Sunday, January 31, 2021

Almost Screwed

Hi, guys! How y’all doin?

Lagi rajin ngeblog nih, ga tau kesambet apa. Otak gw dari kemarin banyak flashback ke kejadian2 atau pengalaman2 tertentu gitu, kek arsip2 lama kebuka. Mumpung inget, jadi ditulis saja. Diarsipkan secara real. Karena arsip adalah pusat ingatan. :)

Okeh, jadi trigger-nya adalah kemarin liat di sosmed, beasiswa Purpose ulang tahun yang ke-9. Wah, udah tua juga ya. Hahaha~

Gw sendiri mendapatkan beasiswa ini di tahun 2015. Sebuah momen yang sampai sekarang masih gw kenang dan syukuri. Karena beasiswa ini memang mengubah hidup gw jadi lebih baik. Mengubah gw jadi pribadi yang lebih baik juga.

Kemudian gw mengenang perjuangan gw untuk dapetin beasiswa ini. I’m actually not new to this scholarship hunting world, because it’s always been a dream of mine to study abroad. Gw inget kala itu udah sering banget apply scholarship/fellowship kemana2. Mulai dari Chevening, VOA, Nuffic, beasiswa Korea, Finlandia, Norwegia, dll yang namanya gw udah lupa saking lamanya..

Long story short, ditolak berkali-kali. 

Udah desperate banget, berasa ga hoki banget, berasa stupid banget, sampai akhirnya Purpose hadir. 

Melihat beberapa teman gw berhasil mendapatkannya membuat gw optimis. Kalo mereka bisa, gw juga bisa. Bismillah, ayo diniatin, difokusin, kita kejar beasiswa Purpose. 

And I got it. :”)

Bukan perjuangan mudah tentu saja. Gw sendiri mengorbankan banyak hal waktu itu. Cuti kantor unpaid sebulan full buat belajar + tes IELTS (yang tidak murah). Banyak keluar waktu, tenaga, dan uang juga untuk nyiapin dokumen2nya. The selection tests were also very difficult, and I was almost screwed in one of the processes! Ini yang mau gw ceritain sekarang, sebuah pengalaman menarique.

Ini belum pernah gw ceritain di blog ini. Sebuah kejadian yang bikin gw hampir gagal mendapatkan beasiswa Purpose. 

Hari itu 11 November 2015, hari pertama tes seleksi beasiswa Purpose—interview test, bertempat di UNJ. I wanted that day to be perfect. I wore my best outfit. I had all the documents ready. I woke up at 4 am to prepare everything. I was so ready. Nothing would ever potentially go wrong that day.

Kita diperintahkan untuk tiba di lokasi pukul 10 pagi untuk lapor diri dan menyerahkan dokumen. Sesampainya di sana, staf Purpose udah ready di beberapa meja. Para calon awardee juga udah pada sampai. I thought I was early enough karena gw dateng sekitar jam 8an. Ternyata buanyakk yang lebih pagi dari gw. Udah rame, sis. Situasinya kayak lagi antre bayar pajak atau bagi2 sembako, orang dimana2. Yah beginilah kalo lembaga negara punya acara, apalagi acaranya bagi-bagi barang gratis. Rakyat pada kumpul~~ Wkwk~~

Calon awardee mengantri teratur di depan meja-meja staf tersebut. Ketika ada staf yang kosong, gw maju dan menyerahkan dokumen + TTD. FYI, gw kebagian wawancara jam 2 siang. Masih lumayan lama. Tapi gapapa, berarti masih ada waktu buat makan, siap2, solat, dll.

Setelah nyerahin dokumen, karena ruangan itu makin padat sama manusia, seorang staf kemudian memberikan pengumuman pakai toa. “Bagi calon awardee yang jadwal wawancaranya di atas jam 12 siang, diharapkan meninggalkan ruangan supaya tidak memenuhi ruangan. Ruangan ini khusus untuk penyerahan dokumen dan ruang tunggu bagi awardee yang jadwal wawancaranya sebelum jam 12 siang.”

Staf itu juga memberitahu bahwa awardee diharapkan berada di ruangan minimal 30 menit sebelum wawancara, dan perhatikan layar di ruangan. Layar tersebut akan menunjukkan nama2 awardee yang sudah gilirannya untuk wawancara. Jika nama awardee terpampang di layar, berarti sudah boleh naik ke atas untuk wawancara.

Okay, fine. Jadi gw keluar dulu, berkeliaran di UNJ, terus maksi dan solat, sampai waktu menunjukkan pukul 1 siang. Gw pun kembali ke ruangan tadi karena sudah mendekati jadwal interview. Gw masuk ke ruangan dan melihat nama gw belum terpampang di layar. Oke, wajar. Giliran gw kan masih 1 jam lagi. 

Setengah jam berlalu, nama gw belum juga ada di layar. Tapi lucunya, layarnya pun ga ter-refresh. Dari jam 1 gw pantengin, nama2 di situ ga berubah. Oh paling wawancaranya ngaret, pikir gw. 

