Saturday, July 4, 2020

SHE TOLD ME TO LIE

Hi, guys! How y’all doin?

Awalnya gw ga mau bikin postingan ini karena ga mau 2 postingan berturut2 bernuansa negatif~ Tapi dari kemaren gw stress, dan gw harus mencurahkan kegundahan ini somewhere. Temen2 gw pada ga available, so yeah. Here I go again.

Guys, I’m so done with my boss. Ya, oknum yang sama yang pernah gw ceritain di sini.

Gw udah lama ga sejalan sama pemikiran dan ide2nya dia sih, tapi gw tahan2in, ga resign dulu, karena gw mengincar stuff like promotion, bonus, and annual raise. Now that I’ve got all of them, rasanya udah ga ada yang menahan lagi untuk resign. I’ve got nothing to lose.

Anyway, makin lama beliau makin toxic, in a way that she has become insanely ambitious, pushy, unrealistic, careless, and just overall annoying.

Ini beberapa kejadian yang membuktikan statement di atas:

- Dia minta tim gw untuk melakukan pekerjaan tim lain, tanpa memikirkan risiko bahwa tim gw sama sekali ga bisa melakukan pekerjaan tersebut. Nanti ketika sudah dikerjakan dan hasilnya jelek, dia akan marah2.

- Dia mau tim gw mengontrol kerjaan tim lain, padahal tim gw has no clue what’s going on di tim lain, and isn’t that very rude to interfere someone’s work just for your own sake?!

- Dia selalu memaksakan kehendak, ga mau denger suara anak2nya. She’s so old but she’s acting like a spoilt teenager. Kalo keinginannya ga dipenuhi, ngambek~

- Dia orang yang sangat berpengalaman, udah kerja lebih dari 30 tahun, tapi ga ngerti proses, ga pernah punya pertimbangan matang akan sesuatu yang dilakukan, dan hampir selalu terlihat amatir ketika mengambil keputusan.

- Dia ga peduli well-being timnya. Di masa pandemi ini dia memaksakan buanyak banget kerjaan, tanpa sekalipun menanyakan kesanggupan kita untuk melakukannya.

- Dia sangat politis, suka main favoritism. Punya anak emas di tim lain, yang selalu diagung2kan dan diperhatikan secara berlebihan. Tapi anak2nya sendiri? Peduli setan~

Not to mention she is also very rude, which ini udah lama sih. Dari dulu komunikasi dia ke bawahannya emang ga bagus. Bahasanya kayak preman. Sering marah2 ga jelas, kalo ngasih brief atau instruksi ga lengkap sehingga menyebabkan miskom, judes pula orangnya jadi auranya udah ga enak kalo berinteraksi sama kita, suka hilang tiba2 terus dateng2 bikin panik ga karuan.

Masalah komunikasi ini minor sih kalo dibandingin alasan toxic yang gw jabarin sebelumnya.

Tapiii walaupun udah segitu parahnya, selama ini gw masih bisa tahan. Gw lempengin aja, ga terlalu ambil pusing…........... until yesterday happened.

For the first time in my career, I was told to lie.

Yes, she told me to fucking lie.

Not once, TWICE!

Wah gila, jiwa gw langsung terguncang~

Pertama, gw disuruh bikin fake brief untuk pitching creative agency, yang berujung pada jebakan batman agency yang kepilih. Something like “kena deh, sebenernya bukan ini yang gw pengen lo lakukan~ hihihi~~” I mean, WTF? That’s not fair~ Gw ga suka sama creative agency, tapi bukan berarti gw oke2 aja melihat mereka diperlakukan dengan tidak fair~ Mereka juga manusia for God sake~ I mean, what’s the harm on being honest since the beginning? They’ll find out about it sooner or later~

Kedua, gw disuruh bilang ke agency DA, bahwa mereka sudah merugikan Dian sejumlah uang—padahal kenyataannya tidak, for the sake untuk memberikan efek jera. I mean, WTF?! Efek jera bisa diberikan tidak dengan cara berbohong. Lagipula, berbohong atau tidak toh kita ga akan pake DA lagi, itu saja sudah memberikan efek jera. So what’s the point of lying?

