Thursday, December 31, 2020

You did good this year :)

Hi, guys! How y’all doin?

Okeh ternyata masih sempet ngeblog sebelum 2020 berakhir~

Di sosmed lagi rame bahas achievement atau proudest moment tahun ini. Beberapa di antaranya menginspirasi, so here I am.

Achievement yang paling gw banggakan tahun ini tentu saja topik yang 5 bulan belakangan paling sering gw bahas di blog ini—resign dari Dian. *applause* 

Ini huge matter buat gw guys, karena konteksnya dengan resign ini gw ga cuma meninggalkan kantor yang semi-toxic, tapi juga meninggalkan pekerjaan dan industri yang gw sangat ga suka.

Ya lo bayangin aja gw orang media/entertainment, basic-nya jurnalisme, specialty-nya entertainment, kecemplung di Dian disuruh jualan barang~ Kan random abis~ 

Setiap hari selama kerja di Dian gw selalu mempertanyakan kenapa gw harus melakukan pekerjaan ini? Kenapa gw harus jualan barang? Kenapa arah karier gw malah kesini? Kenapa nasib gw gini amat? Bayangkan setiap hari selama 2,5 tahun gw terus menerus mempertanyakan hal yang sama, menurut lo capek ga?

So then when I finally got to resign and on top of that getting a job back to media and entertainment, HOW DOES THAT MAKE ME FEEL?

So yeah I’m so damn proud of myself and no one can take this happiness away from me. 

Achievement kedua mungkin agak cliché tapi dengan situasi lagi di tengah pandemi patut dibanggakan: staying sane and alive. 2020 sungguh bukan tahun yang mudah untuk dilalui. Virus jahat mengintai dimana-mana dan siap menyerang kapan saja, semua orang berpotensi jadi carrier, termasuk orang terdekat kita. Berita kematian datang setiap hari, juga berita2 miring, hoax, dan ucapan2 penebar kebencian yang makin bikin stres. We are forced to stay home berbulan-bulan to the point semua orang berpotensi jadi gila. 

It’s definitely not an ideal situation to live in, so as I'm here now writing this blog in one piece, healthy, and sane, imma just be thankful. 

Achievement ketiga berhubungan sama yang pertama: masih punya pekerjaan. Again, it’s a tough situation. Businesses are going down. Millions of people were laid-off. A fast-food chain as big as Pizza Hut is forced to sell their pizza in the street in bogo deals~ 

Dari awal gw merasa isu pengangguran ini sama pentingnya dengan isu kesehatan, makanya gw pro pemerintah ketika mereka memutuskan untuk ga total lockdown—pun ketika akhirnya PSBB dilonggarkan karena alasan ekonomi harus terus jalan. Mungkin ga keliatan tapi jumlah orang yang jadi pengangguran jauh lebih banyak dari jumlah orang yang kena covid. Sebagai orang yang pernah nganggur berbulan2 gw mengerti bagaimana rasanya. It’s like a never ending nightmare. Belum lagi kalau punya tanggungan, wah… untuk bisa tetap waras saja rasanya sulit~

Jadi, kalau sekarang masih punya pekerjaan, bersyukur guys. Setidaknya, masih ada nasi di rice cooker.

Achievement keempat agak duniawi dikitlah ya, beli ipun. Xixixixi~~ Sama beliin robot pembokat buat nyokap. Mayan buat bantuin nyapu ngepel. Lantai jadi kinclong banget. Majikan puas. Next KPI beli lemari yang bisa sekaligus nyetrika baju~ LOL~

Achievement kelima adalah smoothing rambut sendiri. Of course belum se-advance gunting rambut sendiri, tapi udah lumayanlah. Menghemat up to 2 juta. Hasilnya lumayan—tentu tidak sempurna tapi okelah. Pandemi ini membawa dampak positif ke rambut gw ternyata, sekarang jadi ga sekaku dulu, gampang diatur, ga megar, cakep deh. That’s why mau panjangin lagi. 

All in all, gw mau mengucapkan selamat kepada diri gw sendiri for surviving 2020. You did good this year, I am so proud of you for achieving so many things. <3

Achievement2 yang gw sebutin di atas, mungkin ga segitu wow-nya kalo dibandingin sama orang2 yang mulai bisnis baru, atau dapet promotion di kantornya, atau lulus kuliah S3, atau menikah/punya anak. Tapi achievement2 itu berarti buat gw, setidaknya membuat 2020 terlihat tidak semenyebalkan atau seaneh itu. Hwehehehe~

So yeah, vaksin mana vaksin, I can’t wait to mark yet another history, let’s rock 2021! I have a good feeling about this, coz CHUENIWAN~ Wkwkwk

Bye, hoes~

Sunday, December 27, 2020

Lessons from ‘Soul’ movie: simple things life has to offer

 Hi, guys! How y’all doin?

cred: IG @pixarsoul

Kemarin abis nonton film ini di Disney+. Akhirnya akun Disney+ kepake juga setelah subscribe buat setahun sejak mereka launching September lalu (mumpung promo 200k/tahun). Quite surprising, karena awalnya kirain dengan embel2 “Disney” gw akan lebih loyal nonton di situ dibanding Netflix. Ternyata nggak, konten2 Disney cuma ditonton musiman, kalo lagi ada momen atau kalo lagi mood aja. Gotta find a new way to nurture them user, Disney+!

Anyway~ So yeah, dengan embel2 Pixar dan digital marketing yang kenceng banget seminggu ini, akhirnya terjual untuk nonton Soul. A bit boring—I would say, karakter2nya kurang kuat, walau isu yang diangkat relatable banget sama kehidupan sehari2. Tentang getting lost in the zone—sebuah fenomena yang kerap dirasakan orang2 yang bekerja di industri kreatif (well, industri lain juga sih, it can happen to everyone), ketika inspirasi berhenti datang, yang mengakibatkan karya-karya kita tidak fresh lagi, terjebak di pola yang berulang.

Banyak yang bilang itu tandanya kurang liburan, atau udah mesti resign, atau saatnya sekolah/belajar lagi, atau yang negative dikit: syndrome of depression. Apapun penyebabnya, yang pasti solusinya beda2 buat setiap orang. Jadi ga bisa digeneralisasi. Whatever works for you doesn’t mean it will work for me too~

Itu pelajaran pertama yang bisa diambil dari Soul. Pelajaran kedua adalah supaya kita lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup. Menurut gw ini lebih penting sih, karena secara ga sadar manusia emang sering taking for granted kehidupan yang mereka punya. Fokusnya cuma sama ambisi dan prestasi. Kadang2 hal2 negatif juga lebih diperhatiin sampai capek sendiri karena menyita pikiran dan tenaga. Padahal banyak hal2 kecil yang tersedia dengan sendirinya di sekitar kita 24/7 tanpa perlu effort buat dapetinnya. Simple things to be thankful for. 

Ini hal2 simpel yang bikin gw thankful di kehidupan sehari2:
- bangun tidur nggak pake alarm
- sarapan nasi goreng/indomie bikinan nyokap
- orang2 sekitar compliant pake masker
- setiap tempat yang gw kunjungi protocol covidnya lengkap 
- dapet duduk di busway
- disapa selamat pagi sama staf kantor
- morning tea/coffee
- boba hunting
- internet lancar
- ngobrolin drakor baru sama temen2
- jalan-jalan sore di SCBD
- Christmas deco di SCBD
- lift di halte busway GBK berfungsi dengan baik
- pulang tenggo
- rumah wangi diffuser 
- kamar ga berantakan 
- fresh bedding
- sempet ngeblog minimal seminggu sekali
- ngemall dan window shopping
- belanja snack2 lucu di grand lucky
- pijet
- creambath
- nail art
- tidur minimal 8 jam 
- nonton Brooklyn 99
- hot bath after a long and tiring day
- scrolling tiktok feed buat nonton video2 lucu

Bye now!