Jam 2 teng, masih ga ada tanda2 nama gw keluar di layar. Akhirnya gw tanya sama salah satu staf.

“Maaf mas, saya giliran wawancara jam 2. Tapi nama saya belum ada di layar. Boleh tolong cek?” *sambil kasih liat KTP*

“Wah mba L*scha ya, ini udah kami panggil2 dari tadi, tapi mba ga muncul2. Udah lewat mba, gilirannya.”

“Hah? Dipanggil kapan ya, mas? Saya dari sejam yang lalu udah di ruangan ini, nggak denger ada yang manggil nama saya. Di layar pun nama saya nggak ada~”

“Udah daritadi nih mba dipanggilin. Udah lewat giliran mba. Udah ga bisa wawancara.”

Shock berat.

I could feel my soul leaving my body.

Gw yakin muka gw langsung pucat banget pasti. 

“Mas, saya sudah di ruangan ini dari jam 1 dan giliran wawancara saya jam 2. Ga mungkin saya ga denger kalo nama saya dipanggil. Di layarpun nama saya nggak ada. Masa dilewatin gitu aja?”

“Ya tapi kenyataannya gitu mba. Nama mba udah ga ada di daftar nih, berarti tadi udah dipanggil, tapi mba ga nyaut.”

So many things didn’t make any sense here. Pertama, ngga ada aba-aba bahwa awardee yang sudah giliran wawancara akan dipanggil. Aba-abanya adalah perhatikan layar. Selama di ruangan pun gw tidak mendengar ada panggilan2 untuk awardee tertentu. Kedua, kalopun gw dipanggil, ga mungkin gw ga denger. Ruangan itu kecil, orang bisik2 aja kedengeran. Ketiga, kenapa di sini gw dipojokkan seolah2 gw yang salah? Gw sudah dateng sesuai jadwal, 1 jam in advance malah, dan gw sudah mengikuti aturan sejak awal, dengan tidak stay di ruangan tersebut apabila jadwal wawancara di atas jam 12. Keempat, ga mungkin juga giliran wawancara gw maju jadi antara jam 12-1, karena itu jam istirahat para staf. Gw liat kok staf2 itu termasuk interviewer2 keluar ruangan jam 12 buat maksi dan solat. Ga ada siapa2 di ruangan itu jam segitu~

Kesimpulannya, mas ini ngaco aja~

Gw speechless. 100% gw merasa gw tidak salah. 100% gw merasa gw korban.

Jadi gw berdiri diem di hadapan mas itu. Ga bergeming. Ga mengeluarkan sepatah katapun. Cuma tatapan tegas ke mas itu. 

Padahal sebenernya I was about to go off.

EH APA-APAAN GW GA BISA WAWANCARA??! GW GA MENYALAHI ATURAN APA-APA! KALIAN GA MANGGIL GW~ NAMA GW GA ADA DI LAYAR~ KENAPA JADI GW YANG SALAH~~~

Tapi gw tahan. Ga mau marah dan making a scene, karena marah2 malah akan memojokkan posisi gw~

Ada kali 10 menit gw berdiri di depan dia. Dia awalnya tengil, nyuekin gw~ Tapi gw keukeuh, berdiri sikap sempurna, ga bergeming. 

Akhirnya…

“Yaudah mba boleh ke atas. Lapor sama staf yang di sana, kasih liat KTP.”

“MAKASIH MASSSS!!” *senyumin* *padahal sebenernya udah pengen gw cekek*

Sampai di atas, lancar2 aja tuh~ Abis kasih liat KTP, gw dikasih nomor antrean, terus udah deh, nunggu giliran sama calon awardee lain. Ga ada drama apa2.

Huh!!! Sampai sekarang kalo inget2 kejadian itu masih emosi, beb!!!

Pakabar tuh mas2 yang hampir menggagalkan gw? Semoga baik-baik aja hidupnya ya. Hampir matiin rejeki orang, cih!! Ga berkah mas hidup lo!!!

Oh well, tapi ya gitulah lembaga pemerintah kalo bikin acara. Ga bisa sempurna. Pasti ada aja kacau dikit. 

Yuk pemerintah bisa yuk hire orang2 yang lebih kompeten untuk pekerjaan2 seperti ini. Mereka dibayar pake uang rakyat lho, jangan sampai service-nya mengecewakan. 

Anyway, untungnya kejadian itu adalah klimaks dari keseluruhan proses seleksi. Wawancara gw berjalan lancar (pernah gw ceritain di sini). Tes hari kedua juga aman sentosa (baca di sini). Sebulan kemudian ketika dinyatakan lulus, gw tidak heran. Hehehe~

Okay, that's all for today. Happy 9th bday untuk beasiswa Purpose. Thank you for giving me a purpose in life. Thank you for teaching me integrity. Thank you for all those great opportunities. Thank you for Melbourne. Thank you for your contribution to shape me into who I am today. In fact, I can't thank you enough.



I love you. Hope I can pay you back with dedication and hard work in the field I am most passionate about. For Indonesia! ðŸ‡®ðŸ‡©ðŸ‡®ðŸ‡©ðŸ‡®ðŸ‡©

Saturday, January 30, 2021

My First Presscon!!!

