Sunday, June 27, 2021

Cerita dari 2013

 Kemarin got into a conversation with a friend. Ngomongin VOA.

Gw lupa udah pernah share di blog ini atau belum, 8 tahun yang lalu gw menjadi salah satu finalis VOA fellowship.

Oh tidak, gw ga menang in the end. Tapi kala itu jadi finalis aja udah seneng banget sih.

Gw inget jaman itu VOA goals banget buat anak Jurnal-UI. Kita istilahnya udah di-brainswash untuk ikutan program itu sejak jaman kuliah. Para dosen senantiasa mengingatkan, ayo jadi jurnalis yang baik, lalu cobalah apply VOA, dia punya program fellowship bagus banget. Beberapa alumni sudah mencoba, ada X, Y, Z yang sudah berangkat ke Amerika duluan, blahblahblah.

So yeah, gw pun mendaftar. Waktu itu persyaratannya gampang banget, gw cuma diminta menulis essay, menjawab 4 pertanyaan. Gw inget mengonsultasikan jawabannya ke alm. Bang Mimar untuk minta opini dan penilaian. Essay itu kemudian dikirimkan ke panitia bersama hasil tes TOEFL.

Udah, gitu doang. Ga harus nyiapin dokumen2 heboh macem beasiswa Purpose~

Eh siapa sangka di usaha pertama langsung dipanggil wawancara!

Pastinya seneng banget, tapi juga takut, karena saingannya pasti jurnalis2 senior yang sangat expert di bidangnya. Sedangkan gw baru 1,5 tahun di XXXXX saat itu, masih sangat hijau~

Gw minta izin ke Kak Asri—bos di XXXXX kala itu, untuk cuti setengah hari demi bisa mengikuti wawancara. Gw inget Kak Asri dengan berat hati mengizinkan, dan berkata, “Aku dukung kamu, tapi aku sedih, karena aku yakin kamu pasti diterima.”

Bittersweet rasanya. Saat itu gw juga masih sayang sama XXXXX, lagi enjoy2nya kerja.

Berangkatlah gw ke lokasi wawancara pagi itu, naik taksi yang dibayarin XXXXX. Wkwkwk~~

Tahapan seleksinya ga banyak, cuma 1 hari yang menentukan segalanya. Dalam 1 hari itu ada wawancara dan tes translation berita. Gw kebagian translation berita dulu. Gw diantar ke ruangan dengan komputer tipe jadul, dikasih 2 lembar berita dalam bahasa Inggris yang harus gw terjemahkan. Maybe I wasn’t doing well on this one either, karena waktu itu bahasa Inggris masih oon~ wkwk

Kemudian interview setelahnya. Gw ga inget persis kayak gimana situasinya. Pokoknya ada 2-3 orang on the spot, sisanya di Amerika via Skype. Termasuk jurnalis2 senior VOA yang dulunya mantan jurnalis TV di Indonesia. 

Totally forgot how it went down, lupa ditanyain apa aja, lancar atau nggak jawabnya, did I stutter, did I express my vision and mission clearly?

Ya pastinya nggak sih, hahahaha~ Atau ada yang lebih baik dari gw.

Well, Tuhan masih sayang Kak Asri, gw akhirnya tidak diterima. Lumayan patah hati dan ga terima, to the point gw shamelessly dateng ke “upacara pelantikan” sekaligus “selametan” kandidat yang berhasil, just because gw ga mau "putus hubungan" cepet2 dari VOA. Sekarang kalo dipikir2, ngapain sih dateng?? Lo ga punya dignity apa?! Wkwkwk~

Tapi sedihnya ga lama sih kayaknya. Ketika keesokan harinya udah ketemu artis dan nonton konser lagi ya langsung seneng lagi dan lupa deh kalo lagi sedih~ hahaha

Emang bukan rezeki gw di VOA. Untungnya semangat gw ga patah, masih terus nyala sampai 3 tahun kemudian mengejar beasiswa Purpose, yang Alhamdulillah berhasil. :)

But okaylah, it was a fun experience worth to remember. Bahwa gw pernah at least dipertimbangkan untuk ada di sana. Menjadi jurnalis media besar di negeri Paman Sam. Mengejar mimpi.

Anyway, ada epilog sedikit. Gw buka2 email lama yang ada VOA ini. Lalu menemukan sesuatu yang mengejutkan!



xD

Crazy to think I was in the same nomination as him! Semoga rezekinya menular! 

Saturday, June 5, 2021

Decision is made

 Sooo… I made the decision yesterday. Sebuah keputusan berat, mungkin terberat pada konteksnya yang pernah gw rasakan. Sampai sekarang hati gw masih berasa berat. Asam lambung dari kemarin ga turun-turun. Mau makan ga napsu, mau ngapa2in serba salah.

