Thursday, January 15, 2026

Road to the Noble Silence

Hi guys! How y’all doing?


So I will be away from Jakarta for a while. I’m gonna be in Bali for the rest of January all the way to mid February. Agenda utama gw di Bali adalah mengikuti program meditasi selama seminggu di sebuah meditation center bernama Bali Usada. 


Kalo lo pernah denger di Bali ada kegiatan retreat/healing dimana kita ga boleh pegang gadget 1-2 minggu, ya benar, itu program yang akan gw ikuti. 


Kenapa gw ikut program ini? Pertama karena I know I have issues within myself, but I can’t really comprehend what they are and how to solve them. Issues di sini bukan penyakit ya, lebih ke mental issue. Letaknya di otak dan sangat mengganggu pikiran sehingga gw sering sulit fokus, sering salah mengambil keputusan, gampang lupa, gampang takut, gampang terdistraksi, gampang terpengaruh, sering berpikiran negatif akan seseorang atau sesuatu, gampang membenci seseorang, gampang iri dengan seseorang, dan hal-hal lain yang membawa energi negatif di dalam diri gw sendiri. 


Dampak energi negatif ini sangat besar. Yang paling keliatan gw ga bisa bekerja maksimal, I can’t perform my best. The last couple of months gw merasa sangat ketinggalan, ibarat siswa yang paling bodoh di sekolah yang ketar ketir takut ga naik kelas. I can’t keep up with anyone no matter how hard I try. 


I’m also having trouble socializing with people. I find it hard to talk with people, hard to initiate conversation. I can’t leave lasting impressions when I’m with people. I easily forget people. I even avoid people~ To some extent gw merasa ini salah satu penyebab gw susah dapet jodoh sampai sekarang~


Gw punya trauma. Banyak mungkin, karena ada yang teringat jelas, ada juga yang samar-samar. Gw pernah sexually assaulted as a kid, tidak parah, tapi membekas. Gw pernah di-bully di sekolah. Gw mengalami banyak kegagalan dalam hidup. Dapet nilai jelek, ga lolos tes, ga menemukan “cinta”, dikucilkan dari pertemanan, dihina, dikata-katain, dimarahin, digosipin, ditolak…


Semua isu ini menumpuk di otak gw. Kadang-kadang menyelinap muncul dan teringat kembali di saat-saat tidak terduga, bahkan mampir di mimpi gw. Ketika sedang teringat, they really hold me back~ I can’t function normally~ I can’t show people the real me~ I can’t give my all~ 


I really need to heal. 


Kedua, untuk mengecek seberapa jauh/parah adiksi/kecanduan gw terhadap gadget dan informasi. Gw literally udah main gadget sejak SD. Kurang lebih 26 tahun pegang gadget, ga pernah lepas, as if my life depends on it. Semacam ketergantungan. 


Gadget, walaupun manfaatnya banyak juga, dampak negatifnya juga banyak. Dalam konteks ini, gw merasa gadget membuat gw kelebihan informasi (information overload). Gw lebih banyak mencerna informasi yang tidak penting daripada penting. Seperti yang gw singgung di sini


Gw ga mau ini terjadi lebih jauh. Seinget gw, life is better without gadget. Everything is still organic. Our interaction, our responses, our peace of mind... Jadi gw pengen melihat apa yang akan terjadi jika gw lepas dari gadget untuk sementara. Pastinya gw akan sakaw. Tapi seperti apa sakawnya dan apakah gw bisa mengatasinya? Mari kita buktikan.


Ketiga, karena Mba Novie, mantan bos gw dan alumni program meditasi Bali Usada (udah 2x ikut!). Beliau berperan besar sebagai influencer yang membuat gw akhirnya yakin untuk ikut. Mba Novie itu salah satu orang paling tenang, paling zen, paling positive energy, dan paling baik yang pernah gw kenal. Kemungkinan besar karena beliau sering meditasi. Gw ingin mengikuti jejak beliau karena sungguh manfaat baiknya dapat dirasakan ga cuma sama diri kita sendiri, tapi juga sama orang lain. Gw kalo lagi sama Mba Novie, bawaannya tenang, aman, nyaman. Seolah-olah beliau punya this powerful energy yang melindungi gw dari marabahaya. Kalo di One Piece istilahnya Mba Novie itu punya haki. Sounds lebay, but it’s true. 


