Saturday, July 12, 2014

A Tribute



Hello.


For hours I was hesitating whether I should make this post or not. In last minute, I finally decided to write. But it was postponed coz I’ve been looking for pictures to support.


I never found it.          


This post is about a friend.

Kalo lo pembaca blog gw since the very beginning, pasti lo familiar dengan nama2 seperti Grace, Apree, Elia, Bone, Pika, Putri, Silky, dll. Mereka adalah temen2 gw dari SD sampai SMP, sampai sekarang. FYI, ketika SD dan SMP, gw bersekolah di sebuah yayasan bernama Pamardi Yuwana Bhakti. Sekolah berbasis Katholik yang terletak di daerah Pondok Gede, Bekasi.

Pamardi bukan sekolah besar. Setiap angkatan, cuma ada tiga kelas: A, B, C. Muridnya emang ga banyak. Paling cuma 100-an orang per-angkatan. Jadi, kita semua mostly saling kenal. At least tau mukalah.

Anyway, gw sekarang mau ngajak lo flashback ke 19 tahun yang lalu. Summer 1996. Ketika gw baru pertama kali masuk SD Pamardi.

Juli 1996. Pertama kalinya gw menapakkan kaki di Pamardi. Sekolah ini asing banget buat gw. Gw ga kenal siapapun di sana. Gw mau nangis karena sama sekali ga punya temen. Rata2 anak2 yang masuk SD Pamardi adalah lulusan TK Sang Timur, yang satu yayasan dengan Pamardi. Karena berasal dari TK yang sama, anak2 yang sekelas sama gw rata2 saling kenal. Mereka udah membentuk grup2, membuat gw sangat mustahil untuk bergabung.

Gw pun duduk sendiri mengasingkan diri di bangku pojok kanan paling depan. Berharap ada anak yang mencoba berteman dengan gw.

Harapan gw terkabul, ada anak cewek yang dianter oleh mamanya masuk ke dalam kelas. Anak ini lulusan TK Sang Timur juga. Terlihat dari gimana cara anak2 di kelas menyambut dia saat masuk ke kelas. Beberapa dari mereka memanggil namanya. Beberapa yang lain mengajak anak ini untuk duduk sama mereka.

“Nggak mau, aku mau duduk di depan!” kata anak ini.

Satu-satunya bangku paling depan yang masih kosong adalah bangku di samping gw. Gw pikir dia akan berubah pikiran. Tapi ternyata nggak. Dia duduk di samping gw dan menyapa gw.

“Hai, aku Jessica. Panggilannya Chika. Nama kamu siapa?” tanya dia.

“Seeta.”

“Kamu dari TK mana?”

“TK Mutiara.”

“Aku dari Sang Timur. Kamu lahir bulan apa? Nama panjang kamu siapa? Kamu bawa pensil berapa?”

Anak ini kepo sekali. Sebenernya gw ga nyaman ditanya2 terus. Tapi toh gw jadi dapet temen. Temen pertama gw di Pamardi. Jessica “Chika” Florentina.

Begitulah perkenalan gw dan Chika.

Sebuah perkenalan yang tulus dan innocent.

Perkenalan gw dan Chika membawa banyak kebaikan buat gw. Chika ngenalin gw sama temen2nya, membuat gw dikenal sama anak2 lulusan Sang Timur lain. Chika juga selalu mengajak gw kalo dia lagi main atau lagi belajar. Di dalam banyak hal gw sangat nyambung sama Chika. Ngomongin sekolah, temen, pelajaran, mainan, cowok, film kartun, baju, dll. We’re fit in so many ways. In a short time, we became BFF.

Chika juga adalah anak yang aktif dan pintar. Dia terpilih jadi ketua kelas karena semua orang percaya sama dia. Dia sering banget ranking 1. Dia jago banget olahraga. Dia berani, dia kuat, dia ceria, dia pantang menyerah, dia tegas. Di mata gw Chika ga hanya sekedar BFF, tapi juga role model.

Nyokap gw pun kenal sama nyokapnya Chika dan jadi semacam BFF juga. Kalo di rumah lagi ga ada pembantu, gw selalu dititipin di rumahnya Chika. Gw seneng banget kalo main ke rumahnya Chika. Chika punya mainan, komik, buku, VCD, dll keren2 yang gw ga punya. Chika punya bibi yang masakannya enak banget. Chika juga sering ajak gw ke rumahnya Fina, temen gw yang lain. Fina adalah sahabat karibnya Chika dari balita. Dia sekolah di Pamardi juga. Gw, Chika dan Fina kalo udah main Barbie bareng bisa lamaaa banget, sampe lupa makan, lupa pulang, lupa waktu. hahaha~

Kita bertiga pernah muncul di Krucil, acara teve anak2 jaman dulu. Dimana kita bertanding melawan anak2 dari sekolah lain. Kita bahkan punya baju kembarang merk Contempo yang dibeli khusus buat ikut Krucil. Hahaha~ Walaupun akhirnya kita kalah dalam pertandingan itu (yang membuat kita nangis semalem suntuk), kita tetep seneng karena bisa masuk teve bawa nama Pamardi.

Kira2 begitulah persahabatan gw dan Chika selama 6 taun di SD Pamardi. Kadang-kadang kita berantem, tapi ga butuh waktu lama buat balikan lagi. Ada kalanya gw merasa sangat bergantung sama Chika. Misalnya ketika gw mau memutuskan sesuatu, pasti pertimbangannya adalah Chika. Apakah dia akan suka/ga, marah/ga, dll…

Selama kurun waktu 6 taun itu gw berkenalan dengan banyak orang dan menjalin persahabatan dengan orang2 itu. But no one, as I remembered ever got that close to me like Chika.

