Hi, guys! How yall doin??
It’s Sunday. By mere luck, I got away from the annual responsibility of ‘visiting makam sebelum puasa’.
Not really a luck tho, I’m sick. Dari kemarin gw pusing migren ga jelas. Well, jelas sih penyebabnya. Tekanan darah gw kemarin diukur 90/40.
Menyeramkan.
Kata suster di RS kemarin: “kayaknya abis ini mbak tiduran aja deh.” Wkwk~
Remind me to checkout Sangobion on Shopee.
Belakangan ini gw juga susah tidur. Padahal ngantuk banget mata sampai perih. Tapi ga pules-pules. Merem dari jam 11, baru pules jam 2an…
Ada unsur kecapean juga, karena 2 minggu terakhir kerjaan kantor mainannya fisik banget.
Februari bener-bener dah~
Anyway, sekarang gw mau membahas resolusi tahun ini: menjadi lebih extrovert.
Sebuah langkah yang mungkin buat orang lain sepele tapi buat gw sangat life-changing karena mengubah the way I live, the way I think, the way I act, the way I socialize, the way I survive, dll.
Oke, konteks dulu.
Gw itu introvert. Banget.
Dari kecil gw selalu anak rumahan. Pulang sekolah langsung pulang. I don’t have many friends, temen gw dikit dari dulu—and it was okay. Prinsip gw mending temen dikit tapi quality daripada banyak tapi toxic/tidak sehat. Kuliahpun gitu, gw jarang ikut organisasi or acara2 kampus yang require bersosialisasi. Gw definitely tidak tergabung dalam geng populer. I was almost a nobody—except gw dikenal dari prestasi-prestasi dan persona gw.
Alhamdulillah gw cukup berprestasi saat itu jadi orang2 mengenal gw dari pencapaian-pencapaian seperti nilai, ranking, dan IPK.
Gw juga dikenal sebagai fangirl, jadi orang2 mengasosiasikan identitas gw dengan Harry Potter, 2NE1, Britney Spears, Beyonce, Lady Gaga, etc.. That’s fine.
That’s enough for me to survive this cruel reality.
Pas udah kerja pun gw cukup sering ga ambil opportunity2 untuk networking. Misalnya abis liputan premiere film, langsung pulang instead of mingle-mingle dulu sama orang2 industri yang ada.
The only time I was extrovert adalah ketika gw di Melbourne—karena saat itu ada tuntutan kehidupan untuk membuka diri ketika tinggal gw totally alone di negara orang.
Balik ke Indonesia, back to be introvert. Instagram digembok lagi. Whatsapp ga dipakein profile picture. Pulang kantor langsung pulang. Ajakan-ajakan gaul/bersosialisasi/party/mabok gw tolak.
Idk ya, karena settingannya udah introvert jadi udah otomatis aja gitu.
Sometimes kinda sad sih, ketika liat postingan2 orang2 lagi having fun together, gw ga ada. But then gampang banget mendistraksinya dengan internet, ya nonton filmlah, main game-lah, dll. Besoknya udah ga sedih lagi. Ini siklus kehidupan gw yang selalu berulang.
And I was fine…
I mean, gw ga pernah merasakan kesulitan yang gimana-gimana karena gw introvert. Gw tetep bisa berkarier dengan normal. Kesempatan kerja dateng ke gw pun juga karena prestasi gw sendiri instead of my network/connection.
Jadi gw tidak pernah menganggap being introvert adalah masalah.
Sampai gw menginginkan sesuatu yang… besar.
Like… pengen banget banget BANGET~
Sesuatu yang besar itu kita sebut saja HEJ!
Hej is (supposed to be) life-changing. A major leap.
Kalau gw sudah mendapatkan Hej, mungkin gw udah bukan Seeta yang sama lagi.
Untuk mendapatkan Hej ini, gw harus membuka diri. Membencongkan diri. No more kerja pulang-kerja pulang. No more gembok akun sosmed. No more stay at home during the weekend..
Yeah. I have been doing all of those since the beginning of the year.
Result so far? Capek. Wkwk~
Just recently I joined an office party. Nope, couldn’t stay for long. My social energy is draining OMG~
WELL AT LEAST I JOINED YA!
Padahal pas liat undangannya langsung mau reject. Masa judulnya dinner tapi start jam 8 malem sampai jam 12??! Wtf? My asam lambung cannot~
But I joined anyway, tapi ya gitu, cannot survive after 9pm. LOL
Terus karena IG gw udah ga digembok, orang2 bisa follow, OMG, for the first time banyak orang2 ga dikenal ngeliatin IG Stories gw!! Takoedzzzz~~
Well, ada sisi positifnya juga sih. Gw jadi dapet exposure juga. Apalagi waktu ngetag artis dan di-repost. Gile~ Yang views IG Stories sampai 200 orang..
Setengah jumlah followers gw!! Ngapainnn sikkk lu orang kayak ga ada kerjaan aje...
Tapi ini necessary dan align dengan visi misi mendapatkan Hej, so akan gw teruskan.
Gw juga mulai nge-add IG orang2 yang tadinya cuma sebatas profesional. I used to have this strict line between work and personal. Orang2 yang cuma ketemu di work, ga gw masukin ranah personal which is owned social. Tapi… sekarang gw masukin just because. Fufufufu~ Oh well, untungnya gw ga pernah ngepost macem2 anyway, kalo mau nge-rant pun ada close friends, so should be fine.
Objective-nya by end of 2025 ketika gw tes MBTI lagi, hasilnya awalannya udah ‘E’ ya, nggak ‘I’ lagi.
So yeah, perjalanan menjadi extrovert ini masih panjang dan berliku. Tapi mudah-mudahan bisa gw lalui dan by the end of it, I win Hej.
Sekarang kalo looking back lumayan menyesal. Beberapa tahun belakangan sebenernya banyak banget kesempatan untuk menjadi extrovert tapi gw lewatkan. Mungkin kalo gw ga melewatkan kesempatan-kesempatan itu, Hej bisa gw dapatkan lebih awal..
Well ga ada gunanya menyesali yang sudah terjadi.
Focus on what’s in front of me!
Wish me luck!!!