Oh, in case I don't get to write again until the new year, HAPPY NEW YEAR! 

Sunday, December 20, 2020

Brand yang bikin gw loyal - #2 MUJI



OMG I L.O.V.E MUJI!

I love everything about it.

Konsepnya: “No Brand” brand. Ga pernah tuh di produk2nya ada tulisan Muji segede2 gaban buat branding. Bersih.

Brand berbicara lewat kualitasnya. Juga di design dan konsep minimalisnya. Menurut gw ini keren banget. 

Gw sudah mencintai Muji sejak lama, tapi baru bisa afford beli barang2nya kira2 tahun 2016 di Australia. Sedih, ya? LOL~

Kecintaan ini bermula dari hobi mengunjungi toko offline Muji di PI (sekarang udah ga ada) dan GI. Bikin betah banget tokonya. Masuk ke sana berasa masuk ke rumah idaman. I love every spot and the way they curate the collection.

Ketika pindah ke Aussie, toko Muji di Emporium Melbourne lebih bikin betah lagi, karena koleksinya lebih lengkap dan tokonya harum sekali. Sejak saat itu mulai deh beli2 barangnya. 

Dimulai dari essentials. Waktu itu kondisinya lagi winter di Aussie, jadi gw beli kaos kaki segepok. Mayan murah, $20an udah dapet 5 pasang. Kualitasnya JUARA! Literally gw pake di rumah dan di luar rumah. Lagi tidur, jalan, olahraga, piknik, dll selalu gw pake. 

Terus mulai beli peralatan kuliah juga, seperti stationary dan notebook. Mahal sih. Tapi ga nyesel, karena kualitas bagus. Pulpennya enak banget dipake. Enteng, ga bikin capek nulis. 

Ketika liburan, ada rencana traveling, jadi beli kebutuhan traveling Muji To Go: bantal pesawat. Canggih banget dia punya yang panjangnya adjustable gitu. Super soft pula pas dipake. I love it!

Sebenernya sampai sekarang masih kepengen beli koper Muji To Go yang keren banget itu, tapi nggak diskon2 euy.. Masih awet di angka 2 jutaan buat koper kabinnya. 

Memasuki summer di Aussie, butuh T-Shirt yang adem buat piknik/main, saat itulah berkenalan dengan Muji Fashion. Koleksi T-Shirt-nya mantap, berbagai macam motif dan warna. Ga mahal2 amat, $15an kalo ga salah. Sampai tulisan ini dibuat, gw udah punya 7 T-Shirt Muji~ wkwk~

Balik ke Indonesia, ada kebutuhan ngantor, perlu outfit yang lebih proper, mulai beli kemejanya. Kualitasnya JUARA, oops I did it again, tapi bener guys, bahannya tuh bagus banget. Tebal, tapi ga panas. 

Pro-tips kalo mau belanja kemeja di Muji: cek men’s collection. Wkwk~ Kadang2 pilihan style-nya lebih banyak, warna juga lebih banyak. Gw pake men’s size ukuran S muat kok. 

“Tapi bukannya koleksi fashion Muji terbatas ya? Lebih banyak Uniqlo.”

Hmmm.. Buat gw sih Uniqlo vs Muji sama aja kayak Android vs Apple ya. Fungsi dan kualitas ketauanlah mana yang lebih baik. Jadi selama bisa afford Muji, ya gw akan terus pake. 

Ketika diffuser mulai hype, terobsesi pengen punya diffuser-nya Muji karena keren banget. Tapi mehong waktu itu $120ish di Melbourne, di Jakarta juga 1,5 jutaan. Eh, jodoh ga kemana. Waktu ke Muji Shanghai, lagi diskon 300an yuan aja, sekitar 600ribu. YA BELILAH, masa diskon setengah harga disia2kan~ Wkwkwk

Oiya, tadi sempat mention experience di tokonya. Toko di Jakarta dan Melbourne berhasil bikin betah, jadi gw sekarang berambisi untuk mengunjungi setiap toko Muji di berbagai belahan dunia. Yang udah kesampean itu Shanghai. My goodness keren banget, merangkap hotel, perpustakaan, cafe dan diner makanan sehat. Oh sama di Singapore juga udah pernah, yang di Plaza Singapura. Itu juga the best, ada restorannya. Makanannya bule sih, salad and all that. Tapi suka service dan vibe-nya.  

Oh satu lagi, Muji di luar negeri tuh jualan snack yang ENDULITA~ Tapi mahal~ Heuuuuuu~~ Gw belum pernah beli, cuma pernah nyobain kerupuk punya temen gw. Nggak tega banget makannya, sekali kunyah $1~ wkwkwk

Next-nya pengen nyobain nginep di hotelnya. Nanti deh kalo ke Jepang, OG-nya. Bismillah! 

Until then, bye folks!

---

Update 07  Feb 21

This week I received the devastating news that Muji is closing down all stores in Indonesia. Tutup for good, guys.. T.T

Sebenernya ini bukan berita baru, karena Muji Amrik udah duluan tutup--bankrut karena Covid-19 pertengahan tahun lalu. Kirain hal serupa ga berdampak sama bisnis di Asia, turns out kita tetep kena~

Sedih banget dengernya. Muji Indonesia, walaupun barang2nya ga selengkap Muji luar negeri, tetep rajin gw kunjungi setiap abis gajian, walaupun cuma buat beli bulpen atau kaos. Just because like other Muji stores in the world, tokonya bikin betah.

Hiks.. Satu lagi hobi gw hilang karena pandemi. Lebih menyedihkan karena hobi ini berkaitan dengan brand yang gw sayangi. 

Sekarang cuma bisa berdoa supaya Muji di negara2 lain tetep survive, at least Singapore sama Aussie-lah. Rumah kedua. 

Tadi gw paying homage to this beloved brand dengan mengunjungi store-nya untuk terakhir kali di GI. Rencana mau beli banyak barang, puas2in, but alas, gw telat, barang2nya tinggal sisaan aja. Semua yang ada di list gw udah ga ada. Tokonya pun bentuknya udah kayak garage sale, berantakan, vibe homie-nya udah ga kerasa. Akhirnya ga beli apa2..

Selamat tinggal, Muji. Terima kasih atas semua wonderful experience yang diberikan selama ini. 

Brand yang bikin gw loyal - #1 APPLE


Bangun tidur kepikiran bikin postingan ini. Mumpung inspirasi lagi mengalir, hayuklah kita dig in!

Gw sudah jadi Apple user sejak 2013, dengan produk pertama iPad mini—yang gw gw beli di Hong Kong. Kenapa beli di HK? Karena waktu itu di Indo belum keluar sedangkan gw udah ngebet banget pengen punya. Belinya sebenernya iseng aja karena harganya mayan murah, kek cuma 5jutaan kalo diconvert ke IDR. Buat nemenin kerja—waktu itu masih jadi wartawan, keknya lumayan.

Ternyata ga cuma sekedar nemenin kerja tapi juga nemenin main. Seru banget bawa si iPad kemana2. Bisa buat main game, foto2, edit foto, doodling, ngeblog, social media, nonton YouTube. Kalo lagi kerja pun enak banget liputan pake iPad. Bisa foto sambil nyatet bahan liputan. Pergerakan lebih lincah. Terlihat lebih fancy juga di antara wartawan2 lain yang rata2 pake hape. Hehehe… Paling diprotes sekali dua kali karena kalo motret ngalangin wartawan lain yang berdiri di belakang karena layarnya kegedean. Haha~~

Secara zaman itu belum punya laptop bagus, iPad jadi teman sementara yang menyenangkan. Sekarang iPad 2nd generation itu udah almarhum. Masih bisa nyala sih, tapi udah lemot banget karena memori sedikit dan ga bisa di-upgrade lagi karena udah uzur. Jadi gw istirahatkan. 