Keempat, ingin kembali ke alam. I love nature, pernah gw ceritain di sini. Elemen gw adalah tanah. That’s why gw hepi banget around nature. Tapi ga pernah bener-bener dapet kesempatan menikmati dan menyatu dengan alam dengan maksimal. Kurang lama, paling cuma hiking 3 jam. Kurang total. Alam punya energi baik yang bisa healing manusia. Mengutip ChatGPT:


Nature's healing energy refers to the scientifically-backed restorative effects of natural environments on our physical and mental well-being, reducing stress hormones (cortisol), lowering blood pressure, improving mood, boosting cognitive function, and even diminishing pain perception through sensory engagement and practices like grounding (touching the earth). Connecting with nature, through activities like walking in parks, listening to birds, or even viewing natural images, helps us disconnect from technology and reconnect with a sense of peace, fostering better health outcomes.


Gw pengen mendedikasikan waktu lebih untuk bersama alam. It’s my home.


Kelima, untuk kesehatan mental dan fisik. Kalo sekarang gw medical checkup, mungkin hasilnya sehat wal’afiat. But I believe there’s something inside my body that needs to be healed. Penyakit langganan gw: asam lambung, sakit kepala, radang tenggorokan. Ini semua pasti ada penyebabnya yang gw ga bisa simpulkan sendiri. Dokter selalu memberikan obat eksternal sebagai jalan keluar paling cepat. Tapi percuma, pasti tetap kambuh lagi. I believe true healing comes within myself. Let’s get red of these illnesses once and for all.


Semua alasan ini membawa gw ke satu kesimpulan: gw harus ikut program Tapa Brata di Bali Usada. Sebuah program teknik meditasi yang melatih pikiran agar menjadi Pikiran Harmonis yang mempunyai konsentrasi yang kuat, dengan diikuti sifat-sifat baik yang lain yaitu sadar, tenang, bijaksana, lembut penuh cinta kasih, yang dapat membantu menyembuhkan sakit-sakit di badan maupun menghapus reaksi buruk yang mengikuti memori/ingatan kita.


Program ini mungkin tidak sepenuhnya menghilangkan memori-memori itu atau menyembuhkan mental issue yang gw punya, tapi mungkin bisa membuat gw lebih menerima, mengikhlaskan, dan berdamai dengan mereka. 


Program yang gw ikuti bernama Tapa Brata 1 English, berlangsung 18-24 Januari 2026. Seminggu full. Berlokasi di Center Samadhiyukti Forest Island, Tabanan, Bali. 


Di sana, gw akan mempraktekkan Noble Silence:





Ngeri ya. Haha


Katanya sih, 3 hari pertama efek “sakaw”-nys paling parah. Efek sakaw setiap orang beda-beda. Ada yang anxiety, sesak napas, demam… Kata Mba Novie, banyak orang give up di tengah jalan karena ga kuat, jadi mid way through the end participants-nya tinggal setengah. Amit-amit deh jangan sampe gw give up, bukannya gimana-gimana, booking hotel hari H bakal mehong banget coyy~ Wkwk


Gw takut ngga takut sih. Kalo no gadgets kan emang motivasi terbesar gw untuk ikutan ini ya. Jadi no problem. 


No talks ini rada challenging, takut kelepasan aja, kayak latah gitu. Like… “Eh copot-copot~” Kan kita ga pernah tau ya…


No reading gw udah paham. No writing? Damn. Padahal rencananya mau nulis diary old skool gitu pake pulpen dan buku. Yah, jadi ga punya alasan beli diary lucu di Gramedia deh. Heheheh~


Tapi gapapa, dicoba aja dulu. Cuma seminggu. Kalo Mba Novie bisa, gw juga bisa. Bismillah.


Gw akan menjadi vegan seminggu karena semua makanan yang disajikan adalah plant-based. Ini karena mereka percaya daging atau makanan yang berasal dari hewan memiliki energi negatif karena hewan tersebut mengalami kesakitan ketika dibunuh untuk dimakan. Energi itu kebawa di dagingnya. Jadi selama program kita ga boleh makan daging.


