Saturday, January 10, 2026

Me Wassup #116: ST5, Driving Lesson, Anastasia The Musical, Campus Visit, Konten Kanken

Hi guys! How y’all doing?


1st Me Wassup of the year! 


Tadinya gw mau mendedikasikan 1 postingan untuk Stranger Things, tapi udah ke-delay terlalu lama [the finale was in Jan 1st!], jadi kita bulk aja sama yang lain ya. 


Okay first, Stranger Things. One last adventure.


10 tahun kemudian, ST akhirnya tamat. Tamatnya series ini membawa kembali gw ke banyak hal yang terjadi 10 tahun terakhir.


Gw inget pertama kali nonton ST di Melbourne tahun 2016. Agak telat nontonnya karena gw baru bisa langganan Netflix bulan Desember setelah menyelesaikan semua assignment semester 1 (ST1 rilis bulan Juli). Langsung jatuh cinta. Gw tulis betapa bucinnya gw sama ST waktu itu di sini, sini, dan sini.


ST menjadi fenomena besar di seluruh dunia. Semua orang menunggu season 2. Gw inget betapa senangnya gw ketika season 2 dirilis bulan November 2017, ketika gw masih di Melbourne. Jadi hype-nya berasa banget. A lot of parts of Melbourne, terutama bagian suburb where I lived, juga mirip Hawkins, so it really felt like I was part of the universe, part of the party!





Ketika season 3 dan 4 dirilis, sayangnya gw sudah kembali ke Indonesia. Seperti generasi sandwich pada umumnya, gw dihadapkan pada responsibility dan harus bekerja sehingga excitement menonton ST tidak seperti season 1 dan 2. Gw bahkan tidak me-review season 3 sama sekali di blog ini, padahal gw vividly inget season 3 itu bagus, walaupun ga sebagus season 1 & 2. Season 4 gw review tipis di sini


Season 5… Gw ga paham apa yang ada di pikiran The Duffer Brothers ketika bikin ending begitu. Yeah, gw termasuk rombongan yang tidak happy dengan ending-nya. [Spoiler Alert!] Gw sebel Eleven dibikin berkorban untuk semuanya, after all she’s been through, literally suffering dari kecil, dijadiin kelinci percobaan, diburu dan mau dibunuh berkali-kali, longing for a family and friends, masih kurang susah apa hidupnya dia??? In the end masih harus berkorban juga~ It’s like they are betraying her legacy~


That’s why gw paham banget kalo rumor Millie Bobby Brown ngambek sama The Duffer Brothers setelah mengetahui ending ST itu benar. Well, gw akan ngambek juga sih. Gile lu, Ndro.. “Gw yang menopang this show, malah gitu endingnya~”. Paham banget kalo bener dia memutuskan botox sebelum syuting last ep just to mess around with The Duffer Brothers. Gurl had every right to do that tbh.


Anyway, gw ga mau postingan ini jadi postingan komplen soal ending ST. Mau gimana pun endingnya, series ini berjasa banyak buat gw terutama menemani masa-masa kesepian di Melbourne. ST dan segala universe-nya bisa men-transport gw ke tempat-tempat yang dekat sekali ke hati, back to that happy places from our childhood, biking around with friends, lost in our imagination and fantasies about fairytales and monsters, re-living the cuteness and awkwardness of having first love…


For me especially, gw suka banget scoring ST, terutama season 1 & 2. They give me all sorts of feelings. Nostalgic, fresh, emotional, 80s vibe, majestic, timeless, powerful. Gw sampai bikin playlist di Spotify judulnya Senandung Demogorgon yang constantly gw dengerin sampai sekarang whenever I want to kick someone’s ass. So iconic! 


Speaking of scoring, shoutouts to whoever remixes Kate Bush’s Running Up That Hill to an orchestral version dan membuat adegan “podcast” Max dan Holly di episode 6 so epic dan otomatis jadi adegan favorit gw di season 5!







So, terima kasih Stranger Things, terima kasih The Duffer Brothers, terima kasih Millie Bobby Brown—regardless what people say about you, i’m always a fan of you and your brand Florence by Mills!, special shoutout to WINONA RYDER THE QUEEN—my first reason to watch ST, thanks to 4 sekawan yang super charming since 2016: Finn, Gaten (my bias!), Caleb, Noah, thanks David Harbour, thanks Shawn Levy (one of my favorite directors in Hollywood—so happy when I found out he’s one of the helms in ST!), dan semua cast and crew yang bertugas. Thanks for the memories! <3





Okay next: driving lesson


Yep, gw sedang belajar nyetir lagi, and just today I finally got my driving license!





I LOOK SO GOOD! Makasih untuk flash-nya ya Polres Cinere Depok, wajah saya MENYALA! SLAAAYYYYY~~


How about dijadiin SOP aja untuk semua instansi pemerintah yang mengambil foto warga untuk memakai flash? Yes, forever holding a grudge against kantor imigrasi Jaksel tempat bikin/perpanjang paspor karena kameranya GELAP DAN BUREM. Jadi setiap kali paspor gw dipegang sama petugas imigrasi di seluruh dunia, mereka harus crosscheck muka gw MINIMAL 2 KALI sampai akhirnya confirm itu beneran gw! Damn!


