Sunday, August 1, 2021

Living tiny?? No thankie~

 Hi, guys! How y’all doin?

Gw ter-trigger bikin postingan ini setelah menonton video ini:



Sebelumnya gw pernah nonton video ini:



Reaksi gw terhadap 2 video itu sama: WTF?

Okay, first of all, the big question: is living in a super tiny apartment in Japan some kind of experiment and/or epic experience people want to do at least once in a lifetime?

You know, kayak bungee jumping, atau mendaki Tembok China, atau menaklukkan Mount Everest, atau nonton konser Beyonce (ini gw aja sih kayaknya~ hahaha).. Coz if that’s the case, then it’s totally fine.

Tapiii… Kalo alasannya adalah ga punya duit, atau ga mau bersosialisasi sama orang lain, atau cari lokasi strategis, whatever whatever… Guys, seriously???

imo, itu apartment/studio hampir ga layak untuk ditinggali manusia, men! Like, apaan sih? Becanda banget~ 

Gw bukan mau men-generalisasi semua orang claustrophobic ya, I know some people wouldn’t mind tinggal di tempat sempit gitu.. Tapi kan.. Tapi kan.. 
 
Hmmm… Gimana ya jelasinnya biar lebih masuk akal? 

Gini deh, pertama, pake pendekatan kesehatan. Pasti ada health risk yang ga bisa dihindari jika tinggal di tempat sesempit itu, entah itu udara yang mempengaruhi pernapasan, cahaya yang mempengaruhi penglihatan, maybe suhu/temperatur yang mempengaruhi idk makanan/minuman yang dikonsumsi, dll. Pasti ada minimal satu health risk yang menanti jika tinggal di sana long-term (tahunan, "tinggal" di sini kita bicara jangka panjang ya guys).

Kedua, work/living space terbatas banget. Manusia itu perlu bergerak supaya jiwanya hidup dan otaknya jalan. Makanya kalo kita lagi bingung, galau, atau panik pasti bawaannya mondar mandir keliling rumah, atau gerak-gerakin kaki atau tangan. 

Dengan rumah jadi tempat untuk menghabiskan sebagian besar waktu kita, tentu space di rumah harus memadai untuk bisa bergerak. Dengan begitu, kita bisa semangat, terinspirasi, dan termotivasi. 

Space sempit gitu totally ga do justice buat jiwa dan pikiran kita. Percaya deh sama gw, tinggal lama di tempat kayak gitu ujung2nya pasti anxiety. Ya kayak sekarang aja nih kita lockdown, banyak kan yang mentalnya langsung kena~ 

Ketiga, ga bisa shopping. Tinggal lama di suatu tempat itu pastinya mendorong kita untuk shopping, either kebutuhan primer, sekunder, atau tersier. Tapi ya lo bayangin aja dengan space sekecil itu lo bisa shopping berapa banyak sih? Yang ada nanti bingung naronya dimana. Padahal kan moving forward kebutuhan lo akan semakin bertambah, baik buat di rumah, atau kerjaan, atau sosial, banyaklah kebutuhannya. How do you expect to store all of them? Ketika udah over-capacity, you’re doomed! 

Keempat, ga bisa bawa tamu ke rumah. Well mungkin yang satu ini ga masalah buat orang yang super introvert atau individualis atau friendless. Jadi kalo kalian introvert atau individualis atau friendless ga usah baca poin ini gapapa, tapi kalau kalian enggak, well itu risiko yang menunggu kalian kalo tinggal di tempat sempit.

Tuan rumah atau tamu pasti ga nyaman, karena jarak pribadi masing-masing dilanggar. Kalo mau berkegiatan bareng misalnya masak atau belajar gitu, pasti susah geraknya. Belum lagi pelanggaran privasi, bukan tidak mungkin tamu akan melihat sesuatu yang tuan rumah ga pengen tamu lihat. Ya gimana, tempatnya sekecil itu, apapun bisa kelihatan, even your darkest deepest secret. 

Dulu zaman gw di Aussie, gw paling anti pilih studio apartment yang bentuknya macam studio di Jepang itu, walau gw masih bisa afford harganya dan lokasinya strategis. Simply ya karena gw ga mau mengalami hal2 yang gw sebut di atas. 