Ga perlu gw ceritain detilnya, karena sumpah it’s very shameful dan sangat tidak berperikemanusiaan. Gw ga mau mengotori blog ini dengan such nonsense~

When she told me to lie, badan gw langsung bereaksi. Gw seketika sakit kepala, berasa kotor, najis, dan kepikiran sepanjang hari sampai sekarang gw nulis blog ini karena gw ga tau lagi gimana caranya mencurahkan isi hati.

Gw bener2 terguncang, dan gw paham betul kenapa.

Gw kuliah jurnalisme dimana gw diajarkan untuk selalu membela dan berpihak kepada kebenaran. Earlier this week, we lost Bang Mimar. Salah satu dosen gw di Jurnal-Kom UI. Mungkin dosen terbaik yang pernah gw punya. Bang Mimar ga cuma ngajarin teori2 jurnalisme dan dasar2 penulisan, tapi juga ngajarin untuk menjadi pribadi yang idealis, berintegritas dan berkomitmen pada kebenaran. Pekerjaan pertama gw pun jurnalis dan tentunya gw menerapkan etika jurnalisme dalam bekerja dan berperilaku. Selalu cari kebenaran, selalu berlandaskan fakta. Jujur, jangan bohong.

Kemudian gw bergabung dengan LPDP dimana salah satu nilai yang dijunjung tinggi adalah integritas. Berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh prinsip-prinsip moral.

Gw memang sudah bukan mahasiswa ataupun jurnalis, pun sudah lulus dari LPDP, tapi nilai2 ini gw pegang teguh dan terapkan di hidup sehari2 karena gw tau nilai2 ini benar dan akan menuntun gw untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Berkaca dari sini, gw ga mungkin dong mengkhianati nilai2 yang susah payah gw dapatkan dari momen2 terpenting di hidup gw ini, yang bertahun2 gw terapkan supaya bisa jadi pribadi yang lebih baik, hanya untuk menuruti perintah orang yang cuma mementingkan kepentingan dirinya sendiri~~~

Sorry ya mbak, lo boleh suruh gw melakukan berbagai pekerjaan bodoh, any odd jobs yang otak sinting lo itu pengenin, tapi ketika lo suruh gw bohong, wah gila itu namanya nyerang prinsip dan gw ga akan membiarkannya terjadi.

That’s it. I ain’t playing this game no more.

Mungkin gw terkesan lebay ya, to be honest gw pun sempet berpikir demikian. Apakah gw overreacting?

Tapi kalo gw lebay, ga mungkin sampai segitunya kepikiran, dan somehow ketika gw sakit kepala abis disuruh bohong itu, otak gw larinya ke pengalaman dan ilmu yang gw dapetin di kampus UI, jurnalisme, Bang Mimar, dan LPDP.

So no, I’m not overreacting. Gw bereaksi seperti ini, karena gw punya pengalaman hidup yang solid tentang ini, yang membuat gw mengerti benar bahwa berbohong itu salah.

“Ah sok suci lo, kayak ga pernah bohong aja.”

Tentu gw pernah berbohong, sering malah. Tapi kebohongan yang gw lakukan ga pernah untuk causing harm to others. White lies, berbohong demi kebaikan. Bohong yang si mbak ini minta gw lakukan, 22nya untuk causing harm to others. Dan 22nya ga necessary kalo dipikir2, ada cara lain yang bisa dilakukan—cara yang benar, untuk mencapai tujuan yang sama. Nggak perlu berbohong kok, beneran deh!

Sigh~

Capek, guys. Kerja sama orang kayak gini, moral lo berasa dimatiin perlahan2. Susah2 dibangun tuh moral~

Kapan ini berakhir ya Allah~

I just can’t deal with her anymore~


No comments:

Post a Comment