Hi, guys! How y’all doin?

It’s a rather gloomy Saturday. Ujan dari pagi, ga ada matahari, udara dingin bikin mager~

Gw sendiri sedang dalam kondisi yang kurang baik, bukan sakit atau gimana, lebih karena frustasi. Semalem abis debat kusir sama bos gw—the sucks part of the job. Kerjaan gw sekarang menyenangkan overall. Gw berada di industri yang gw suka, mengerjakan apa yang gw suka, temen2 kantor baik yang lokal maupun internasional semuanya baik2, pinter2, dan keren2, company pun satu visi dan misi sama gw, company culture-nya gw sangat respect, dll. 

Yang challenging dari kerjaan gw sekarang adalah bos gw. Beliau bukan orang Indo, jadi secara culture udah beda banget sama kita2 karyawan Indo. Sebenernya beliau baik, hanya saja punya pola pikir yang berbeda sama orang2 kebanyakan—which is fine sebenernya kalo masih make sense. Sayangnya, ini ga make sense~ Hahaha~ Jadi struggle gw dan colleague2 gw kalo diskusi/debat sama dia adalah mengembalikannya ke jalan yang benar. 

Oh well, emang ga ada kerjaan yang 100% sempurna. I learn that the hard way.

Anyway let’s not talk about him any longer, yang gw mau bahas di sini adalah sebuah achievement! Woohoooo~~~

Ladies and gentlemen, I just had my first ever, my official debut, AS A PRESSCON SPEAKER BABY!!!!!!

LEVEL UP! LEVEL UP!

I mean, when it comes to presscon, I have come a long way. Diawali dengan diundang & dateng ke presscon sebagai jurnalis waktu kerja di XXXXX, kemudian involve di penyelenggaraan presscon ketika bekerja di Dian (seksi sibuk jadi EO), sekarang? Resmi jadi pembicara alias narasumber. :D

Guys… I made it~ :”)

Aaah gila banget kalo dipikir2. Gw baru 3 bulan di kantor baru ini, dan maybe gw bukan siapa2, tapi gw debut di media~ ><

Masih ga percaya sampai sekarang.. Padahal pressconnya udah 3 hari yang lalu.

Oke, jadi gimana ceritanya gw bisa sampai jadi pembicara presscon? Oke, gw ceritain dari awal.

Seharusnya itu yang jadi pembicara tentunya adalah bos gw. Namun karena beliau tidak bisa bahasa Indonesia, pun bahasa Inggris nggak lancar, jadi, after due consideration, gw sama colleague gw, si Mase, memutuskan untuk kita aja yang jadi pembicara, demi menyelamatkan image QQ di hadapan media. Wkwk~~

Gw nervous banget. Pertama karena udah lama ga presentasi. Presentasi terakhir waktu masih di Dian, dan berbahasa Inggris. Alhamdulillah presscon kemarin pake bahasa Indonesia sih, jadi lebih gampang pas nyiapin script, bahasanya lebih ngalir. 

Kedua karena tipe audiensnya baru banget: media. Gw udah biasa presentasi di depan bos, regional, temen kantor, partner, klien, vendor, agency, temen kuliah, dosen, dll. Tapi baru kali ini audiensnya media. Gw pernah ada di posisi mereka dan kadang2 media itu pertanyaannya susah dan menjebak--wajar, karena mereka mencari news value. Karena gw perwakilan brand dan company di sini, tentu ga bisa asal jawab. Untung ada PR agency yang bantuin sih. Jadi kita udah siapin pertanyaan untuk segala macem jawaban. 

Ketiga karena ini virtual, takut banyak kendala teknis. Ya laptop erorlah, internet matilah. Gw antisipasi dengan pergi ke kantor supaya at least internet stabil. 

Keempat karena… *sigh* gw grooming sendiri~ 

Dulu tuh zaman di Dian, kalo ada presscon, bos gw yang jadi pembicara persiapannya buset dah~ Ibarat mau nikah. Mandi kembang tujuh rupa~ Wkwk~

Tim PR-nya Dian bener2 ngegrooming beliau sedemikian rupa. Dikasih baju yang kece dan mewakili image perusahaan, hire makeup artist & hair stylist, disiapin makan yang enak2 buat menjaga mood, teks buat dibaca udah dikasih at least seminggu sebelumnya buat latihan, rehearsal minimal 3 kali mulai dari di kantor sampai on the spot, daftar do’s and don’ts seabrek, dll.

Ribet deh. Well, semua itu wajib dilakukan karena Dian banyak musuhnya. Jadi mesti hati2 banget, jangan sampai ada sedikitpun kesalahan. Seriously, salah ngomong dikit aja bisa jadi blunder~ Jadi ya gitu deh.

Gw kemaren? Yaolo seadanya banget. Baju sederhana, makeup sendiri, catok rambut sendiri, karena terlalu nervous jadi ga napsu makan, teks bikin sendiri, rehearsal h-1~ wkwkwkwk~~

Terus gimana pressconnya? 