Gw lebih pilih tinggal di share house. Kalau di Indo, setara kosan. I have my own room, tapi sharing bathroom, living room, kitchen, garage, dan bagian2 rumah lain. Buat gw sih ga masalah ya, selama housemate lo asyik2 aja, dan saling respect. Well I mean, this is something we can control as well. Sama aja sih prosesnya kayak nyari studio apartment, kalo mau cari share house kan pasti inspeksi dulu, screening dulu, interview sama owner/landlord/housemate dulu sampai ketemu yang cocok. Kalo udah memutuskan tinggal ternyata baru ketauan bermasalah kan you can always raise the issue, talk it out, and take action. It’s okay-lah.

“Tapi share house kan lokasinya jauh dari kampus/kantor~”

Tidak salah. Semua ada pros and cons-lah. Tapi gw sih lebih prefer tidak mengalami 4 hal di atas walau harus suffering dikit jalan jauh ke kampus/kantor. 

I mean, lokasi jauh kan ketauan solusinya. Bangun lebih pagi biar ga telat. Choose the transportation smartly.

“Tapi kan susah bangun pagi.”

Nggak, gampang kok. Itu penyakit, bisa disembuhin. Ada obatnya, ada terapinya. Yuk bisa yuk!

“Biaya tinggal di share house yang jauh sama aja kayak tinggal di studio apartment deket kampus yang mahal, karena mesti keluarin uang transport.”

Tidak salah juga. Like I said before, pros and cons. I have my priority and I’m fully aware it comes with risk. Uang adalah bagian dari risk yang bisa menghindari gw dari 4 hal di atas. 

“Lokasi lebih aman!”

Yakin? LOL~

So yeah gw sangat rekomen share house. Selain karena lebih worth it, juga bisa melatih social skill lo. Belajar co-living sama orang lain. It doesn’t have to be intense, misalnya harus ngobrol tiap hari, nggak harus kok. Zaman tinggal sama Briana, gw bisa cuma ketemu sama dia seminggu sekali. Kalo pun tiap hari paling malem doang, ketika gw baru balik kampus dan doski lagi masak dinner di dapur. Itu pun cuma “Hey, how is it going?” “How’s your work/class today?” Basa basi aja. 

Introverts, jangan khawatir soal share house. Banyak kok orang share house bahkan ga saling kenal, hahaha~ Dulu zaman gw cari rumah di Flatmates tuh, banyak banget listing cari housemate yang bilang “strictly no communication between each other”. Hahaha~ Sama temen kosan pun sering banget ga saling kenal kan? 

Balik lagi, proses screening lo tuh harus hati-hati banget. Then again, kalo ada something wrong happened along the way, it’s still something you can control. 

Anyway, gw ga menyarankan untuk tinggal sama stranger lho ya. Kalo mau ya silakan, kalo ga mau, kan bisa share house sama temen, atau saudara, atau siapalah handai taulan. Siapapunlah. 

Terus, yang penting juga, di share house kalo lo sakit ada yang ngurusin, atau at least ada yang bisa dimintain tolong. Gw sih ga kebayang ya jadi 2 cewek di video YouTube itu, tinggal sendirian di space sempit gitu, terus sakit, to the point ga bisa ngapa2in, jangankan jalan ke luar rumah, ngomong aja mungkin susah~

Dengan tinggal sama orang lain, 1-2 hari ga keliatan ada tanda2 kehidupan lo di rumah, misal sepatu posisinya masih sama di rak, lampu kamar mati terus, toilet kering, atau makanan di kulkas ga dimakan, pasti mereka sensing ada sesuatu terjadi dan langsung cek ke kamar lo. 

Lastly, it’s always nice to have someone to come home to-lah. Gw sih merasa begitu ya, ada wajah-wajah yang menyambut di rumah itu priceless banget. Mereka personifikasi rumah lo, yang bikin rumah lo jadi bernyawa. Setelah seharian capek dan stress, pulang ke rumah disambut dengan senyuman, wah, capeknya langsung hilang dan berpikir “Well, today isn’t a really bad day after all.” :)

So yeah, guys. Selama masih bisa share house, share house aja. 

Thank you for reading!

No comments:

Post a Comment