Ini membuat gw khawatir tentu saja, walaupun katanya sih makanan vegannya tetep enak. Gw berencana bawa Bon Cabe, just in case. Mudah-mudahan bisa membantu gw untuk makan, walaupun gw ga tau boleh/ngga, kalo ga boleh, gimana menyelundupkannya? Hmmm…


Center Samadhiyukti itu bukan hotel bintang lima, hanya kabin sederhana yang dikelilingi alam. Kita sekamar bertiga. Ini juga yang gw takutkan, karena gw light sleeper, ga bisa banget tidur sama orang yang ngorok. Mana ga ketauan dan ga bisa milih kita sekamar sama siapa lagi~ Kalo ada hape sih tinggal pasang playlist noise canceling. 


Sebagai antisipasi, gw beli earplugs peredam suara di Shopee. Tadi udah tes di telinga, mayan sih blocking noises. Semoga efektif. 


Yang masih ga ketauan adalah ada atau tidaknya air panas di Center. Demi apapun gw ga mau dan ga bisa mandi air dingin~~ Kalo ga ada air panas, imma pull off Melbourne winter lifestyle. Mandi 2-3 hari sekali aja. Nyehehehe~~


Yak, jadi begitulah pemirsa sedikit tentang program meditasi yang akan gw ikuti 2 hari lagi. Yes, gw akan terbang ke Bali hari Minggu dan langsung menuju Center untuk mulai program.


Banyak orang yang gw ceritain rencana ini menganggap gw gila. Grace dan Elia salah duanya. 


“Elo emang gila sih, Ta. Tapi Seeta yang gw kenal emang gila, jadi gw ga heran,” kata Grace.


Nyehehehehe~


Makasih guys atas dukungannya.


Sekarang gw lagi persiapan menuju program. Persiapan paling penting yang gw lakukan adalah rajin olahraga. Gw intense banget olahraga 2 minggu terakhir, ikut beragam kelas di gym: yoga, zumba, piloxing (pilates boxing). Literally 3 hari sekali gw olahraga. Sempet juga ikut yoga bareng Mba Novie dan Lala di Gudanggudang dan jalan kaki 20ribu di bawah sinar matahari di UI. Semuanya gobyos. Tapi gapapa, demi fisik yang optimal selama program.  Ga boleh sakit.


Gw juga udah mulai packing. Insya Allah barang yang mau dibawa udah ready semua, tinggal masukin koper. 


Tanpa gadget, gw ga akan bisa ngeblog. Jadi gw baru bisa update blog ini setelah program meditasi selesai. 


Until then, doakan saya yaaa~~~


Semoga pulang dari Bali, gw sudah punya haki mencapai ketenangan jiwa. :)







Saturday, January 10, 2026

Me Wassup #116: ST5, Driving Lesson, Anastasia The Musical, Campus Visit, Konten Kanken

Hi guys! How y’all doing?


1st Me Wassup of the year! 


Tadinya gw mau mendedikasikan 1 postingan untuk Stranger Things, tapi udah ke-delay terlalu lama [the finale was in Jan 1st!], jadi kita bulk aja sama yang lain ya. 


Okay first, Stranger Things. One last adventure.


10 tahun kemudian, ST akhirnya tamat. Tamatnya series ini membawa kembali gw ke banyak hal yang terjadi 10 tahun terakhir.


Gw inget pertama kali nonton ST di Melbourne tahun 2016. Agak telat nontonnya karena gw baru bisa langganan Netflix bulan Desember setelah menyelesaikan semua assignment semester 1 (ST1 rilis bulan Juli). Langsung jatuh cinta. Gw tulis betapa bucinnya gw sama ST waktu itu di sini, sini, dan sini.


ST menjadi fenomena besar di seluruh dunia. Semua orang menunggu season 2. Gw inget betapa senangnya gw ketika season 2 dirilis bulan November 2017, ketika gw masih di Melbourne. Jadi hype-nya berasa banget. A lot of parts of Melbourne, terutama bagian suburb where I lived, juga mirip Hawkins, so it really felt like I was part of the universe, part of the party!





