Sunday, February 3, 2019

Hari ini 03/02/19 - Oportunis bersama the master of oportunis

Hi, guys! How y’all doin?

Udah lama ya gw ga bikin postingan Hari Ini. Kayaknya terakhir jaman masih di Melbourne waktu jalan2 sama Taiyo. Thankful to be able to have one blog-worthy awesome day again.

Hari ini agenda utamanya nonton Green Book di Blitz-Velvet Pacific Place sama Nanien. Kok fancy banget nontonnya di Velvet? Gw punya voucher tiket gratisan. :)

Tadinya mau ke GI. Tapi both of us finally came to sense that GI is hopeless on the weekend. Rame banget. Walaupun kata Nanien Central Park lebih rame. Make sense, karena CP maybe satu2nya mall high-end dengan konsep berbeda di kawasan itu. Gw pun jaman dulu suka ke CP, waktu masih sepi.

Anyway, so yeah gw punya tiket gratisan Blitz Velvet. Gw udah punya sejak early taun lalu tapi lupa dipake mulu to the point it’s already reaching February, dimana film2 lagi sepi. Thank God, award season is coming up, jadi film2 nominasi Oscar dll ditayangin, karena lagi keangkat banget.

Jadi buat movie lovers out there yang kesepian film bulan Januari-Februari-Maret, don’t worry be happy, film2 “rampokan” award season justru lagi mushrooming.

Green Book ini salah satunya. Keangkat banget karena baru menang Golden Globes, dan most possibly Oscar juga. Nanien udah nonton duluan (screening) tapi mau nonton lagi karena menurut dia bagus. Okelah, I’m sold, yuk mari kita nonton.

Untuk penduduk pinggiran Jakarta seperti kami, pergi ke Jakarta di akhir pekan itu perjuangannya luar biasa. Kita harus bisa melawan rasa mager bangun pagi, karena untuk penduduk suburban, setidaknya harus spare 2 jam di jalan untuk bisa mencapai Jakarta. Bahkan di akhir pekan, karena selain ini masih awal bulan, kita berdua busway gals, jadi harus spare waktu gojekan ke halte busway, nunggu busway dateng, nunggu busway takeoff, dan tentu saja macet karena kita ga lewat tol.

Film kita tayang jam 14.45. Kita janjian ketemuan di halte busway jam 12.00. Sekitar jam 1an sampai di PP. Masih banyak sisa waktu.

First thing first, secure tiketnya dulu. Menujulah ke Blitz. Sebenernya counter tiket Velvet dan Gold Class dipisah dari yang reguler. Sebagai orang yang mau nonton Velvet, gw sama Nanien langsung melangkah ke counter Velvet dong? But no one was there.

Kemudian mba2 counter regular ngomong: “Tiket di sebelah sini ya.”

Hold on, kok gw menicum bau2 humiliation ya? Apakah gw sama Nanien terlihat qismin jadi ga dilayanin di counter Velvet? Penampilan gw kemarin legging item, bomber jacket, kaos, Converse, tas Kanken. Penampilan Nanien blus, wideleg pants (pretty sure 22-nya home-made), Skechers, tas Crumpler. Memang tidak terkesan mewah, tapi overall package of our appearance that day at least costs 1 juta per orang~

Mencoba berpikir positif. Mungkin karyawan yang jaga counter Velvet ga masuk. Melangkahlah kita ke counter reguler. Gw langsung nunjukin tiket gratisan gw, yang berlaku untuk 2 orang. Kemudian mbaknya meneliti, and this happened.

“Maaf Mbak, sejak tahun 2019 voucher ini kalo mau 2 orang, masing2 orang harus punya 1 voucher.”

What kind of bullshit?

“Saya ga pernah dikasitau soal ini. Itu kan complementary, Mbak. Kenapa harus diatur2?”

“Iya Mbak, kebijakan baru.”

“Kalo saya punya 2 voucher berarti bisa buat 4 orang dong? Gimana sih Blitz kok plin plan gini? Tulisan di voucher beda sama prakteknya.”

“Bentar ya Mbak saya tanya manager saya dulu.”

Gw sama Nanien liat2an. Gw melihat sebuah potensi.

“Kak, kalo tetep ga bisa dipake, kita bikin viral yuk! Kita rekam mereka ngomong apa terus taro Twitter.”

“Bisa sih, atau gw tinggal beritain aje, kan gw wartawan.”

