sih dapet kesempatan mengajar ini, sebuah pengalaman baru buat gw. Memasuki industri baru (pendidikan) yang sebelumnya ga pernah kepikiran untuk gw masuki. Setelah dijalani, siapa yang menyangka gw ternyata passionate untuk ngajar, padahal selama ini ngertinya kerja tuh ya corporate aja. 

I mean, public speaking isn’t even a strength of mine, it was a problem malah couple years ago. Gw paling ga bisa tuh yang namanya ngomong di depan orang banyak. Pasti demam panggung, takut terbata-bata, takut di-judge, takut diketawain, takut salah bawain materi, takut nge-blank. Nightmare banget deh.

Tapi kemudian gw kuliah di Aussie yang mana dosen-dosennya memberi pengertian bahwa tidak ada yang perlu ditakuti. Public speaking itu banyak hacks-nya. Misalnya kalo takut ngeblank, bikin script aja, jadi tinggal baca. Ga usah mentingin grammar, bahasanya academic/ngga, yang penting informasinya nyampe aja. Jangan ragu untuk menggunakan semua tools yang bisa membantu public speaking.

Lalu practice, practice, practice untuk melatih confidence.

Kalo confidence udah terbentuk, yang lain akan ngikutin dengan sendirinya: intonasi, eye-contact, ekspresi, gesture, bahkan jokes.  

Sejak saat itu gw santuy. Whenever disuruh presentasi gw ayo aja. 

Ini salah satu motivasi gw untuk mengajar. Basically public speaking, bawain materi yang insya auloh udah gw kuasai sehingga tidak harus khawatir tidak bisa menjawab pertanyaan, di depan audiens yang lebih muda dari biasanya. Biasanya kan presentasi depan bos/colleague, sekarang depan bocil. Jadi bahasanya disesuaikan/di-simplify. 

Lebih gampang sih tbh, ya kayak menjelaskan ke orang awam aja. Ga harus yang canggih gimana-gimana, justru yang penting menggunakan bahasa semudah-mudahnya supaya mahasiswa cepat paham.

Soal materi yang dibawakan, gw kan punya habit bikin deck pake bahasa Inggris ya. Habit ini kebawa saat mengajar, semua deck gw berbahasa Inggris. Nah minggu lalu dapet feedback, mahasiswanya ga ngerti. Wkwkwk~~

Padahal semua materi berbahasa Inggris di deck itu gw jelaskan pakai bahasa Indonesia waktu presentasi di kelas. Setelah kelas pun gw tanya, ada yang masih kurang jelas? Mereka ga ada yang respon. So I thought mereka udah ngerti..

Ternyata belom. :”)

Ya gw paham sih jadi mahasiswa. Kadang2 di kelas suka malu bertanya, malu berbicara. Takut salah ngomong, takut di-judge sama temen2nya. I’d been there. Pas kuliah S1, ngomong depan anak2 UI aja udah pressure, apalagi pas S2, depan temen2 dari segala macem negara pake bahasa Inggris. 

I’d rather be silent. Hahaha~

Well, the class is over. Sepertinya gw akan kangen ya, walaupun mempersiapkan kelas-kelas ini lumayan pe-er buat gw. Untuk mempersiapkan kelas setiap Senin jam 11-1, gw praktis ga punya weekend. Weekend gw habiskan untuk bikin deck dan practice presentasi. 

Di minggu-minggu pertama, it was tough. Tapi minggu ke-3 dst, udah mulai dapet ritmenya, jadi nggak sesusah itu sih. Gw bisa speed up the research, the presentation design, the speaking practice, etc. Udah tau cara cepetnya buat bikin deck, udah dapet banyak hacks. Beberapa minggu terakhir tetep bisa weekend dengan tenang, ya sambil pijetlah, nonton Jihyolah, dll. Semua karena management waktu yang baik. 

Sekarang weekend back to normal, pasti akan merasa ada yang kurang sih. Huhu~

Lalu kelasnya sendiri, kalau ada yang paling gw sayangkan dari berakhirnya kelas Praktisi Mengajar ini, itu adalah betapa minimnya kesempatan untuk mengajar offline. Sungguh mengajar dengan tatap muka langsung itu lebih seru, lebih hidup, lebih interaktif. Kita bisa lihat langsung ekspresi mahasiswa kalau mereka ngerti/ga ngerti, bisa datengin satu-satu buat diskusi, bisa mengenal lebih dekat.