Ketika season 3 dan 4 dirilis, sayangnya gw sudah kembali ke Indonesia. Seperti generasi sandwich pada umumnya, gw dihadapkan pada responsibility dan harus bekerja sehingga excitement menonton ST tidak seperti season 1 dan 2. Gw bahkan tidak me-review season 3 sama sekali di blog ini, padahal gw vividly inget season 3 itu bagus, walaupun ga sebagus season 1 & 2. Season 4 gw review tipis di sini


Season 5… Gw ga paham apa yang ada di pikiran The Duffer Brothers ketika bikin ending begitu. Yeah, gw termasuk rombongan yang tidak happy dengan ending-nya. [Spoiler Alert!] Gw sebel Eleven dibikin berkorban untuk semuanya, after all she’s been through, literally suffering dari kecil, dijadiin kelinci percobaan, diburu dan mau dibunuh berkali-kali, longing for a family and friends, masih kurang susah apa hidupnya dia??? In the end masih harus berkorban juga~ It’s like they are betraying her legacy~


That’s why gw paham banget kalo rumor Millie Bobby Brown ngambek sama The Duffer Brothers setelah mengetahui ending ST itu benar. Well, gw akan ngambek juga sih. Gile lu, Ndro.. “Gw yang menopang this show, malah gitu endingnya~”. Paham banget kalo bener dia memutuskan botox sebelum syuting last ep just to mess around with The Duffer Brothers. Gurl had every right to do that tbh.


Anyway, gw ga mau postingan ini jadi postingan komplen soal ending ST. Mau gimana pun endingnya, series ini berjasa banyak buat gw terutama menemani masa-masa kesepian di Melbourne. ST dan segala universe-nya bisa men-transport gw ke tempat-tempat yang dekat sekali ke hati, back to that happy places from our childhood, biking around with friends, lost in our imagination and fantasies about fairytales and monsters, re-living the cuteness and awkwardness of having first love…


For me especially, gw suka banget scoring ST, terutama season 1 & 2. They give me all sorts of feelings. Nostalgic, fresh, emotional, 80s vibe, majestic, timeless, powerful. Gw sampai bikin playlist di Spotify judulnya Senandung Demogorgon yang constantly gw dengerin sampai sekarang whenever I want to kick someone’s ass. So iconic! 


Speaking of scoring, shoutouts to whoever remixes Kate Bush’s Running Up That Hill to an orchestral version dan membuat adegan “podcast” Max dan Holly di episode 6 so epic dan otomatis jadi adegan favorit gw di season 5!







So, terima kasih Stranger Things, terima kasih The Duffer Brothers, terima kasih Millie Bobby Brown—regardless what people say about you, i’m always a fan of you and your brand Florence by Mills!, special shoutout to WINONA RYDER THE QUEEN—my first reason to watch ST, thanks to 4 sekawan yang super charming since 2016: Finn, Gaten (my bias!), Caleb, Noah, thanks David Harbour, thanks Shawn Levy (one of my favorite directors in Hollywood—so happy when I found out he’s one of the helms in ST!), dan semua cast and crew yang bertugas. Thanks for the memories! <3





Okay next: driving lesson


Yep, gw sedang belajar nyetir lagi, and just today I finally got my driving license!





I LOOK SO GOOD! Makasih untuk flash-nya ya Polres Cinere Depok, wajah saya MENYALA! SLAAAYYYYY~~


How about dijadiin SOP aja untuk semua instansi pemerintah yang mengambil foto warga untuk memakai flash? Yes, forever holding a grudge against kantor imigrasi Jaksel tempat bikin/perpanjang paspor karena kameranya GELAP DAN BUREM. Jadi setiap kali paspor gw dipegang sama petugas imigrasi di seluruh dunia, mereka harus crosscheck muka gw MINIMAL 2 KALI sampai akhirnya confirm itu beneran gw! Damn!


Anyway, nyetirnya sendiri masih belom pede, jadi nanti sepulangnya dari Bali bakal ambil kelas lagi sampai bener2 lancar. Doakan segera lancar supaya bisa mengantar ibunda ke Indomaret. Wkwk~


Next: Anastasia The Musical


Gw lupa pernah cerita di blog ini apa ngga, ini musical yang level ambinya paling atas buat gw. Udah sepengen itu nonton tapi show-nya di Amerika dan Eropa sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu. Asia cuma mampir Jepang tahun 2020 and then they were done, ga lanjut tur lagi~ Well, IP Anastasia ga sebesar IP Disney lain seperti Aladdin dan Beauty and the Beast sih, jadi totally understand fans-nya sedikit. Ya, saya bagian dari minoritas itu. Saya sudah cinta sama Anastasia sejak 1998. Journey to the Past & Once Upon a December are two of my favorite numbers ever ever everrr!!!