Pengabdian terakhirnya adalah nemenin hari2 membosankan di Melbourne tahun 2016-2017, ketika gw lagi muak banget sama laptop karena assignment. iPad jadi sweet escape untuk nonton YouTube dan doodling. Terima kasih iPad-ku. <3

Produk Apple kedua yg gw beli adalah Macbook Air, pernah gw ceritain di sini. Long story short, sekarang Jess—iyes namanya Jess, udah 5 tahun and we are stronger than ever. Jess berjasa banget waktu gw di Melbourne, dengan mobilitas tinggi setiap hari, intensitas assignment dari Unimelb yang lumayan sadis, Jess got them under control.

Sampai sekarang, Jess performanya masih bagus—amazing banget, padahal iOS-nya stop di Yosemite. At this rate, gw optimis Jess masih bisa nemenin gw untuk 3-4 tahun ke depan, bahkan lebih. Go, Jess!

Produk ketiga adalah iPhone 6S, pernah gw ceritain di sini. Gw beli dia sesaat sebelum gw pindah ke Melbourne, belinya di SG, again, karena di Indo belum keluar. Mayan ada cashback dari GST.  Hwehehe~

Ngomongin si 6S… Wah, where do I start, dia mirip2 sama Jess-lah, udah menemani gw bertahun2, dari 2016, udah menghubungkan gw dengan bermacam2 tipe orang. Udah jadi saksi jatuh bangun gw selama 4 tahun ke belakang. 

Per September kemarin, iPhone tersayang ini gw istirahatkan, karena udah getting slow, ga bisa keep up dengan pace gw. Segala fungsinya masih bekerja, tapi slow aja. Sebenernya ga 100% gw istirahatkan sih, jadi hape kerja sekarang karena kantor belum punya hape operasional. Jadi gw pake buat IG. As soon as kantor punya hape operasional, si 6S rencananya mau gw sumbangkan ke komunitas yang bantuin anak2 kurang mampu School From Home. Mereka mendistribusikan hape2 bekas untuk dipake anak2 itu sekolah online, so yeah since 6S has been a great help for me these past 4 years, I believe she’s gonna make a difference untuk anak2 itu juga. 

Produk keempat adalah BOBACHAAAANN~~ hahaha~~ Gw belom pernah cerita ya? Gw beli iPhone 11 Pro sebagai penerus tahta si 6S. Sebuah spending yang bikin tobat, karena harganya bahkan lebih mahal dari si Macbook Air. Keterlaluan!

Tapi ya gimana.. Kalo beli produk Apple, itu tuh hitungannya investasi jangka panjang. I mean, this is the very reason why I am so loyal to this brand. Ga rusak2 mamennn~~ It’s crazy~ Over the years cuma slow aja, wajar, karena apps2 zaman sekarang kan makin lama makin kompleks, makin canggih dan makin berat.

Tapi ga ada satupun produk Apple yang gw punya pernah rusak. GA ADA! 

Ini beda banget experience-nya ketika dulu gw pake hape Android. Hape Samsung gw, pernah MATI TOTAL ga ada angin ga ada hujan, yang bikin gw kena liability mendadak 2 jutaan buat service-nya. Terus berkali2 error juga, I mean gw sampai nyerah gitu kalo dia tiba2 ngehang atau restart mendadak, ya udah pasrah aja. 

Waktu gw pake laptop Windows juga.. God knows berapa kali gw harus install ulang tuh Windows.. Dari mulai cari yang bajakan sampai original. Penuh dosa banget. Terus ga kuat dipake ngapa2in, inget banget zaman kuliah gw punya laptop tapi masih harus struggling ngantri komputer kampus di perpus, karena laptop gw segitu useless-nya!!! 

Masalah2 seperti ini ga gw temukan ketika gw beralih ke Apple. It’s like one of my life problems just gone. Hidup jauh lebih tenang. 

Alasan kedua adalah user interface. Awalnya skeptis pindah ke Apple dari Android atau Windows, takut ga ngerti, takut susah adaptasi~ Eh ternyata gampang tuh. Ga perlu waktu lama buat adaptasi, karena user interfacenya memudahkan user banget. Ibaratnya gini, satu pekerjaan yang dulu di Android/Windows itu dilakukan dengan 2 langkah, di Apple cukup 1 langkah aja. Lebih cepat! Another life problem solved. 

And I also love the way Apple maintaining its quality. Kamera, sound, iOS, screen, body, connectivity, semuanya top notch. Hands down the best quality. Temen gw dulu punya MacPro, one day jatoh ke lantai, MacPro-nya ga kenapa2, lantainya yang retak~ LOL~ 

I think gw udah berkali2 jatohin my Apple devices, ga ada rusak2nya~ Ga pernah tuh ada adegan gw reach out ke CS buat komplen masalah apapun atau servis apapun, dan kayaknya ga bakal pernah~ Sedangkan zaman Android/Windows bisa quarterly berkunjung ke Ambas buat service~

That’s why gw segitunya sama Apple~ Heuheuheu~

It is my soulmate. Visi dan misi kita sama. Fokus ke problem solving dengan cepat dan mudah, serta offering the best quality. Dia mengerti kebutuhan aku, mengerti aku apa yang aku mau. <3

Perihal status sosial otomatis terangkat ketika punya produk Apple buat gw bonus ajalah. Ga penting2 amat. Yang paling penting buat gw adalah fungsi. 

I don’t think I would ever move to another brand. Selama gw masih bisa afford Apple, gw akan setia sampai kapanpun.

2021 rencananya mau nambah anggota baru my Apple family. Mau beli iPad Pro sama Airpod. Lagi ngumpulin duitnya. Maybe beli pake bonus pertama di kantor baru. Bismillah.

Until then~ Bye folks!
 

Saturday, December 19, 2020

Me Wassup #66 – Just a Few Days Before The Year Ends

Hi, guys! How y’all doin?

2020, tahun yang aneh bin ajaib ini akan berakhir dalam hitungan hari. Jadi sudah saatnya mulai reflect2 apa aja yang terjadi dan udah dilakuin setahun ini. 

Sebelum mulai refleksinya, gw mau cerita dulu dong.

Pertama, soal December blues. Oh Desember.. biasanya rame dikirimin paket atau hampers seasons greetings. Sekarang, nggak ada yang kirimin. :’(

Oh well, trying to stay realistic, bahwa ini adalah konsekuensinya pindah kantor, that you’ll be forgotten eventually. Lagian ngapain crying over some hampers, kayak ga ada hal2 lebih penting di dunia ini. So yeah, be grateful of what you currently have aja. Emang ga dapet hampers, tapi mental health jauh lebih sehat 2 bulan belakangan ini. I’ve never been happier dalam konteks kerja. Itu jauh lebih penting.

Mungkin mindset-nya mesti diubah juga kali ya. Instead of menerima, lebih baik memberi.

Kedua, soal karier. Beberapa hari yang lalu ada yang menawarkan pekerjaan di Linkedin. Beliau adalah co-founder dari sebuah institusi olahraga modern yang gw sangat familiar, kenapa? Karena selama di Dian, gw adalah PMO project kerjasama Dian dengan institusi tersebut~ LOL

I was like… wah menarik. Udah kenal orang2nya dan udah paham arah bisnis dan seluk beluk operasional perusahaannya. Adaptation shouldn’t be that hard. 