Ketika SMP, persahabatan gw n Chika diuji. Gw ga lupa cerita detilnya, tapi ada saatnya Chika mem-bully gw. Gw gatau apa salah gw ke dia, tapi Chika pernah memerintahkan anak2 satu kelas (kecuali yang cowok) untuk memusuhi gw. It was the worst time of my life. Di sekolah ga ada yang mau ngomong sama gw. Gw selalu jadi yang terakhir dipilih masuk kelompok. Gw selalu sendirian kalo istirahat. Pernah gw menolak untuk masuk sekolah karena hal ini. Saat itu gw benci sebenci2nya sama Chika. School is like a nightmare for me because of her.

Di saat2 seperti itu, gw bertemu sama Grace. Ketika semua anak cewek di kelas memusuhi gw, cuma Grace yang mau ngomong sama gw. Hal yang sangat beresiko karena besoknya, Chika memerintahkan anak2 untuk memusuhi Grace juga.

Saat itulah gw sadar I am so done with her. Kenapa gw harus peduli Chika? Kalo dia ga suka sama gw, yaudah, tinggalin aja. Toh gw masih punya Grace. Eventually anak2 cewek di kelas yang ga gabung sama gengnya Chika pun mau berteman sama gw dan Grace. Mereka2 itulah yang sampe sekarang berteman baik sama gw, yang nama2nya sering gw sebut di blog ini.

Me and Chika’s friendship basically had finished since then. Gw ga pernah mau tau apapun lagi tentang Chika. Pas lulus2an SMP, Chika udah sama temen2 barunya, gw sama Grace dkk. Gw ga pernah komunikasi lagi sama dia selulus SMP, SMA, sampe kuliah. Paling cuma ngucapin ulang tahun di Facebook aja. Gw ga pernah nyimpen nomor hapenya dia, ga pernah ketemu lagi sama dia, ga pernah denger kabar tentang dia lagi.

Sampai tahun lalu, gw dikabarin Grace kalo Chika menikah. Selang beberapa bulan kemudian gw dikabarin lagi kalo Chika lagi hamil.

Terhadap dua kabar itu, respon gw datar.

“Oh.”

Gw ga berinisiatif untuk ngasih selamat or anything. Deep inside gw masih belom bisa memaafkan perbuatan Chika ke gw waktu SMP. So I think it’s better for me to keep myself distant from her. No affection what so ever.

Until today.

Gw baru aja bangun tidur tadi pagi jam 10an. Nonton CSI di teve sambil ngecek Twitter. Kemudian gw inget kalo harus nge-SMS seseorang, gw ambillah hape gw. Eh, ada 3 miscall dari Lina.

Gw SMS-lah dia, tanya ada apa. Sedetik kemudian, dia telpon lagi.

“Ta… Chika udah ga ada..”

“Hah??? Serius???”

“Iyaa.. Barusan meninggal.. Sakit meningitis..”

Gw speechless. Otak gw ga bisa mikir. Lina ngejelasin panjang lebar bahwa Chika baru melahirkan anaknya prematur bulan lalu. Bahwa beberapa minggu terakhir kondisinya menurun, badannya semakin kurus, dan agak linglung. Sampai akhirnya dua minggu lalu pingsan dan dilarikan ke RS dan langsung koma.

Ternyata meningitis. Ada cairan berbahaya di otaknya. Tim dokter menganjurkan operasi dan keluarga setuju. Chika menjalani operasi otak. Namun, ga membuatnya membaik. Kondisinya malah memburuk. Ia nggak merespon apapun, sampai akhirnya dokter memberikan stimulun kemarin dengan harapan pagi ini badan Chika merespon.

Hasilnya nihil. Udah ga ada harapan lagi. Keluarga pun akhirnya mengikhklaskan. Semua alat di tubuhnya dilepas. Chika berpulang.  

Gw sempet hesitate mau ngelayat atau nggak, lagi2 teringat tentang riwayat persahabatan gw sama dia yang buruk. Tapi gw sadar it’s not just about me. Chika meninggal, tentu saja nyokap gw harus tau. Karena nyokapnya Chika kenal baik sama nyokap gw. Gw pun ngasih tau nyokap.

“Ma, Chika, temen SMP aku. Inget kan?”

“Ingetlah, masa nggak inget.”

“Chika meninggal, Ma.”

Nyokap diem. Pucet. Langsung nyari hapenya, nyoba kontak mamanya Chika. Tapi ga bisa.

“Kamu ngelayat?”

“Nggak tau..”

“Kok nggak tau?? Chika kan temen kamu!”

“…….”

“Mama ga bisa ngelayat, harus anter ade les piano! Kamu dateng ke rumahnya sekarang, wakilin mama!”

Ga mungkin nolak. Gw pun pergi ke rumah Chika bareng Pika, Putri sama Lina.

Unfortunately, jenazahnya belum sampai, gw ga bisa lihat Chika untuk terakhir kali.

Tapi gw sempet ketemu mamanya Chika.

Tante Irma hebat banget, masih inget sama kita. Beliau tampak tegar. Nangis, tapi masih bisa bilang terima kasih, meluk kita satu-satu dan minta kita maafin Chika. 

So I did.

Chik, gw maafin lo. Yang tenang ya, disana. Apapun yang terjadi antara gw sama lo di masa lalu, ga akan gw inget2 lagi. Lo akan selalu ada di hati gw. Rest in peace, pal! . 

No comments:

Post a Comment