Mengajar juga memberikan gw sensasi yang fulfilling karena beberapa hal. Pertama, menyenangkan sekali bisa berbagi ilmu, karena I solely believe ilmu ga akan berguna kalo ga dibagi. Ilmu gw banyak banget, kadang gw merasa kebanyakan, jadi memang sepatutnya dibagi. 

Setelah selesai menjelaskan banyak materi ke mahasiswa, rasanya puas dan plong banget. Kayak sebagian isi otak dikosongin, tapi untuk sesuatu yang berarti. Karena ilmu itu akan membantu orang lain selangkah lebih pintar/lebih maju, dan pastinya membantu mereka achieving their goals.

Kedua, mengajar menstimulasi otak gw untuk terus bekerja and just be curious all the time. Mempersiapkan materi perkuliahan setiap minggu otomatis gw harus belajar lagi juga. Riset, ngumpulin materi, compile ke deck, mikir gimana jelasinnya supaya gampang dimengerti, mendaftar possible questions kalo nanti ditanya, dll. It keeps my brain working, which is good. 

Ketiga, it feels very rewarding ketika mahasiswa mengerti apa yang kita ajarkan. It’s like achievement for teachers/lecturers. Kelas itu kan biasanya dibagi 2, kuliah dan praktek/latihan. Nah mahasiswa bisa keliatan ngerti/nggaknya itu pas latihan. Kalau hasilnya bagus, wah puas banget sih rasanya. Berarti materi perkuliahan yang gw ajarin ga sia-sia.

Not to mention going back to campus membawa kebahagiaan sendiri buat gw. Kampus itu selalu ramah vibe-nya. Selalu welcoming. Campus is probably the only place on earth (other than home) that makes me feel safe. 

Jika semester depan ada kesempatan mengajar lagi, semoga dapet lebih banyak kelas offline. Kalau bisa kelasnya di luar Jakarta, jadi bisa sambil plesir. Hehe~

Yeah gw berharap program Praktisi Mengajar ini berlanjut, walaupun sebentar lagi kita mungkin akan berganti presiden, berganti kabinet, berganti program pemerintah. Karena ini inisiatif yang luar biasa dan bener-bener problem solving. Nadiem Makarim luar biasa sih.

Sedikit tentang program Praktisi Mengajar just in case ada yang belum tahu, jadi latar belakangnya adalah masalah pendidikan tinggi di Indonesia dimana kampus-kampus, apalagi kampus negeri, ga bisa menjawab kebutuhan industri/lapangan kerja. Pilihan jurusannya terlalu kaku, terlalu umum/general (tidak spesifik), terlalu teoritis. Begitu juga kurikulumnya, more theory less practice. Ketika lulusannya mencari pekerjaan, sulit untuk mereka menemukan pekerjaan karena bekal mereka hanya teori, jarang praktek, tidak ada skill, tidak ada pengetahuan industri. Gap inilah yang Nadiem Makarim coba atasi dengan Praktisi Mengajar. 

Para praktisi langsung terjun mengajar para mahasiswa, supaya mereka bisa belajar langsung dari para professional di bidangnya. Belajar skill dan mengenal industri, bukan teori. Jadi mereka lebih siap memenuhi kebutuhan industri/lapangan kerja.

It’s about the damn time. Thank you, Nadiem Makarim. 

Jika Praktisi Mengajar buka pendaftaran lagi semester depan, gw definitely akan daftar lagi. 

Orite, sebelum postingan ini berakhir gw mau menjawab beberapa FAQs tentang Praktisi Mengajar yang sering ditanyakan ke gw. Here we go!

Gimana cara daftar jadi Praktisi Mengajar? 
Ada di website-nya, baca di sini.

Apa aja syaratnya?
Again, ada di website-nya, budayakan membaca ya. 

Dibayar/nggak?
Ketika daftar, akan ditanya, mau pro-bono atau berbayar. Gw memilih berbayar. Berapa? Silakan Google sendiri ya. 

Gimana prosesnya pas udah kepilih?
Jika ada dosen/kampus yang tertarik untuk meng-hire, mereka akan apply via website untuk dibukakan akses ke data gw. Once dapet kontak praktisinya, mereka akan reach out. Gw waktu itu di-WhatsApp sama sang dosen, di-propose langsung. Jika gw tertarik, gw harus accept "Permintaan Kolaborasi" yang beliau kirim di website. Lalu tim Praktisi Mengajar akan review both kualifikasi gw dan kualifikasi dosen & kampusnya. Sekitar 1-2 minggu kemudian, di-approve. Udah deh, dari situ tektokan langsung sama dosennya. Dikasih tau jadwal perkuliahannya, Satuan Acara Perkuliahan, aktivitas-aktivitas di kelas, dll. 