Yang ditawarkan sebuah management role. I was like… whoa? Really? I’m 2-months-in in the new job and someone actually offers me a management role.

Awalnya ego langsung jumawa. “Wah bakal jadi bos nih” something like that. But then gw sadar bahwa dengan berpikir demikian, itu otomatis membuat gw tidak layak untuk menyandang status “bos”. LOL~

Jadi berpikir rasional. With great power comes great responsibility. Gw meminta si co-founder untuk menjelaskan lebih detil soal scope pekerjaannya. Dia bilang gw akan membawahi 4 divisi: marketing, PR, content, dan talent. 

……………

That is a HUGE responsibility. I mean marketing aja udah segitu kompleksnya—well maybe ga sekompleks marketing di Dian, tapi gw taulah marketing campaign itu banyak banget layernya. Marketing harus di-handle oleh 1 kepala—CMO, dan kepala itu ga bisa digabung sama yang lain. Meledak nanti.

Okay. It is too much. I’m not ready for such responsibilities. Mungkin beberapa tahun lagi, ketika gw udah menggali lebih banyak ilmu dan memperkaya pengalaman di 4 bidang tersebut—yang surprisingly semuanya gw lakukan di QQ dalam satu role: Content Marketing Manager. Maybe, suatu hari lagi, gw akan lebih siap menyandang status C-level. Insya Auloh ya.

So, gw sekarang sedang berpikir bagaimana menolak secara halus offering si co-founder. Tapi nanti, sekarang lagi nonton drakor sama anime. Biasa, pe-er dari kantor. Kerjaan gw sekarang kan udah mirip2 kerjaan di XXXXX, kalo nggak nonton film/drama, ga bisa bikin konten~ Hehe~

Anyway… 

Ketiga, napsu makan gw sudah mulai membaik. Makan udah nggak bolong-bolong dan cenderung banyak. Minggu lalu staycation sama Iif juga makannya ga nanggung2, mulai dari Gyukaku, ayam geprek, mir goreng, pastry, gorengan, etc. Hari ini juga makan lumayan kek babi, pagi bubur ayam, siang nasi rames, jam 3 ngemil donat 3 biji, jam 5 ngemil kentang & chicken nugget, barusan baru selesai makan malam + minum susu.

Alhamdulillah ya, semoga program penaikan berat badan ini lancar sampai seterusnya. Gw juga berencana beli timbangan elektronik buat update berat badan rutin. Kasih KPI kali ya, by Februari dah 45kg gitu. Biar lebih berkomitmen.

Oke, those are 3 stories for intermezzo.

Now let’s get real.

Reflection of 2020.

This year is really funny. Sebenarnya banyak yang terjadi, namun semuanya ga terasa. Mungkin karena ga ada bukti otentiknya, atau karena semuanya terbatas jadi ga maksimal, idk~

Dimulai dengan awal tahun yang bikin frustasi karena banjir. Inget banget lagi staycation dikabarin rumah banjir airnya masuk sepaha. Perabot banyak yang rusak, bersihin aftermath-nya capek banget sampai mau nangis. Lalu nyokap kepikiran untuk pindah rumah ke area yang ga banjir. Sampai tulisan ini dibuat, nyokap masih research lokasi dan menimbang2 biaya.

Hiburan sedikit di awal tahun adalah gw keranjingan Running Man, setelah sekian lama vacuum nonton mereka. Trigger-nya adalah Gary yang bergabung di Superman Is Back. Kemudian nostalgia episode2 jadul, kangen Gary, kangen Jihyo, kangen Kwangsoo. Yeah I was Monday Couple and Giraffe sucker. Inget zaman masih WFO di Dian, booking ruang meeting berjam-jam cuma buat nonton Running Man di layar gede. Wkwk~

Ada sedikit kebahagiaan juga di awal tahun ketika pergi ke Bandung sama Nanien dan Putri buat nonton Epik High. It feels surreal bisa nonton konser tahun ini, but we did, dan dapet bonus ketemu Epik High di Braga. Kocaque~

Awal tahun juga main B*mb*e. Pengalaman menarik. But I don’t wanna discuss further~ HAHA~

Memasuki Maret, berita coronces udah menyebar dimana-dimana mulai muncul. Indonesia langsung siaga 1. Minggu kedua Maret semua mulai dirumahkan alias WFH. Awalnya seneng bisa kerja sambil rebahan, tapi siapa sangka dalam hitungan hari udah bosan. Ketika ada kesempatan masuk kantor 1 hari di tanggal 20an Maret karena harus mengerjakan sesuatu offline, ga disia2kan. Who would’ve thought that became my last day of going to office for work.

Tanggal 26 Maret masih ke Emtek City buat supervisi Gala Show. Ini surreal juga, karena selama ini supervisi gala adalah sebuah kerjaan yang menyenangkan, karena dibarengi work-cation rame2, makan2, ketemu artis, nonton rehearsal, stand by di backstage, dandan cantik sebagai tamu VIP, dll. Walaupun capek, selalu happy ending.

Gala terakhir udah PSBB, no more kebersamaan. Gw supervisi cuma berdua sama Jafri. Makan2 juga ga ke mol atau restoran, go-food aja kakak. Makannya social distancing sendiri2. Nginep di hotel juga sendiri. Hotelnya juga limited, udah ga ada breakfast ala carte, kolam renang ga buka, karyawan dan fasilitas seadanya, huff..

And yes, who would’ve thought itu akan jadi gala terakhir gw juga. 

April-May-Juni-Juli adalah bulan-bulan penuh kepasrahan. Kehidupan dalam isolasi. Keluar cuma sebulan sekali buat groceries di Foodhall PIM. Kegiatan groceries yang biasanya adalah errand yang paling malas dilakukan, setelah PSBB jadi kegiatan yang paling ditunggu2 setiap bulan karena akhirnya bisa keluar rumah. Menyedihkan.

Di bulan2 ini kena mild depression juga, again, karena terkurung di rumah. Buat orang yang punya histori depresi, dikurung itu bikin jiwa kita makin mati dan pikiran kita makin ga bisa dikontrol. Jadinya overthinking, anxiety, endless thoughts swimming around in that brain to the point you can't think about anything actually going on around you.

Orang-orang yang depresi itu pada dasarnya harus keluar, harus reach out kemana-mana, ga boleh dibiarin sendiri dan terkurung. Karena musuh utamanya adalah pikiran mereka sendiri. 

That’s why ketika PSBB akhirnya diangkat, gw salah satu orang pertama yang rejoice. Seneng banget bisa keluar lagi, walaupun cuma seminggu sekali. Mulai deh main dan ketemuan sama temen2. Priceless.

Agustus adalah bulan yang penuh kejutan. Gw di-reach out 4 perusahaan yang berbeda dalam waktu berdekatan. Oh did I mention in the previous 4 months my life in Dian was solid hell? Jadi ketika banyak perusahaan approach, tentu saja tanganku terbuka lebar. 

4 perusahaan itu 1 ecommerce properti, 1 perusahaan game internasional, 1 FMCG terkenal, 1 lagi QQ tempat gw kerja sekarang. Sebuah proses panjang yang melelahkan, karena 44-nya menawarkan posisi yang berbeda2. Jadi strategi interviewnya berbeda2 juga. Resultnya? Gw diterima di si ecommerce dan QQ. Secara gaji kurleb mirip (QQ slightly lebih rendah), tapi secara role si ecommerce lebih kompleks—karena management role. Sedangkan QQ karena perusahaannya baru buka, walaupun title manager, tetep aja harus jadi palu gada ngerjain segala macem kerjaan. 