Alhamdulillah lancar. Media yang dateng ga banyak sih, huhu~ Tapi ya secara umum acara lancarlah. Gw udah latihan untuk present part gw yang lumayan menyenangkan: konten. Memperkenalkan QQ punya konten apa aja, kenapa harus ditonton, ada siapa aja artisnya, dan trivia2 lain yang merupakan keahlian gw~ Hehehe~ It was fun!

Sesi tanya jawab ga banyak, gw cuma jawab 2 pertanyaan (salah satunya dari Nanien yang sumpah nahan ketawa banget jawabnya~ wkwk). Kebanyakan pertanyaan dijawab sama si Mase. Maacih Maseee!! Yudabest!

Anyway, ternyata gampang ya presscon. Wkwkwk~ Karena virtual kali ya? Mungkin tension-nya beda kalo offline. Well, suatu hari nanti mungkin kejadian kalo coronces udah gone. Mudah2an kala itu gw lebih siap dan punya PR agency yang lebih resourceful, jadi bisa bantuin grooming.

Becoz I would love to do it again! :D

Anyway, sedikit kenang-kenangan dari presscon kemarin. Muka gw tegang banget, maaf ya, newbie nih. :D

maaf ya mesti sensor sana sini

Special shoutout buat Nanien! Thank you udah jadi seksi dokumentasi dadakan~ HAHA~

Thank you udah dibikinin beritanya juga, menyebut namaku pula. :”)

Terharu beb, biasa nulis berita sama jadi seksi sibuk nyiapin presscon, sekarang jadi pembicara. :”)

Till the next presscon, bye! 

Saturday, January 23, 2021

Nggak Mau Pakai Jilbab

Hi, guys! How y’all doin?

Tergelitik bikin tulisan ini karena isunya sedang hangat. 

Ceritanya ada sekolah negeri di Padang yang mewajibkan seluruh siswinya memakai jilbab (or hijab? or kerudung? idk-lah, you get what I mean), termasuk yang non Muslim. 

Ini gila sih, jauh banget dari nalar. It’s so stupid and wrong I can’t even~ Ga usah dibahas lebih lanjut ya, buang-buang waktu, jelas sekolah itu salah dan sudah sepatutnya diberi sanksi. 

Yang mau gw bahas adalah lantas apa yang terjadi pada siswi yang Muslim? Apakah tetap harus mengikuti peraturan tersebut?

Pasalnya itu sekolah negeri, bukan sekolah swasta atau sekolah berbasis agama yang bisa bikin peraturan sendiri. Sekolah negeri itu milik negara, dijalankan dengan uang rakyat, jadi peraturan yang diterapkan pun harus sesuai dengan asas negara. 

Negara Indonesia mengakui 6 agama, jadi ya peraturan sekolah harus merefleksikan 6 agama itu. Terapkan peraturan yang sifatnya netral, ga bisa dipaksakan ngikutin aturan agama tertentu. 

Emang sih yang diwajibkan cuma siswi Muslim, tapi the act of mewajibkan itu akan membuat citra sekolah tersebut tampak seperti sekolah Islam, bukan sekolah negeri lagi. Apalagi secara umum jumlah siswi yang Muslim lebih banyak daripada yang non Muslim. Gampang sekali terlihat sebagai mayoritas. This is bad. 

Akibatnya, orang2 non Muslim ga mau sekolahin anaknya di sana lagi. Anak-anak terbiasa terpisah2 atau tereksklusifkan dari kecil, ga dibiasakan untuk mengenal dan menerima perbedaan. Padahal ini adalah salah satu mission statement sekolah negeri.

Belum lagi kalau ada orang2 bandel yang kemudian menjadikan aturan wajib pakai jilbab ini sebagai USP untuk jualan, seolah2 sekolah itu lebih condong ke Islam, buat menggaet kaum2 tertentu atau menanamkan ideologi2 tertentu ke murid2nya~ Ya makin ancur negara~

On top of that, memakai jilbab adalah keputusan personal, yang harus datang dari hati anak itu sendiri, bukan paksaan atau suruhan orang lain, apalagi institusi macem sekolah~ Memakai hijab adalah keputusan yang suci dan sakral, serta menunjukkan komitmen kepada Tuhan. Dengan mewajibkan pakai jilbab, sekolah secara ga langsung memperlakukan jilbab seperti barang sekali pakai buang. Pulang sekolah, ya lepas aja~ It’s just wrong.  

Gw mau flashback ke belasan tahun yang lalu, zaman SMA.

Kebetulan gw sekolah di SMA negeri dan kebetulan juga SMA gw mewajibkan siswi Muslim untuk memakai jilbab di hari Jumat, on top of wajib pakai baju lengan panjang dan rok panjang.

