Sunday, December 12, 2010

Halloween: In Qlarke Quay We Trust

Macet, satu hal yang membuat saya merasa malam itu benar-benar bukan malam yang biasa. Bayangkan macet di sepanjang jalan dari Dhoby Ghaut menuju Clarke Quay yang jaraknya hanya terpaut satu stasiun MRT saja. Di dalam taksi yang saya tumpangi bersama tiga orang teman, saya merasa mendapat suatu kehormatan bisa merasakan fenomena yang jarang sekali ditemukan di Singapura itu.


Hari itu bertanggal 30 Oktober, tanggal yang tidak asing lagi mungkin bagi sebagian besar orang di seluruh dunia. Pada malam pergantian tanggal dari 30 menuju 31 Oktober, banyak orang merayakan tradisi ini. Orang-orang kompak mengenakan berbagai macam kostum dan menata lingkungan tempat tinggal mereka dengan banyak buah labu berukir wajah menyeramkan atau yang biasa dikenal sebagai Jack-O-Lantern. Anak-anak berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga membawa kantong besar untuk menampung gula-gula yang wajib dibagi-bagikan pada mereka. “Trick or Treat” menjadi kutipan khas Halloween.

Memang Halloween lebih akrab dikenal sebagai pesta kostum dibanding tradisi perayaan hasil musim panen untuk mengusir marabahaya yang dibawaserta orang mati. Memang seperti itulah makna sebenarnya dari Halloween. Bangsa Gael kuno di Irlandia percaya bahwa tepat tanggal 31 Oktober, pembatas dunia orang mati dan dunia orang hidup menjadi terbuka. Mereka percaya orang mati akan membawa penyakit dan merusak hasil panen, maka mereka berinisiatif untuk mengenakan kostum menyeramkan untuk mengusir roh orang mati tersebut. 

Tentu saja tidak banyak orang yang tahu detil sejarah munculnya Halloween. Seiring berjalannya waktu, definisi Halloween semakin lekat pada pesta kostum. Halloween menjadi salah satu ajang bersenang-senang yang ditunggu-tunggu seperti halnya hari raya atau tahun baru. Banyak orang merayakan Halloween dengan cara yang lebih menarik, misalnya dengan memadukannya dengan acara seni atau acara sosial. Kostum menyeramkan pun tidak lagi menjadi prioritas. Asal mengenakan kostum menarik dan merayakannya tepat tengah malam, Pesta Halloween pun terlaksana. 

Kembali ke Clarke Quay, malam itu Pesta Halloween bisa dikatakan adalah tersangka utama penyebab kemacetan dari Dhoby Ghaut. Di pesisir jalan sudah banyak terlihat orang-orang berkostum aneh berjalan cepat. Mereka mungkin adalah korban kemacetan yang memutuskan berjalan kaki agar bisa lebih cepat mencapai Clarke Quay. Bagaimana tidak? Clarke Quay memang merupakan pusat Pesta Halloween terbesar dan termegah di seluruh Singapura.

Saya pun termasuk salah satu dari orang-orang itu. Terpaksa berjalan kaki dari sekitar satu kilometer dari pusat acara, saya mulai memperhatikan keberagaman kostum yang dikenakan orang-orang yang berjalan di sekitar saya. Saya menemukan banyak orang bermain peran dengan mengenakan kostum seperti pahlawan super: Superman, Batman, Wonder Woman; kartun: Mickey Mouse, Sailormoon; atau orang-orang yang sengaja berpenampilan konyol sejak awal seperti pria berkostum wanita. Namun dibalik semua itu masih ada orang-orang yang menjaga otentisitas Halloween dengan mengenakan kostum menyeramkan seperi kostum hantu, setan, bahkan Jack-O-Lantern!
Tepat di tengah Clarke Quay, berdiri sebuah panggung megah untuk pertunjukan musik dan drama teater. Dentuman musiknya begitu keras hingga tanah tempat saya berpijak terasa bergetar. Mungkin juga hal itu dipengaruhi oleh banyaknya orang-orang yang berjingkrakan mengikuti alunan musik. Perhatian saya tidak hanya berpusat pada panggung. Saya juga memperhatikan euphoria orang-orang yang larut dalam kostum dan keceriaan. Suasana malam itu sangat ramai dan meriah. Cukup sulit untuk melangkah dengan cepat karena setiap ruas jalan dipenuhi orang-orang lalu lalang baik sebagai turis atau peserta Pesta Halloween. Saya sampai tega menolak ajakan teman saya untuk singgah di salah satu klab malam demi terus berada di luar dan menikmati Clarke Quay dalam lautan kostum. Lampu-lampu pun ikut menambah gegap gempita Qlarke Quay dengan warna-warni indah. Tak jarang orang mengabadikan momen ini dalam foto dan video, termasuk saya.

Perlu tiga jam buat saya untuk puas berkeliling Clarke Quay sampai akhirnya saya menghampiri teman saya di sebuah klab malam bernama Zirca. Sejatinya, Clarke Quay terdiri dari puluhan restoran, kafe, dan klab malam yang masing-masing memiliki agenda sendiri tentang Perayaan Halloween. Ternyata suasana di dalam klab tidak kalah meriah dengan di luar. Klab malam penuh dengan ornamen-ornamen khas Halloween dan orang-orang berkostum memenuhi lantai dansa. Bedanya, kebanyakan orang di klab malam mabuk karena pengaruh minuman, sehingga terkadang lucu melihat orang-orang berkostum melakukan tindakan bodoh yang tidak ia sadari. Hal ini menambah warna baru dalam memori saya tentang malam itu.

Saya tidak ingat jam berapa tepatnya saya memutuskan pulang ke rumah. Saya terlalu lelah untuk sekadar melihat jam. Hal terakhir yang saya ingat adalah saya mengantre sekitar dua jam untuk mendapatkan taksi pulang. Sekelibatan ingatan saya menunjukan bahwa saat itu Qlarke Quay masih sama meriahnya seperti saat saya datang. Di atas panggung masih ada penampilan musik dan di sekitar lebih banyak lagi orang-orang berkostum yang melakukan atraksi. Sayangnya baterai kamera pun sudah habis akibat pemakaian di luar batas malam itu sehingga saya tidak bisa mengabadikan hal-hal baru yang saya temui. Saya tidak pernah tahu kapan Pesta Halloween itu berakhir karena mungkin hanya matahari yang bisa mengusir para setan pulang. :)


*) Tulisan ini dimuat di Majalah Ekspresi edisi Desember 2010
*) Tulisan ini juga adalah Singapore Trip 2010 Day 2 Part 2 :))

2 comments: