Thursday, December 7, 2017

Me Wassup #45: Menuju Pulang




Me right now. Casually ngeblog sambil mantengin jemuran di luar, karena menurut weather, 2-3 jam lagi bakal ujan. Jadi gw standby ketika mulai gemerintik langsung angkat jemuran.

Oh domestic life.

Not that I’m complaining tho. I actually like this kind of domestic life. Gw nyuci itu bisa 2-3 minggu sekali, nungguin baju kotor numpuk. The best thing is nobody complains~

Kalo di Jakarta pasti nyokap udah ngomel2 ngeliat cucian numpuk. Padahal sih nothing to be worried about, biarin aja numpuk, toh pada akhirnya dicuci.

Kalo di sini, tanggung jawab langsung kepada diri sendiri. Dibiarin numpuk berarti ga bisa dipake ketika mau dipake. Yaudah sih, tinggal pake baju lain~ Ga usah dibawa pusing.

Menunda nyuci = save detergent = save water = save the environment.

#bulethinking

Anyway, hi guys! How y’all doin?

Today judulnya mau kasih updates updates updates buat yang penasaran. Wkwkwk~~

Okay so, updates pertama adalah…….

TIKET KEPULANGAN SUDAH DI TANGAN!

Hohohohoho~~

Yepz, setelah buru2 bikin graduation report dan submit ke Purpose, gw langsung pesen tiket pulang. Tapi yang namanya berurusan dengan Purpose, ga mungkin ga DRAMA~ (-____-)

Drama pertama adalah tiket di tanggal yang gw mau udah abis. FYI, gw pengen kepulangan gw itu setelah Natal tapi sebelum tahun baru. My ideal departure date would be 26 Dec. Purpose mengusulkan tanggal lain, yakni 2 hari setelah tanggal yg gw mau. Jelas ini berita buruk, karena semakin lama gw stay di Melbourne, pengeluaran semakin banyak, sedangkan keuangan semakin menipis. No no no~ Bad idea~

Tapi waktu itu situasinya gw ga punya pilihan, akhirnya gw iyain. But then, karena Purpose responnya lama, ketika akhirnya mereka mau booking, tiketnya udah abis juga~ (-_________-)

That was wild~ Otak gw udah berpikiran macem2. Kalo gw baru dapet tiket Januari mampuslah, mau hidup pake apa di kota super mahal inihhh~~ Mau tinggal di manaaa karena lease gw di rumah sekarang abis bulan Desember~~

Kacau sih.

Gw pun mencoba explore semua options. Rikues maskapai lain yang bukan official airlines. Ga direct flight pun gapapa, mau transit di Bali kek, Sydney kek, terserah. Pokoknya pulangin gw sebelum 2017 berakhir!!!

Alhamdulillah ada titik terang. Ada satu tiket kosong di tanggal 24. Direct flight. Tapi pagi2 buta. OKELAH HAJAR!

Harusnya gw udah bisa bernapas lega ya setelah melihat titik terang itu. But nope, the drama continues. Katanya orang tiket, tiketnya belum bisa diotorisasi karena graduation report gw belum di-approve, yang belakangan gw ketahui karena gw belum meng-upload ijazah/surat kelulusan.

Lah, kan belum ada, bray~

Ijazah gw kan belum terbit karena gw belum wisuda~

Are you saying… gw ga bisa apply tiket pulang kalo gw belum wisuda?????






Kalo nungguin wisuda dulu sih yassalam gw baru bisa pulang tahun depan~

Ga bisa~ Ga bisa~

Gw mau tiket itu SEKARANG!

Negosiasi dimulai. Jelasin kondisinya dari A sampai Z. Bahwa gw wisudanya masih lama. Bahwa Unimelb baru mengeluarkan ijazah ratusan tahun kemudian. Bahwa birokrasi di Unimelb itu tidak berpihak pada mahasiswa. Bahwa menunda kepulangan gw berarti membiarkan gw untuk menjadi gelandangan di kota paling layak huni di dunia 7 tahun berturut-turut. Bahwa kondisi tersebut tidak bagus untuk hubungan diplomasi Indonesia dan Australia ke depannya, yang sudah dijaga keharmonisannya dengan baik oleh Presiden Jokowi dan PM Malcolm Trunbull.

So please. I beg you. Give me my goddamn ticket.

LOL~

Long story short, negosiasi berhasil. Tiket sudah di tangan. :’)

Countdown 17 hari menuju pulang. So excited yet so sad. False alarm tho, paling gegara PMS aja~ wkwk~

Okay moving on.

It is now 12 PM AEST. Gw sedang menulis blog karena gw punya 1 jam untuk menulis sebelum harus mandi, makan, terus cabs ke dokter karena ada appointment jam 3.

Ke dokter??? Kenapa, Ta??? Sakit???

Yes, gw sakit.

Minggu lalu ada storm di Melbourne dan gw terjebak (lagi) di dalamnya. Even worse karena gw bawa 2 manusia bersama gw waktu itu, jadi mereka kena storm juga. So sorry Ira and Citra yang lagi jadi turis di Melbourne~ T.T

Oh yeah, seminggu kemarin gw sibuk jadi tour guide buat Ira dan Citra. Tourguiding adalah satu2nya pekerjaan yang bersedia gw lakukan voluntarily, karena gw basically suka jalan-jalan dan berbagi pengetahuan pada orang2.

Recap sedikit pengalaman tourguiding Ira n Citra, 3 hari pertama flawless. Karena Melbourne cerah (super panas!), jadi turis Jakarta bahagia. Gw bawa mereka ke sekitar city, terus ke countryside Yarra Valley (kebetulan gw juga belum pernah ke sana karena ga terjangkau public transport, tantenya Citra yang baik hati nganterin kita pake mobil! Uhuy!) dan Dandenong Ranges.

Kali ketiga gw ke Dandenong Ranges, tapi ga bosen. Kali pertama wisata cantik sama Anggie dan Prof. Sangkot summer tahun lalu. Kali kedua hiking di Thousand Steps sama Mawar, Mamat, dll winter kemarin.

Si Ira sebenernya nyari spot2 yang Instagramable. Gw udah takut doi minta makan di Miss Marple karena restorannya emang lucu, tapi makanannya biasa aja dan mahal~ Thank God dia skip~ LOL~ Ga ngeh kayaknya ada restoran itu~ Wkwkwk~~

Puas menjelajah gunung, kita lanjut ke Yarra Valley yang kata orang2 bagus, pas sampai sana, ah biasa aja~ Ya kebon anggur aja gitu~ Ga bisa metik anggur/nyobain produknya (kecuali bayar maybe)~ Susah gw mah bukan pecinta alam, jadi ngeliat ijo2 doang buat gw monoton, bosen~ Mending wisata kota, lebih banyak featurettes~

Anyway, setelah dikasih berkah hari cerah di 3 hari pertama, 4 hari berikutnya, we were not so lucky karena Melbourne storm. Yes, storm di tengah summer, WHAT A SENSE OF HUMOR MELBOURNE THANK YOU SO MUCH~

Storm-nya lumayan dahsyat karena setiap hari kita sampai di-SMS sama Victoria State Emergency Service, disuruh jangan keluar rumah kalau bisa, jangan traveling jauh2, jangan lupa masukin binatang piaraan, dll. Parno level is high.

Tapi ya gimana, masa 2 turis ini ga jalan2 kemanapun? Gw udah saranin stay di rumah tentu saja, gw kan perwakilan pemerintah sini istilahnya. But I can see that disappointed look in their eyes ketika gw bilang mending stay di rumah aja. So, I guess we need to get going anyway.