Sebagai lulusan SMP Katholik, saat itu gw berontak. Bayangkan, seumur hidup gw ga pernah pake jilbab, tiba2 diwajibkan setiap minggu untuk pake. I mean, harus pake baju lengan panjang dan rok panjang aja udah ga make sense buat gw waktu itu~ Buat apa? Kenapa ga pake seragam normal aja? Toh sama-sama putih abu-abu~ Ini disuruh pake jilbab lagi~

Gw waktu itu belum paham kalo masalah wajib pakai jilbab ini sangat serius. Gw ga mau pake jilbab semata karena gerah aja. Tapi gw inget reach out ke beberapa orang, curhat soal masalah ini, berharap ada pencerahan, or even better ada yang belain~ 

Sayangnya, orang2 yang gw reach out pun ga paham kalau ini masalah serius. 

Perihal baju lengan panjang dan rok panjang, ada 2 alasan:

1. Karena hari Jumat adalah hari istimewa untuk orang Islam (ada hadisnya katanya), hence harus mengikuti budaya/tradisi Islam

2. Supaya terlindungi dari pelecehan seksual

Alasan pertama total bulshit, again, kenapa memberlakukan budaya Islam di sekolah negeri yang seharusnya netral? 

Alasan kedua, bulshit juga, kalau emang pengen melindungi dari pelecehan seksual, ya tiap hari dong diwajibkan, jangan cuma jumat doang~

Perihal jilbab, tanggapan mereka rata-rata sama, tetep nyuruh gw pake.

“Udah, nurut aja, namanya juga peraturan sekolah.”

“Kan sepaket sama baju lengan panjang dan rok panjang.”

“Pake ajalah, cuma seminggu sekali doang~”

“Pakenya pas jam pelajaran aja, pas istirahat kan bisa dicopot.”

Akhirnya, dengan segala unwillingness, gw ikutan pake jilbab setiap hari Jumat. Karena takut dihukum kalo ga pake. 

Kalo aja ada orang yang paham bahwa ini masalah serius, kemudian mereka belain gw dan speak up, ceritanya bisa lain. Sekolah gw bisa kena sanksi. Siapapun yang mengesahkan peraturan tersebut bisa ditindak. I would love to see that to be honest, karena bertahun2 kemudian gw denger sekolah itu sekarang dicap sebagai sekolah Islami, cenderung radikal malah. Seandainya ada yang speak up lebih awal, tentu tidak akan menjadi seperti itu. 

Oh well, intinya miris dan kasian sama anak2 yang ga punya pilihan untuk memilih sekolah, dan ujung2nya masuk sekolah negeri yang punya peraturan kayak gitu. Looking back, gw pun menyesal dan malu karena gw ga memahami masalahnya lebih awal dan malah ikutan melestarikan peraturan konyol itu. 

Semoga Nadiem Makarim bisa memperbaiki sistem pendidikan kita. Amien. 

Sunday, January 17, 2021

AOT & HP

 Hi, guys! How y’all doin?

Sebelum bingung, let me tell you that AOT stands for Attack On Titan and HP stands for Harry Potter.

----Warning! Might contain spoiler!----

Postingan kali ini akan exciting karena kita bakal ngomongin entertainment! Woohooo~~~ 

So, as you all already know, sekarang gw bekerja di sebuah OTT platform. Buat yang belum familiar dengan istilah OTT, itu singkatan dari over-the-top, dimana merupakan layanan penyedia konten yang didistribusikan lewat internet—thus namanya over-the-top, “top” as in beyond cables and satellite selayaknya penyedia konten konvensional, seperti TV. 

Jenis OTT-nya sendiri adalah video streaming, seperti halnya Netflix dan YouTube. Jadi kita menyediakan konten video. Value preposition-nya adalah film, drama, anime, dan variety show asli Asia. In fact, kantor gw itu punya sebutan “Netflix versi China” karena kita punya bermacam-macam konten berkualitas seperti halnya Netflix, dan kita made in China. Wkwk~

Okay enough foreplay. Dengan bekerjanya gw di QQ (yes, icydk, di blog ini, kantor gw namanya adalah QQ), apalagi dengan title sebagai Content Marketing Manager, gw diharuskan untuk mengerti konten apa aja yang ada di QQ. Sometimes, it also requires me to watch the content, karena salah satu jobdesc gw adalah social media management—dimana gw harus bikin konten untuk social media. Kalau ga nonton kontennya, tentu ga bisa bikin konten buat social media. 

Karena tuntutan pekerjaan ini, gw harus menonton anime Attack On Titan karena QQ baru merilisnya bulan lalu. Awalnya gw tidak tahu menahu apa itu AOT—taunya cuma di permukaan. Bahwa ini adalah adaptasi dari manga populer dan tahun 2015 lalu ada film live-action-nya yang dibintangi oleh Kiko Mizuhara.

Btw, ternyata oh ternyata gw sempet nonton filmnya di bioskop, pernah gw ceritain di postingan ini. Gw menonton karena 2 alasan: 1) Dapet tiket gratisan (wkwk~) 2) Yang main Kiko yang saat itu masih berstatus pacarnya GD (WKWKWKWKWKWK~~~). How’s the movie if you may ask? It’s a total shit show. Hahaha~ Kapan2 kita bahaslah kalo level fangirl gw ke AOT udah naik.

