Saturday, April 14, 2018

FIRST WEEEEEEKKKKK~~~

Yeah. I survived the first week.

Bagaimana rasanya? RUARRRR BIASAAKKKKK!!!

I got soooo many things to do and more to come~~~

Gila deh e-commerce! Gokil abis hectic-nya!

Se-hectic2nya kerja di XXXXX dulu ga pernah sampai se-hectic ini~

Literally all hands on deck, semua orang ngerjain semua kerjaan.

Ketika jobdesc gw di awal dijelaskan hanya A, pada kenyataannya gw mengerjakan A-Z. Ga boleh komplen, karena semua orang pun begitu~

Ngerinya lagi, semua performance dihitung pakai KPI (Key Performance Indicator) yang ngaruh langsung ke bonus bulanan. Kalo KPI lo rendah = ga perform = ga dapet bonus. Begitu juga sebaliknya.

Not gonna lie, this is the first time I got into this kind of system. Kalo di XXXXX, performance dihitung bagus kalo bos dan pembaca suka karya lo. Kalo di WKWWK, performance dihitung bagus kalo deliverables ke klien terpenuhi semuanya. The thing is, performance bukanlah hal serius yang harus ditanggapi segera. Cukup tau aja. Mau karya lo bagus/jelek, kinerja lo sama aja. Ga ngaruh ke gaji/bagaimana treatment perusahaan ke elo.

Kalo di Dian, karena gw tugasnya bikin konten kreatif, KPI gw dihitung dari jumlah engagement setiap konten yang gw naikin, which is angka. Scary, isn’t it? Totally Obyektif, bukan subyektif. Tapi mungkin sistem kayak gini lebih bagus, karena jelas dan konkret.

Positifnya adalah gw bisa belajar banyak. So far gw udah ngerjain cukup banyak and still excited about what’s to come. Hitung2 sambil getting to know my capability-lah, sejauh mana gw bisa perform, sejauh apa kreativitas gw bisa diekplorasi. Seminggu pertama ini sih, masih kaget. Masih kicep di meeting, masih cengok kalo ditanya, masih roaming kalo denger orang ngomong bahasa planet. Mudah2an the following weeks akan getting better. Bismillah.

Then, sensasi apalagi ya yang gw temukan?

Oh, working with millenials! LOL~

As expected, gw jadi salah satu yang paling tua di tim, untungnya bukan yang paling tua, hahahaha~ So yeah, Dian isinya 80% millenials. Bos langsung gw aja millenials, angkatan 2010 kuliahnya. Maybe this is the trend of e-commerce, or maybe just Dian, I don’t know.

I don’t mind at all. Gw ga masalah kerja bareng millenials, selama mereka bisa jadi rekan kerja yang asyik, profesional, inspiring, visionary, hard-working, good leadership skill, dan helpful (I just describe my boss by the way), I don’t mind at all.

Malah gw kagum sama millenials. Mereka itu orang2 hybrid, pinter2 banget! Bisa multitasking, very very creative, semangat 45 setiap hari. Gw yang lebih tua kadang merasa outshined jujur aja. Tapi at the same time seneng juga, karena bisa belajar dari mereka.

So far Dian oke, walau hectic-nya ga ketulungan. Yang masih membuat gw ga nyaman adalah sistem partner yang diberlakukan ke gw. Jadi ceritanya gw di-assign untuk jadi partner seorang social media analyst. Kita berdua hand in hand menangani online marketing. Kerjaan gw literally kerjaan dia dibagi dua, walau gw pun sering di-assign ke kerjaan lain yang bukan online marketing.

Partner gw ini cewek, 4 tahun lebih muda dari gw, lulusan UI juga. Orangnya sih baik, asyik, cuek, tomboy, mirip2 gw sih karakternya~ Gw semacam berkaca gitu kalo ngeliat dia. So far gw sama dia baik2 aja, mudah2an ke depannya juga terus baik2 aja.

Tapi gw mencium potensi konflik sih, karena 1) Batasan kerjaan gw dan kerjaan dia ga jelas, bisa tabrakan. 2) Gw yang masih baru sering banget nanya2 ke dia, bisa bikin dia ga nyaman. 3) One day kalo gw excel, dia akan jealous, vice versa, bisa bikin relationship jadi awkward dan sentimen. 4) Kita sama2 cewek yang sebulan sekali diuji hormonnya sehingga dinamika partnership bisa terganggu.

Zaman kuliah gw pernah partner sama seorang cewek dan teamwork kita berakhir dengan air mata dan trauma berkepanjangan simply karena gw sama dia sama2 keras dan ga ada chemistry. Sampai sekarang gw sama dia ga ngomong lagi.

Gw belum pernah sih dipasangkan kayak gini. Selama ini selalu dalam tim minimal 5 orang, either jadi member atau leader. One day kalo satu dari 4 gejala yang gw sebutin tadi terjadi, I think solusinya gw akan jelasin ini ke bos gw si millennial, jadi pinter2nya leadership dia ajalah gimana menyatukan chemistry gw dan si partner gw ini supaya bisa kerja dengan sinergis.

Mudah2an sih si bos millennial punya solusi, karena kalo nggak ya wassalam gw harus undur diri alias resign. Saya sudah tua. Saya tidak punya waktu untuk drama-drama ga penting di kantor~

Dian punya waktu 3 bulan untuk membuat gw betah. Sama halnya dengan gw punya waktu 3 bulan untuk “berteman” dengan Dian dan segala isinya. But just in case, I’m gonna keep trying to apply for another job~

Oke segitu ajalah tentang Dian.

Next gw mau curhat dikit boleh ya~

Akhir2 ini gw merasa hidup gw less-passionate. I don’t know why, mungkin masih efek depresi berkepanjangan yang gw alami 3 bulan belakangan, mungkin karena gw baru mulai kerja dan kaget sama segala pressure-nya, mungkin karena pekerjaan gw sekarang tidak in line dengan interest gw (told you before that I take this job for the sake of my mental health, not career advancement) atau karena kondisi fisik gw yang lagi ga fit~

Gw merasa ga bersemangat, merasa menyia-nyiakan hidup yang indah ini~ Tapi ga tau mesti ngapain, karena gw ga punya passion~ Bahkan sesimpel ditanya “hobi lo apa?” aja gw ga punya jawaban, coz I got nothing that I love right now…

Kenapa ya?

Kondisi ini membuat gw takut kalau dalam waktu dekat gw ada wawancara kerja, karena akan ngaruh ke aura yang gw bawa. Redup. No matter how hard I try to look passionate and excited, no matter how hard I try to impress everyone with my skill, experience, and personality, ya tetep aja ga berkesan kalau aura gw redup~

Huft. Adulting is hard.

I know I should end this post with a motivational quote, but I just have no idea~

Jadi udah ah, gitu aja.


Bye, guys!