Ini beda banget sama sensasinya dari resign sebelumnya. Resign sebelumnya, the moment the offer is out, I was so happy! Literally can’t wait to tell everybody that I was finally out of this hell hole~

Sekarang? Ya ampun, rasanya ga kuat ngomong ke orang2. Mereka yang sudah menjadi “keluarga” gw 9 bulan terakhir.

It’s too short. It really is. 

I really really want to cry.

But the decision is made and there’s no turning back. Gw sudah mempertimbangkan dari segala sisi (hopefully) dan memang ini yang terbaik.

Gw memang mengorbankan passion, meninggalkan dunia yang gw suka (entertainment) kali ini dengan sadar, meninggalkan teman2 baik dan solid, dan membuat CV tampak jelek karena kerja kurang dari 1 tahun. Tapi semua ini gw lakukan karena gw melihat kompensasi (karena ada kebutuhan urgent untuk membeli rumah—demi nyokap), kestabilan perusahaan dalam jangka panjang (dibandingkan yang sekarang masih ga jelas nasibnya, kantor baru ada di posisi mau ngapa2in risk free, karena growth-nya lagi kenceng banget), dan mencoba sesuatu yang benar2 baru (sering kalanya gw capek ngerjain marketing, capek berhubungan dengan user, the next one I will be in product team, totally new field).

Ini juga berhubungan sama short term goal gw: buka small business, dan long term goal.

Gw baca beberapa artikel buat orang2 galau pindah kerja, rata2 mengusulkan untuk mencoba menjawab pertanyaan yang sama: apa tujuan hidupmu 5-10 tahun ke depan, pikirkan pekerjaan mana yang bisa membantumu meraihnya.

5-10 ke depan gw pengen jadi expert staff di pemerintahan. Terinspirasi dari mantan colleague di Dian yang resign dari jabatan tingginya untuk menjadi staf ahli BUMN. Gw mau jadi staf ahli di kemenparekraf misalnya, yang menangani industri kreatif, atau kominfo, atau kemenristek, atau kemendikbud, atau kementrian BUMN, whichever-lah.

I think that is so cool. Mengumpulkan ilmu, skill, dan pengalaman sebanyak2nya dan menggunakannya untuk melayani rakyat. 

That’s why gw perlu platform yang bisa memberikan gw koneksi dan akses ke sana, dan itu sayangnya tidak akan gw temukan jika gw bertahan di kantor gw sekarang. I mean, sejauh apa sih social media manager bisa melangkah?

Kantor baru insya auloh, mereka lagi gencar2nya government relation. Maybe I can jump on that too! #wishfulthinking

So yeah, let’s aim for that.

Sekarang gw ga paham yang jadi kegundahan gw apa. This is what I want, I mean, back in the days, gw bersumpah bahwa gw ga akan resign dari QQ kecuali gw dapet offer dari kantor baru ini.

Nah sekarang kejadian!

Moral of the story: mulutmu harimaumu. Wkwk~~

Gw yang pasti takut karena role-nya bener2 baru dan timnya pun baru, takut ga bisa perform. TAPI, HR-nya bilang akan ada performance review 2 bulan sekali, yang mana KPI bisa disesuaikan kalau memang tidak memungkinkan. Manager/supervisor pun akan selalu mengusahakan KPI achieve. 

Gw juga takut bos baru gw sulit diajak komunikasi—seperti di QQ sekarang~ Duh sungguh traumatis banget deh~ Tapi mudah2an nggak, karena dia masih muda dan bahasa Inggrisnya a lot better. Waktu interview pun terdengar asyik. 

Gw juga takut ga punya temen, walaupun sepertinya ga mungkin sih. Karena yang mantan anak Dian aja di sana ada 3 orang. Sama satu lagi temen kuliah, yang sudah konsultasi sebelumnya juga, dan dia mendukung. Katanya company culture-nya bagus. HR pun so far sangat suportif—orang SG, kemajuan, lebih make sense isi otaknya~

Gw takut semua itu bikin gw ga betah, dan berujung pada resign sebelum waktunya lagi~ *amit-amit*

Mudah2an semua ketakutan gw ini wajar. Yang penting komunikasi haru berjalan dengan baik. Pelajaran penting dari kantor yang sekarang kan itu, komunikasi ga boleh putus. Harus sama2 mau mendengarkan, dan kalau ada masalah bisa cari solusi bareng2.  

Amien ya rabbal alamin. Baru pertama kali nih gundah setelah mengambil keputusan. Biasanya gundah ketika menunggu keputusan. Wkwk~

Mungkin gw akan solat biar lebih tenang.

Yuk mariii~~