Bener ugak, gw lupa Nanien masih berstatus wartawan. Medianya lebih powerful dan lebih legit dari social media. Bayangkan headline Antaranews Senin pagi: Peraturan Voucher Tiket Nonton Gratis CGV Blitz Berubah, Pelanggan Protes Tidak Diberitahu. Hashtag #ByeBlitz akan trending in instance. LOL~

Tapi Blitz selamat dari viral madness hari ini, karena mereka memutuskan voucher kita bisa dipake. Curiga mereka kasih karena film yang kita mau nonton kurang populer sih, jadi yang nonton dikit. Kalo filmnya blockbuster pasti ga akan dibolehin.

Lumayanlah hemat 200 ribu, harga velvet weekend.

Abis beli tiket, kita solat dulu, lalu menuju ke tempat hangout selanjutnya: Fore Coffee. Kali ini “ditraktir” Nanien, as in Nanien menginfokan promo free coffee dengan sign up di app-nya Fore Coffee. Ternyata beneran gratisan. Gw nyobain Iced Roasted Latte seharga Rp 38 ribu. Mantul.

Kemudian kita mengarah ke Kemchick buat beli cemilan nonton. Lebih tepatnya ke Kemchick buat riset dan mengomentari harga-harga snack luar negeri yang dijual di sini sih, hahaha~ Beli cemilannya cuma Potabee 2 bungkus. #TeamHemat

Kemudian kita ke bioskop deh. Area Velvet dan Gold Class tentu saja jauh dari area reguler. Lebih sepi, teratur, dan mewah. Ada WC nya sendiri yang pastinya lebih bersih dan berkonsep.

Gimana dengan studionya sendiri? Ya gitu aja, kasur. Matres lebih tepatnya sih. Ada 1 bantal gede, selimut, meja di kanan kiri, dan tombol untuk manggil waiter. Matresnya sendiri biasa aja, rada keras, jadi kalo lo expect tempat tidur as in kasur yang comfy, it’s not for you. Bantalnya juga keras dan tebal, jadi lo ga bisa totally dalam posisi lay down gitu, pasti tegak kayak di kasur rumah sakit karena bantalnya kegedean, ketebelan, dan kekerasan.

Sebenernya all of those are fine karena tujuan kita ke bioskop kan buat nonton film, terserah sama kondisi matres/kasurnya gimana. Yang gw ga bisa tolerate itu adalah AC-nya, dingin banget, men! Selimut yang dikasih ga mempan. Bomber jacket gw juga ga mempan. Gw masih harus pake syal dan masker untuk nutupin leher dan hidung~

Someday ketika blog ini dibuka lagi dan manajemen Blitz baca, please have the aircon in Velvet class adjustable. Kalo yang nonton dikit, ya kecilin AC-nya.

Anyway… Abis nonton, agenda berikutnya adalah makan di Kiyadon Sushi. Lagi2 karena ada diskonan, pake app Eatigo. Seperti biasa, Nanien yang nemu. Kita dapet diskon 40%. Lumayanlah, dari yang harusnya bayar 300 ribuan, jadi cuma 180 ribuan, 90 ribuan each.

Kalo ditotal2, pengeluaran gw sama Nanien hari ini murah banget. Exclude ongkos jalan, kita cuma spend less than 120 ribu, udah bisa dapet nonton kelas Velvet, kopi, 3 porsi sushi besar (dragon sushi dan teman2nya), dan snack Potabee.

Beginilah kalo jalan2 sama Nanien yang oportunis, pasti pengeluarannya dikit karena memanfaatkan semua promo diskonan dan gratisan. Keoportunisannya Nanien ini sering gw despise, karena sometimes gw bener2 can’t stand orang yang ga mau keluar duit banyak2 atau sama sekali.

I mean, gw sendiri orangnya pelit mampus, tapi kalo konteksnya lagi jalan sama temen, seneng2, melepas stress, gw sih loyal. Karena kadang untuk a little happiness, kita harus sacrifice a lot. Sedangkan Nanien, apapun kondisinya, pasti oportunis.

Untuk kali ini, gw approve keoportunisannya karena menguntungkan gw juga pada akhirnya.

Setelah makan, kita solat maghrib dan kemudian pulang. Naik busway lagi dari Semanggi. Sepanjang jalan kita browsing warna2 tas Kanken, karena gw sama Nanien sama2 pengen beli tas Kanken baru. Gw pengen merah maroon or cokelat, Nanien pengen warna yang lebih soft.

Kita berpisah di halte Tamini, lanjut gojek masing2.

Sebelum jam 8 gw udah sampai rumah lagi. Masih ada waktu 2 jam sebelum jam tidur, akhirnya nyelesaiin Sex Education dan The Good Place.

-->
By 10 PM, I hit the bed and look back on what happened today. Feeling thankful. :)

No comments:

Post a Comment