Yaudah deh, sakit. Sampai sekarang belum sembuh2. Makanya entar sore ke dokter. Mau minta di-prescribe vitamin, soalnya harus sembuh sebelum Nanien dateng hari Minggu. Mau jalan2 part 2 soalnya. Harus sehat dan kuwat!

Okay~ Apalagi yah updates?

Oh~ Setengah barang2 gw udah dikargoin kemarin. Mudah2an selamat sampai tujuan di Jakarta. Barang2 gw ga banyak kalo dibandingin sama temen2 gw, cuma 40kg. Pas ditimbang cuma 32kg~ LOL what a joke~ Tau gitu belanja lebih banyak~ Wkwkwk~



Semoga selamat sampai tujuan. Amiennn~~ Lastly, menuju unsubscribe Netflix 2017, gw lagi kejar tayang Mindhunter (which is good, tapi pace-nya damn slow, jadi selalu terdistraksi kalo nonton) dan Rick and Morty. Abis nonton ulang The Punisher yang super awesome (Frank Castle/Jon Bernthal idolaqu!).


Udah ah segitu dulu aja updates-nya. See ya!

Sunday, November 26, 2017

It's Arts and Cultural Management

 I can’t believe it!

Bahkan di h-3 minggu kelulusan, masiiiihh aja ada orang yang salah mengira jurusan kuliah gw. This is insane!

Gw itu sering banget dikira jurusan Global Media and Communication (GMC) atau Communication and Media Studies (CMS). Rata-rata orang yang tau gw kuliah jurusan Ilmu Komunikasi waktu S1 atau orang yang tau kalo dulu gw kerja sebagai jurnalis, pasti mengira gw kuliah jurusan GMC atau CMS~

Mungkin karena branding jurnalis gw terlalu kuat.

Don’t get me wrong, I still love being known/called a journalist. I was a proud journalist and I still think journalist is the most awesome job in the world.

Sayangnya, kecintaan gw pada dunia jurnalisme ini tidak cukup memotivasi gw untuk mendalami ilmu jurnalisme, studi media, atau semacamnya. Karena di samping mencintai dunia jurnalisme, gw juga main hati sama dunia entertainment—sebuah dunia yang udah gw suka sejak kecil dan selama ini hanya bisa mengamati dari jauh, dari kacamata seorang jurnalis. Tapi belum pernah gw masuki sebelumnya. Walaupun sudah sering bermimpi untuk bisa masuk ke dalamnya.

Keputusan gw untuk ambil jurusan yang beda banget sama ilmu komunikasi/jurnalisme untuk S2 salah satunya dimotivasi oleh hal tersebut. Menuntut ilmu lain supaya bisa mengantarkan gw masuk dunia entertainment. Bukan sebagai artis, tapi lebih ke orang di balik layar yang bantu-bantu sepak terjang artis atau artwork atau produk entertainment atau whatever you wanna call it. 

To manage them, making sure to give them platforms to express themselves. To be heard, to be seen, to be acknowledged, to be appreciated.

Demikian, gw, seperti majority orang Indonesia pada umumnya, mengambil jurusan manajemen untuk S2 (yes, jurusan gw kalo di Indo gelarnya setara dengan Magister Manajemen atau MM).

Sounds conservative? Indeed, tapi manajemen yang gw ambil spesifik untuk satu industri, yakni arts and culture. Karena menurut gw percuma mempelajari ilmu manajemen secara general untuk S2. Itu tugas S1~

Mempelajari manajemen khusus industri seni dan budaya membuat pemahaman dan pemikiran gw lebih terarah. Pengaplikasian teori yang tersedia bisa lebih tepat sasaran dan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan industri.

In conclusion, I know what I wanna do and what I wanna be. To be specific, I wanna take on a management role in entertainment industry—which is part of arts and cultural industry. That’s why I took arts and cultural management—literally, that is the name of my course.

I studied Arts and Cultural Management (manajemen seni dan budaya) and will be graduating in couple of weeks.

So, jangan salah lagi, ya. :)