Ngajar apa?
All sorts of things. A little bit of this, a little bit of that. Wkwk~ Banyak deh, kepoin aja LinkedIn gw

Berapa kali ngajar dalam seminggu? Berapa jam?
Bisa pilih, ada beberapa pilihan, tapi gw lupa berapa aja. Yang jelas minimal 12 jam. Gw pilih yang 12 jam, setara 6x pertemuan @ 2 jam. 

Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum ngajar?
Ini mungkin beda-beda untuk setiap praktisi ya, tergantung kesepakatan sama dosen masing-masing. Kalo gw pasti siapin materi berupa deck yang topiknya sudah didiskusikan dan disetujui dengan sang dosen sebelumnya. Kadang-kadang gw juga siapin feedback untuk tugas kuliah yang dikasih minggu sebelumnya, jadi di kelas tinggal dibahas.

Gimana proses belajar mengajarnya?
Kalo di kampus tempat gw mengajar, kelasnya hybrid. Kadang online kadang offline. Biasanya di akhir kuliah sang dosen nanya ke mahasiswa, minggu depan mau online atau offline. Mostly pada pilih online karena mager ke kampus. Hahaha~~ Dari 6 pertemuan cuma sekali gw berkesempatan ngajar offline. Sayang sekali, padahal offline lebih menyenangkan. 

Apakah ada kewajiban lain selain mengajar?
Lagi-lagi ini tergantung kesepakatan sama dosennya. Kalo gw, kewajiban yang disepakati hanya mengajar untuk 6x pertemuan. Temen gw si Gilang yang Praktisi Mengajar semester lalu (tapi beda kampus & beda matkul sama gw), itu kesepakatannya sampai periksain tugas akhir mahasiswa. Jadi ada komitmen tambahan di luar mengajar. Beda-beda. 

Susah nggak bagi waktu kerja kantoran sama mengajar?
Jujur awal-awal susah, tapi ketika sudah menemukan ritmenya semua jadi lebih mudah. Gw sadar gw ga bisa komitmen lebih dari 2 jam setiap minggu, apalagi sekarang kantor udah WFO 3x seminggu. Dengan waktu komitmen mengajar yang lebih terbatas, kerjaan kantor jadi ga terganggu. Gw mengajar setiap Senin jam 11-1. Jam 12-1 adalah jam maksi, jadi cuma izin away 1 jam di setiap hari Senin, jam 11-12, yang mana gw redeem dengan lembur 1 jam di hari yang sama. Jadi in total gw tetap bekerja 8 jam sehari. 

Ada tips buat yang mau ikut Praktisi Mengajar?
1. Harus niat dan punya strong commitment karena mengajar itu tanggung jawabnya berat. Inget, generasi masa depan bangsa ada di tangan lo. 
2. Harus punya management waktu yang baik supaya bisa menjalani double job dengan lancar. Kalo dari awal management waktu lo amburadul, better not commit to this kind of thing. Nanti malah ngerugiin orang lain.
3. Pede aja sih. Wkwk~ Lo ga harus jadi Prilly Latuconsina atau Reza Rahadian untuk bisa mengajar. Just give it a shot.

Kalau udah apply tapi nggak ada dosen/kampus yang 'meminang' gimana?
Ya nasib. Wkwk~ I mean, jangan terlalu berharap juga. Tapiii mulai tahun ini Praktisi Mengajar punya tools untuk 'meminang balik'. Jadi ga cuma dosen/kampus yang bisa meminang kita, tapi kita pun bisa meminang mereka. Di dashboard praktisi, ada pilihan "Cari Mata Kuliah" yang bisa dieksplor. Di situ ada daftar detil mata kuliah, rumpun, jurusan, dosen dan kampus yang sedang mencari praktisi. Kalo tertarik, ada pilihan "Saya Tertarik", tinggal diklik aja. Setelah itu gw ga tau sih prosesnya gimana, karena belum pernah pakai cara ini. Mungkin gw akan coba semester depan kalau ga ada yang meminang. Haha~


Alrite, that’s all for today, folks! Enjoy the rest of your weekend! 

No comments:

Post a Comment