Anyway, nyetirnya sendiri masih belom pede, jadi nanti sepulangnya dari Bali bakal ambil kelas lagi sampai bener2 lancar. Doakan segera lancar supaya bisa mengantar ibunda ke Indomaret. Wkwk~


Next: Anastasia The Musical


Gw lupa pernah cerita di blog ini apa ngga, ini musical yang level ambinya paling atas buat gw. Udah sepengen itu nonton tapi show-nya di Amerika dan Eropa sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu. Asia cuma mampir Jepang tahun 2020 and then they were done, ga lanjut tur lagi~ Well, IP Anastasia ga sebesar IP Disney lain seperti Aladdin dan Beauty and the Beast sih, jadi totally understand fans-nya sedikit. Ya, saya bagian dari minoritas itu. Saya sudah cinta sama Anastasia sejak 1998. Journey to the Past & Once Upon a December are two of my favorite numbers ever ever everrr!!!


Sempet hopeless ga bisa nonton musical-nya, sampai akhirnya tahun lalu Opera Australia mengumumkan bahwa mereka mengadaptasi IP-nya untuk Australian production! Aaaaaakkkk!!! Thanks, mate!!!


But nope, gw end up ga nonton, atau lebih tepatnya belum nonton~ Tapi gw seharusnya nonton karena sudah beli tiket. Yeah, earlier last year emang ada plan ke Melbourne specifically untuk nonton Anastasia The Musical tapi batal karena nasib gw waktu itu belum jelas~


Sayangnya tiket musical terlanjur dibeli. Jadi sebulan belakangan ini gw intense menjual tiket itu ke sana kemari. Literally mencoba masuk semua grup Indonesia in Melb, minta forward ke temen2 yang ada di sana/punya kenalan di sana, anything-lah supaya itu tiket ga hangus. Sayang banget soalnya.


Ada sih beberapa yang tertarik, tapi masya auloh orang Indo tuh kalo nawar ga ngotak banget. Masa tiket aslinya $140 ditawar $30?! Are you fucking kidding me?! It’s a goddamn art, you uncultured swines!!!


In the end ada sih yang beli seharga $60, ya betterlah daripada $30~ Sisa 2 tiket, gw lebih ikhlas kasih ke my Australian bestie, Stephanie alias Mawar yang pernah gw ceritain di sini, daripada dibeli Indon pelit~ She was very happy!





Anastasia The Musical, kita belum jodoh ketemu di Melbourne, semoga masih bisa kejar yang di Sydney ya pertengahan tahun. Kalo ga bisa juga, ya mudah-mudahan Opera Australia bawa Anastasia ke Singapore juga, kayak Wicked kemarin kan Australian production. Bismillah! Manifesting!


Next: Homecoming to UI Depok


Kampus itu selalu ngangenin, apalagi kalo kampus lo UI. Udah lama pengen banget spend the whole day di kampus, nostalgia 19 tahun yang lalu (wow tua ya~ wkwk). Now that I have all the time in the world, let’s go!


Oh so convenient ya sekarang udah ada LRT yang nyambung sama stasiun Cawang. Perjalanan ke Depok dari rumah gw di Pondok Gede only takes less than 1 hour. 


Jadi gimana UI? Panassss~~ haha~ Ini yang saking excited-nya back to campus sampai terlupakan. Depok itu panas ygy, walaupun UI di tengah hutan gitu tetep aja panas. Gw sampai lemes dan pusing kena heatwave, akhirnya terpaksa minum obat. Huhu~


Tapi tetep hepi karena hampir semua tempat kita jajaki: FISIP, FH, Psiko, FIB, FT, FEB, Jembatan Teksas, Balairung, Balhut, Perpus Pusat, Danau Kenanga, Rektorat, Asrama, Pusat Studi Jepang, Mesjid UI, Pocin, Margo City.


Not to mention naik bikun kemana-mana juga. Luv banget sekarang bikun ada yang bus listrik. Udah full AC semua juga dan interior dalemnya kayak bus di Singapore. Keren beut~


Notable mention untuk beloved campus, FISIP UI. Ga banyak berubah sebenernya tapi ada beberapa landmark baru. Fotokopi legendaris udah ga ada, udah digantikan mesin (sad~). Takoru (kantin kecil deket Taman Korea/Takor) udah diganti coffee shop indoor. Ada beberapa chain restoran terkenal juga (duh FISIP komersil banget sih~ wkwk), ga mau mention apa aja restorannya, soalnya ga onboard with this idea. Ga otentik aja gitu.


Makan siang nasi imbi di Takor, 16k ajah. 19 tahun kemudian melihat bentukannya nasi imbi mayan kaget, kok bisa sih dulu dikasih makan nasi + telor + bakso + sayur orak arik aja udah seneng? Wkwkwk~





Last but not least, Seeta - Nanien alias Se-Nien akhirnya update vlog baru ngomongin Kanken! Update Kanken yang kita punya, sudah beranak pinak, terutama punya gw. LOL~ 





Ya begitulah bentuk kesetiaan saya terhadap sebuah brand. Please watch, like, and comment. 


Manifesting 5 tahun lagi yang di-review udah bukan Kanken ya. Hermes Birkin 25 in black with Palladium hardware gitu.. Wkwk


Okay, that’s all for today! Byeeee~~


No comments:

Post a Comment