Sempet hopeless ga bisa nonton musical-nya, sampai akhirnya tahun lalu Opera Australia mengumumkan bahwa mereka mengadaptasi IP-nya untuk Australian production! Aaaaaakkkk!!! Thanks, mate!!!


But nope, gw end up ga nonton, atau lebih tepatnya belum nonton~ Tapi gw seharusnya nonton karena sudah beli tiket. Yeah, earlier last year emang ada plan ke Melbourne specifically untuk nonton Anastasia The Musical tapi batal karena nasib gw waktu itu belum jelas~


Sayangnya tiket musical terlanjur dibeli. Jadi sebulan belakangan ini gw intense menjual tiket itu ke sana kemari. Literally mencoba masuk semua grup Indonesia in Melb, minta forward ke temen2 yang ada di sana/punya kenalan di sana, anything-lah supaya itu tiket ga hangus. Sayang banget soalnya.


Ada sih beberapa yang tertarik, tapi masya auloh orang Indo tuh kalo nawar ga ngotak banget. Masa tiket aslinya $140 ditawar $30?! Are you fucking kidding me?! It’s a goddamn art, you uncultured swines!!!


In the end ada sih yang beli seharga $60, ya betterlah daripada $30~ Sisa 2 tiket, gw lebih ikhlas kasih ke my Australian bestie, Stephanie alias Mawar yang pernah gw ceritain di sini, daripada dibeli Indon pelit~ She was very happy!





Anastasia The Musical, kita belum jodoh ketemu di Melbourne, semoga masih bisa kejar yang di Sydney ya pertengahan tahun. Kalo ga bisa juga, ya mudah-mudahan Opera Australia bawa Anastasia ke Singapore juga, kayak Wicked kemarin kan Australian production. Bismillah! Manifesting!


Next: Homecoming to UI Depok


Kampus itu selalu ngangenin, apalagi kalo kampus lo UI. Udah lama pengen banget spend the whole day di kampus, nostalgia 19 tahun yang lalu (wow tua ya~ wkwk). Now that I have all the time in the world, let’s go!


Oh so convenient ya sekarang udah ada LRT yang nyambung sama stasiun Cawang. Perjalanan ke Depok dari rumah gw di Pondok Gede only takes less than 1 hour. 


Jadi gimana UI? Panassss~~ haha~ Ini yang saking excited-nya back to campus sampai terlupakan. Depok itu panas ygy, walaupun UI di tengah hutan gitu tetep aja panas. Gw sampai lemes dan pusing kena heatwave, akhirnya terpaksa minum obat. Huhu~


Tapi tetep hepi karena hampir semua tempat kita jajaki: FISIP, FH, Psiko, FIB, FT, FEB, Jembatan Teksas, Balairung, Balhut, Perpus Pusat, Danau Kenanga, Rektorat, Asrama, Pusat Studi Jepang, Mesjid UI, Pocin, Margo City.


Not to mention naik bikun kemana-mana juga. Luv banget sekarang bikun ada yang bus listrik. Udah full AC semua juga dan interior dalemnya kayak bus di Singapore. Keren beut~


Notable mention untuk beloved campus, FISIP UI. Ga banyak berubah sebenernya tapi ada beberapa landmark baru. Fotokopi legendaris udah ga ada, udah digantikan mesin (sad~). Takoru (kantin kecil deket Taman Korea/Takor) udah diganti coffee shop indoor. Ada beberapa chain restoran terkenal juga (duh FISIP komersil banget sih~ wkwk), ga mau mention apa aja restorannya, soalnya ga onboard with this idea. Ga otentik aja gitu.


Makan siang nasi imbi di Takor, 16k ajah. 19 tahun kemudian melihat bentukannya nasi imbi mayan kaget, kok bisa sih dulu dikasih makan nasi + telor + bakso + sayur orak arik aja udah seneng? Wkwkwk~





Last but not least, Seeta - Nanien alias Se-Nien akhirnya update vlog baru ngomongin Kanken! Update Kanken yang kita punya, sudah beranak pinak, terutama punya gw. LOL~ 





Ya begitulah bentuk kesetiaan saya terhadap sebuah brand. Please watch, like, and comment. 


Manifesting 5 tahun lagi yang di-review udah bukan Kanken ya. Hermes Birkin 25 in black with Palladium hardware gitu.. Wkwk


Okay, that’s all for today! Byeeee~~