Kemudian gw reflect, tentang apa yang gw cari selama ini. Bukankah dilemma karier yang selama ini gw alami disebabkan oleh satu hal: tidak bekerja sesuai dengan passion? Bukankah itu penyebabnya gw ga enjoy kerjaan gw dimanapun setelah XXXXX? Bukankah alasan utama gw kuliah S2 adalah supaya mendapat ilmu untuk bekerja di entertainment—sesuai passion?

Seeta, this whole narrative of your life purpose has been about pursuing passion and you have come a long way. Sekarang QQ menawarkan solusi untuk mengakhiri dilemma tersebut, jadi kenapa masih ragu-ragu?

August 28th made history. It was the day I signed an offer letter from QQ and applied for resignation from Dian. :)

September was an emotional month. Too many goodbyes, the ones I never dealt with before. Maybe karena Dian karyawannya banyak, atau ya karena ga bisa ketemu muka aja, jadi terasa lebih menyedihkan. Tapi campur aduk juga karena at the same time seneng karena dapet kantor baru yang sesuai passion. :’)

Aaannd… the rest is history. :D

Oktober-Desember hidup gw Alhamdulillah baik2 saja, physically and mentally. Seneng bisa ke kantor lagi walaupun seminggu cuma 2 kali, dapet temen baru di local dan regional—orang2 hebat. Socially juga okelah, beberapa kali main sama teman2 terdekat, mengunjungi tempat2 g4uL di Jakarta Selatan yang sedang hits. Beruntung banget berkantor di SCBD yang dekat kemana2 daaannn bisa menjalankan hobi jalan sore cari inspirasi dengan tenang.

Sekarang sudah di penghujung tahun. Seperti biasa males bikin resolusi, haha~ Gw cuma pengen cepet2 divaksin supaya hidup kembali normal lagi. Terus sama pengen mencoba berbagai kesempatan yang bisa gw lakukan di kantor sekarang, supaya makin kaya ilmu dan pengalaman. 

Kemarin pas cerita soal di-approach management role itu ke Grace, dia bilang mulai sekarang gw udah harus mikir bahwa ke depannya tawaran kayak gitu akan dateng lagi dan gw harus mempersiapkan diri dari sekarang, sampai tiba waktunya menduduki posisi tersebut. Good point, think imma do that. :)

Okay then. Thank you 2020. See you never! Wkwk~
 

Saturday, December 5, 2020

This weight loss is concerning

Hi, guys! How y’all doin?

So a month ago I brought my mom to the clinic coz she was sick, and when I was there I checked my weight and shooketh!

Berat gw 42kg aja, lho!

Fyi, berat normalnya itu di angka 47-48kg. Seinget gw pas bulan Februari gw sakit gara2 makan cemilan Bandung kebanyakan itu, pas ke dokter nimbang masih 47-48kg.

Then the pandemic happens. Selama pandemi ini gw ga pernah nimbang sama sekali. Sekalinya nimbang udah 42kg, ya gw syoklah~

I mean, ini concerning banget. Ketika 47-48kg aja gw sebenernya udah terhitung kurus. Cuma gw cuek aja selama masih sehat dan nggak sakit2an. Ga pernah terlalu peduli sama berat badan juga. 

But somehow ketika jadi 42kg ini gw panik, karena ini dampak nyata pandemi. I mean, kita ga pernah tau pandemi ini sampai kapan. Kalau dalam kurun 8 bulan aja gw kehilangan 6kg, gimana seterusnya? Gw bisa makin kurus~

Ga bisa, ini ga bisa dicuekin.

Lalu mulai menganalisis kenapa berat gw turun.

Faktor pertama, sering skip makan. Ya, masa2 kerja di Dian tuh, ketika kerjaan numpuk, semuanya level urgent, call seharian ga berhenti2, eventually lupa makan, atau inget tapi memutuskan untuk skip aja, karena waktu makan jadi kurang penting dibanding waktu kerja~

OMG DIAN~

WHAT THE FUCK HAVE YOU DONE TO ME??!!!

Gila, it just came to me. Gw bukan foodie, tapi gw adalah orang yang mengerti makan teratur itu sangat penting. Ga pernah skip sarapan, makan siang selalu jam 12 teng, makan malam selalu jam 7. In between biasanya ngemil sore atau malem untuk menjaga perut tetap kenyang, either sereal atau chicken nugget atau kentang goreng atau whatever. I don’t like being hungry and I really value meal time. 

Baru sadar mindset itu berubah pas kerja di Dian~

BANGSAT~

Untung gw udah ga di situ lagi. Hiihhhh~~ Mitamit~

Gila, emosi~ 

Tau gitu resign lebih cepet… 

Huhuhu… Maafkan aku ya badanku… Aku nggak sadar kamu suffering sekian lama~ T.T

Faktor kedua adalah stress. Masih berhubungan dengan kerja di Dian. Obviously gw stress dengan load dan pressure kerjaan yang sinting itu. Ditambah gw ga suka apa yang gw kerjakan di sana daaaannn tentu saja bos gw yang make everything worst. 

Gw itu kalo stress asam lambung naik. Mual dan pusing. Udah deh, nafsu makan hilang. No appetite at all. Padahal selama WFH nyokap gw sering masak makanan enak, tapi gw-nya ga makan~ T.T

Faktor ketiga adalah lack of motivation karena makan sendirian~ Kalo di kantor, makan selalu jadi momen bersama. Ke kantin bareng-bareng, diskusi mau makan apa dan dimana, pilih2 restorannya, ngejar apa yang lagi hype di Jaksel, ngejar promo, gosip di perjalanan naik taksi online atau jalan kaki menuju tempat makannya, atau janjian sama temen di kantor lain buat maksi bareng.

Pokoknya apapun makanannya, makannya bareng-bareng.

Walaupun kadang ada disagreement. Harganya mahal, tempatnya jauh, restoran penuh dan harus waiting list, atau alasan2 lain yang membuat momen makan bersama itu jadi less-exciting, overall it is still something to look forward to everyday. 

Ketika WFH, makannya sendiri. Bitter, beb. Meal time jadi nggak spesial lagi~

Faktor keempat, teknislah. Soal nutrisi yang tidak seimbang, kecapean, kurang tidur, metabolisme dan toilet habit yang berubah, depression might also take a part a little, lost of interests, etc.

Nggak bisa nih, ini nggak bisa dibiarin.

Harus cari cara secepatnya buat gain weight, otherwise taun depan gw ga ada bedanya sama those starving children in Africa~

Sekarang sih setelah dapet kerjaan baru, Alhamdulillah ga pernah skip meals lagi. Well, paling masih suka skip breakfast, karena gw bangun kesiangan mulu, tau2 udah jam 9, udah harus mulai kerja. Tapi jarang sih, karena sekarang jarang call back to back dan ga ada daily check in, jadi bangun jam 9 pun masih sempet leha-leha santai. Masih bisa bikin Indomie atau toast sama minum susu.

Makan siang juga ga pernah skip lagi. Apalagi catering yang dipilih nyokap gw sekarang enak banget, jadi semangat makan. Kalo iseng sore2 sering grabfood boba atau mie ayam Alex. Waktu itu pernah order pisgor Bu Naniek juga di Tokped, mayan beli setengah lusin bisa buat 3 hari. 

Kalo mumet, sore2 juga bisa jalan kaki ke Indomaret beli cemilan sambil menghirup udara segar.

All in all, life is getting a lot better now and I’m really thankful for that. 

Mudah2an ini ter-reflect di kebiasaan makan supaya eventually bisa gain weight lagi. 

Gw juga menerima tawaran makan di luar ya, especially kalo lagi waktunya gw ngantor. Posisi kantor gw di SCBD, lumayan tengah, gampang kalo mau makan dimana aja selama masih dalam jangkauan MRT/busway, gw jabanin deh.