Anyhowww~~ So yeah, gw pun menonton AOT, and gotta tell you, gw langsung hooked! Gila ni anime bagus amat yak? Heuheuheuheuheu~~

People love the animation, obviously it’s flawless. Gw suka terutama karena cerita, karakter, dan soundtrack/scoringnya. I don’t watch a lot of anime, but I’m pretty sure AOT has a league of its own—maybe that’s why fandomnya segitu besar, fanatik, dan protektifnya.

Story-wise, gw suka cerita yang berlayer-layer kayak gini. Tidak hanya satu premis. Tiap episode dan season-nya AOT itu menguak a bigger and bigger scenario, like they have a whole new mystery to reveal each time, mulai dari backstory setiap character, justifikasi kenapa begini kenapa begitu, sampai akhirnya apa yang terjadi di satu universe itu ter-reveal semuanya, semuanya ternarasikan dengan apik. 

Buat penikmat kali pertama seperti gw, memahami apa yang terjadi di AOT bukan hal mudah. Banyak adegan yang membuat gw confused as fuck, sampai gw harus pause videonya, terus googling + tanya sana sini dulu, sampai akhirnya paham dan lanjut nonton. Susah emang kalo berangkat dari menonton anime, nggak baca manganya dulu. Tapi gapapa, part of the experience.  

Kemudian untuk soundtrack/scoring, my my… Gokil pisan~ Sungguhlah Hiroyuki Sawano itu membuat Hans Zimmer terlihat cupu sekali~ Like why do I even stan Zimmer this whole time? Wkwk~ JK~

But seriously tho, soundtrack/scoring-nya itu keren banget, men~ Beautiful, emotional, dope, charming, heart-warming, tear-jerking, chills, literal chills, whatever you name it-lah. Seolah-olah musik itu dibuat sendiri oleh Allah subhanahu wa ta'ala, nyamar dalam bentuk manusia bernama Hiroyuki Sawano. 

Gw agak bingung sebenernya musik-musiknya itu disebut soundtrack atau scoring~ Kalo disebut soundtrack, musiknya itu ga bisa dibilang satu lagu full/utuh~ Disebut scoring pun kadang ada lirik dan penyanyinya selayaknya lagu populer~ Mungkin kita refer as musik aja di sini ya.

Gw adalah pengapresiasi besar soundtrack dan scoring dari motion picture. Salah satu yang bikin gw gampang connect sama motion picture adalah soundtrack dan scoring-nya. Scoring sih terutama, alias musik yang dibuat khusus untuk mendampingi adegan tertentu. Gw sangat menghargai karya-karya composer yang bikin scoring film. Gw punya playlist Spotify judulnya SIAP TEMPUR, itu isinya scoring2 film yang gw suka—mostly memang scoring adegan combat, karena playlist itu gw bikin untuk mendampingi gw ketika lagi combat-mode. Misalnya pas zaman kuliah ngerjain assignment atau pas sekarang kerja lagi ngerjain tugas super susah atau ya kalo lagi pengen cari semangat yang berapi-api aja. 

Yang terhormat Hiroyuki Sawano-sensei dan segenap musik yang beliau bikin buat AOT udah masuk ke playlist tersebut. 

Gw bisa sesuka itu sama AOT sedikit banyak karena karya2 Hiroyuki Sawano berhasil meng-connect gw secara kimia dengan animenya. Seperti halnya Hans Zimmer meng-connect gw dengan Lion King dan The Dark Knight, dan Ramin Djawadi meng-connect gw dengan Iron Man dan Pacific Rim. Ada chemistry dan emotional attachment yang muncul, yang mengaktivasi semua senses yang gw punya, and also my heart, sehingga pengalaman menonton yang dihasilkan jauh lebih berkesan, serta menumbuhkan sense of belonging dan rasa sayang terhadap motion picture-nya.

Oh man, gw ngomongin scoring mah ga akan ada abisnya, so kita stop point ini dan lanjut ke yang lain aja. Faktor ketiga yang bikin gw suka adalah karakter. Hmmm… Gimana gw jelasinnya ya? Kalo bikin list karakter favorit kayaknya lame dan basi~ 

Intinya sih karakternya kuat semua. Kenapa karakternya bisa kuat pastinya karena masing2 didukung sama backstory yang make sense. Jadi semua tindakannya terjustifikasi dengan baik. Kemudian cara Hajime ngembangin masing2 karakter juga rapi banget. He definitely took his time, ga buru-buru. 

Karakter favorit gw? Tentu saja Levi, no doubt about it. Sama Mikasa. The Ackermans. The strongest. The absolute fucking best. Runner up-nya ada Hanji-san alias Zoe Hange, karena dia pintar dan psycho~ Haha~ Juara tiganya almarhum Om Hannes, si pemabuk yang baik hati, kebapakan, dan bertanggungjawab. Juara keempatnya, Rainah aka Reiner shay, karena kasihan. Beban hidupnya berat banget ini orang. Mesti jadi orang jahat, padahal dasarnya baik. 

Actually postingan ini dibuat sebenernya mau ngomongin lebih lanjut soal karakter di AOT, terutama karakter yang menurut gw paling gengges dan mempertanyakan kenapa sih harus dia the whole time…

Namaewa……………

EREN IYEGAH!

