Hi guys, happy new year! Semoga tahun ini membawa berkah luar biasa untuk kita semua. Semoga lebih banyak good news daripada bad news dari pemerintah. Amien.
Jangan bingung sama judulnya, ini postingan resolusi 2026 belaka.
Dulu gw paling anti bikin resolusi, males aja gitu hidup ditargetin. Setelah sekian banyak target di kantor, KPI, OKR, or whatever, capek banget ga sih kalo hidup ditargetin juga?
But then I learned that banyak pengalaman yang membuktikan bahwa writing things down actually means manifesting them, hence, a lot of times… beneran terjadi.
Contoh:
1. Gw berulang kali menulis di blog ini dan di Instagram (close friends) bahwa gw pengen kerja di Awe. Eh, beneran terkabul tahun ini.
2. Gw pengen ketemu Albus Dumbledore tahun 2021, beneran kejadian tahun 2023.
3. Gw literally menulis Vietnam as bucket list 25 before 40, beneran berangkat November kemarin.
4. Paling recently, gw pernah nulis pengen jadi People Manager di sini, literally setahun yang lalu. Eh, coming soon terjadi. Belum pasti sih, tapi kemungkinan besar terjadi. Might as well write it down so it really does come true. Hahahaha~
Crazy ya miracle count-nya.
Yha tentu saja semua yang terjadi itu hasil kerja keras juga. But still, mengesahkannya dalam bentuk tulisan itu semacam langkah pertama untuk mewujudkannya. Jadi chance untuk terwujud lebih besar, karena at least niatnya sudah ada. Ibarat kata udah in progress 50% terjadilah.
Jadi, mulailah dari sekarang kita rajin bikin resolusi. Kumpulin semua target, dari yang masuk akal sampai ga masuk akal, bodo amat, tulis aja!
Oke, resolusi 2026 saya:
Yang pertama, MENIKAH! LOL
Tanpa basa basi ya.
Gimana mewujudkannya? I have no idea. LOL. Tulis aja dulu.
Ya pastinya meneruskan mencari that motherfucker yang seharusnya menjadi jodoh gw. Entah dimana keberadaannya, lagi tersesat di segitiga bermuda kali. LOL
Maybe dia adalah pirate yang lagi ga ada di bumi, tapi lagi berpetualang di SKYPIEA (langit) atau FISHMAN ISLAND (laut). Maybe dia ilmuwan yang terjebak di UPSIDE DOWN, ketangkep Vecna ga bisa keluar. Maybe dia penyihir yang tongkatnya patah macem tongkatnya Ron Weasley jadi ga bisa ber-Apparate balik? TERSERAHLAH! GET YOUR ASS OVER HERE REAL QUICK YOU DIPSHIT!
Yang kedua, less chronically online. Barusan diingetin sama Gol D. Ann bahwa minggu ini, minggu pertama gw sama iPhone baru ini, gw menghabiskan 7 jam sehari melihat ke layar hape~ Good Lord.
Demi apapun gw ga mau dapet vonis chronically online~ T.T
I have a life and it’s beautiful. Gw suka berinteraksi dengan sesama manusia (walaupun temen gw itu-itu aja), I love offline interaction, real talks, real emotions. Gw suka keluar rumah and going on adventures, seperti mengunjungi alam: gunung, bukit, hutan, danau, pantai, laut—nature is like my 2nd home where I find my peace of mind. I love learning new things, discovering something new, and experiencing life. I don’t need gadgets to achieve all of them, I just need to exist.
Social media is getting more and more destructive and disruptive! Too much information to digest everyday, bikin otak penuh. Padahal 90% content-nya itu NGGAK PENTING! Banyak hal lain yang lebih penting dipikirin! Geez…
Gw ga perlu tahu temen2 gw lagi ngapain lewat IG Stories, ga penting. Ga perlu juga sharing apapun di IG Stories, ga penting. Ga perlu juga mengikuti semua isu sosial yang diomongin di X & Thread, ga pen—penting sih, kadang-kadang. Social media yang penting sekarang itu cuma TikTok! Can I get an amen? Wkwk~
Anyway that’s why I need that Bali no gadget detox (will write more about it later), supaya tau seberapa “kecanduan”-nya gw sama gadget dan bagaimana gw bisa mengatasi kecanduan itu. Mudah-mudahan bisa ya. Doakan! Pokoknya by the end of 2026, my screen consumption rata-rata harus 4 jam sehari maksimal, or below. There! A number target! Mamam tuh KPI!
Yang ketiga, praktek stoikisme. Stoikisme adalah filsafat kuno yang menekankan pada penerimaan, keberanian, dan kemandirian—kata Google. Pernah dibahas di videonya Marissa Anita yang ini dan ini. Nonton dulu aja.
Pengen sih praktekin, tapi caranya gimana ya? I mean, by theory keliatannya gampang:
#1 Latihan kemalangan, praktekan skenario-skenario terburuk, jadi udah siap apapun yang terjadi.
#2 Fokus kepada hal-hal yang bisa kamu kontrol (internal), bukan orang lain kontrol (eksternal).
#3 Lihat sesuatu dalam konteks yang lebih luas.
But idk deh prakteknya. I mean, I know for sure gw udah praktekin #1, always thinking about the worst case scenario, cari Plan A-Z. #2 kayaknya udah juga tipis-tipis. #3 yang masih jadi challenge buat gw. Masih susah buat gw melihat bird view atau helicopter view of the situation.
Kalo menurut video ini, caranya adalah dengan memetakan situasi dalam 4 kategori:
- Menurut saya
- Menurut orang sebelah saya [yang masih punya emotional attachment terhadap situasi tersebut]
- Menurut orang luar [yang tidak punya emotional attachment terhadap situasi tersebut]
- Apa yang terbaik untuk semua
Oke coba ya kita praktekan.