Ga mau pelit lagi urusan makanan, speeeeenndd… speeeeenndd.. bakar duit macem ecommurz kebakaran jenggot kalo lagi mega campaign. Wkwkwk~ Itung2 selain nambah berat badan, ikut memajukan ekonomi bangsa yang lagi terseok-seok. Kasian para pebisnis restoran itu, terdampak banget gegara pandemi..

Okay then. It’s a nice weekend so far for me. 

Bangun pagi, sarapan dimsum plus hot chocolate.

Kemudian les Mandarin, laoshinya baiiikk banget.. Aku dipuji piaoliang~ Xixixi~~

Kemudian makan siangnya mala hotpot Haidilao, karena udah craving dari minggu lalu~ Beli di Shopee

Kurang enak sih Haidilao punya, kurang berasa dan kurang pedes, enakan Bashulanren~ Tapi dimana bisa beli bashulanren di sini? Hixx.. I miss China~

Siangnya telponan sama Matahari yang udah back for good ke China karena nasibnya di Aussie semakin ga jelas gegara pandemi. Expected sih. Yang gw ga nyangka ternyata doi experience diskriminasi juga sebagai kaum pendatang di sana. Apalagi kalo konteksnya persaingan dalam mencari pekerjaan dan penuntutan hak sebagai warga negara. Klasiklah, white privilege, yang non-white dikesampingkan.

Melbourne walaupun gencar banget menyuarakan semangat multiculturalism dan inclusivity di campaign2nya kotanya, by the end of the day masih rasis diskriminatif juga sama warga pendatang. 

So yeah, Matahari is back for good and now resides in Beijing. Gw sedih karena ga bisa main di Melbourne sama dia lagi, tapi at the same time hepi karena ini berarti kalo gw ke Beijing lagi udah ada temen~~ hohohoho~~

Makin semangat balik ke Beijing, apalagi headquarter QQ disana juga, who knows later next year ada work trip kesana, terus bisa sekalian ketemu Matahari~ Azeeekkkk~~~ Amien yang kenceng~~~

Abis telponan bobo siang lumayan lama. It’s a really good sleep, ga mimpi macem2. Terus bangun langsung makan malem, sekarang lagi nulis blog ini, abis ini rencananya mau ngemil mala, terus bikin Tiktok. 

Aaah… weekendku menyenangkan sekali. <3

Okelah guys, segitu aja today. Hope your weekend is as nice as mine! Byeeee~
 

Sunday, November 22, 2020

CLBK

Hi guys, how y’all doin?

It’s a beautiful weekend. Nggak diganggu kerjaan, bisa males2an dua hari full sampai bingung mau ngapain~ Hahaha

Anyway, gw lagi CLBK gila2an nih sama Jay Park~

Gila ni orang, bertahun2 gw anggurin, tau2 muncul lagi ke permukaan dan dalam sekejap merebut hati gw kembali selayaknya 8 tahun yang lalu.

In case you didn’t know, gw udah ngefans sama Jay Park sejak tahun 2012, ceritanya bisa dibaca di sini dan sini.

Dulu gw bener2 tergila2 ama ni orang. Wah gila, kalo urusannya udah soal Jay Park gw buta sebuta2nya. Gw JATUH CINTA, men! I love him with all my hearts. Nggak sebagai idol, tapi sebagai laki-laki yang bisa gw pacarin/nikahin. Head over heels bucin mampus~

Walaupun gw tau bangsat2nya dia ya, yang kalo orang lain gw kasih tahu bakalan ilfil se-ilfil2nya sama dia, nggak ngaruh~ Gw tetep suka~ Well everybody makes mistakes~ LOL~ #bucinmode

Anyway, so yeah gw dulu sesuka itu sama Jay, sampai kemudian setelah dia rilis album Evolution tahun berapa tuh ya? Lupa~ Gw merasa dia ga berkembang as an artist. He keeps doing the same thing yang lama2 bikin gw bosen. 

Lalu gw juga ga bisa terima image fvckboi-nya dia. I mean, dia tuh udah tua sekarang, udah above 30 yo.. Seharusnya udah ga pake image itu lagi buat jualan karyanya dan maintain kariernya. I mean, come on, you’re a grown-ass man, you’re better than that.

Kan bisa direction-nya jadi kayak Justin Timberlake gitu, tetap classy. Atau Bruno Mars atau Drake. He got so many potentials to be like them. 

So at one point in my life, I think around the time I left for Melbourne, I stopped stanning him. Gw ga dengerin musiknya lagi, unfollow dia di sosmed, bener2 detach myself from anything about him-lah.

Then 2020 happens. 

Sebenernya ini lucu, kenapa gw mulai dengerin musiknya lagi adalah karena di awal2 tahun itu gw main Bumble kan. Terus ya klasiklah, got attached to a few guys, and you know.. got butterflies in my tummy and all that shit, ya naturally gw kepengen denger sexy music aja, dan salah satu produsen sexy music terbaik yang gw tau ya dia~

Adalah masanya waktu itu gw bisa seharian dengerin lagu dia terus diulang2 tanpa bosen. Lalu gw discover lagu2 baru yang dirilis setelah gw detach myself from him. All I Wanna Do, Yacht, My Last, dll. Ternyata enak-enak. 

Namun poin yang gw bilang he keeps doing the same thing masih valid. Karena gw sekarang bisa semudah itu suka sama lagu2 barunya ya karena naturally emang suka genre lagu ginian, slow jam sexy R&B. Just like 8 years ago. The feeling is still the same.

So I come to realize, ini bukan salahnya Jay Park. Kalo dia emang jago di musik2 seperti itu he has every right to continue doing so.  

Terus jadi reminisce the time when I fangirled hard over him. It wasn’t solely because of his music, tapi juga personality-nya dia. 

My goodness he’s still perfect. Wtf~ 

He got everything I wanted in a guy. Sweet, chill, funny, down to earth, adorable, intelligent, passionate, strong, open-minded, HELLA fine, talented…

Not to mention sekarang dia udah jadi CEO 2 perusahaan label yang emerging: AOMG sama H1GHR Music. Perusahaan yang awalnya diragukan dan dianggap remeh sama orang2, karena selayaknya Jay Park, ngulang karier dari 0 banget sejak skandal tahun 2009, bikin banyak orang ga percaya sama dia. 

But now end up jadi basecamp-nya musisi2 hiphop and R&B indie Korea yang keren2, yang super produktif, selalu diundang perform di event2 keren, tur keliling dunia as a group, etc..

How the F Jay did all of this?

Dude is like magic.

I mean, gw tau Jay itu pinter, terutama di area hiphop dan R&B. Lo coba nonton interview2 dia deh, mau yang becanda ataupun serius. Keliatan kok ni orang pinter. People who don't think Jay Park is intelligent need to sit down. He's smart and knowledgeable in his field and genre of music and you can really see it in his interviews. 

Dia selalu mengeluarkan aura yang positif. Selalu ramah, optimis, hangat. Gw paham banget kenapa orang2, terutama artis2 baru yang masuk AOMG sama H1GHR Music percaya sama dia. Orangnya tuh bisa bikin orang lain nyaman dan safe (aaaww~) kalo sama dia gitu loh. 

Also worth to mention, dia itu pekerja keras. Been grinding since the beginning, keep hustling hard walaupun dicacimaki semua orang. I mean, there’s a reason kenapa dia di-rekrut Roc Nation (the only Asian artist in the company!!). Pasti Jay Z melihat kualitas ini dalam diri seorang Jay Park. 

Yang gw ga tau adalah bahwa dia juga punya jiwa entrepreneurship yang kuat. Also having enough guts untuk ngembangin entrepreneurship ini into something real and big.