LMFAO~~~

I don’t like Eren. There, I said it. 

I really don’t like him. 

Kenapa sih ni orang harus jadi MC alias main character di AOT?

Pembaca manganya pasti nge-bash gw nih karena membuat statement ini~ Wkwk 

Well gapapa. Pembaca manganya itu kan seperti Tuhan, maha tahu segalanya. Mungkin mereka punya alasan yang valid kenapa Eren ga boleh dibenci. That’s fine, mungkin one day gw akan baca manganya juga sehingga mengerti alasannya. In the meantime, karena gw hanya berbekal anime, for now, gw ga suka sama Eren, and here’s why.

Karakternya biasa banget, men~ I mean apa kelebihannya si Eren ini? Secara intelenjensia, ga pinter2 amat. Ga selevel sama Armin gitu, yang jenius dari lahir. Secara kombat, lebih-lebih b-aja. Pas jadi manusia b-aja, pas jadi titan b-aja. Standar and obviously tidak sejago Mikasa, let alone Levi. Secara personality, kebanyakan bitter, baperan, dan selalu keinget masa lalu ga bisa move on. Totally not a pleasure to watch him grow as a character~   

Like seriously, dia tuh kebetulan aja jadi main character, karena terlahir sebagai anaknya Grisha Yeager yang kebetulan punya power Founding Titan dan Attack Titan. Power ini diwariskan ke Eren. Gitu aja sih. 

Karakter Eren ini mengingatkan gw pada seorang karakter yang tahun 2009-2012 tidak asing namanya di blog ini: Harry Freakin Potter.

ketika mereka saling curcol. creds: this

ICYDK, dulu (well sampai sekarang juga masih sih, tapi dikit) gw adalah fans fanatik Harry Potter. Real nerd. Freak banget. Like I feel like I know Harry Potter second after JKR, way better than anyone in this planet. Postingan blog ini tahun 2009-2012 mainly berisi tentang Harry Potter. Nggak sekali gw bela2in ke Singapore buat mengejar apapun yang berhubungan sama Harry Potter, simply because di Indo ga ada~ Anyway, you get my point.

Ketika nonton AOT, gw menemukan banyak kesamaan antara si Eren dan si Harry. Mereka itu sama-sama orang biasa, yang kebetulan jadi the chosen one di universe masing-masing. Backstory-nya mirip pula, karena sesuatu terjadi sama orangtua mereka. Si Grisha disuntik Titan, si James dan Lily diserang Voldemort. 

same bruh, same. creds: this 

Eren dan Harry menjadi spesial. Orang2 memuja sekaligus membenci mereka. Padahal, both Eren dan Harry, walaupun spesial, ga ada apa2nya kalo ga dibantuin orang2 di sekitar mereka. Mikasa sama Armin, selayaknya Hermione dan Ron (nah kan, kenapa pula si Eren harus punya 2 sahabat--cewek dan cowok macem si Harry?). Kemudian the Survey Corps squad, selayaknya Order of Phoenix dan Dumbledore’s Army. Another obvious similarity between AOT and HP.

Seriously, Eren kalo ga ada Mikasa since day 1, udah metong dah. Sama kek Harry, kalo ga ada Hermione, dari buku 1 udah metong dimakan Jerat Setan alias Devil’s Snare, waktu mereka mau nyelametin batu bertuah. 

bUt eReN sAvEd MikAsA fiRsT! 

True, Harry also saved Hermione first from the mountain troll on Halloween (told ya I am a Potter-nerd~).

But still, like Professor McGonagall said, it’s a sheer dumb luck. Jadi ga bisa dibilang Hermione lebih berhutang sama Harry, atau Mikasa lebih berhutang sama Eren. Ga gitu cara mainnya, beb.

Ya intinya gw gemes bangetlah sama Eren, seperti halnya gw gemes sama Harry. Di universe itu banyak karakter2 lebih kuat yang lebih pantas menyandang status MC. Tapi Hajime Isayama memilih Eren, seperti JKR memilih Harry. The chosen one. 

Oh well, kalo kata netijen yang bijak: kalo MC-nya Levi, AOT udah tamat di 5 episode , ga bakalan jadi 4 season. Hahahaha~~~

AOT perlu asupan drama dan tragedi, supaya ceritanya bisa jalan. Drama dan tragedi itu cuma bisa jalan dengan setiran karakter Eren Iyegah dari POV-nya dia, karena dia anaknya Grisha. Kalo Mikasa anaknya Grisha, ya mungkin Mikasa yang nyetir ceritanya, dari POV-nya dia.

Gitu, shay.

Another similarity could be their physical appearance. Sama-sama kuyus, rambutnya berantakan, dan matanya ijo. Bedanya mata ijo Eren dapet dari Grisha (bapake), Harry dapet dari Lily (ibu'e). 

Another one could be in terms of facing betrayals dari orang yang dekat dengan mereka. Eren di-betray Rainah alias Reiner yang ternyata adalah Armored Titan dan Bertoroto alias Bertholdt yang adalah Colossal Titan, yang ngancurin Wall Maria, bawa masuk titan-titan pembunuh, dan bikin kehidupan manusia di sana hancur lebur. 