Yang keempat: Health Investment. I know this sounds lame, kayak dari tahun ke tahun pasti pake wacana pengen sehat, pengen olahraga, tapi action-nya minimalis. Nah, ga boleh kayak gitu tahun ini.
Tahun 2025, gw sempet detached sama olahraga karena hidup baru gw di Awe membuat gw terbuai dengan hal-hal yang jauh lebih menyenangkan dari olahraga seperti makanan2 enak, event2 lucu, orang2 baru, dll.
But then one day I realized lengan bagian atas bergelambir parah—which is normal kalo umur lo udah 50 tahun ke atas, tapi gw kan baru 30an, that’s totally not normal! Bentuknya jadi kayak jelly gitu lembek, eeewww~
So I need to get myself back to the gym asap. Well, ga bisa asap sih karena abis ini mau ke Bali sebulan lalu pulang-pulang udah puasa, jadi the soonest abis Lebaran. Gapapa, diniatin dulu aja.
Last but not least: menjadi lebih “peka”.
Actually ini agak sedih sih. Jadi beberapa minggu lalu, gw ter-connect kembali dengan beberapa handai taulan di Melbourne. Konteksnya: gw tadinya mau ke Melbourne bulan Januari ini untuk nonton musikal Anastasia, tapi batal. Sayangnya, gw udah beli tiket musikalnya. Daripada hangus, pengen gw jual aja tiketnya.
Gw reach out-lah ke temen-temen Indonesia yang dulu seangkatan di Melbourne, siapa tau mereka masih punya temen di sana yang berminat beli tiket gw. Salah satu yang gw reach out adalah Kakak Inunkk, kalo kalian pembaca blog gw sejak lama, mungkin inget beliau adalah salah satu bestie gw di Melb. Pernah gw ceritain di sini dan sini.
Kakak Inunkk menyarankan gw untuk nawarin tiketnya ke Mba Vita—yang adalah house mate merangkap ibu kos gw ketika semester pertama di Melb taun 2016 silam. Gw bingung, kenapa tawarin ke Mba Vita? Beliau kan udah for good ke Indonesia~
Ternyata Mba Vita udah balik ke Melb lagi untuk kuliah PhD dan sekarang sudah memasuki tahun ketiga!
I was like… WHAT? Gw berteman di IG sama Mba Vita and yes indeed beberapa kali gw liat update IG Stories-nya dia lagi di luar negeri, but I didn’t realize it was Melbourne~ Most importantly, never a single time I had the curiosity to ask her how she’s doing, what she’s up to, and where she is~ Segitu nggak pekanya… T.T
Another one, Kakak Inunkk juga menyarankan gw untuk mengontak Bunda dan Papi—orangtua angkat gw di Melb, pernah gw ceritain di sini.
Ide yang bagus, kalo buat Bunda dan Papi, niatnya mau gw kasih gratis aja tiketnya.
Gw kontaklah Bunda keesokan harinya, dimulai dari bertanya kabar. Kita udah nggak kontakan sekian lama. Interaksi kita paling cuma saling like/comment postingan IG, itupun Bunda yang lebih rajin melakukannya. Rasanya Bunda ga pernah absen nge-like postingan IG gw, tapi gw-nya hampir ga pernah melakukan hal yang sama di IG Bunda. I’m so sorry, Bund...
Anyway, ketika gw chat Bunda di Whatsapp, cara beliau menjawab chat gw, tidak seperti Bunda yang gw kenal. Bunda yang gw kenal selalu bernada ceria, suka bercerita panjang lebar, diselipin dengan jokes-jokes dan emoji-emoji yang menyenangkan, masih suka bercanda…
Ada nada sedih, lelah, dan frustasi di chat Bunda.
Ternyata Daddy mengidap kanker darah dan Bunda sekarang jadi caretaker-nya~ T.T
I mean, gw tau Daddy sudah tua, umurnya mungkin 85 ke atas, jadi somewhat bisa dimaklumi. Kanker darah pun common disease untuk orang kulit putih di sana.
But still, the idea of Daddy yang biasanya segar bugar penuh semangat, selalu good mood ga pernah bad mood, suka ngajak kita jalan-jalan, suka bercanda… sekarang terbaring lemah di tempat tidur dan Bunda… Bunda yang mungkin sudah berumur juga harus merawat Daddy sendirian, jauh dari siapapun, padahal mungkin Bunda sendiri juga lelah…
Ga tega banget… T.T
Most importantly, kenapa gw baru tau sekarang??? Bunda kan sering nge-like foto IG, apa susahnya sih reach out setaun sekali buat nanya kabar, atau as simple as ngucapin ultah atau Lebaran atau Tahun Baru???
Bunda beberapa kali ke Indonesia, I knew damn well if she’s here, Bunda selalu ngepost IG Stories kok. Rumahnya deket, di Cawang. Apa susahnya sih samperin bentar??? Searah sama rumah kok, tinggal turun di LRT Cawang!
I am very disappointed in myself. I am really really sorry… T.T
Dua kejadian ini membuat gw reflect betapa tidak pekanya gw sama orang-orang yang bener2 penting dalam hidup gw. Instead gw malah memperhatikan hidup orang2 yang gw baru kenal sebulan dua bulan, atau yang ga ada kepentingannya di hidup gw selain karena pekerjaan, atau yang di-add IG nya cuma karena kebetulan~
Ngapain, Seeta??? Ngapain???!!!!
Buka mata lo!!! Focus on what really matters!!! Geez…….
Jadi, penting untuk dimasukin ke resolusi, 2026 harus bisa lebih peka.
Reconnect and reflect.
Baik, sekian untuk kali ini. Untuk 2026 yang lebih baik dari 2025, cheers!

No comments:
Post a Comment