I mean when he first launched AOMG, Simon D was co-CEO-ing with him, but he bailed some time after karena ga kuat ngurus perusahaan. Jadi si Jay sendiri. Gw kirain abis itu ya udah, AOMG ga bakal bertahan lama juga. But he proved it wrong, AOMG malah berkembang pesat dan sekarang udah punya anak H1GHR Music. 

So here I am, suffering from Jay fever way worse than before. LOL~~

Gw paling ga bisalah sama cowok yang menjalani hidupnya dengan passionate dan actually work hard and make money dari passion-nya itu. I think that’s the sexiest form of sexy. 

So Jay, JUST COME OVER HERE AND MARRY ME ALREADY~

LOL~~

Udah ah, mau dengerin All I Wanna Do lagi sampai ketiduran. I love it when you serenade me @jaybumaom~ WKWK

See ya!



Sunday, November 8, 2020

Seeta’s New Normal Officially Begins

Yup, you read it!

My new normal is here!!!

Sooo happy!!! Also proud coz I’m ahead of everyone. Hohoho~ 

Jadi ceritanya QQ itu menyewa kantor di sebuah coworking space di kawasan SCBD. Sejak PSBB diangkat, kita selalu mutusin bareng2 whether harus ke kantor atau nggak, dan jawabannya hampir selalu nggak. Alasannya karena ada demolah, angka kasus positif masih terus naiklah, macetlah, dll.

Selama ini gw merasa jika tim bilang nggak, berarti mutlak ga boleh ke kantor. Pikir gw, oh berarti ini bayar sewanya based on attendance. Jadi wajar kalo ga boleh dateng, menghemat duit.

Kenyataannya tidak. Kita udah sewa for the next couple of months, jadi sebenarnya bisa dateng kapan aja. Catatannya adalah yang dateng ga boleh lebih dari 50% jumlah karyawan, which means kita harus shift-shift-an. 

Secara di tim cuma gw yang pro-WFO, tentu jadi tidak masalah kalo gw dateng setiap hari. Ga akan kena aturan 50% itu, lha wong gw sendiri~ hahaha

So yeah, mulai minggu ini gw ngantor. :”)

Hepi bener kak!!!

Kehidupan yang sudah hilang hampir 8 bulan akhirnya kembali. 

Bangun pagi—sekarang jadi susah banget saking badan udah terbiasanya bangun siang 8 bulan terakhir. 

Damn it~ Susah payah gw bangun kebiasaan bangun pagi yang sukses membentuk gw jadi morning person dari kecil (secara sekolah, kuliah, kerja jauh2 semua dari rumah, jadi udah terbiasa bangun pagi menerjang kejamnya lalu lintas), hilang begitu saja gegara pandemi~

Hari pertama ngantor, telat 2 jam bangunnya~ Alarm nyala berkali2 ga mempan~ Padahal gw light sleeper, denger suara dikit aja langsung kebangun~ 

Wth is wrong with me??!

Kemudian berangkat—versi new normal: naik gojek bawa helm sendiri. Helm yang sudah gw beli sejak berbulan2 yang lalu, sejak wacana new normal muncul pertama kali, akhirnya kepake juga.

Agak rempong sih, barang bawaan jadi banyak banget. On top of helm, bawa APD juga, si Gorman yang baru beli via jastip (kece lho!), terus bawa laptop juga, karena ga mungkin ditinggal di kantor sekarang. 

Untung udah sedia tas Kanken No. 2 Laptop 15” yang emang buat tugas berat. Walaupun rada pe-er juga bawanya, berat cuyyy~

Anyway, gw sudah mencoba kembali rutinitas lama: gojek dan busway. So far so good, naik gojek aman. Ga bikin sakit punggung or apa karena udah ga naik motor 8 bulan. Busway pun surprisingly pelayanannya baik. Social distancing diterapkan dengan tertib, bus ga ada yang bener2 full, dan cepet banget 1 menit sekali jalan. 

Sayangnya udah ga ada busway tol. Ngerti sih, mereka pasti mengurangi biaya operasional karena pemasukan juga berkurang. Jadi tetep harus bermacet ria di Cawang, Pancoran, dan Kuningan.

Lalu harus transit sekarang. :’)

Karena kantor di SCBD, gw harus transit di Gatsu Lipi untuk ambil bus ke arah Senayan/Blok M. Sebenernya kalo niat mah bisa jalan kaki dari Semanggi ke SCBD. Kemarin kan test drive busway aja, keknya ke depannya mah bakal jalan kaki. Minggu depan kita test walk deh. Kan target minimal 5000 langkah sehari. 

Anyway, so yeah gw transit, turun di GBK, kemudian jalan kaki dikit ke kantornya yang…… menyenangkan sekali!!!

Oh my… gini toh rasanya kerja di SCBD… trotoarnya cakep, pemandangan bagus, orang2nya tertib dan looks profesional… Mengingatkan gw akan Singapura. Rasanya persis kek business trip Dian, jalan kaki dari hotel ke kantor Dian Sg. Menyenangkan! Pantes si Iip betah berkantor di SCBD~

Kantor baru gw, saat ini masih nebeng di coworking space, karena kantor aslinya masih di renovasi (soon bakal di SCBD juga). Rasanya startup banget sih ngantor di coworking space~ haha!

Tempatnya keren~~ Kalo pake angka 8,5/10-lah gw kasih. Nggak yang high-level sophisticated design banget, tapi mayan pewe, fasilitas lengkap, toilet harummm, kopi tersedia, view dari room-nya QQ kece juga (kalo liat kiri ada Dian~ hahaha), daaan masih sepi~ hehe~ Gw literally sendirian menguasai lantai 23.

Secara lokasi lumayan strategis, deket ke mana aja. Makanan gampang dijangkau, begitu juga tempat2 lain yang happening di SCBD. 

Gw baru pertama kali mengeksplorasi SCBD secara menyeluruh, navigasi masih bapuk banget. Takut tersesat, terus ga tau ini dimana & tempat apa. Butuh exercise sih untuk mengenal SCBD lebih dalam. That’s why langsung establish sistem ke kantor 2x seminggu. 

Hal lain yang menyenangkan adalah walaupun ngantor gw tetep bisa menjalani rutinitas jalan sore. <3

Track-nya lebih bagus lagi, secara SCBD yaa.. pemandangannya juga lebih indah. Hari kedua masuk kantor, gw jajare (jalan-jalan sore) ke PP, buat belanja di Kemchick. Itu aja udah menyenangkan banget, padahal sendirian. Imagine kalo ada temennya, lebih menyenangkan lagi! Ga sabar nungguin Iip sama Rini masuk kantor, jadi bisa jajare bareng~ hohoho~

So yeah, it’s been fun.

Apakah gw lebih produktif dengan ke kantor? Secara kuantitas kerja mungkin tidak, atau iya? Gw belum terlalu memperhatikan, tapi yang pasti otak gw lebih jalan, inspirasi lebih banyak datang, dan ide-ide terus mengalir. So it’s more about quality.

Capek sih, apalagi bawa barang at least 5kg pulang pergi jalan kaki + naik kendaraan umum, pas pulang kantor naik busway berdiri macet2an, wah berasa otot gw bangkit dari kubur. Setelah nganggur berbulan2, langsung berasa tegang lagi. Pas udah pulang mandi aer anget kerasa banget otot2 itu langsung rileks. Gapapa, memang seharusnya begitu, otot itu ga boleh nganggur. 

Somehow gw juga merasa hidup gw balance lagi. Pas pulang matiin laptop, berasa kerjaan kelar dan gw deserve istirahat. Tidurpun lebih nyenyak.