Harry (well, technically Ron) di-betray Scabbers--tikusnya Ron di buku 3, yang aslinya adalah Peter Pettigrew--yang ngorbanin James dan Lily ke Voldemort. Kemudian di-betray lagi di buku 4 sama Mad-Eye Moody, yang ternyata adalah Pelahap Maut yang nyamar~ Yailah Harry, demen banget siy di-betray~ Wkwk~

Gotta tell ya, the looks on their faces when they found out about the betrayals, priceless. Wkwk. Eren malah emo banget di momen itu pake soundtrack You See Big Girl~ 



Ooh membahas entertainment memang selalu menyenangkan. Gw masih dive deep into AOT universe nih, siapa tau along the way menemukan kesamaan lagi sama HP ya. Kalo emang ada lagi, nanti gw blog lagi.

Ciao bella!

Sunday, January 10, 2021

Things won’t be the same

Well hello, 2021! Postingan pertama tahun baru nich~ Mudah2an tahun ini lebih banyak ngeblog ya. Tahun lalu mayan tuh jumlah postingan peningkatan, well.. efek di rumah aja kali ya?

So, hari ini pengen bahas sesuatu yang kepikiran kemarin. 

Gw pernah bikin postingan ini, di mana gw membahas perubahan drastis yang terjadi pada diri gw in terms of personality dalam kurun waktu dua tahun. Di situ gw menganalisis proses perubahan personality gw secara ilmiah berdasarkan hasil tes 16Personalities-nya Myers-Brigg. Jadi insya auloh valid, nggak semata2 asumsi gw doang.

Berdasarkan hasil tes itu, gw yang di tahun 2017 adalah seorang ISFP-A, dua tahun kemudian di tahun 2019 berubah menjadi INTJ-T. Kenapa bisa berubah? Mostly karena banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan gw. Misalnya, relokasi dari Jakarta ke Melbourne, balik lagi ke Jakarta. Kemudian tipe kehidupan yang gw jalani, dari karyawan ke mahasiswa, balik lagi ke karyawan. Juga dengan siapa gw berinteraksi dan bersosialisasi di kehidupan sehari-hari, mulai dari teman lama ke teman baru, balik lagi ke teman lama sekaligus mendapat teman baru. 

Panjang deh penjelasannya, lo baca aja di postingan itu.

Yang gw mau bahas sekarang sebenarnya mirip2, tapi dalam konteks pandemi. Pandemi ini sudah berlangsung 10 bulan, hampir setahun. Itu lama lho, guys. Kalo kuliah S2 di Inggris, di bulan ke-10 biasanya udah mulai ujian kelulusan dan persiapan pulang ke Indonesia. Wkwkwk~~

Pandemi sedikit banyak mengubah hidup kita. Dari WFO ke WFH, ketemu langsung jadi ketemu virtual, dari sering mobile/jalan2 jadi lebih banyak stay at home, dll. Menurut gw hal ini pasti ada dampaknya ke personality sih. Ada yang sejak pandemi jadi clean-freak, paranoid, super cautious, galak, garing, tabah, pasrah, dll. Ada juga yang jadi lebih kreatif, inovatif, lucu, keren, dll. 

This makes me think… when we finally get to see each other again… things won’t be the same. All of us would’ve gone through major changes in life, yang pastinya ber-impact kepada perilaku kita. Gw yang sekarang akan beda banget sama gw yang dulu kalian kenal sebelum pandemi, and vice versa, gw yakin kalian pun begitu. 

Semuanya mulai dari 0 lagi, ibarat baru kenalan, belajar lagi dari awal. Ya mungkin ada beberapa sifat lama yang masih dibawa, tapi pasti lebih banyak sifat2 barunya. 

Gw sendiri mengakui banyak yang berubah dalam diri gw, walaupun gw belom tes 16personalities lagi sih. Gw yang sekarang kayaknya sih lebih pendiem ya, ga sebawel dulu. Ya gimana, dalam keadaan ga pandemi aja gw udah introvert, apalagi setelah dikurung di rumah berbulan2?

Terus gw lebih wary juga, ya wajarlah takut virus~ A bit of a clean freak, setiap ketemu hand sani selalu pake. Cerewet juga kalo ada orang yang ga compliant, ga pake masker di tempat umum, ga social distancing (side-eye-ing orang2 di resto2 Ashta District 8 dan Taco Bell yang literally selalu penuh).

At some point, gw juga merasa gw lebih rebel sekarang, again, akibat kelamaan dikurung. Bawaannya pengen membangkang, pengen kabur, walaupun ga sampai se-inconsiderate orang2 yang plesiran ke Bali di tengah pandemi sih (yes, I stand by SJW for this one, you are inconsiderate, irresponsible, ignorant, and just plain dumb if you think traveling for leisure is okay in this time). 

So, heads up aja, I changed a lot, things will get awkward the moment we see each other again. Haha~

So, for more awkward moments this year, cheers!