Saturday, May 15, 2021

Nonton Bioskop Lagiiii

Hi, guys! How y’all doin?

Setelah setahun lebih absen dari bioskop, akhirnya kemarin bisa nonton bioskop lagi! Seneng banget!

Gw sama Rini meluncur ke bioskop langganan pre-pandemic, Lotte dan menonton Raya and The Last Dragon.

Lalu gimana kesan2nya?

On going back to cinema: sedih.

Kemarin bukan kali pertama liat bioskop sepi pas pandemi. Udah pernah beberapa kali liat, tapi tetep sedih. Sekitar sorean udah lebih rame sih, tapi tetep aja sedih cuma boleh 30% penontonnya. 

Harga tiket diobral, 25K hari biasa, 35K weekend. Duh, pasti ga nutup biaya operasional~ 

Tempat duduk dijeda 1 kursi, jadi kalo mau ngobrol mesti rada teriak. 

Pengen beli popcorn/drinks tapi Rini bilang buka masker di bioskop sangat berisiko. Bener juga sih, 2 jam di ruangan secluded sama a bunch of people gitu, emang better pake masker sepanjang waktu. 

Pengalaman menonton film jadi kurang menyenangkan~ Untung filmnya bagus~ Dari sini jadi dapet justifikasi kalo mau nonton bioskop sekarang emang harus film yang bener2 bagus, meminimalisir ketidaknyamanan dalam menonton karena prokes. 

On Raya and The Last Dragon? Bagus kok. Bolehlah kasih 8/10. 

I especially love Raya-Sisu friendship. Reminds me a lot of Mulan and Mushu. Naga caur is truly a compatible BFF for Asian girls! Give us more of these characters please, Disney! :D

Anyway, udah lama ga nonton film animasi yang style-nya kayak fairytale gini. Bener2 terasa spirit dongeng anak Indonesia(or Asia Tenggara)nya. Appreciate usaha Disney untuk bikin princess yang mewakili Asia Tenggara, walau pendekatannya yang mencoba memasukkan budaya setiap negara di filmnya agak maksa menurut gw. 

Paham sih maksudnya untuk menggambarkan bahwa Asia Tenggara itu diverse, unik, dan indah, tapi emang oke ya ngegabungin semuanya jadi satu gitu? Kan secara histori, negara2 Asia Tenggara beda-beda, budayanya otomatis beda-beda juga. Belum lagi antar negara punya histori sendiri-sendiri.

I mean, Indonesia emang mau gitu direpresentasikan oleh icon yang sama dengan Malaysia? Don’t think so~

What I’m trying to say is, film ini bikin Disney keliatan males aja, ngebulk beberapa negara jadi satu. Mulan mewakili China, satu negara, and she got the whole movie.

Tapi Princess Jasmine mewakili semua negara di Timur Tengah sih, orang2 sana pada protes juga ga yah?

Wkwkwk~ Ribet yah jadi Disney, mau bikin film aja banyak kepentingan yang harus diturutin~ Udahlah ga usah bikin film based on negara atau teritori tertentu, bikin yang model fun and dumb aja macem Finding Nemo or Toy Story~

Anyway, yeah I thoroughly enjoyed the movie. Bangga liat ada beberapa budaya Indonesia (keris, pencak silat) di situ. Overall aesthetic-nya lebih ke Thailand ya yang dominan. Kayak warna gold mendominasi overall key visual, sup yang dimakan bareng2 thom yam, nama2 karakternya (Bun, Tong, etc) lebih ke nama orang Thailand, etc. Ternyata head of story-nya indeed orang Thailand. Baiklah.

Sayang promosi film terdampak pandemi, jadi Raya ga bisa sepopuler Disney princess lain. I got a feeling produksinya budget juga sih, ga kayak film2 Disney Animation Studio lain macem Rapunzel, Wreck It Ralph, Frozen, Baymax, etc..

Okelah, segitu aja. What should we watch at the cinema next?
 

No comments:

Post a Comment