Beda sama WFH, mau matiin laptop jam berapapun perasaan kerjaan belum kelar tuh muncul terus, alhasil, ga pernah tenang. Tidur ga bisa nyenyak, insomniapun menyerang.

Ada perasaan bersalah ketika lo di rumah terus, dengan segala waktu yang lo punya, tapi ga dipake buat kerja, padahal lo tau lo udah kerja mati2an hari ini, somewhat, kalo lo di rumah, it doesn’t matter, lo tetep harus kerja, lo tetep dihitung ga memberikan yang terbaik, karena lo udah di rumah, ga boleh ada excuse capek, mau me-time, and blablabla..

Do I make sense here?

So yeah, I’m so glad I have the privilege to do both, WFH dan WFO. Ga semua orang punya privilege ini. Anak2 Dian misalnya, harus menjalani 2 campaign terbesar dari rumah, kebayang betapa rempongnya koordinasinya, belum lagi mental health yang affected karena jiwa mereka dikurung berbulan2. Ada juga orang2 yang wajib WFO, dengan segala risikonya, termasuk terpapar virus sepanjang waktu. 

Gw merasa sangat beruntung punya pilihan WFH dan WFO. 

Mungkin ini bagian dari rencana besar the great G.O.D untuk gw. QQ memang bukan perusahaan yang sempurna. Masih bayi, sistemnya belum established, banyak fungsi yang belum ada, kerjaan jadi tumpuk menumpuk, kadang harus double or triple roles, dan harus mengorbankan kepentingan dan aset pribadi.

But yeah, at the same time, gw bersyukur karena gw at least terselamatkan dari stress berkepanjangan karena WFH. Gw pun bisa melakukan apa yang gw bener2 suka sekarang. :)

Cheers to the new normal! Semoga Tuhan beserta kita!

Happy weekend, y'all!


Thursday, October 29, 2020

Sebulanan :D

Hi, guys! How y’all doin?

Ciye sebulanan~ haha~ Kek mandatory postingan gitu~

Well, belom sebulanan sih, mingdep baru, tapi gapapalah ya, udah 4 weeks.

Rasanya gimana? 

Hmm.. nyebelin2nya mulai berasa, karena target udah ditentukan, stresnya udah mulai menyerang dikit2, walaupun belum sampai affecting mental seperti Dian.

I like what I do here, tantangan buat gw cuma: internet, ga ada temen yang bisa diajak brainstorm buat bikin konten, WFH yang ga kunjung selesai (so the psychological challenge continues..), laptop yang tak kunjung datang (ga tega banget abusing Jess..), koordinasi dengan tim lokal, regional, dan third party yang masih belum terbiasa, dan... mengatasi rasa malas. itu aja sih.

Selebihnya I’m okay. Jarang lembur, mengerjakan apa yang disuka, belajar industri baru yang gw suka juga, banyak temen baru, company benefit udah mulai berasa, sedikit banyak menumbuhkan jiwa entrepreneurship karena mulai semuanya dari 0 kayak pertamina. Wkwkwk~

Gw ga sabar masuk kantor dan ketemu tim yang literally cuma 5 orang. Hahaha~ 

Entah ya, gw dari dulu tim masuk kantor sih ketimbang WFH. Lebih produktif di kantor gw mah orangnya. Tapi tim keknya pro WFH nih sebagian besar, ada yang bapak2 yang lebih nyaman di rumah biar deket sama keluarga, ada yang masih takut sering demo, dll. Padahal wacana masuk kantor lagi udah diperbincangkan sejak rem darurat dihentikan~

Okay segitu aja kalo tentang kantor.

Kabar lain adalah seminggu ini nyokap sakit. Sedih deh, gejala tipes. Tapi untungnya bukan covid.

Minggu lalu gw panik banget pas nyokap bilang ga bisa nyium. Langsung bawa tes swab drive thru di RSPI (yang untungnya sudah tidak terlalu mahal). Karena nyokap udah above 60, minta yang sehari ketauan hasilnya.

Detik-detik nungguin hasilnya boookkk… degdegan banget kayak nungguin hasil SPMB ama LPDP~~

Alhamdulillah negatif. 

Besoknya ke dokter minta antibiotik sekaligus cek darah karena gejalanya masih mencurigakan. Ketauan deh gejala tipes, penyebabnya adalah debu di rumah.

Langsung besoknya gw beresin tuh barang2 di ruangan atas yang nyokap suka pake tidur-tiduran. Bersihin debunya pake lap basah, terus semprot desinfektan. 

Jadi sadar juga kalo rumah gw tuh kotor dan berantakan banget. Jadi pe-er beberapa minggu ke depan adalah declutter. Marie Kondo the shit out of the house.

Sekarang nyokap sedang pemulihan. Panas masih naik turun tapi slowly recovering. Keknya Sabtu mau gw bawa lagi ke dokter buat kontrol. Mudah2an beliau ga bandel.

Segitu duluuu~~

Byeeee~~


Saturday, October 10, 2020

First Week~~ Heheheheh

Hi, guys! How y’all doin?

Seperti semacam tradisi untuk meng-update apa yang terjadi ketika masuk kantor baru. Sooo.. this is the story in my 1st week in QQ. Hohohoho~

Hmmm.. Bagaimana memulainya ya? Hmmm……

Okay, gw onboarding mandiri karena masih WFH. Set up semua sistem sendiri. It was exhausting. Banyak dan membingungkan. Lalu karena pake laptop sendiri (yes, belum dapet laptop), tentu tidak fleksibel, antara sistem laptop gw yang ga support (karena laptop ini udah 5 tahun umurnya) dan gw-nya pun unwilling untuk mencampur ranah pribadi dan kerjaan terlalu jauh, jadi gw kasih limitation sejauh mana sistem kantor baru ini merasuki laptop gw.

Iya, sedih ya, belum ada laptop. Kantor baru gw ini sebayi itu. Konon butuh sebulan untuk gw mendapatkan laptop. Huhuhu~

Kerjaannya gimana? Udah kebayang sih, walaupun masih meraba2. 

So far so good. 

I mean, gw ga langsung stress out, I think that’s a good thing.

Masalah operasional masih meraba2. Apa yang harus dipost (karena gw adalah Content Marketing Manager), bagaimana strateginya, directionnya, dll. Semuanya masih dalam tahap belajar. 

QQ sendiri masih banyak kekurangan. Karena kantornya baru buka di Indo, jadi sistemnya belum sempurna. Banyak fungsi yang belum ada. Jadi yang udah ada harus bisa jadi semacam palugada, ambil inisiatif dulu untuk ngebantu. 

Gw awalnya lebay, sedikit2 mengeluh, secara di Dian dimanjakan dengan sistem yang udah jadi, tinggal jalanin. Tapi eventually terima nasib, I mean, yaudah, dijalanin aja dengan semangat. Toh udah tau dari awal kalo this is what I sign up for, so yeah. It’s okay. Yuk kerjain dengan segala kekurangannya yang ada. Yang penting niatnya baik. 

Terus.. hmmm.. apalagi ya..

Oiya bos gw tadi gangguin. Ngewatsap saat weekend. Ingin mengeluh tapi terus inget gaji. With great power comes great responsibility. Again, this is what I sign up for, and I don’t wanna look like some irresponsible asshole in my first week. So yeah~

Udah sih itu aja. Sebenernya gampang, real challenge selain kantor yang masih bayi adalah WFH, memperlambat semua proses. Oh well, klasik, jaman di Dian juga gitu. 

Jadi kuncinya adalah sabar, sabar, dan sabar.

Okelah itu dulu aja report-nya. Mau nonton Sherlock di Netflix. Wkwk~ Kompetitor nih sekarang~

Byeee~